10/01/2017
RI Aspagura
"Memantau"
Sketsa dan cetak digital pada kanvas
12 panel segitiga
14,72 cm x 17 cm
2016
we are NOW?
Baca perkembangan terkini; lewat berita, kabar dari mulut ke mulut, media sosial; tentang perkembangan global, regional, nasional, lokal, hingga lingkup kehidupan bertetangga; dari yang peemukaan hingga kedalaman; dari yang tampak hingga yang tak tampak; dari yang mengemuka hingga undercover. Apa yang melintas di kepala kita? Apa yang kita cerap kemudian? Apa yang termaknai atau dimaknai?
Semua "seolah" lebur tanpa batas. Benarkah? Apakah batas itu? Untuk apa dia mengada? Bagaimanakah bentuknya? Lalu,ketika batas-batas diluruhkan, benar-benar hilangkah batasan itu? Atau, sebenarnya, masih ada batasan itu dalam wujud yang tak jelas dan dapat dipindah-berpindah-terpindah-kan?
Mempertanyakan batas pada kekinian
Kekinian (now) dalam hal ini diterjemahkan sebagai ruang dan waktu yang sekarang ini. Trend kehidupan yang sedang berlangsung didongkrak oleh perkembangan teknologi informasi berbasis internet yang menghadirkan media sosial dan menjadi pusat baru kehidupan manusia.Batas-batas ruang dan waktu diretas seketika. Kita bisa berkomunikasi dengan berbagai orang di belahan bumi yang lain dalam waktu yang berbeda; dari komunikasi perkenalan, menampilkan keberadaan diri, diskusi serius, menebar wacana, juga memberlangsungkan kerja-sama. Batas, kemudian, 'seolah' tiada.
Di sisi lain, manusia selalu berupaya menjebol batas. Kita dapat mendeteksinya dari ungkapan slogan penjualan produk "Menembus Batas" atau dari satu baris sekaligus judul lagu The Doors "Break on Through to The Other Side". Ada semacam persepsi bahwa batas itu mengungkung dan kadang menghadirkan tekanan yang menyesakkan sehingga manusia menyosok tak utuh dan "Fragmented" (Syalabi Asya).
"Regasa" oleh Ugo Untoro yang menuturkan kisah fantasi tentang seorang pemimpin muda di suatu negeri entah yang kemudian menentukan batas-batasnya sendiri dengan mencampuradukan sekaligus memporak-porandakan berbagai batas yang telah ada. Pembangunan batas-batas baru itu dimungkinkan karena adanya dukungan sumber daya, kekuasaan yang diturunkan secara politis, hukum, adat hingga pemitosan, kehadiran pendukung, dan keberadaan wilayahnya yang di luar jangkauan (wilayah fantasi).
Batas ruang dan waktu yang luruh tanpa bantuan teknologi informasi dalam 4 lukisan Gregorius Soeharsojo Goenito. "Berangkat Cari Pinang", "Perumput dan Penggembala", "Pulang Berburu", dan "Beta Pangkas Kusu-Kusu Yo Makan Cindil" merupakan sebagian kisah hidupnya yang terjadi separuh abad yang lalu. Ruang dan waktu yang kini, baginya, telah luruh oleh ikatannya dengan kisah itu dan ingatannya yang masih terus lekat pada kisah tersebut. Kisah yang berlaku saat ia berusia 33 tahun itu telah mengubah seluruh alur hidupnya dan meruntuhkan impiannya yang pada saat itu baru sekelumit diupayakannya.
Dalam kaitannya dengan membebaskan diri dari batas, Afif A.F. merasa lepas dari semua kungkungan ketika "Leisure Time" dengan melakukan kegiatan yang disukai sekaligus menjadikannya sebagai momen untuk memikirkan langkah selanjutnya. Sementara, Uswarman mengosongkan pikirannya dan membiarkan emosinya menyetir kesadaran artistiknya yang telah menubuh sehingga menjadi "Untitled".
Melalui "Jalur Kecil", Arce Priangsari mendeteksi ketiadaan batas ketika manusia sebagai bayi yang baru dilahirkan. Batas-batas itu dipelajari seiring pertumbuhan bayi menjadi manusia dewasa. Lalu, Anjani Citra menghadirkan cara mendamaikan ketegangan 'batas' dan 'tanpa batas' dengan berfokus pada "Destination" yang -bak aliran sungai- bersumber dan bermuara pada satu Pencipta.
Batas Itu adalah Pagar #
Manusia -sebagaimana makhluk lainnya- memiliki batas yang nyata dalam dirinya. Bagi Allatief, "Menakar Diri" menjadi semacam usaha yang perlu terus diberlangsungkan untuk memahami batas pada diri sendiri. Ini merupakan tolak ukur bagi diri sendiri untuk memberlangsungkan proses pencarian dan perolehan dalam hidup ini. Titus Garu menyajikan 3 pasang Sandal sebagai penanda melangkahkan kaki dalam perjalanan hidup.
Dalam kaitannya dengan hidup bersama (sesama manusia maupun alam), batas juga hadir baik secara material maupun immaterialyang kadang kabur bak "Putih Abu-Abu" (Budi Santoso). Batas dapat berupa nilai-nilai, norma-norma, hukum, adat-istiadat yang menjadi kesepakatan dan pemahaman bersama. Batas tak selalu tertulis. Batas tak selalu diam, namun terus melakukan perbincangan dan semacam "Perjalanan Panjang" (Budi Santoso). Batas itu ada dan tak pernah hilang, namun dapat berubah. Batas juga tak selalu kaku dan keras, sebagaimana batu yang dapat p**a tertawa menurut DJ Har dalam "Emotistone".
Batas itu seolah 'pagar' dalam kehidupan. Pagar yang yang membatasi jangkauan wilayah kita. Pagar itu dapat p**a menjadi pintu, jendela, dan dinding-dinding sebagaimana dipaparkan RI Aspagura dengan "Memantau". Batas juga menjadi atap rumah dan salah satunya adalah "Genting Kaca" yang memungkinkan Jatmiko Wicaksono melihat capaian-capaian perkembangan manusia sebagai upaya menembus batas. Dalam dunia maya, 'pagar' itu menjadi tanda # yang merupakan kata kunci atas pernyataan dan selanjutnya memudahkan pencarian dan pelacakan oleh orang lain.
Kehadiran PAGAR # yang adalah batas selanjutnya berfungsi untuk memberlangsungkan harmonisasi dalam kehidupan bersama agar tak menjadi "Monumen Penggusuran Bukit Duri" (Budi Santoso). Memahami PAGAR # yang berlaku dalam diri sendiri maupun di lingkungan memampukan diri untuk menempatkan batas tersebut pada posisi tertentu 'tuk mencapai tujuan hidup. Pada akhirnya, bagaimana menempatkan PAGAR # itulah yang menentukan penyikapan tentang batas.
Opée Wardany
Rumah gU 161213