27/07/2020
Pernah gak ditanya anak, "Kapan kita sekolah lagi?"
Kami sering ditanya begitu dan kami selalu menjawab, "Tunggu sampai Corona pergi."
Untuk anak usia diatas 10 tahun kita bisa menjelaskannya tapi untuk anak dibawah usia itu, saya yakin tidak sederhana itu.
Kebosanan anak membuat para orang tua dilanda kekhawatiran jika sekolah kembali aktif.
Pertanyaan utama kekhawatiran tersebut adalah, "Bagaimana jika tertular virusnya di sekolah?"
Mari kita bahas.
Pertama, banyak yang "lupa" bahwa saat anak-anak dibatasi untuk keluar rumah tapi orang tua (dewasa) lainnya justru lebih sering berada diluar rumah dengan berbagai alasan.
Dan "lupa" bahwa mereka (orang dewasa) tidak kebal terhadap virus, sehingga banyak yang keluar rumah tanpa memakai masker dan membersihkan diri setelah keluar rumah.
Resiko tertular dari orang tua (orang terdekat) justru paling dominan daripada teman sebayanya.
Kedua, jika anak-anak "dipaksa" untuk memakai atribut namun pihak orang dewasa justru mengabaikannya.
Mereka merasa lebih kuat daripada anak-anak padahal virus "lebih s**a" melukai orang dewasa dengan penyakit yang terdeteksi ataupun tidak.
Jangan sepelekan sakit maag, ISPA dan juga penyakit 'ringan' lainnya karena jika punya sejarah penyakit itu maka organ yang terserang akan bereaksi dulu saat virus "menyapa".
Anak-anak diberi vaksin setahun sekali/dua kali untuk menguatkan kekebalan tubuh.
Sedangkan para orang dewasa tidak mengindahkan vaksinasi untuk tubuh mereka.
Ketiga, anak-anak 'disibukkan' dengan tugas sekolah melalui online yang pastinya lebih sering memegang handphone.
Yakinkah Anda bahwa anak-anak takkan KEPO untuk mengakses situs-situs yang tidak berhubungan dengan tugas-tugasnya?
Apalagi jika orang tua WFH atau bahkan kerja kembali di kantor yang otomatis membuat anak lebih bebas berselancar.
Keempat adalah depresi anak.
Tidak ada yang menyangka bahwa anak-anak bisa mengalami depresi. Bahkan kasusnya meningkat saat pandemi ini.
Depresi pada anak sering diabaikan karena dianggap anak-anak hanya CAPER (cari perhatian). Padahal mereka sudah lelah dengan tugas sekolah dan VC secara terus menerus. Bahkan lebih banyak daripada saat mereka bersekolah.
Beberapa ciri depresi anak adalah TANTRUM, MALAS, TIDAK KONSENTRASI, dan LEBIH SERING MENGANTUK.
Kelima ini mungkin yang agak penting, yaitu mulai berkurangnya rasa empati. Mungkin terdengar sarkastik tapi itulah kenyataannya.
Anak-anak di sekolah 'terbiasa' untuk berbagi baik berbagi pengetahuan atau sekedar makanan yang dibeli/dibawa. Namun selama 'libur', anak-anak seakan kehilangan perasaan itu. Apalagi jika dia adalah anak tunggal yang (biasanya) terpenuhi kebutuhannya. Atau anak-anak dengan pola asuh serba ada.
Anak saya sering berbagi/dibagi oleh teman-temannya saat punya makanan/mainan. Dan hal sederhana itu sudah membuatnya bahagia.
Saat dirumah, ia kehilangan rasa itu. Walau dia punya saudara tapi rasanya berbeda saat dia bersama teman sebayanya.
Jadi apakah ketakutan kita sebagai orang tua justru melupakan kebutuhan anak itu sendiri?
Semoga bisa dijadikan renungan untuk kita semua.
Dan terima kasih untuk para guru yang sudah meluangkan waktu dan tenaga agar anak-anak bisa mengikuti pelajaran sekolah sekaligus meringankan kebosanan mereka.
Tulungagung, 27.07.2020