29/06/2025
۞ﺑِﺴۡـــﻢِ ﭐﻟﻠّٰﻪِ ﭐﻟﺮَّﺣۡـﻤَـٰﻦِ ﭐﻟﺮَّﺣِـــﻴْﻢ۞
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
TAKDIR
Janganlah kita itu membahas takdir karena takdir itu bukan untuk dibahas tetapi untuk diimani, baik dan buruk sesuai dengan kehendak Allah. Kenapa Takdir itu cukup diimani dan tidak dibahas karena
1. Tidak ada manusia yang boleh membahas takdir.
2. Takdir itu sudah terjadi, maka kalau belum terjadi namanya belum takdir
Qodho itu adalah ketentuan, sedangkan qodar itu adalah takdir. Dan Qodho yang terjadi itulah yang dinamakan dengan takdir. Maka dari itu sesuatu yang belum terjadi kok mau kita bahas dan pikirkan ini kan sesuatu yang aneh. Otak dan kepala manusia itu kapasitasnya hanya untuk mengimani takdir bukan untuk membahas takdir. Maka dari itu kalau kita ribut, ruwet memikirkan takdir maka bersiap2 lah untuk masuk rumah sakit jiwa karena otak kita akan konslet karena kepala kita tidak akan kuat dan tidak akan mampu mencerna rencana Illahi.
Takdir itu adalah urusan Allah, lantas mengapa kita ini kok mau mempelajari dan mau mengerti Allah. Kita mau memahani orang lain bahkan diri kita sendiri saja tidak mampu kok ingin paham tentang Allah Subhana wa Ta'ala.
Seharusnya yang kita lakukan adalah beramalah secara istiqomah, beribadahlah sebaik mungkin dan tidak usah membahas takdir. Jalani hidup detik demi detik dan nikmati waktu demi waktu dan kita tidak perlu memikirkan nanti bagaimana, kemarin seperti apa, dulu catatan saya seperti apa, nanti saya masuk kemana, surga atau neraka. Tidak perlu kita mengurus hal2 seperti itu, yang kita urus itu kalau kita disuruh shalat ya shalat, kalau kita disuruh puasa ya puasa, kalau kita disuruh zakat ya zakat, kalau disuruh berbakti ya berbakti, kalau kita terpeleset maksiat segera istigfar dan bertaubat dan semua amal sholeh yang sudah kita kerjakan kita syukuri , dengan demikian maka pikiran kita akan tenang dan tidak ruwet.
Diambil dari Kajian Habib Novel Alaydrus
Allahumma Sholli Alaa Sayyidina
Muhammad Wa Aalihi Wa Shohbihi Wasallim.