12/03/2022
MENOHI
SEWAKTU bekerja sebagai Capacity Builders pada Program Sustainable Agriculture Program di PURA KOTA SARE ( Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Tani Kawasan Leragere) , di Leragere Lebatukan Lembata kerja sama mitra Catholic Relief Service ( CRS), bersama dengan POKMAS ( Kelompok Masyarakat), organisasi sayap Petani, Farmers Organization di sana , kami mendatangkan mesin pemecah kemiri.
Mesin Pemecah kemiri dipandang sebagai jalan keluar pada waktu itu,untuk menalangi problem petani membutuh banyak waktu bahkan berhari hari memecah kemiri dalam jumlah banyak, memisahkan bungkil dari batoknya ( cangkang, tempurung).
Leragere termasuk kawasan dengan penghasil kemiri terbanyak di Lembata setelah Kedang ( Omesuri dan Buyasuri).Kualitas kemirinya pun lebih baik kemiri Kedang dari hasil uji laboratorium ( uji kadar air dll) yang pernah kami fasilitasi di bawah bendera group Catholic Relief Service( CRS) Indonesia.
Alat yang dipakai Petani saban hari memecah kemiri terbilang sederhana. Pelepah pinang yang menua (biasanya pelepah pinang akan jatuhan secara alami ke tanah bila sudah menua), diiris/dibelah selebar kurang lebih 20 cm dengan panjang kurang lebih 60 cm lalu dilipat lipat beberapa lapis dari bidang lebar , sedngkan dari bidang panjang dilipat bagi dua kurang lebih sepanjang 30 cm. Di as lipatan bagi dua, dibuatkan rongga seperti membuat lingkaran seukuran biji kemiri tempat nanti menyanggah biji kemiri. Untuk menjamin biji kemiri tidak terlontar saat kemiri dititi pada batu sebagai wadah pemecah, di ujung rongga tempat disanggah kemiri diikat dengan tali dari daun lontar ( kerageng).
Nama alat itu, Menohi.
Nama Menohi sesungguhnya padanan dari cara memisahkan bungkil kemiri dari batoknya yang disebut bohi.
Uji coba menggantikan alat pemecah kemiri yang manual dari Menohi dengan yang mekanik dengan mesin pemecah kemiri ternyata gagal. Hasil pecahan kemiri umumnya hancur , sedangkan pasar membutuhkan bungkil kemiri bulat.
Meski gagal, petani mendapat ilmu , pengetahuan dan pengalaman dari uji coba ini. Bagi Petani di sana, bukan soal gagal, tapi dari uji coba dengan setidaknya dua cara itu mereka dapat membandingkan mana terbaik.
Bagi petani di sana, lebih baik gagal karena sudah mencoba dari pada tidak mau mencoba karena takut gagal.
Usai petani lakukan uji coba dan memperbandingkan dengan alat manual, mereka kemudian kembali gunakan Menohi meski seperti semula, mereka butuh waktu lama untuk memecah kemiri.
Di kampung, Menohi pasti selalu tetap ada, dijumpai di pondok, lumbung, di dinding rumah, dapur bahkan hingga di ruang tamu.
Menohi, perpaduan kemiri ,pinang dan batu yang didapat cuma cuma tanpa bayar dari alam.
# Tulisan dishare untuk maksud dua hal : Kemiri ternyata bisa kasih sekolah orang sampai di mana pun tingkatnya dan ilmu pengetahuan apa pun berbasis dan kembali kepada kebudayaan.
# Tabe !.