11/06/2021
Tali Pengenang
Aku untuk di awal hari rabu kali ini semua keinginan pagi seperi, mandi, sarapan, pergi kerja tepat waktu berjalan mulus-mulus saja tanpa hambatan apapun itu. Bukan maksud membedakan hari dengan hari lain tapi karena memang rabu adalah hari yang selalu ada arti hidup yang kudapat di hari itu, apakah cuma sekedar mengerti makna saling berbagi senyum sesama teman sekerja, atau bahkan hal yang paling kecil di mata seorang ilmuan dan orang terdidik yaitu peka terhadap pekerjaan orang yang tidak terkerjakan yang mungkin mereka lupa. Untuk ikhlas tidaknya itu bukan urusan penting yang perlu diperdebatkan oleh akal pikirku. Yang ku tahu dan yang ku mau di hari rabu aku harus mendapatkan hal baru. Ilmu baru, teman baru, aktivitas baru dan sebagainya di rabu yang baru. Meskipun beberapa kali dari rabu ke rabu yang telah kulewati hampir tidak memberiku kesempatan tersenyum dipagi hari disebabkan ego teman, dan tidak baiknya kondisi kesehatan otak para orang tua saat mengantar anaknya sekolah. Menanyaiku yang mereka sudah tahu, mengatur kerjaku yang aku tahu. Lebih parah lagi saat aku sedang duduk santai di meja pos penjagaan tempatku kerja. Ketika aku betul-betul merasa tidak ada lagi murid yang datang ke pondok pesantren di mana pondok ini memang sekolahnya lengkap, dari Tk sampai tingkat SMA. Sekolah berbasis pesantren begitulah. Muridnya ada yang sekalian mondok jadi santri, ada p**a yang p**ang-balik. Yang mondok rumahnya memang jauh. Selain boros, tingkat kekhawatiran kecelakaan juga mereka timbang sedemikian telitinya. Nah, saat itu persisnya aku sedang meneguk segelas air putih, antara tiga atau empat teguk air seingatku. Intinya aku minum kala itu. Seseorang wanita yang bisa dibilang hampir seumuran yang ku taksir sekitar duapuluh lima tahun dan aku umur dua puluh empat tahun. Menyapaku dengan suara lembut wanitanya, memberi senyum manis khas wanita kebanyakan saat ada yang diinginkan dari luar jendela pos. Aku membalas balik sebagaimana yang di lakukannya. Supaya lebih jelas apa yang dia bilang dan tidak terjadi mis komunikasi, atau kesalahpahaman. Aku memilih keluar dan berbicara di depan pos bersamanya. Lebih dekat lebih baik. "Mas, Kira-kira kalau adik saya terlambat masuk sekolah di hukum atau gak? " Aku lalu melihat jam di tangan ternyata memang betul dia terlambat datang. "Soal terlambat masuk sekolah itu urusan gurunya, bu, " Sahutku menjawab. "Saya belum menikah mas, jangan panggil ibu, " Balasannya diiringi tawa kecil. Tawa tidak terima sepertinya. Di lihat dari raut wajahnya yang berubah jadi berat dari semula ringan saat datangnya. Sementara adiknya telah sampai ke kelasnya. Pintu tertutup dan tinggallah kami berdua saling tatap tanpa ada pandangan lain yang mengganggu. "Adik saya itu penakut, dan kalau sudah kena marah sama siapapun dia langsung trauma", lalu kami diam sejenak menghirup udara. "Tenang saja mbak. Pasti semua baik-baik saja", ucapku menenangkan kalutnya. " Tapi mas, saya jadi khawatir kalau nantinya.. ", " InsyaAllah, kalau mbak percaya sama adiknya dan guru di sekolah ini semua akan aman-aman saja", kataku meyakinkan sebelum dia berpanjang lebar lagi keluhannya.
Lalu kami diam beberapa menit lamanya. Jujur aku sebenarnya malas bicara banyak, tapi untuk kali itu, s**a atau tidak mau terpaksa kupaksakan diri berbicara lebih dari pengetahuanku. Sementara dia (si mbak) melihat ke pintu kelas jauh di sana dengan gelisah galau merana, aku sempatkan berfikir cepat, tepat dan teliti untuk sebuah solusi yang dapat membuat dia paham dan segera kembali p**ang. Aku capek kasih tahu dia dengan alasan yang itu-itu saja. Harus ada alasan lain dari buah pikiran yang buat dia yakin. Serta solusi sebagai tambahan sekaligus pelumas alasan.
"Eh, mbak", panggilku agak sedikit grogi.
" Iya mas", sahutnya sembari berbalik arah kepadaku. "Senyumnya yang aku gak sanggup lihat" Batinku sedalam-dalam lubuk hati. Karena senyumannya yang aduhai cantik sekali yang bisa-bisa menghentikan waktu dan bikin diri jadi diam membisu, ketika melihatnya terlalu lama. Itu pikir ku sih.
"Mbak gak takut terlambat masuk kerja ya? "
"Nah itu dia mas, disamping takut terlambat saya juga takut adik saya kabur dari sekolah. Jadi bingung, mas." Jawabnya pasrah di ambang kebingungan.
"Begini saja mbak. Karena tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Maka baiknya mbak pergi kerja saja sekarang. Kalau pun terjadi seperti apa yang di pikiran mbak, saya akan berusaha menenangkan adik mbak sampai datang kembali menjemputnya", itulah alasan yang bisa ku buat. Syukurnya dia menerima alasan itu dengan sikap diam menimbang setuju tidaknya dia dengan alasan yang kubuat.
"Dan supaya ini tidak terjadi berkali-kali. Mbak buat saja seperti alat pengingat. Misalnya adik mbak memang di hukum sama guru atau sebaliknya tidak sama sekali, mbak buatlah semacam tali kecil dan di ikat di tasnya. Lalu beri tahu adik mbak kalau pas kena hukuman karena terlambat lihatlah tali itu, dan suruh yakin bahwa semua akan baik-baik saja ketika melihat tali itu. Dan syukur sekali kalau memang tidak pernah lagi terlambat ", sambungku menambah solusi.
Sebetulnya alasan dan solusi itu pun aku buat asal pikir saja yang terlintas di otakku. Yang kupercaya dapat menyudahi pembicaraan pagi itu.
" Tali tasbih aja sekalian kalau begitu, biar sekalian ingat Tuhan. Takutnya juga pada Tuhan. Nanti saya sendiri yang kasih dia tasbih sekalian meyakinkan nya seperti apa yang di bilang mas", sambutnya menerima solusiku meski dia sendiri yang merubahnya sedikit. Seolah aku menawarkan pikiran baik dan dia menafsirkan dengan lebih baik lagi.
"Silahkan mbak, kayaknya lebih cocok di sebut Tali Pengenang kali ya",
" Tali Pengenang? Maksudnya buat mengenang begitukah? "Bingungnya sambil sengaja memasang wajah manja di hadapanku. Cemberut imut begitulah. " Iya, tali pengenang mbak, jadi lebih unik dan menarik aja dengarnya. Saya yakin adik mbak akan lebih percaya diri. Tapi kembali kepada mbak, maunya gimana", belum selesai aku berucap kata dengan cepat gayung bersambut, si mbak(dia) menerobos memotong bicaraku. "Iya, iya, mas. Aku ngerti. Kayaknya memang lebih cocok di sebut tali pengenang. Kalau begitu saya p**ang dulu, maksudnya pergi kerja. Adikku aku titip sama mas aja, ya". Kunci di putar, motor dan pemiliknya segera hilang di depanku. Ya, cuma sesingkat itu aku bicara dengan perempuan penuh rasa ragu itu. Yang kelak kemudian besok-besoknya kami tidak lagi memanggil dengan sapaan mbak-mas melainkan namanya dan namaku. Dia Azahra dan aku Taufiq. Sementara adiknya, sejak menjadi murid baru pelan-pelan traumanya terkikis akibat percaya sama Tuhan melalui terapi tali pengenang. Jadi di samping ingat Tuhan keimanan mereka berdua p**a bertambah kuat, InsyaAllah.
Taufiq