04/12/2021
NKRI Harga Mati: Slogan memusnahkan orang asli Papua
Oleh: Sebedeus Mote*
“NKRI Harga Mati”
NKRI harga mati adalah sebuah slogan yang sering digaungkan untuk menyatakan diri, bahwa kita menyetujui dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan keempat pilarnya.
Biasanya akan sering kita temukan istilah tersebut diucapkan dengan lantang dalam setiap yel-yel kegiatan kepramukaan, paskibra, atau kegiatan sebuah organisasi, dimana asas pembentukannya adalah sebuah wadah yang memupuk kecintaan kader atau anggotanya kepada tanah air. Seperti badan-badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama dan ormas-ormas moderat lainnya.
Bagaimana jika ideologi kesatuan tersebut diubah dengan paham negara Islam atau sejenisnya? Bisa dipastikan akan ada daerah yang menyatakan untuk memisahkan diri dari negara Indonesia. Bukankah sangat disayangkan jika hal tersebut terjadi? Ingatlah kembali, bagaimana para raja terdahulu dan para pejuang kemerdekaan memperjuangkan tanah dan negara ini?
Oleh sebab itu, NKRI harus “harga mati”, tidak bisa ditawar lagi. Maka upaya-upaya makar walaupun masih sekadar isu dan katanya, tetap harus kita waspadai. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?
Bagi Indonesia “NKRI harga mati” tidak bisa ditawar. Oleh karena slogan itulah rakyat Papua hampir pasti terus dibunuh oleh Indonesia, melalui TNI/Polri sebagai alat negaranya.
Penerapan “NKRI Harga Mati” di Papua
Secara umum Indonesia gagal mempraktikkan atau menanamkan ideologi NKRI harga mati di Papua. Malah slogan itu menjadi alat untuk membunuh manusia asli Papua.
Dalam UUD 1945 pasal 28 huruf I ayat (1) ditegaskan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Tetapi kenyataannya hak untuk hidup untuk mempertahankan kehidupan rakyat dikendalikan oleh TNI/Polri.
Tak bisa dipungkiri bahwa itu adalah tugas sebagai alat negara. Namun stigma dari negara-negara lain dan manusia yang berasal dari kaum tak bersuara pun menilai, masa depan negara Indonesia akan hancur, ditertawakan, dihina, dan malah dianggap bodoh kalau TNI/Polri tidak memaknai dan menghargai hak hidup manusia Papua khususnya dan manusia Indonesia pada umumnya.
Tindakannya tidak sesuai dengan semboyan “NKRI harga mati”. Cara pendekatannya sangat tidak manusiawi dan membunuh manusia Papua dengan pendekatan seperti ular.
Memang benar bahwa pada umumnya manusia itu memiliki hak untuk hidup dan mati. Hidup dan mati merupakan sebuah kepastian yang Tuhan berikan kepada kita. Diri kita ini berharga dan paling luhur dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lain, maka hidup sebelum mati mesti diperjuangkan.
Manusia juga berharga ketika mencoba melakukan hal-hal yang luhur, dan tidak berharga ketika tidak mencintai harga hidup yang diimpikan oleh setiap pribadi manusia.
Peran TNI/Polri memang sangat dibutuhkan untuk memelihara keutuhan dan hak hidup seluruh warga negara Indonesia. Situasi keamanan untuk bagaimana mempertahankan hidup, negara Indonesia tidak cermat, tetapi menjadikan semboyan untuk mempertahankan negara dan membunuh rakyat Papua secara brutal dan tidak hormat, seakan harimau memangsa yang lemah dan tak berdaya.
Dalam tulisan singkat ini penulis mau katakan, bahwa sebenarnya yang mesti diangkat oleh negara adalah soal harga untuk hidup, bukan mematikan nyawa manusia Papua.
NKRI Harga Mati” biasanya diabadikan di pos-pos TNI/Polri. Untuk mempertahankan hal di atas ini, negara melalui militernya selalu saja melanggar HAM di Tanah Papua. NKRI harga mati tidak bisa diganggu gugat, namun bisa digugat dan terlepas jika tindakan tidak manusiawi dan kekerasan terus mengancam nyawa orang asli Papua.
Negara ini, sebenarnya macam apa? Sebagaimana biasa, setiap kali terjadi pelanggaran HAM selalu saja negara menyampaikan kepada negara lain bahwa ini hanya “soal kesejahteraan masyarakat” di Papua. Ini lebih bahaya karena negara justru memusnahkan rakyat yang hidup aman, lalu biasa berujar “nanti kami akan selesaikan”.
Nah konsep ini sedianya keluar dari mulut setan, karena pada dasarnya TNI/Polri ini memperjuangkan harga mati, bukan harga hidup. Manusia Papua itu mencintai harga hidup, bukan mati. Untuk itulah perjuangan free West Papua hidup terpelihara sampai masa kini.
Manusia Papua percaya bahwa dalam pembebasan ada harga hidup, ada damai, kebenaran dan kasih. Kalau memang harga mati itu Tuhan yang buat, apakah motif Tuhan atas kejahatan TNI/Polri, sehingga menimbulkan luka batin dan derita bagi orang Papua?
NKRI “Harga Mati” melahirkan pelanggaran HAM di Papua
Dalam album penderitaan manusia Papua, hidup mana pun, kapan pun dan siapa pun, memang tidak pernah absen dari derita, kematian dan kekerasan atau kekejaman dari Indonesia. Kekerasan atau kekejaman ini terus mewarnai seluruh kehidupan manusia Papua.
Hal ini membuat kita tersentak kaget namun sebetulnya pernyataan itu tidak perlu, sebab memang begitu realitas yang sebenarnya yang dikendalikan oleh TNI/Polri. Masalah kekerasan atau kekejaman yang dilakukan TNI/Polri ini tidak lain, selain untuk memusnahkan orang asli Papua.
Semboyan “NKRI Harga Mati” hemat penulis lahir karena Papua merdeka, maka supaya tidak merdeka, pemikiran TNI/Polri saat ini mau dan tidak mau manusia Papua harus mati. Jika begitu, sungguh biadab sekali otak negara Indonesia.
Biarkanlah orang Papua berekspresi untuk bebas (dan berdaulat). Orang Papua sudah muak dengan slogan “NKRI harga mati” yang justru mengorbankan ribuan nyawa.
Pelanggaran-pelanggaran HAM masih menyisakan luka karena belum diselesaikan. Sejumlah pelanggaran HAM itu misalnya Paniai Berdarah (7-8 Desember 2014), dan beberapa kasus lainnya.
Negara harus mempertanggungjawabkan seluruh pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, sebab ribuan manusia Papua yang tak berdosa dibunuh oleh negara. TNI/Polri stop melakukan kekerasan politik dan pelanggaran HAM di Papua.
Pada zaman ini bangsa Indonesia berusaha untuk mencabut hak hidup orang Papua dengan semboyan “NKRI Harga Mati”. Maka, mari kita robohkan semboyan ini, karena justru digunakan oleh negara untuk membunuh rakyat Papua.
TNI/Polri tidak layak mempraktikkan semboyan NKRI “Harga Mati” di Papua untuk membunuh orang asli Papua. Maka, mari kita perjuangkan harga hidup kita, yakni menentukan nasib sendiri. Hidup damai perlu diperjuangkan dalam bingkai harga hidup. Manusia Papua itu harga hidup bukan murahan. (*)