Bidak Catur

Bidak Catur Menulis adalah Duniaku. Membaca adalah Fantasiku. Memasak adalah Kreasiku. Berbagi informasi adalah Keharusan. Welcome to My Page

    Berada di situasi kayak gini ngerasa bosan gak sih??Jawabnya : BANGET..!!!Kita gak bisa nongki lama-lama.Gak bisa si...
22/06/2021





Berada di situasi kayak gini ngerasa bosan gak sih??

Jawabnya : BANGET..!!!

Kita gak bisa nongki lama-lama.
Gak bisa silahturahmi (bahasa jawa : endang-endang)
Gak bisa mudik (pengen....😭😭)
Intinya, kita dilarang keluar rumah kecuali untuk belanja, kerja dan kepentingan mendadak.

Pernah gak saking bosennya sempat kepikiran untuk nekad?

Jawabnya : PASTI..!!

Tapi ke-nekad-an kita gak berlebihan.
Kita bisa nongki di warkop/cafe/restoran walau harus bermasker.
Kita masih silahturahmi walau sebatas satu kota/daerah.
Dan kita masih bisa keluar rumah untuk sekedar beli makan/minum.

Life must go on...

Kita memang perlu waspada virus yg gak mau ngilang ini.
Tapi kita punya kewajiban yg gak bisa diremehkan.
Yaitu biaya hidup.

Daripada stress 'terjebak' dirumah, mending cari kegiatan yg bisa dilakukan di rumah.
Kayak ikutan yang juga bisa di-withdraw (dicairkan)
Kuncinya emang harus extra sabar karena gak bisa langsung dapet cuan.

Mau coba??

Ikuti survei online dan kumpulkan poinnya. Dapatkan pulsa, paypal dan shopping voucher setiap bulan!

 Pernah gak ditanya anak, "Kapan kita sekolah lagi?"Kami sering ditanya begitu dan kami selalu menjawab, "Tunggu sampai ...
27/07/2020



Pernah gak ditanya anak, "Kapan kita sekolah lagi?"
Kami sering ditanya begitu dan kami selalu menjawab, "Tunggu sampai Corona pergi."
Untuk anak usia diatas 10 tahun kita bisa menjelaskannya tapi untuk anak dibawah usia itu, saya yakin tidak sederhana itu.

Kebosanan anak membuat para orang tua dilanda kekhawatiran jika sekolah kembali aktif.
Pertanyaan utama kekhawatiran tersebut adalah, "Bagaimana jika tertular virusnya di sekolah?"

Mari kita bahas.

Pertama, banyak yang "lupa" bahwa saat anak-anak dibatasi untuk keluar rumah tapi orang tua (dewasa) lainnya justru lebih sering berada diluar rumah dengan berbagai alasan.
Dan "lupa" bahwa mereka (orang dewasa) tidak kebal terhadap virus, sehingga banyak yang keluar rumah tanpa memakai masker dan membersihkan diri setelah keluar rumah.
Resiko tertular dari orang tua (orang terdekat) justru paling dominan daripada teman sebayanya.

Kedua, jika anak-anak "dipaksa" untuk memakai atribut namun pihak orang dewasa justru mengabaikannya.
Mereka merasa lebih kuat daripada anak-anak padahal virus "lebih s**a" melukai orang dewasa dengan penyakit yang terdeteksi ataupun tidak.
Jangan sepelekan sakit maag, ISPA dan juga penyakit 'ringan' lainnya karena jika punya sejarah penyakit itu maka organ yang terserang akan bereaksi dulu saat virus "menyapa".
Anak-anak diberi vaksin setahun sekali/dua kali untuk menguatkan kekebalan tubuh.
Sedangkan para orang dewasa tidak mengindahkan vaksinasi untuk tubuh mereka.

Ketiga, anak-anak 'disibukkan' dengan tugas sekolah melalui online yang pastinya lebih sering memegang handphone.
Yakinkah Anda bahwa anak-anak takkan KEPO untuk mengakses situs-situs yang tidak berhubungan dengan tugas-tugasnya?
Apalagi jika orang tua WFH atau bahkan kerja kembali di kantor yang otomatis membuat anak lebih bebas berselancar.

Keempat adalah depresi anak.
Tidak ada yang menyangka bahwa anak-anak bisa mengalami depresi. Bahkan kasusnya meningkat saat pandemi ini.
Depresi pada anak sering diabaikan karena dianggap anak-anak hanya CAPER (cari perhatian). Padahal mereka sudah lelah dengan tugas sekolah dan VC secara terus menerus. Bahkan lebih banyak daripada saat mereka bersekolah.
Beberapa ciri depresi anak adalah TANTRUM, MALAS, TIDAK KONSENTRASI, dan LEBIH SERING MENGANTUK.

Kelima ini mungkin yang agak penting, yaitu mulai berkurangnya rasa empati. Mungkin terdengar sarkastik tapi itulah kenyataannya.
Anak-anak di sekolah 'terbiasa' untuk berbagi baik berbagi pengetahuan atau sekedar makanan yang dibeli/dibawa. Namun selama 'libur', anak-anak seakan kehilangan perasaan itu. Apalagi jika dia adalah anak tunggal yang (biasanya) terpenuhi kebutuhannya. Atau anak-anak dengan pola asuh serba ada.
Anak saya sering berbagi/dibagi oleh teman-temannya saat punya makanan/mainan. Dan hal sederhana itu sudah membuatnya bahagia.
Saat dirumah, ia kehilangan rasa itu. Walau dia punya saudara tapi rasanya berbeda saat dia bersama teman sebayanya.

Jadi apakah ketakutan kita sebagai orang tua justru melupakan kebutuhan anak itu sendiri?
Semoga bisa dijadikan renungan untuk kita semua.
Dan terima kasih untuk para guru yang sudah meluangkan waktu dan tenaga agar anak-anak bisa mengikuti pelajaran sekolah sekaligus meringankan kebosanan mereka.

Tulungagung, 27.07.2020

 Beberapa hari lalu, saya mendengar kabar bahwa sahabat masa kecilku meninggal dalam keadaan yang bisa dikategorikan seb...
20/07/2020



Beberapa hari lalu, saya mendengar kabar bahwa sahabat masa kecilku meninggal dalam keadaan yang bisa dikategorikan sebagai Depresi Akut.
Memang sejak lulus SD, dia mengalami sedikit gangguan kejiwaan dan delusi berlebihan.
Yang terparah ketika memasuki jenjang SMA (saya beda sekolah dengan dia).

Apa sebabnya?

Kekerasan baik secara verbal dan fisik yang justru dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi dan menghargai kita sebagai seorang anak.
Ironisnya Orang Tua-lah 'pelakunya'.

Dengan mengatasnamakan BANDEL dan NAKAL, kita mengalami KDRT.
Dipukul, dicubit, dibenturkan ke tembok adalah beberapa kasus KEKERASAN FISIK.
Body Shamming, dibentak dan dibandingkan dengan orang lain (bahkan dengan saudara sendiri) adalah bentuk KEKERASAN VERBAL.

Tidak ada yang mengira bahwa saya mengalami hal-hal di atas, sama yang dialami sahabatku itu.
Bahkan di depan mataku sendiri, dia pernah mempertanyakan alasan orang tuanya memperlakukan dia seperti itu.
Jawabannya sama persis dengan apa yang dikatakan salah satu orang tua saya saat saya menanyakannya.

Sakit banget dengernya.
Rasanya lebih perih dari ditusuk pisau paling tajam.
Saya yakin anak-anak korban KDRT ini juga merasakannya.

Perbedaan kami adalah cara mengatasinya.
Saya memilih untuk diam dan cuek hingga menjadi pribadi yang (seakan) gak punya empati.
Sedangkan sahabatku justru memendam semuanya hingga dia berdelusi akut.

Apakah tindakan KDRT orang tua itu akan dibiarkan terus?

Tergantung pihak yang bersangkutan.
Saya memilih untuk mengadu kepada Allah SWT.
Menangis, merengek, menumpahkan seluruh kesah yang mengganjal di dada.
Karena semua ujian pasti ada jalan keluarnya.
Hanya saja kita harus pintar merasakan petunjuk-Nya.

Stop KDRT terhadap anak.
Stop menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalan.
Stop melakukan KESALAHAN pola asuh yang dilakukan orang tua kita.
Dan yang penting STOP MEMBENARKAN TINDAKAN KEKERASAN KEPADA ANAK DENGAN ALASAN "MENDIDIK".

Semoga postingan ini bisa menjadi pembelajaran untuk setiap orang tua.
Karena saya juga sudah menjadi ORANG TUA dan berharap pola asuh itu berhenti di saya.

Tulungagung, 20.07.20

Address

Jalan Wilis 129a, RT. 001/RW. 006, Mojosari, Kauman
Tulungagung
66261

Telephone

+6282141639449

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bidak Catur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Bidak Catur:

Share