06/01/2025
" " " " " " T E R G O D A " " " " " "
Aku masuk ke dalam kamar mandi, namun belum sempat menutup pintunya, seseorang menyerobot masuk ke dalam.
"Firman!"
Firman segera menutup pintu kamar mandi dengan cepat. Kemudian menaruh jari telunjuknya di bibirku. Aku menatapnya kebingungan, mau apa dia.
"Jangan berisik, Mbak. Nanti Kak Hendra dengar." ucapnya kemudian melepaskan jarinya dari bibirku. Mataku mengerjap memandangnya. Firman juga menatapku dengan tatapan sayu.
"Jika kau ingin memakai kamar mandinya bilang, biar Mbak yang keluar." kataku, bersiap membuka pintu. Namun Firman malah membalik badanku agar menghadapnya. Aku sedikit tersentak, apalagi Firman mengunciku dengan kedua tangannya di letakan ke tembok.
"Aku tau Mbak tidak puas kan sama Kak Hendra?" tanyanya menelisik wajahku. Aku membuang pandangan ke samping. Firman mencondongkan wajahnya mendekat hampir menyentuh wajahku. Posisi ini membuat aku yang terbakar g4irah semakin memanas.
"Itu bukan urusanmu!" ucapku masih enggan menatapnya.
"Aku tau, aku sering mendengarnya." jawabnya. Aku langsung menatapnya. "Aku tau Mbak tidak puas dengan Kak Hendra, aku juga tau Kak Hendra sering bersikap kasar padamu, aku tau semuanya, Mbak. Akuβ mendengarnya." sambungnya.
"Maaf, seharusnya kau tidak harus tau tentang permasalahan rumah tanggaku." lirihku menunduk. Aku merasa malu.
"Tidak. Justru aku yang harusnya minta maaf, aku terlalu ikut campur. Tapi aku juga tidak ingin melihat Mbak Winda terluka."
"Jadi, aku ingin membantumu." timpalnya lagi.
"Membantu apa?" tanyaku. Aku menatapnya lekat. Firman mencondongkan wajahnya kembali, bibirnya hampir menyentuh daun telingaku. "Memuaskanmu." bisiknya.
Mataku langsung membulat sempurna. "Tidak Firman, ini salah." Aku menggeleng.
"Aku janji, Mbak. Tidak akan berbuat lebih." bisiknya lagi. Kali ini Firman mencium tengkukku membuat darahku berdesir.
"Taβtapi, Firmanβ" Sstttt! Firman memberi kode agar aku diam. Firman mengelus bahuku sambil terus m3ng3cup l3h3rku. Hingga akhirnya Firman m3lum4t bibirku dengan lembut. Aku pasrah! Tubuhku terasa semakin panas terbakar g41rah.
"Sshhh ...."
Aku menggigit b1bir, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Firman meng3lus pah4ku hingga ke atas. Dia sepertinya terkejut saat tau bahwa aku tidak memakai d4laman.
Ssshhh ahh!
Aku merem melek di buatnya, Firman mencu-mbuiku dengan bringas, aku berpegangan pada sisi tembok, Firman menjilat dan melumat setiap inci kulitku.
βEngghh ....β erangku, pasrah dalam kenikmatan yang di berikan adik ipar.
Firman mendekat kemudian mulai m3nc1um1ku kembali. Firman membantuku mencapai pelepasan dengan jari nya. Napasku terengah dad4ku naik turun saat sudah berhasil melepaskan apa yang selama ini tertahan.
Badanku seketika melemas, aku berpegangan pada bahu Firman. Firman menahan pinggangku agar tidak jatuh. Firman mencondongkan wajah mengecup pipiku sekilas.
βKau sangat cantik.β bisiknya.
Aku menyeka keringat di kening, keringatku sangat banyak membasahi piyamaku dan kaos Firman. Aku sedikit menyesal, namun rasa yang di berikan Firman sangat nikmat, padahal belum dengan belalainya.
Tak lama kemudian, deru langkah kaki mendekat. Lalu mengetuk pintu kamar mandi yang ada aku dan juga Firman di dalamnya.
Tok tok tok!
Aku dan Firman terkejut.
"Win, kau di dalam?" teriakan dari luar.
Itu suara Mas Hendra, aku menjadi panik. Menggigiti kuku jari. Kemudian menatap ke arah Firman. Firman juga sama paniknya denganku. "Aβ" Firman membekap mulutku. Dia memberiku kode agar jangan bersuara.
"Win, kau di dalam? Cepatlah keluar. Aku ingin memakai kamar mandinya." teriakan dari luar sambil mengetuk pintu.
Aku semakin gelisah. Bagaimana caraku keluar? Di dalam sini ada Firman.
Mas Hendra pasti akan marah dan mengusirku jika tau aku di dalam kamar mandi bersama adiknya.
"Winda, jika kau di dalam tolong jawab aku?! Atau aku akan mendobrak pintunya!" Ancam Mas Hendra.
Mataku membulat sempurna. Aku menatap ke arah Firman, kemudian Firman memberiku kode untuk berbicara.
"Em, i-iya, Mas. Aku di dalam, perutku sangat mulas, bisa kah kau tunggu saja di kamar. Saat aku selesai nanti aku akan ke sana. Aku takut kau terlalu lama menunggu." Aku mengucapkan itu dengan rasa gugup luar biasa.
Ku dengar langkah kaki Mas Hendra berjalan menjauh. Aku dan Firman bernafas lega. Akhirnya kami bisa keluar juga.
Aku segera membuka pintu, mempersilahkan Firman untuk yang keluar lebih dulu. Firman mendekat kemudian mengecup keningku. Spontan aku langsung mendorong Firman. Dalam hal genting seperti ini masih saja dia berbuat seperti itu. Tapi meskipun begitu, aku sangat berterima kasih padanya.
Setelah Firman tidak terlihat aku segera keluar dari kamar mandi menyusuli Mas Hendra di kamar.
Setiba di sana Mas Hendra menelisikku. Aku sangat gugup luar biasa.
"Win, kau baik-baik saja?"
"Em, ba-baik, Mas. Memangnya aku kenapa?" tanyaku sambil menutupi bahuku sebab piyama yang ku kenakan sedikit berantakan oleh ulah Firman.
"Bukankah kau tadi sakit perut?" tanyanya.
Aku sedikit tersentak. "Em, iya. Tadi perutku sakit sepertinya aku terlalu banyak makan pedas."
"Minum obat, sebelum sakitnya makin parah. Aku mau ke kamar mandi sebentar." Mas Hendra berjelan ke luar kamar.
Huh! Akhirnya aku bisa bernapas lega.
Aku naik ke atas ranjang, merebahkan diri lalu memejamkan mata.
***
β’ Jangan lupa like dan komentar pada kolom
komentarnya ya????
β’ Apabila ada yang ingin share juga silahkan.