24/04/2025
Nilai-nilai Adat dan Pembangunan Papua
Pembangunan manusia untuk orang asli Papua seharusnya berdasarkan pada nilai-nilai adat dalam masyarakatnya. Papua perlu ukuran pembangunannya sendiri.
Pendidikan kontekstual
Papua perlu ukuran pembangunannya sendiri, dan tidak bisa Papua hanya sekadar tempelan untuk model pembangunan yang sama di belahan lain. Keanekaragaman alam hayati dan budaya Papua harus dipelihara dan dijadikan modalitas utama pembangunan. Konteks khusus Papua demikian itu harus diajarkan terus-menerus melalui pendidikan yang berbasis kontekstual. Ini masih belum dipahami oleh para perancang kebijakan pembangunan Papua.
Perlu ada pengakuan dan penghargaan atas andil para tokoh pemimpin adat laki-laki dan perempuan di tiap suku dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Mereka adalah para empu pengetahuan dan teknologi tradisional, dan penjaga kearifan lokal. Nyanyian, mantra, cerita, gambar, ukiran, hingga gerak badan haruslah dilibatkan dalam tim pendidikan kontekstual, baik di sanggar-sanggar maupun di tiap-tiap level sekolah formal (SD, SMP, SMA, perguruan tinggi).
Pengalihan pengetahuan, teknologi tradisional, dan kearifan lokal kepada generasi muda dilakukan dengan bahasa masing-masing. Kearifan lokal dan identitas diri menjadi bagian inti bagaimana orang muda Papua mengembangkan dirinya agar bisa berfungsi dalam masyarakatnya dan membangun daerahnya. Ruang-ruang dalam seperti ini juga dapat memberi kontribusi yang berpengaruh dengan mengutamakan kreativitas, problem solving, dan critical thinking skills.
Data tentang kebudayaan Papua yang masih sangat sedikit, bahkan ada beberapa yang memakai bahasa Belanda, mempersulit dalam pengetahuan akan kehidupan tradisi dulu. Jurnal-jurnal yang dihasilkan oleh akademisi Papua juga belum banyak. Jadi, para tokoh adat, pelaku budaya, dan seni tradisi sangat perlu untuk diandalkan. Jumlah mereka sedikit, dan perlu diperbanyak.
Peran sekolah adat, sekolah alam, sanggar komunitas lingkungan dan seni di Papua juga tidak kalah penting dalam menganalisis dan mengajarkan kembali pembagian kerja pertanian, mulai dari melakukan penanaman, pemeliharaan, pemanenan tanaman, penangkapan ikan dan biota danau dan laut, hingga perburuan binatang di hutan. Ini yang akan melestarikan konsumsi pangan lokal.
Pembangunan karakter (character building) adalah bagian penting dalam pendidikan, dan ternyata dahulu sudah diajarkan di rumah-rumah inisiasi lewat folklor, pantun, ataupun lantunan yang berisi nasihat/wejangan. Kurikulum, metode, dan bahasa komunikasi yang dipakai dalam sekolah-sekolah dari dasar, menengah, hingga perguruan tinggi harus sesuai konteks daerah. Jadi, semestinya ada banyak model, metode, dan kurikulum yang harus bisa menjangkau tiap konteks suku.
Inti dari metode ini adalah pembelajaran yang partisipatif (participatory learning and action), di mana semua punya andil dan bisa menjadi narasumber. Papua Melayu adalah bahasa komunikasi sehari-hari yang digunakan dalam metode ini disertai musik, teater/drama, menggambar, mengukir, merajut, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini tidak jauh dari kebiasaan yang dipraktikkan sehari-hari mama-mana Papua dan para empu laki-laki di kampung-kampung.
https://www.kompas.id/baca/artikel-opini/2022/05/27/nilai-nilai-adat-dan-pembangunan-papua