Alasan-Alasan Hidup

Alasan-Alasan Hidup Halaman ini adalah untuk menjadi latihan tulis menulis kami.

08/12/2023

Sabar menunggu pertolongan Allah

Entah mau disebut apa sesuatu yang tak berbentuk.
Entah ucapan apa yang pantas di pakai untuk mengutuk.

Ketika keadaan tiba-tiba berubah dan benar-benar membuat diam.
Ketika tangan dan kaki sampai ke ujung kepala sama-sama merasakan keram.

Kemudian di dalam jiwa yang dalam ada keraguan dan keyakinan yang menggoyang hati.
Kemudian muncul harapan dan angan-angan yang makin menambah rasa pedih.

Namun di tengah-tengah keheningan di dalam kesunyian . Entah dari mana asalnya ada suara bisikan yang memenangkan jiwa yang mengamuk tak karuan ini.

Ternyata bisikan itu menceritakan kembali masa lalu yang kelam dan kejam yang telah tertinggal jauh di belakang.

Tentang betapa hebat nya sabar dan doa menemani jiwa dalam perjalanan melewati rintangan masa masa itu. Begitu indah bisikan itu bercerita pada jiwa yang diam ini.

Terakhir, bisikan yang selembut angin itu memberi pesan yang sangat berkesan, seakan jurus terakhir sang pendekar.

Dia mengabarkan untuk tetap mendengar doa yang di panjatkan pada Tuhan. Tetaplah fokus mendengar nya, karena banyak doa yang tak terkabulkan karena doa sendiri tidak di dengarkan oleh si pemilik doa. Hanya mengucapkan doa yang di hapal setiap habis sholat. "Bukankah begitu orang kebanyakan sekarang. Berdoa tapi seperti mengulang hapalan. Kosong dan tidak mengerti apa itu doa. Seperti susunan acara ulang tahun kota." Begitu katanya.

Wahai jiwa yang sedih bersabarlah menunggu pertolongan Allah.

Wahai jiwa yang berdoa dengarlah doa mu...

Wahai jiwa yang besar ingatlah Allah yang Maha bersabar dengan zikir.

Wahai jiwa yang lelah, tenanglah mendamaikan perasaan agar kekecewaan tak punya tempat di ruang hati mu...

Wahai.....
Wahai Jiwa yang hidup, jaga kesehatan dan jaga hati dari membenci yang di miliki orang lain.

Hiduplah....

Jiwa yang suci....


Sekian.

Muhammad Taufik Hidayat

21/08/2023

Nafsu dan logika

Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang.(Wikipedia).

Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu. Logis dalam bahasa sehari-hari biasa disebut dengan masuk akal (Rapar, 1996).

Di zaman ini banyak orang yang lebih mementingkan nafsunya daripada logika. Mementingkan kepuasan, kesenangan, kebahagiaan yang bersifat sementara, tidak menyadari kalau sedang di butakan nafsu. Nafsu membuat seseorang lupa kalau akhir dari semua itu hanya mengobati luka penyesalan. Mereka tidak lagi memakai logika berfikir jernih. Menghitung dampak dari mengikuti keinginan nafsu, seolah tidak ada yang peduli, tidak ada lagi yang memperhatikan dirinya setelah sekian lama terlupakan. Merasa semua akan baik-baik saja. Padahal sejatinya sedang berjalan ke jurang kehancuran. Logika yang dapat menyelamatkannya di singkirkan sejauh mungkin. Merasa logika hanya memperlambat keinginan.

Nafsu tidak memakai logika, karena kalau memakai logika bisa lebih berbahaya (syukron yusuf). Pikiran dan logika itu jelas berbeda. Sebab nafsu dapat menguasai otak melalui perasaan, maka di saat seperti ada yang menghalangi keinginan nafsu, disitulah perasaan menyuruh otak berfikir supaya menyelamatkan eksistensi keberadaan nafsu itu. Maka timbullah keputusan yang terkadang tidak masuk akal. Terkesan memaksa di terima. Inilah yang di sebut egois.

Sedangkan peran logika dalam diri seseorang manusia adalah benteng terakhir ketika nafsu sudah menguasai diri seseorang. Berbeda dari nafsu, logika malah tidak menyingkirkan keinginan nafsu. Logika hanya mengola nafsu supaya tidak kesetenan. Maksudnya agar nafsu tidak terlalu buas. Tidak mengambil keputusan secara sepihak. Logika bermaksud supaya keputusan yang akan di ambil tidak melukai diri sendiri atau orang lain. Peran logika begitu penting. Sangking pentingnya presiden pertama pak s**arno lebih mendahulukan logika daripada perasaan nafsunya. Bisa saja dia sendiri yang memutuskan keinginan nya tentang bangsa ini. Tapi pak s**arno malah memilih bermusyawarah sesama para toko pendiri bangsa. Mencocokkan logika untuk kemakmuran bangsa merah putih. Lahirlah pancasila yang sampai sekarang selalu hidup di dalam sanubari rakyat Indonesia.

Logika mengajak manusia berfikir lebih valid, akurat dan tepat. Logika Dengan begitu tidak ada yang berat hati alias sakit hati. Kalau akhirnya ada yang sakit hati setelah keputusan dari hasil mencocokkan logika sesama teman kerja, kolega, itu pun tidak lama dan bahkan sakit hati nya lebih cepat hilang nya, karena sudah tahu bahwa itu keputusan bersama.

Namun logika tidak bisa di sebut hukum mutlak. Terkadang di satu sisi logika tunduk pada nafsu. Semisal tentang Tuhan. Nafsu atau perasaan mengatakan ada Tuhan maka logika tidak bisa menolak itu. (Syukron). Di satu sisi memang logika harus mengalah dan tunduk patuh pada keinginan nafsu. Jika itu sudah menyangkut keyakinan manusia pada Tuhan. Logika tidak bisa menghalangi manusia berterima kasih pada siapa yang menciptakan nya. Logika bisa dipakai jika itu tentang kehidupan. Urusan hak manusia, serta yang terkait urusan keadilan sosial.

Sekian....

M. Taufik hidayat

Waktu  Galau, gelisah, muak dengan segala apa yang sudah di kerjakan secara berulang terus setiap hari adalah bukti bahw...
30/07/2023

Waktu

Galau, gelisah, muak dengan segala apa yang sudah di kerjakan secara berulang terus setiap hari adalah bukti bahwa harus ada hal yang baru dan menantang. Seakan mau mengamuk rasanya saat dalam keadaan bingung mau ngapain lagi.

Setelah tugas inti selesai di kerjakan sampai tuntas. Mau beristirahat sepanjang hari pasti bosan juga akhirnya. Malahan yang ada kemaksiatan yang kita kerjakan. Hal -hal yang justeru merusak diri dan mengganggu ketenangan orang lain.

Bukan karena tidak mampu mengisi waktu luang dengan kebaikan. Bukan karena gagal memahami waktu. Sehingga memanfaatkan waktu luang dengan bercanda, bercerita tentang apa saja, dan kadang juga orang yang tidak salah pun di ceritakan aibnya, yang sesekali menambah -nambah hal baru dari orang yang kena gosip. Bermain game, jalan-jalan tak tentu arah. Intinya memanfaatkan waktu luang dengan tidak pada tempatnya.

Ada banyak catatan sejarah yang menceritakan orang-orang hebat yang mengubah dunia dengan memahami waktu. Mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk menciptakan hal baru demi perkembangan dunia. Mereka tidak melewatkan kesempatan yang diberikan oleh waktu untuk mengukir sejarah, dan lalu mewariskan sejarah itu kepada manusia di masa depan.

Nabi Muhammad contohnya. Mewariskan agama islam dan alquran sebagai warisan terbaik yang di miliki sejarah. Memang tak bisa di pinggirkan bahwa agama islam juga sama dengan nasib agama lain di tangan penganut nya sendiri. Di mana islam juga mengalami perubahan secara keilmuan dan budayanya.

Oleh karena terlalu banyak tangan kotor menodai keutuhan sejarah islam itu sendiri. Alhamdulillah nya masih ada ulama pewaris kenabian yang memegang kuat keilmuan dan budaya islam secara turun temurun. Walaupun lebih banyak lagi ulama yang mencampur adukkan kebatilan dan kebaikan. Mencampur hukum islam dengan perasaan.

Sehingga banyak bermunculan ajaran-ajaran sesat. Hanya alquran yang tidak ternodai. Tidak ada yang bisa mengubah isinya. Karena Allah sendiri yang menjaganya.

Jika direnungkan perjalanan hidup nabi seperti tidak ada waktu yang ter sia-siakan. Semua waktu beliau di pake buat memikirkan islam dan ummatnya. Buktinya di saat sakaratul maut beliau masih menyebut umatnya.

Berdakwah tak kenal lelah. Dan tidak jarang juga peperangan selalu ada dalam misi menyebarkan risalah islam. Nabi muhammad paham betul akan waktu. Paham sekali bahwa hidup ini hanya sementara, hanya bilangan waktu. Bukan bilangan angka usia. Yang setiap saat kita akan mati, dan malaikat pencabut nyawa tidak menghitung usia manusia dulu baru merengut nyawa seseorang. Jika sudah Allah memerintahkan mencabut nyawa seseorang maka malaikat maut langsung mengerjakan. Tidak ada negosiasi.

Maka marilah mempergunakan waktu semaksimal mungkin. Isi waktu luang dengan amal yang baik. Kerjakan amal yang berkualitas. Jangan selalu menunda kebaikan. Kalau bisa di menit itu di kerjakan segera laksanakan. Manfaatkan waktu yang ada. Karena banyak yang terlena oleh nikmat nya waktu luang dan waktu sehat. Lupa kalau mau mati. Maunya santai terus.

Sekian

Muhammh Taufik Hidayat

Berbagi Energi  Ada banyak cara untuk berbagi energi. Bisa dengan senyuman kepada orang lain yang ikhlas karena Allah. B...
11/04/2023

Berbagi Energi

Ada banyak cara untuk berbagi energi. Bisa dengan senyuman kepada orang lain yang ikhlas karena Allah. Bisa juga dengan silaturahim kepada siapa saja yang kita kenal. Lebih baik lagi kalau kemudian berbagi rezeki berupa materi, seperti uang, beras, dan benda berharga lainnya yang kita punya di rumah. Kepada orang lain yang memang membutuhkannya.

Energi senyuman

Energi senyuman adalah bentuk pemberian atau sedekah yang tidak bisa di bahasakan secara tertulis maupun secara lisan. Namun mampu merubah perasaan seseorang manakala dia melihat senyuman teman, saudara, orang tua bahkan gurunya. Seolah ada sinyal yang menghubungkan antara senyuman dengan perasaan yang ada dalam sangkar hati manusia. Ada penghubung yang tak terlihat antara senyuman dan perasaan. Orang yang lagi kecewa berubah jadi bahagia. Setidaknya ada harapan positif di tengah kekecewaan nya. Orang yang tadinya selalu menganggap semua orang salah tiba-tiba dengan melihat senyuman ia luluh kemudian berusaha keras berfikir positif kepada setiap orang yang di temui nya. Ada kekuatan tersendiri.

Energi Silaturahim

Sudah menjadi sesuatu yang sakral bila mendengar silaturahim. Silaturahim ini merupakan aktivitas menjalin hubungan kasih sayang. Membangun pemikiran yang kuat dan kokoh, menuju satu tujuan. Yaitu Tuhan. Menyatukan perasaan dalam persaudaraan demi menguatkan kebersamaan. Silaturahim juga menambah gairah dan animo dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Silaturahim dapat p**a menambah bobot kualitas seseorang. Dan silaturahim juga menambah jumlah rezeki seseorang.

Energi materi

Seperti di awal tulisan. Berbagi energi yang berbentuk materi semacam uang, beras, emas, dan harta benda lainnya yang ada di rumah, adalah usaha paling besar pengaruhnya dalam merekatkan persaudaraan. Menguatkan pertemanan dan menyamakan kesamaan status sosial. Inilah energi yang paling dahsyat yang sering di abaikan banyak orang. Bukan karena miskin dan bukan juga karena pelit dan kikir. Tetapi karena belum memahami bahwa sedekah berupa materi merupakan energi terbesar pengaruh nya.

Sekian

01/09/2022

Kecewa jangan di obatin dengan uang

Mau di kata apa ketika yang diinginkan menjauh sejauh mata memandang. Mau di kata apa ketika keinginan itu benar-benar pergi menjauh. Tentu muncullah perasaan kecewa yang segera menyelimuti kerangka tubuh sampai ke dalam jantung hati. Memaksa pun seraya mencoba dan merayu jiwa untuk menolak aurah kecewa sepertinya akan menambah pedihnya irisan kecewa yang mengiris pori-pori kulit. Ibarat api kecil disiram bensin. Membesar dan membahayakan masyarakat. Membahayakan tubuh kita sendiri. Marah-marah sembarangan kepada apa saja yang dirasa mengganggu.

Uang bukanlah solusi utama yang dapat menghilangkan kecewa yang menjalar di tubuh. Meski pada kenyataannya banyak yang disembuhkan oleh uang dari penyakit menular bernama penyakit kecewa itu. Namun dampak obatnya (uang) akan berakibat fatal. Yaitu adanya ketergantungan pada uang. Sehingga kalau kecewa tinggal minum uang sesudah makan tiga kali sehari. Barulah sembuh. Aduhai, kasihan opa.

Kalau demikian persepsinya maka celaka betul ibu-bapak yang punya anak seperti itu, atau saudara-saudara yang punya kekasih seperti begitu pemikirannya. Kalau ada uang baru bisa sembuh. Kalau tidak ada uang maka tidak ada kesembuhan. Cukup. Mari kita biasakan dari sekarang menghilangkan kebiasaan memberi uang kepada anak-anak, orang terdekat kita bahkan satu rt, dan kampung kita sekalian jika itu diperlukan dari kebiasaan memberi obat uang di saat kecewa menyerang. Demi kemajuan bangsa kita ke masa-masa selanjutnya.

Awal pembiasannya memang berat. Ada sekat yang tak kasat mata yang menghambat jalannya komunikasi dan pendekatan. Namun cobalah meraba kembali semua ingatan di saat awal pertama kali kita memulai hubungan, atau mengenalkan diri kita kepada anak, saudara, teman dan orang terdekat kita. Ada banyak percobaan gaya bicara yang kita coba demi menjalin hubungan yang lebih dekat. Ada sekian banyak perilaku yang kita coba demi meyakinkan bahwa kita perhatian dan simPATI di setiap kondisi orang yang kita sayang. Dan paling penting yang perlu kembali di ingat sejak kapan kita memberi perhatian, memberi kasih sayang, memberi obat, merayu dan berbicara dengan uang. Sejak kapan uang menghilangkan itu semua yang perlu sekali kita raba kembali belakangan hari yang lalu sebelum uang menjadi solusi segala masalah. Segala kesulitan hubungan dan segala kesusahan hidup bersama.

Ironi dalam tirani. Adanya situasi yang bertentangan dengan tubuh manusia yang sering menjadi budak ego dan nafsu. Sehingga sangat sering baku hantam dengan situasi atau keadaan yang tidak sesuai kehendak manusia. Ironi adalah situasinya, sedangkan ego dan nafsu adalah tirani itu sendiri, yang berkuasa atas kehendak sendiri. Semaunya dan ses**a hati. Dan manusia yang dikendalikan ego tersebut menjadi robot. Bisu dan terus melawan.

Perlu di ketahui ego dan nafsu akan menjadi penguasa di tubuh manusia manakala dihidupkan dengan sesuatu yang berlebihan dan terutama adalah uang. Nah, inilah awal kisahnya jika pembaca budiman mau mengetahui asal usul muncul nya ego dan nafsu di dalam diri manusia. Awal kisahnya adalah uang dan sesuatu yang berlebihan dimasukkan ke dalam kerongkongan mulut. Dan jalan kisahnya melawan dan terus menuntut di penuhi. Lalu akhir kisahnya sesal menyesal dan menjadi pelajaran hidup. Hingga di masa yang datang si pelaku bersaksi akan merubah kisahnya. Entah dengan alur cerita apa yang akan di buatnya sampai menjadi satu kisah heroik nantinya.

Sekian

Jejak Kita

Kamis 1/9/22

Catatan sederhana
24/03/2022

Catatan sederhana

22/06/2021
Assalamu'alaikum
14/06/2021

Assalamu'alaikum

11/06/2021

Tali Pengenang

‌ Aku untuk di awal hari rabu kali ini semua keinginan pagi seperi, mandi, sarapan, pergi kerja tepat waktu berjalan mulus-mulus saja tanpa hambatan apapun itu. Bukan maksud membedakan hari dengan hari lain tapi karena memang rabu adalah hari yang selalu ada arti hidup yang kudapat di hari itu, apakah cuma sekedar mengerti makna saling berbagi senyum sesama teman sekerja, atau bahkan hal yang paling kecil di mata seorang ilmuan dan orang terdidik yaitu peka terhadap pekerjaan orang yang tidak terkerjakan yang mungkin mereka lupa. Untuk ikhlas tidaknya itu bukan urusan penting yang perlu diperdebatkan oleh akal pikirku. Yang ku tahu dan yang ku mau di hari rabu aku harus mendapatkan hal baru. Ilmu baru, teman baru, aktivitas baru dan sebagainya di rabu yang baru. Meskipun beberapa kali dari rabu ke rabu yang telah kulewati hampir tidak memberiku kesempatan tersenyum dipagi hari disebabkan ego teman, dan tidak baiknya kondisi kesehatan otak para orang tua saat mengantar anaknya sekolah. Menanyaiku yang mereka sudah tahu, mengatur kerjaku yang aku tahu. Lebih parah lagi saat aku sedang duduk santai di meja pos penjagaan tempatku kerja. Ketika aku betul-betul merasa tidak ada lagi murid yang datang ke pondok pesantren di mana pondok ini memang sekolahnya lengkap, dari Tk sampai tingkat SMA. Sekolah berbasis pesantren begitulah. Muridnya ada yang sekalian mondok jadi santri, ada p**a yang p**ang-balik. Yang mondok rumahnya memang jauh. Selain boros, tingkat kekhawatiran kecelakaan juga mereka timbang sedemikian telitinya. Nah, saat itu persisnya aku sedang meneguk segelas air putih, antara tiga atau empat teguk air seingatku. Intinya aku minum kala itu. Seseorang wanita yang bisa dibilang hampir seumuran yang ku taksir sekitar duapuluh lima tahun dan aku umur dua puluh empat tahun. Menyapaku dengan suara lembut wanitanya, memberi senyum manis khas wanita kebanyakan saat ada yang diinginkan dari luar jendela pos. Aku membalas balik sebagaimana yang di lakukannya. Supaya lebih jelas apa yang dia bilang dan tidak terjadi mis komunikasi, atau kesalahpahaman. Aku memilih keluar dan berbicara di depan pos bersamanya. Lebih dekat lebih baik. "Mas, Kira-kira kalau adik saya terlambat masuk sekolah di hukum atau gak? " Aku lalu melihat jam di tangan ternyata memang betul dia terlambat datang. "Soal terlambat masuk sekolah itu urusan gurunya, bu, " Sahutku menjawab. "Saya belum menikah mas, jangan panggil ibu, " Balasannya diiringi tawa kecil. Tawa tidak terima sepertinya. Di lihat dari raut wajahnya yang berubah jadi berat dari semula ringan saat datangnya. Sementara adiknya telah sampai ke kelasnya. Pintu tertutup dan tinggallah kami berdua saling tatap tanpa ada pandangan lain yang mengganggu. "Adik saya itu penakut, dan kalau sudah kena marah sama siapapun dia langsung trauma", lalu kami diam sejenak menghirup udara. "Tenang saja mbak. Pasti semua baik-baik saja", ucapku menenangkan kalutnya. " Tapi mas, saya jadi khawatir kalau nantinya.. ", " InsyaAllah, kalau mbak percaya sama adiknya dan guru di sekolah ini semua akan aman-aman saja", kataku meyakinkan sebelum dia berpanjang lebar lagi keluhannya.
Lalu kami diam beberapa menit lamanya. Jujur aku sebenarnya malas bicara banyak, tapi untuk kali itu, s**a atau tidak mau terpaksa kupaksakan diri berbicara lebih dari pengetahuanku. Sementara dia (si mbak) melihat ke pintu kelas jauh di sana dengan gelisah galau merana, aku sempatkan berfikir cepat, tepat dan teliti untuk sebuah solusi yang dapat membuat dia paham dan segera kembali p**ang. Aku capek kasih tahu dia dengan alasan yang itu-itu saja. Harus ada alasan lain dari buah pikiran yang buat dia yakin. Serta solusi sebagai tambahan sekaligus pelumas alasan.
"Eh, mbak", panggilku agak sedikit grogi.
" Iya mas", sahutnya sembari berbalik arah kepadaku. "Senyumnya yang aku gak sanggup lihat" Batinku sedalam-dalam lubuk hati. Karena senyumannya yang aduhai cantik sekali yang bisa-bisa menghentikan waktu dan bikin diri jadi diam membisu, ketika melihatnya terlalu lama. Itu pikir ku sih.
"Mbak gak takut terlambat masuk kerja ya? "
"Nah itu dia mas, disamping takut terlambat saya juga takut adik saya kabur dari sekolah. Jadi bingung, mas." Jawabnya pasrah di ambang kebingungan.
"Begini saja mbak. Karena tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Maka baiknya mbak pergi kerja saja sekarang. Kalau pun terjadi seperti apa yang di pikiran mbak, saya akan berusaha menenangkan adik mbak sampai datang kembali menjemputnya", itulah alasan yang bisa ku buat. Syukurnya dia menerima alasan itu dengan sikap diam menimbang setuju tidaknya dia dengan alasan yang kubuat.
"Dan supaya ini tidak terjadi berkali-kali. Mbak buat saja seperti alat pengingat. Misalnya adik mbak memang di hukum sama guru atau sebaliknya tidak sama sekali, mbak buatlah semacam tali kecil dan di ikat di tasnya. Lalu beri tahu adik mbak kalau pas kena hukuman karena terlambat lihatlah tali itu, dan suruh yakin bahwa semua akan baik-baik saja ketika melihat tali itu. Dan syukur sekali kalau memang tidak pernah lagi terlambat ", sambungku menambah solusi.
Sebetulnya alasan dan solusi itu pun aku buat asal pikir saja yang terlintas di otakku. Yang kupercaya dapat menyudahi pembicaraan pagi itu.
" Tali tasbih aja sekalian kalau begitu, biar sekalian ingat Tuhan. Takutnya juga pada Tuhan. Nanti saya sendiri yang kasih dia tasbih sekalian meyakinkan nya seperti apa yang di bilang mas", sambutnya menerima solusiku meski dia sendiri yang merubahnya sedikit. Seolah aku menawarkan pikiran baik dan dia menafsirkan dengan lebih baik lagi.
"Silahkan mbak, kayaknya lebih cocok di sebut Tali Pengenang kali ya",
" Tali Pengenang? Maksudnya buat mengenang begitukah? "Bingungnya sambil sengaja memasang wajah manja di hadapanku. Cemberut imut begitulah. " Iya, tali pengenang mbak, jadi lebih unik dan menarik aja dengarnya. Saya yakin adik mbak akan lebih percaya diri. Tapi kembali kepada mbak, maunya gimana", belum selesai aku berucap kata dengan cepat gayung bersambut, si mbak(dia) menerobos memotong bicaraku. "Iya, iya, mas. Aku ngerti. Kayaknya memang lebih cocok di sebut tali pengenang. Kalau begitu saya p**ang dulu, maksudnya pergi kerja. Adikku aku titip sama mas aja, ya". Kunci di putar, motor dan pemiliknya segera hilang di depanku. Ya, cuma sesingkat itu aku bicara dengan perempuan penuh rasa ragu itu. Yang kelak kemudian besok-besoknya kami tidak lagi memanggil dengan sapaan mbak-mas melainkan namanya dan namaku. Dia Azahra dan aku Taufiq. Sementara adiknya, sejak menjadi murid baru pelan-pelan traumanya terkikis akibat percaya sama Tuhan melalui terapi tali pengenang. Jadi di samping ingat Tuhan keimanan mereka berdua p**a bertambah kuat, InsyaAllah.

Taufiq

27/03/2021

Mimpi itu milikku !!

"Mimpi itu milikku !" Aku berteriak Kencang sampai suara sendiri tak dapat ku dengar. Di dalam ruangan kotak yang seluas kamar itu hanya ada kasur terlipat rapi di sudut kanan dinding sana yang satu lubang kecil saja tidak ada sama sekali apalagi jendela. Tambah ngerinya banyak suara binatang dan suara tapak kaki berbunyi bersamaan. Membuat suara memang menghilang. Terkurung sendiri. Aku seperti di penjara dalam ruangan kotak ini. Tidak, tidak ada yang peduli denganku. Tidak ada yang datang menemui apalagi menolongku keluar dari kamar kotak yang kuanggap sangat aneh. Sementara aku merasa telah lama berada di sini. Amat tak pantas jika orang sepertiku seorang pun tak mencari ke mana perginya aku selama ini. Aku kembali lagi berteriak yang sama. Ketika aku berusaha menenangkan diriku dengan menonton sesosok Mega bintang pemain bola, yang muncul di atasku yang posisiku saat itu sedang berbaring menatap langit kamar. Seperti tontonan sungguhan. Dua tiga pemain terakhir dia lewati dengan mudah. Bola seolah melengket di duakaki pemain itu. Nah, saat semua hanya tinggal menembak ke gawang lawan tiba-tiba tanpa aba-aba pemain itu menghilang bersama semua cahaya yang membentuk sebuah video, sontak saja aku berteriak "mimpi itu milikku". Tapi sebelum betul-betul hilang pemain itu sempat menghadap kamera dan menunjuk ke kamera. Yang sejak awal munculnya dia di langit kamar tak sedikit pun menghadap kamera, sibuk berlari ke depan menuju tujuan terakhir, yaitu gawang lawan. "Mimpi itu milikku!!" Teriakku sambil mengangkat seluruh tubuh ini dan memajukan tangan ke atas meraih cahaya itu. Sia-sia. Cahaya-cahaya itu di tangan ikut menghilang saat aku berhasil menangkap beberapa cahayanya.
Dan di saat aku penuh tanda tanya tentang apa yang kulihat barusan seketika itulah sesosok tangan menarik sebuah karet gelang dan melepaskannya, lalu melesat cepat meluncur ke wajahku. Aku kaget bukan buatan. Dan dua ketukan tangan memukul dari arah atas membangunkanku. "Bang, bangun bang. Sholat subuh!," alamak, sholat Subuh sudah lewat. Ketika aku melihat matahari bersinar terang di luar jendela sana.
"Selamat siang, Salim," "iya, siang juga, Udin". Kami saling menyapa dengan candaan sesederhana itu tapi mampu membuat kami tertawa. Begitulah ketika kami tak bangun sholat subuh sudah pasti pertanyaan selamat siang kerap jadi bahan lawakan di antara kami. Itu juga berasal dari ustad kami yang saban hari pernah mendapati kami ketiduran sampai jam sembilan pagi, lantas dia membangunkan kami dengan sapaan 'selamat siang' seraya menepuk pundak kami bergantian. Dan, sejak hari itulah slogan singgungan ustad kami jadikan sebagai lawakan tiap kali terlambat bangun sholat subuh. Sungguh durhaka mengenangnya...
Aku menggerakkan badan ke kiri-kanan beberapa kali dan menghadap ke Udin sekali lagi yang membelakangi setelah candaan tadi, "Kau kerja apa sekarang?" Udin ikut berbalik menghadap ku menanggapi pertanyaan yang ku rayapkan ke telinganya "tidak, aku tidak kerja. Aku mau pergi kursus komputer"jawabnya sambil menguap sembari menghembuskan nafas kantuknya. Lega. Karena menguap itu bersifat menular aku seperti tersetrum dan ikut menguap. Sial. Aku seharusnya tidak melakukan itu. Itu hanya akan membuka lebar pintu masuk setan untuk menguasai diriku dari yang ku tahu yang pernah kupelajari di bangku SD. Itu ilmu fiqih seingat ku.
Mimpi. Iya kau harus punya mimpi untuk terus berevolusi menjadi siapa dan untuk apa kau di masa yang datang. Mimpi adalah modal hidup demi bertahan melawan perubahan kehidupan. Opini yang ini kupegang kuat saat semua orang bahkan teman sendiri yang merendahkan mimpi. Aku tetap kuat di atas opiniku. Aku tetap bergerak karena mimpiku. Aku selalu tersnyum karena mimpi yang sebentar lagi ku dapat. "Kau bahkan belum punya penghasilan. Bagaimana mungkin seorang pengangguran seperti kau bisa mendapatkan mimpi. Mewujudkan mimpi itu butuh modal, Salim". Apa yang di katakan Udin ada betulnya juga. Tapi aku tak ingin kalah argumen. Aku berfikir sejenak dengan mengalihkan pandanganku ke jendela kamar. Aku harus segera menemukan jawaban yang pas untuk tidak menyetujui kalau mimpi hanya bisa diwujudkannya dengan modal. Mimpi dapat terwujud tidak harus karena uang. Tidak sama sekali, bukan?
Asik.. aku dapat juga jawabannya. Aku butuh lima menit lamanya berfikir. Untuk pertama kalinya juga aku lama berfikir. Biasanya tidak selama itu, paling lama dua menit. Tapi Udin orangnya cuek. Tidak masalah seberapa lamanya dia menunggu jawaban. Dia tipe setia yang kukenal.
"Udin, mimpi itu memang hanya tentang kesenangan, kebahagiaan. Tidak ada tentang hal yang menyakitkan. Ya, kau pasti tahu itu. Asal kau tahu. Banyak orang yang terjebak di dalam mimpinya orang yang berhasil mewujudkannya. Mereka tak bekerja tetapi mereka yang memperkerjakan orang untuk mewujudkan impian mereka. Ada yang memulai tanpa uang bahkan kebanyakan memang tanpa uang. Jadi mimpi tak selalu harus modal dulu. Mulai saja dulu," aku menjawab mencoba meyakinkan dia dengan logika sekenanya. Entah benar atau tidak yang penting saat ini dia diam menatapku dengan tatapan kosong.
Hening beberapa saat kemudian...
Apapun bentuk pertanyaan yang dibutuhkan hanya jawaban. Pertanyaan lahir dari pikiran sedangkan jawaban adalah asupan nutrisi yang menjadi makanannya. Jawaban itu pernyataan. Dan adanya pernyataan karena adanya alasan. Begitulah sekelumit pikiran yang di desak waktu yang meminta cepat di jawab pertanyaan yang tidak membutuhkan sama sekali waktu lama. Meski aku akui aku salah sendiri selama ini telah membuat pendapat "jawablah cepat atau semua terlambat". Nah, hari ini mau tidak mau aku harus melakukannya. Biarlah semoga bermanfaat di masa depan.
Ada satu hal yang baru kutahu tentang mimpi. Rupanya mimpi bersifat fluktuatif, tidak menetap, berganti-ganti rupa wajah atau jenisnya serta kandungan maknanya, tergantung cara seseorang itu memahami mimpinya. Inti dari mimpi itu semuanya mengajarkan kita kalau hidup tidak harus apa yang di ajarkan oleh orang lain. Kita harus percaya kepada mimpi sendiri. Jika memang belum dapat di wujudkan impian itu setidaknya manfaat saja apa yang di tawarkan orang dalam mewujudkan mimpi mereka. Entahlah, diajak bekerjasama, kerja dengan memberi tenaga. Untunglah kalau di beri upah atas apresiasi nya terhadap kinerja kita. Jadi karena begitu mari kita simpulkan saja bahwa mimpi adalah bagian alasan hidup....

23/03/2021

Ini kisah hari Senin . Entah Senin yang ke berapa ratus kalinya sejak aku nyantri di pondok pesantren Toli Toli. Aku Rijal. Usiaku 18 tahun. Aku cuma mau ngetes doang nyeritain s**a dukanya mondok di sini. Sekalian belajar nulis...

Detektif Arya

"satu hal yang harus kau tahu tentang wanita. Mereka sangat pintar menipu lelaki, hanya dengan tersenyum manis laki-laki bahkan rela menjual apapun dalam hidupnya demi memiliki si pemilik senyuman." Sekali lagi bang Ofiq benar menilai wanita. Aku ceroboh mengapa begitu cepat menyampaikan perasaan dalam hati ini ke wanita berdarah Sunda itu. Usianya di atasku. Tapi siapakah yang peduli jika sebuah hubungan tak memandang umur. Tidak ada aturan main cinta karena semua berjalan sesuai cara kehendak dua insan manusia menemukan cintanya. Ini hubunganku dan sudah berjalan empat bulan. Lagi p**a aku dan dia sama-sama s**a. Meski sekarang semuanya menjadi jelas, siapa dia dan untuk apa dia memilihku sebagai kekasihnya. Dia menjadikanku sebagai umpan semata supaya dengan mudah mendapatkan hati lelaki yang sampai sekarang belum ku tahu siapa lelaki sialan itu, yang jelas ada di antara kami bertiga. Lelaki yang di s**anya rupanya ternyata sedang sembunyi dibalik senyum bersahabat nya ke kami, hanya soal waktu dia akan menghancurkan hubunganku. Aku tahu itu dari teman detektifku, Arya.
Kamar kami tak ubahnya kamar pekerja kuli bangunan. Pakaian berhamburan di mana-mana, sampah berserakan di kolong ranjang, meja dan ada yang sembunyi di sela-sela dinding kamar. Siapa yang mau peduli? Kami terlanjur malas merapikan dan membersihkan kamar tidur. Lelaki yang jadi incaran wanita yang selama ini ku anggap kekasihku tinggal bersama kami. Tapi sembunyi di balik kedoknya. Menurut Arya aku harus berhati-hati. Bisa jadi dia mencari kesalahanku agar dengan mudah memberi alasan yang pas bahwa aku lelaki yang tak pantas untuk wanita Sunda itu di pondok ini. Dia hanya tinggal bilang aku pemalas, atau apalah yang intinya suatu hal buruk yang bersangkutan dengan ku.
Aku sengaja ikut malas seperti dua teman kamarku ini. Alasannya jika di antara dua buaya itu ada yang membersihkan kamar maka dengan mudah terbongkar siapa lelaki pemakan teman sendiri. Bukankah, semakin seseorang itu berbeda makin terlihatlah siapa yang sedang ingin menjatuhkan seseorang.
Arya teman detektifku sengaja aku suruh dia tak tinggal bersama kami, aku, Syafi'i dan Salman. Supaya urusan ini jauh lebih mudah. Selain itu Arya tak dapat diketahui siapapun di antara mereka kecuali aku bahwa detektifku sedang mengawasi tingkah laku kedua buaya itu.
Aku menyebut Syafi'i dan Salman sebagai dua buaya Amazon karena mereka sangat cerdas di bidang linguistik (kecerdasan bahasa), bahasa Indonesia mereka sangat baik. Membuat puisi, d**geng, sajak seperti kerupuk bagi mereka. Seolah tak perlu lagi berfikir sebelum menulis. Tentu dengan mudah mereka mendapatkan wanita cantik asal Sunda yang sekarang jadi milikku. Hanya tinggal membuat kalimat sajak atau puisi di surat lalu mengirim ke Asrama Putri, maka dapat lah apa yang mereka inginkan.
Syafii sebetulnya orang yang malas belajar bahasa Indonesia. Dia lebih menyukai pelajaran IPS. Dia pandai bergaul ke siapa saja dan suku apa saja. Keahlian bicaranya tidak bisa di anggap enteng begitu saja. Kemampuan mempengaruhi orang satu hal yang tidak semua orang bisa. Tentu dengan mudah ia merusak cinta yang ku tanam di hati Fatimah. Tambahkan, ketampanan wajah dan bentuk fisiknya juga oke banget, apalagi yang ku ragukan tentang nya.
Malam Senin yang ke puluhan kalinya sejak aku menjadi santri di sini. Aku teringat senyuman pertama Fathimah. Saat itu, saat yang belum ada perasaan lain selain perasaan saling ingin memiliki. Kami seperti sepasang kekasih yang sama-sama menarik kuat tali kasih-mengasihi di antara kami. Tak seperti sekarang, rasanya seperti sepasang teman. Malam ini aku bertekad semua tentang aku dan dia selesai tertulis di kertas. Dan malam ini juga Fatimah selesai membacanya. Sebelum dia pergi ke Kota Palu besok pagi.
Aku tahu aku ganteng, glowing no jerawat. Nama Rijal yang diberikan ummiku cukup banyak orang membicarakan, bahkan ada yang berlebihan meramalkan kalau salah satu dari sepuluh santri penghafal Al-Qur'an aku lah yang berhasil. Kurang ku hanya tak pandai bermain kata. Membuat puisi dan semacam nya yang bisa merangkai kata-kata indah untuk memuji kecantikan wanita mawar. Kecuali buaya betina. Cukup di kasih daging ayam langsung takluk. Tapi bukan itu yang ku mau. Aku cari wanita mawar.
Aku dan Arya duduk di atas atap Asrama. Sedangkan Salman dan Syafi'i sejak sholat Isya memang tidak kemana mana. Hanya di dalam kamar baca buku. Bukan berarti aku tak setia kawan, tetapi merekalah yang tak mau ikut dengan kami duduk di atas atap. Jadilah kami berdua saja di sini.
"Kau sedang menggambar apa?" Aku melihat Arya sibuk menggambar sesuatu membuat ku penasaran. "Peta konsep,"jawabnya datar. Sementara tangan tak berhenti menari di atas kertas gambar nya. Peta konsep? Apa maksudnya? Memang benar yang di bilang Bang Ofiq padaku, semakin cerdas seseorang semakin berbeda cara bicaranya. Penuh ilmu serta bijak di setiap masalah.
"Apa itu peta konsep?"
"Strategi yang dibuat secara terorganisir. Istilahnya, rencana yang di atur secara teratur. Ini juga buat kamu, Rijal. Rencana untuk mencari tahu siapa yang tega mengambil hati perempuan mu," jelasnya lugas. "Besok dia ke Kota Palu, untuk apalagi kita cari tahu. Mikir d**g," "kau lemah kawan. Kau dan aku akan mengejar nya sampai ke Kota Palu. Ak..", sebelum dia panjang lebar bicara aku langsung memotong "maksud mu kita akan ke Kota Palu hanya demi Fatimah. Ayolah, kau tidak sedang mabuk Kopi, bukan?" Arya terlalu banyak minum kopi kurasa, jadi aku menyebut dia mabuk kopi, barangkali sih sampai punya pikiran gila begitu.
"Kau akhirnya menyerah saat hidup tak memberimu pilihan. Dasar bodoh! Haha... Aku teman setiamu. Mana mungkin aku tega melihat mu seperti ini. Jika hidup tak memberi pilihan maka kitalah yang membuat pilihan-pilihan itu. Kau mau lanjut atau semua selesai tanpa arti?" Aku terdiam. Aku terperangah. Sejak kapan Arya pandai bersilat lidah macam dua buaya yang di kamar ku.

Address

Tolitoli
94515

Telephone

+6283219848009

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Alasan-Alasan Hidup posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Alasan-Alasan Hidup:

Share