Forum Aktor Yogyakarta

Forum Aktor Yogyakarta Forum Aktor Yogyakarta (FAY) adalah wadah bertemunya para aktor untuk berbagi pengalaman, wacana dan ide-ide karya.

Forum Aktor Yogyakarta (FAY) berdiri sejak bulan Agustus tahun 2011. FAY merupakan komunitas yang terdiri dari para aktor dengan latar belakang berbeda. Sebagian besar merupakan penggiat teater di kampus dan sebagian lagi merupakan pekerja lepas. FAY mengawali perjalanan prosesnya dengan pembacaan dramatic (dramatic reading) naskah berbahasa Jawa berjudul “Siasat” dan “Mandhiri” karya Handung Kuss

udyarsana tahun 2011. Pada proses selanjutnya, FAY menjadi salah satu kelompok pembaca di dalam Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) tahun 2011-2013. Komunitas ini terbuka tehadap ide dan gagasan setiap orang di dalamnya untuk didiskusikan maupun dikembangkan menjadi pertunjukan. Forum Aktor Yogyakarta berdiri dengan visi untuk membangun aktor menjadi pribadi yang peka, cergas, terang budi dan akal. Bagi kami, visi ini penting karena aktor yang baik bukan hanya bisa menampilkan akting di atas panggung, tapi juga menjadi manusia dengan kepekaan dan empati pada lingkungan sekitar. Aktivitas kami meliputi latihan, diskusi, riset, dan produksi pementasan teater itu sendiri. Karya-karya kami lebih berfokus pada isu-isu sosial dan isu perempuan.

Ulasan menarik dan mendalam dari salah satu penonton kami, M. Dinu Imansyah.JAM TUA PAK YOHAN DI DINDING KEEMPAT DALAM  ...
27/04/2018

Ulasan menarik dan mendalam dari salah satu penonton kami, M. Dinu Imansyah.

JAM TUA PAK YOHAN DI DINDING KEEMPAT DALAM “D>S/S>D : INVISIBLE COSTS”

Ulasan atas pertunjukan Forum Aktor Yogyakarta “D>S/S>D: Invisible Costs”- part 2, Jum’at 20 April 2018 di IFI Yogyakarta

SEJARAH (tidak) selalu berulang. Setiap orang memiliki masa-masa keemasannya sendiri. Selalu ada titik di mana kita ingin mengulang kembali masa-masa tertentu, betapapun kita tahu beberapa hal haruslah tetap menjadi sejarah tanpa perlu dijalani lagi. Setidaknya ada kenikmatan ketika berkubang dalam kenangan maupun harapan—yang mungkin masih belum tercapai—dari masa lampau. Manusia selalu ingin berlari. Ini adalah naluri untuk menggali hakikat diri dan bertahan hidup.

Kubangan-kubangan masa lalu inilah yang dimetaforakan dalam sebuah jam dinding tua kesayangan Pak Yohan (diperankan Alex Suhendra), mantan pimpinan tertinggi PT. Tandang Makmur di bagian kedua pertunjukan dari Forum Aktor Yogyakarta ini. Meski tahu jam dinding ini rusak, Pak Yohan tetap meminta karyawannya untuk memasangnya di dinding ruang rapat dengan alasan Feng Shui. Jam dinding yang sama p**a digunakan sebagai pemungkas pertunjukan bagian pertama yang dipentaskan dua bulan lalu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja—yang juga kembali dipentaskan sehari sebelumnya di Institut Francais Indonesia (IFI) Yogyakarta, tempat bagian kedua juga digelar.

Setidaknya metafora itulah yang saya tangkap dari pertunjukan berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini. Meski lebih panjang dari pertunjukan bagian pertama, intensitas permainan dari para aktornya yang cukup baik ini membuat saya sangat menikmati setiap detik permainan dari pertunjukan arahan Verry Handayani ini. Walau tentu saja ada bagian-bagian yang terasa cukup membuat saya harus sedikit mengernyitkan dahi dan mengangkat salah satu alis, tapi overall, Forum Aktor Yogyakarta sudah mampu membuat saya cukup gemas (dalam artian yang baik) dalam menyikapi ensembel permainan antaraktornya yang ciamik.

Forum Aktor Yogyakarta (selanjutnya akan disingkat: FAY) mengajak penonton untuk bergulat dengan isu tentang pembangunan ruang laktasi (menyusui) di sebuah perusahaan yang memproduksi susu formula untuk bayi ini—setidaknya itu yang saya tangkap, mohon koreksi jika kurang tepat. Sebuah isu yang bisa jadi kurang akrab di penonton yang sebagian besar masih cukup muda itu. Meski isu yang digulirkan masih belum terlampau akrab, FAY mampu membuat isu itu sebagai pemantik permainan seni peran para aktornya yang mampu membangun chemistry yang cukup baik satu sama lain. Alih-alih memikirkan terlalu mendalam mengenai permasalahan yang ingin diangkat, saya diajak untuk melihat sebuah peristiwa yang mencekam. Peristiwa pergulatan antartokoh yang berlomba untuk memenangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Bukankah itu roh dari pertunjukan teater? Menghadirkan peristiwa.

Meski tidak semua tokoh mendapatkan porsi presentasi yang sama, tapi jalinan peristiwa yang terbangun dengan baik ini membuat saya jadi tidak sempat lagi memikirkan: apakah tokoh ini lebih dominan dari tokoh yang lain, apakah tokoh ini hanya “mampir”, apakah tokoh ini tidak relevan dengan isu yang digulirkan, apakah aktor ini permainannya tidak sebagus biasanya dan lain sebagainya. Tapi bukankah dalam kehidupan memang begitulah adanya? Selalu ada karakter yang lebih dominan dibanding yang lain, selalu ada tokoh, yang entah disengaja atau tidak, selalu menjadi bulan-bulanan tokoh yang lain dan selalu ada tokoh yang tidak bisa menentukan kemana dia harus berpihak. Keragaman karakter inilah yang ditawarkan oleh pertunjukan “D>s/s>d; Invisible Costs” oleh FAY ini.

Post Power Syndrome kah?
Sebagai sebuah pertunjukan yang (kiranya) diniatkan untuk menjadi sequel, “D>s/s>d: Invisible Costs” Part 2 ini sebenarnya tetap bisa dinikmati dengan atau tanpa menikmati bagian pertama terlebih dahulu. Meski tentu saja ada sensasi yang berbeda ketika kita menyaksikan bagian yang digelar dua bulan sebelumnya di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja atau yang digelar sehari sebelumnya di tempat yang sama di mana bagian kedua dilangsungkan.

Bagi penonton yang belum menyaksikan bagian pertama dan langsung menonton bagian kedua mungkin ada yang bertanya kenapa Pak Yohan kok tampak selalu “antagonis”—terlepas dari pemeranan Alex Suhendra yang memang selalu cakap dan kerap memainkan karakter-karakter intimidatif semacam ini, kenapa isu laktasi yang harus diangkat, apa peran masing-masing aktor dan posisi mereka di perusahaan, ada apa dengan jam dinding dan Pak Yohan, hingga kenapa para anggota rapat masih bisa mengijinkan Bening untuk bertahan di ruang rapat betapapun seringnya dia membikin onar dengan melontarkan celetukan-celetukan yang distraktif.

Mungkin beberapa pertanyaan di atas sempat terlintas juga di pikiran penonton yang sudah pernah menyaksikan bagian pertama. Khususnya tentang pendalaman karakter masing-masing tokohnya. Di pertunjukan bagian kedua ini, narasi digerakkan oleh perdebatan akan pembangunan isu laktasi, tidak seperti di bagian pertama di mana latar belakang masing-masing tokohnya diungkapkan dengan jelas. Untuk bisa menikmati part 2 beserta kedalaman tokohnya ini memang dibutuhkan pengalaman menyaksikan bagian pertama.

Part 1 dan Part 2 dari pertunjukan ini sebenarnya bisa berdiri sendiri-sendiri. Bahkan pasca menyaksikan pertunjukan part 1, saya rasa pertunjukan tersebut sudah “tuntas”, tanpa part 2 pun bagi saya sudah tampak sekali permasalahan post-power-syndrome yang dialami Pak Yohan. Secara sederhana post power syndrome dapat dimaknai sebagai kegelisahan yang dialami oleh orang-orang yang sudah melewati masa produktifnya, seperti para pensiunan. Meski tentu saja terasa terlalu reduktif jika menyebut lapisan-lapisan yang dimiliki oleh Pak Yohan ini mentah-mentah sebagai sindrom ini. Masih ada sisi-sisi dari Pak Yohan yang tidak sekedar ingin bernostalgia akan masa-masa keemasannya tapi ada sebuah peristiwa dan nilai mulia yang membuat dia bertahan pada kekerashatiannya menolak pembangunan ruang laktasi, alih-alih sekedar menyebutnya sebagai pensiunan gila kekuasaan.

Bahkan kalau mau menyambungkannya dengan bagian pertama, konflik batin yang dialami Pak Yohan, pun dengan yang dialami oleh peserta rapat lainnya, di bagian dua ini terasa tidak lebih tajam. Bagian dua ini lebih banyak karakter yang berlomba-lomba mengajukan aksi, alih-alih reaksi. Peristiwa berjalan berdasarkan kolase aksi-aksi, minim reaksi. Padahal kematangan dan kualitas seorang manusia dilihat dari bagaimana dia merespon sebuah peristiwa, bukan sekedar menciptakan peristiwa.

Di satu sisi, dominasi “aksi yang lebih banyak di bagian kedua ini turut menajamkan sindrom-pasca-kuasa ini. Bukankah orang-orang pengidap sindrom ini memang ingin lebih banyak beraksi ketimbang bereaksi? Meski sayangnya aksi-aksi ini jadi mereduksi kedalaman karakter tokoh-tokoh yang lain.



Boal Mampir di PT Tandang Makmur
Tidak banyak grup teater di Indonesia yang masih konsisten untuk menghadirkan pertunjukan realis dengan penggarapan yang cukup baik seperti yang dihadirkan oleh FAY ini. Meski tentu saja ini pilihan, kembali ke selera masing-masing, setiap seniman punya hak untuk mengekspresikan karya kesenimanannya dalam bentuk apapun. Tapi buat saya pribadi, realisme bukan hanya perkara gaya, pun bukan basic dari pertunjukan seabsurd apapun—seperti yang diyakini oleh beberapa teatrawan. Realisme adalah perkara memahami peristiwa-peristiwa dalam kehidupan dan menghadirkannya di atas panggung. Realisme adalah upaya untuk memahami diri dan mengalami peristiwa apapun di saat ini dan sekarang (here and now).

Sekali lagi ini bukan perkara mengagung-agungkan realisme sebagai salah satu aliran dalam berteater. Ini adalah perkara penghadiran diri dalam sebuah peristiwa pertunjukan. Menghadirkan diri juga bukan sekedar aktualisasi diri untuk menyampaikan kepentingan pribadi, tapi kerja kolektif dengan pihak manapun yang terkait dengan pertunjukan untuk menghadirkan peristiwa di atas panggung, kepentingan bersama. Bersama dengan pihak-pihak penyelenggara pertunjukan maupun bersama dengan penonton yang hadir. Bukankah hakikat dari peristiwa adalah kelindan antara penampil dan penonton?

Mungkin sadar akan chemistry yang baik antaraktornya saja tidak cukup untuk menghadirkan peristiwa, FAY berupaya mengajak penonton untuk terlibat langsung dalam pertunjukan dengan memosisikan penonton sebagai dewan komisaris yang beberapa dipilih untuk maju ke panggung dan memberikan pendapatnya terkait pengadaan ruang laktasi di PT Tandang Makmur. Bagian ini p**a yang menjadi pembeda dengan pertunjukan bagian pertama yang digelar dua bulan lampau. Melalui name tag yang dibagikan di pintu masuk pertunjukan, beberapa penonton dipilih untuk merasakan langsung terlibat dalam rapat dewan pimpinan.

Bagian ini p**a yang kemudian bagi saya terasa sempat melemahkan bangunan emosi yang dibangun FAY sejak awal pertunjukan. Keterlibatan penonton untuk menentukan apakah harus membangun ruang laktasi atau tidak ini menjadikan posisi penonton terasa ambigu. Di beberapa kesempatan di awal pertunjukan, para aktor terlihat begitu intens berperan sehingga penonton sendiri juga sangat asyik menikmati peristiwa rapat melalui “dinding keempat”. Tapi pasca penonton disadarkan bahwa mereka diposisikan sebagai dewan komisaris yang sebenarnya berperan penting p**a dalam rapat, penonton kembali “dicueki” dengan para aktor yang kemudian kembali asyik dengan pergulatan peristiwa mereka sendiri. Hal ini berulang beberapa kali. Akibatnya, ketika menjelang akhir pertunjukan, di saat penonton benar-benar diajak untuk voting penentuan pembangunan ruang laktasi malah terasa anti-klimaks. Kebetulan semua penonton yang hadir saat itu memutuskan untuk setuju dengan pembangunan ruang laktasi sehingga ini p**a yang kemudian menjadi senjata pamungkas untuk membuat Pak Yohan, mantan pimpinan utama yang sedari awal menolak dengan ide pembangunan ruang laktasi demi menekan pengeluaran, semakin merasa gagal untuk kembali berkuasa dan membawa perusahaan ke kedigdayaan. Bagaimana seandainya ada (atau semua) penonton memilih untuk menolak pembangunan ruang laktasi? Apakah ini bakal memengaruhi keputusan rapat? Apakah ini bakal merubah ending?

Pola permainan seperti ini mengingatkan saya pada salah satu metode pertunjukan yang digagas oleh Augusto Boal, sutradara asal Brazil, yang terkenal dengan pemikirannya akan “Teater Orang-Orang Tertindas” (Theatre of the Oppressed). Entah kebetulan atau tidak, salah satu metodenya yang juga menggunakan kata “Forum” yakni “Teater Forum”—kata yang sama digunakan oleh Forum Aktor Yogyakarta sebagai nama komunitas ini—juga menggunakan teknik serupa dalam melibatkan penonton. Jadi pertunjukan digelar seperti biasanya lalu di tengah-tengah pertunjukan akan dihentikan untuk meminta penonton memberikan masukan tentang solusi terhadap permasalahan yang digulirkan dalam pertunjukan tersebut. Bahkan tidak hanya memberikan solusi, di Teater Forum ala Boal, penonton juga diperkenankan untuk bermain dan menggantikan karakter tertentu untuk menuntaskan pertunjukan sesuai dengan jalan cerita yang diinginkan.

Rapat Direksi Pembangunan Ruang Laktasi – Foto by Gabriela Aritonang
Tentu saja Forum Aktor Yogyakarta bukanlah Augusto Boal. Jika di Teater Forumnya Boal, para pemerannya adalah orang-orang yang benar-benar dari komunitas tertentu yang bergulat dengan permasalahan mereka sendiri seperti misalnya ibu-ibu RT yang dibingungkan dengan masalah arisan, kaum buruh yang dipusingkan masalah tunjangan, atau para guru yang dihantui kurikulum yang tidak jelas sasaran dan implikasinya itu, maka Forum Aktor Yogyakarta digerakkan para aktor yang notabene sudah cukup banyak mengantongi pengalaman berteater di Yogyakarta seperti Febrinawan Prestianto (Giant), Siti Fauziah, Alex Suhendra, Elisabeth Lespirita Veani, Verry Handayani dan lain sebagainya. Apa yang dilakukan oleh para aktor FAY murni seni peran—meski bisa jadi permasalahan tentang isu laktasi ini sempat dialami juga oleh beberapa aktornya.

Jika di Teater Forumnya Boal, penonton diperlakukan setara dengan pemain—bahkan Boal sendiri sebenarnya benci dengan istilah “penonton” (spectator) karena dianggap lebih rendah dari pemain, manusia yang direduksi. Boal kemudian menawarkan istilah spect-actor (penonton-yang-aktor), di mana penonton juga bisa turut berperan bahkan menggantikan peran aktor tertentu seperti yang telah disinggung sebelumnya.

Sebenarnya upaya yang sama telah berusaha dilakukan oleh FAY, tentang bagaimana menempatkan penonton sebagai bagian dari pertunjukan. Walau sayangnya, seperti yang sebelumnya saya katakan, upaya ini masih terasa tanggung dan canggung. Ada ambiguitas dari bagaimana FAY bermain-main dengan keberadaan “dinding keempat”. Hemat saya, pilihannya hanya ada dua: Satu, jika ingin melibatkan penonton sebagai bagian dari pertunjukan, ada kesadaran intensitas dan proyeksi permainan bahwa penonton memang “hadir” di rapat itu. Sehingga ketika terjadi konflik atau perdebatan sengit di rapat, penonton merasa turut dianggap “ada” di sana. Keterlibatan penonton juga mungkin bukan sekedar memberikan voting di antara dua pilihan, tapi ada opsi untuk memberikan pendapat yang lebih bebas terhadap isu yang digulirkan di rapat, sehingga permainan bisa lebih dinamis—walau tentu saja dibutuhkan kekuatan untuk menjaga permainan agar tidak chaos. Kedua, para aktor cukup tetap intens berkelindan di dalam “ruangan” tanpa perlu membobol dinding keempat. Interaksi tidak melulu harus dalam bentuk komunikasi langsung, tapi dengan menawarkan peristiwa yang dibangun dengan cukup kuat sehingga memunculkan empati dan simpati penontonnya.

Tentu saja saya tak bermaksud untuk membanding-bandingkan Teater Forumnya Ausgusto Boal dengan FAY, apalagi bertendensi untuk mem-Boal-Boal-kan FAY. Bisa jadi ini memang upaya FAY untuk terus bereksperimen memperbarui pola interaksi antara penonton dan penampil, upaya untuk terus menghidupkan peristiwa teater. Bukankah itu sekarang yang bisa ditawarkan oleh teater: peristiwa pertemuan antarmanusia. Kalau sekedar menawarkan hura-hura, visual yang memukau, atau ruang-ruang “ganjil”, banyak multimedia lain yang bisa menawarkan lebih. Dengan sekali klik, berbagai keunikan belahan dunia bisa diakses dengan sebelah tangan saja.

Tidak seperti Pak Yohan yang berasyik masyuk dengan kedigdayaan masa lalu melalui jam dinding tua kesayangannya, peristiwa pertemuan antarmanusia melalui teater masih memiliki harapan di tengah mabuknya kita akan dunia maya. Ruang nyata itu masih ada, puan-puan dan tuan-tuan, sekalian. Percayalah!

Selamat untuk FAY dan terima kasih atas pertunjukannya yang ciamik, mari terus berperistiwa!!


*M Dinu Imansyah, aktor, saat ini menjalani studi pascasarjana pengkajian seni di Universitas Gadjah Mada.

Catatan Dinu Imansyah atas pertunjukan "D>S/S>D : Invisible Costs"-nya Forum Aktor Yogyakarta, 20 April 2018 lalu di Yogyakarta.

Catatan  salah satu penonton kami, terima kasih atas tulisannya  Muhammad Anta Kusuma.(SEDIKIT) CATATAN SEORANG PENONTON...
27/04/2018

Catatan salah satu penonton kami, terima kasih atas tulisannya Muhammad Anta Kusuma.

(SEDIKIT) CATATAN SEORANG PENONTON ATAS PERTUNJUKAN
“D>S/ S

Foto-foto pementasan “D>S/ S
27/04/2018

Foto-foto pementasan “D>S/ S

Tanamkan saham Anda sekarang di PT Tandang Makmur! Dapatkan berbagai keuntungan menarik dari saham yg Anda pilih!• UmumS...
19/04/2018

Tanamkan saham Anda sekarang di PT Tandang Makmur!
Dapatkan berbagai keuntungan menarik dari saham yg Anda pilih!

• Umum
Silver Stock 30k: 1x 'kunjungan perusahaan' di antara tgl 19/20 April 2018 + 1 botol susu produksi PT Tandang Makmur.
Golden Stock 55k: 2x 'kunjungan perusahaan' di tgl 19&20 April 2018 + 1 botol susu produksi PT Tandang Makmur.

• Mahasiswa/Pelajar
Silver Stock 25k: 1x 'kunjungan perusahaan' di antara tgl 19/20 April 2018 + 1 botol susu produksi PT Tandang Makmur.
Golden Stock 40k: 2x 'kunjungan perusahaan' di tgl 19&20 April 2018 + 1 botol susu produksi PT Tandang Makmur.

Sinopsis
Pertunjukan ini terinspirasi dari film Twelve Angry Men yang menceritakan perdebatan 12 juri tentang seorang anak yang dituduh sebagai pembunuh atau bukan. Pertunjukan ini dimainkan oleh tujuh orang aktor yang membawa latar belakang masing-masing merapatkan wacana pembangunan ruang laktasi. Tujuh orang ini adalah Dewan Direksi sebuah perusahaan susu formula, PT. Tandang Makmur.

Pertunjukan ini mengangkat dilematika dalam pembangunan ruang laktasi sebuah persahaan susu. Setiap tokoh mempunyai latar belakang masing-masing yang tergambarkan dalam setiap dialog sepanjang pertunjukan Part I. Sedangkan pertunjukan Part II dengan situasi rapat Dewan Direksi bersama penonton –yang kami sebut sebagai Dewan Komisaris dan Pemegang Saham.

Sutradara:
B. Verry Handayani

Penulis Naskah:
Miranda Harlan

Pemain:
Alex Suhendra
Dharma Satya Anggara
Elisabeth Lespirita V.
Febrinawan Prestianto “Giant”
Hardiansyah Yoga P.
Siti Fauziah “Ozie”
Veronika Erlina H.

CP. Linda (0877-2277-7867)

BATAS RUANG DAN IDENTITAS(CATATAN ATAS PERTUNJUKAN IDENTITY PROJECT-FAY)                                           *   *...
16/10/2017

BATAS RUANG DAN IDENTITAS
(CATATAN ATAS PERTUNJUKAN IDENTITY PROJECT-FAY)

* * *
Forum Aktor Yogyakarta mengajak mempertanyakan identitas. Batas yang dicegat tampilan visual dan ruang.

* * *

Gadis itu (Yosephine Prajna) sibuk dengan berbagai macam gaya yang dia putuskan sendiri. Di depan kamera yang dia pasang sendiri, dia meliuk, berpilin, menatap lirih, hingga mulai tenggelam dalam lantunan lagu dan gerakan-gerakan yang dia gubah sendiri. Hingga seorang lelaki (Muhammad Yudha Pratama) menghampiri kamera yang memantik “ritual” gadis tadi, mengoperasikannya dan lampu flash menyala sekejap, menghentikan keasyikan gadis itu menari. Sang lelaki kemudian menyambut penonton dan mengajak penonton berbincang mengenai identitas diri di dunia maya. Entah karena merasa keasyikannya didistorsi atau memang memberikan kesempatan bagi sang lelaki untuk bermonolog, sang gadis menepi.

Di Sebuah ruangan yang mirip (atau memang) sebuah kelas di lantai dua kompleks UKM, Universitas Gadjah Mada, pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 malam, Forum Aktor Yogyakarta (FAY) mementaskan Identity Project. Pementasan ini adalah kali kedua pertunjukan digelar. Dua hari sebelumnya, pertunjukan ini digelar di kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketika tulisan ini dibuat, pertunjukan ini masih akan digelar lagi pada tanggal 15 Oktober 2017 di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sepanjang kurang lebih satu jam durasi pertunjukan, FAY mengajak penonton, yang rata-rata terdiri dari teatrawan muda Jogja dan mahasiswa, untuk membincangkan persoalan identitas diri di dunia maya. Bagaimana kita sebagai pengguna sosial media mengaktualisasikan diri di dunia internet.

Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga bagian mulai dari penelusuran penghadiran identitas di dunia maya, memaknai tubuh-tubuh di depan kamera, hingga pengalaman penonton yang hadir dalam memanfaatkan sosial media. Seluruh bagian diwujudkan dengan cara interaktif dengan penonton dan perbincangan kecil antara si gadis dan laki-laki akan perilaku manusia dalam bersosial media yang dipicu dari sebuah perbincangan di sebuah grup aplikasi pesan.

Bentuk pertunjukan semacam ini mengingatkan saya pada presentasi tugas kelompok semasa kuliah. Terlebih lagi tata ruang yang benar-benar diset menyerupai kelas perkuliahan (kecuali pemasangan dua payung reflektor dan kamera–atau mungkin ini kelas fotografi??) ditambah tempat duduk penonton yang menggunakan kursi lipat bermeja plus LCD proyektor yang menampilkan berbagai macam bahan perbincangan dua aktor yang di pertunjukan ini menggunakan nama panggilan asli mereka masing-masing. Tidak menghadirkan penokohan karakter fantasi, mereka menjadi diri mereka sendiri lengkap dengan baju kasual dan tanpa tata rias khusus.

Nampaknya pilihan-pilihan yang “serba kasual” ini sengaja digunakan FAY untuk menempatkan diri mereka “seumur” dengan penonton yang kebanyakan mahasiswa itu, mengingat ketiga tempat di mana pertunjukan ini diselenggarakan merupakan salah tiga dari kampus-kampus terbesar di Yogyakarta. Tidak heran jika bahasa dialog yang digunakan tidak berbunga-bunga seperti dalam sastra lakon, bahkan cenderung ilmiah, seperti di perkuliahan–sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya.

Karena sasaran penonton yang lebih jelas batasannya, tidak heran jika perbincangan mengenai beragam seluk beluk dunia sosial media beserta perilaku para penggunanya dikupas dengan penuh semangat di pertunjukan ini. Tanpa tedeng aling-aling, Instagram, sebagai salah satu aplikasi sosial media terpopuler saat ini, didapuk sebagai pemicu perguliran pertunjukan yang mengulang-alikkan interaksi langsung dengan penonton dengan pertunjukan ini.

Batas Ruang dan Visual

Diakui atau tidak, perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat semakin lama membentuk pola komunikasi kita condong ke arah visual–yang juga dibarengi oleh dunia audio. Melalui gawai, kita bisa menghadirkan diri dalam bentuk visual, baik foto maupun video, termasuk teks, dengan mudah. Kita bahkan bisa menentukan seperti apa tampilan identitas diri yang ingin dipajang, lengkap dengan berbagai perangkatnya.

Sebagai indera yang paling mudah untuk menyerap berbagai pengalaman yang dihadirkan oleh lingkungan sekitar, mata atau indera penglihatan sama mudahnya untuk dibohongi. Tidak semua yang terlihat adalah kebenaran, bisa jadi dia hanyalah hasil manip**asi dari kebenaran sesungguhnya yang ditutup-tutupi.

Bisa jadi karena menyadari akan ilusi dunia maya dengan segala kedigdayaan visualnya, FAY memilih bentuk pertunjukan yang tidak menawarkan spektakel-spektakel yang memukau. Pertunjukan dinisbatkan dalam bentuk perbincangan yang cukup cair dengan penonton yang diselingi dengan beberapa “kesibukan” perbincangan antara si lelaki dengan si gadis. Bisa jadi p**a pemilihan perbincangan semacam ini untuk menyindir masyarakat pengguna gawai dan media sosial yang acapkali menafikan komunikasi langsung dengan orang yang hadir nyata di hadapannya dan lebih memilih untuk bercengkrama dengan telepon pintarnya.

Pilihan bentuk semacam ini cukup menarik. Meski jarak ruang antara penampil dengan penonton cukup jelas dengan menciptakan dua ruang yang saling berhadapan, layaknya panggung pertunjukan konvensional seperti di panggung proscenium–walau tanpa penggunaan properti penunjang levelitas khusus. Sesekali jarak ruang yang ada ditebas dengan penampil yang masuk ke ruang penonton untuk mengajak salah satu penonton maju memberikan testimoni pengalamannya dalam bermedia sosial.

Dalam penggunaan ruang, tidak dijejalkan batas yang jelas mana ruang penampil dan ruang penonton karena batasan itu sendiri selalu diterobos oleh pola interaksi antara penonton dan penampil yang berserakan di sepanjang dilangsungkannya pertunjukan ini. Bahkan saking banyaknya pembobolan batasan antara ruang penampil dan penonton, batasan mana pertunjukan dan mana presentasi “tugas kuliah” ini juga cukup kabur. Meskipun belakangan ketika saya baca kembali leafletnya pasca pentas dipahami bahwa bentuk semacam ini lahir dari proses diskusi pra-produksi, “Apa yang tampak melalui teks atau visual dalam pementasan Identity Project tidak lepas dari kenyataan negosiasi di belakang panggung,” (Catatan – Pembuat dalam leaflet).

Sengaja sebelum memasuki ruang pertunjukan, leaflet yang dibagikan tidak saya baca tuntas karena saya ingin mendapatkan pengalaman peristiwa pertunjukan langsung terlebih dahulu baru ketika dibutuhkan verifikasi atas hal-hal yang ingin saya pertanyakan atau terjemahkan dari pertunjukan, baru saya mengintip isi leaflet pasca pertunjukan digelar. Saya hanya takut saya akan memiliki ekspektasi yang berbeda ketika saya sudah menamatkan isi leaflet terlebih dahulu.

Pembobolan batasan ruang juga dihadirkan melalui proses editing foto yang dilakukan secara live di hadapan penonton lewat proyeksi LCD di tembok. Jika biasanya proses semacam ini dilakukan di belakang panggung–demi menjaga “kekhusyu’an” spektakel–di sini justru proses pengeditan foto itulah spektakel itu sendiri. Cukup menarik juga melihat perbincangan para aktornya yang dilatarbelakangi proses masking, cutting, dan pengaturan saturasi foto melalui program Photoshop.

Ada p**a bagian di mana kamera yang tadinya hanya digunakan sebagai properti para aktornya, kemudian digunakan untuk menyorot dan menampilkan video penonton di layar. Penonton diajak (lebih tepatnya ditodong) untuk welfie (atau wefie – gabungan antara we dan selfie, yakni berfoto bersama-sama). Di sini jelas sekali penonton tidak hanya dianggap sebagai pengunjung tapi merupakan bagian dari ruang pertunjukan.

Kedigdayaan visual yang biasanya diagungkan sebagai ilusi yang memukau harus “ditelanjangi” oleh proses penciptaan visual itu sendiri. Visual yang menghadirkan batas ruang, visual p**a yang membatasi pemaknaan ruang visualnya sendiri.

Cair tapi Berkerikil

Pemilihan bentuk pertunjukan yang tidak biasa semacam ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Meski saya yakin ada juga penonton yang berpikiran bahwa pertunjukan semacam ini tidak bisa digolongkan ke dalam pertunjukan, mengingat momen diskusi dengan penonton yang cukup banyak di dalam pertunjukan. Bagi saya pribadi, selama sebuah pertunjukan mampu menghadirkan interaksi antara penonton dengan penampil (aktor, penari, pemusik dan seniman lainnya), itu sudah cukup memenuhi syarat terciptanya peristiwa pertunjukan (atau kalau dalam kasus ini peristiwa teater).

Hanya saja memang kalau boleh memberikan pendapat, pola interaksi dengan penonton dan batas antara di titik mana momen untuk benar-benar menjadi pertunjukan (di mana kami sebagai penonton tahu bahwa kami memang sedang menjadi penonton dan bukan bagian dari pertunjukan) harus diperkuat lagi. Pilihannya adalah sangat halus batasnya hingga tidak terasa penonton telah dibawa ke ruang “ilusi” pertunjukan sekaligus di saat lain tiba-tiba sudah menjadi penonton yang berinteraksi langsung dengan aktor-aktornya. Pilihan lainnya adalah ketegasan penentuan batas antara ruang penonton sebagai penonton dan penonton sebagai bagian dari pertunjukan harus dipertajam, ciptakan kontras yang sangat mencolok.

Karena harus saya akui, tanpa bermaksud mencela atau menghakimi, ada saat di mana ketika penonton sedang asyik-asyiknya berinteraksi dengan para penampil dan tengah hanyut dalam kontemplasi akan makna identitas di dunia maya, penonton tiba-tiba “dicueki” begitu saja dengan perbincangan antara si lelaki dan si gadis yang membicarakan hal-hal yang sifatnya “hanya mereka yang tahu”. Mungkin saja FAY memang tetap ingin menghadirkan penokohan dalam pertunjukan ini walau memang tanpa narasi lakon dan penokohan karakter khusus. Hanya saja patut disayangkan terdapat keterputusan emosi antara penonton dengan penampil.

Kedua aktor juga tampak masih cukup canggung dan kaku dalam berinteraksi dengan penonton, terutama dalam menanggapi celetukan kelakar penonton yang notabene rekan-rekan sesama aktor dari berbagai macam komunitas. Dapat dimaklumi, aktor-aktor yang tampil pada Identity Project ini tampaknya masih baru, jika dibandingkan dengan aktor-aktor FAY senior yang lain seperti Verry Handayani, Febrinawan Giant, Sulistyowati dan lain sebagainya. Namun ada untungnya juga para penonton pada malam itu para aktor yang memang sudah dekat dengan FAY. Kelakar-kelakar yang mereka celetukkan mampu menghidupkan suasana dan semakin membuat suasana cair, sehingga peristiwa pertunjukan tetap bisa hadir dengan cukup gayeng. Menariknya, meski berkelakar, mungkin karena sama-sama memahami dunia pertunjukan, kelakar mereka tetap terkontrol, tidak beringas hingga mengambilalih keseruan pertunjukan malam itu.

Bisa jadi batasan-batasan yang “dicueki” semacam ini juga merupakan sindiran akan keberingasan para warganet dalam menerobos batas-batas norma dan etika dalam menggunakan media sosial. Mereka (termasuk kita) bisa dengan seenaknya mengunggah konten yang kita anggap sebagai represetnasi identitas yang ingin kita tampilkan, tidak peduli apakah itu nyata atau artifisial. Serta kebebasan para warganet yang bisa berkomentar apapun tanpa perlu dipusingkan untuk benar-benar mempertanggungjawabkan “apresiasi” mereka.

Pemilihan judul “Identity” (identitas) pun bagi saya masih terlalu luas. Sebab identitas tidak hanya perkara bagaimana menghadirkan diri secara visual di dunia maya atau di dunia lainnya tapi bagaimana kita menyikapi sebuah peristiwa. Meski secara singkat perkara ini nampaknya sempat dihadirkan di pertunjukan ini melalui respon kedua aktor yang nyinyir atas sikap salah satu teman mereka (di dunia maya) walau kemudian hal ini lebih banyak digunakan sebagai pemicu isu perbincangan akan identitas di dunia maya dan bukan menjadi isu tersendiri. Meminjam celetukan karakter Rachel Dawes dalam film Batman Begins, “It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you.”

Selamat dan terima kasih setingginya untuk Forum Aktor Yogyakarta atas eksperimen sekaligus perbincangan atas fenomena pemaknaan identitas di dunia maya ini. Butuh waktu beberapa hari untuk menuliskan dan mengulas pertunjukan ini karena di samping ada beberapa keperluan yang harus saya usaikan, berkontemplasi perkara identitas memang tidak ada habisnya. Bukankah pertanyaan identitas ini selalu mendengung di telinga siapa saja?

* M. Dinu Imansyah. Aktor dan penikmat seni pertunjukan. Bergiat di Kalanari Theatre Movement Yogyakarta.

Dinu Imansyah, menulis reviewnya atas pertunjukan Forum Aktor Yogyakarta berjudul Identyty Project, 11 Oktober lalu di UGM.

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Forum Aktor Yogyakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Forum Aktor Yogyakarta:

Share