09/06/2026
SERAGAM HIJAU, LUPA SUMPAH-YA DI ATAS PUING ANAK!
(sebuah Prosa, kutulis di sini, untuk mereka di Lanteng Agung, Jakarta Selatan, yang rumahnya digusur Angkatan Darat).
langit pagi ini tidak cerah. ia kelabu, persis seperti wajah-wajah kecil yang berdiri di depan puing-puing kayu itu.
mereka bukan sedang bermain perang-perangan. mereka sedang menyaksikan akhir dari dunia mereka.
di sana, di balik tumpukan papan bekas dan seng yang sudah miring, berdiri Angkatan Darat.
seragam hijau yang dulu kami ajari anak: "itu penjaga Ibu Pertiwi, nak."
hari ini seragam itu lupa sumpahnya.
lupa bahwa "melindungi segenap bangsa" bukan berarti menginjak bangsa yang miskin.
hari ini seragam hijau jadi momok yang sangat menakutkan bagi mereka. jadi tembok tinggi yang memisahkan mimpi dari kenyataan. menjadi bayangan gelap yang jatuh tepat di atas punggung anak-anak.
lihat, anak perempuan berbaju biru muda itu menatap kosong. matanya belum kering, tapi air matanya sudah habis tersedot oleh rasa takut dan cemas.
di belakangnya, ada anak lain yang menggenggam erat tangan ibunya. ibu yang wajahnya lebih tua dari usianya karena beban hidup yang tak pernah ringan.
mereka bertanya dalam hati, tapi Angkatan Darat tuli: "salah kami di mana, Pak?"
apakah salah kami lahir di tanah yang ternyata kalian tandai untuk proyek.?
apakah salah kami tidur di rumah yang dibangun dari tenaga dan keringat ayah, bukan dari cap stempel di selembar kertas yang kalian jaga mati-matian.?
seorang prajurit Angkatan Darat berdiri tegak, di sana wajahnya tertutup masker, tapi tatapannya kosong dari nurani. ia tidak melihat anak-anak. ia tidak melihat mainan yang tercecer di antara puing. ia hanya melihat "rintangan" yang harus disingkirkan demi jalannya suatu program perintah. demi "pembangunan". demi "ketertiban". padahal sumpah prajurit bilang: membela yang lemah. membela yang benar. membela segenap bangsa untuk beradab dan berprikemanusiaan.
kenapa hari ini yang dibela justru kebalik, yang lemah diinjak, yang benar disalahkan, dan tak ada adab juga kemanusiaan. hari ini siapa yang dibela, justru didatangkan excavator dan buldoser.?
tapi bagi anak-anak ini, Angkatan Darat, kemajuan adalah kata penghianatan. kemajuan adalah saat kalian rampas tempat mereka mengerjakan PR. kemajuan adalah saat kalian usir mereka ke kolong jembatan, ke pinggir rel, jauh dari sekolah, jauh dari teman, jauh dari rasa aman yang seharusnya kalian jaga.
cita-cita mereka dicuri pagi ini oleh tangan-tangan berseragam hijau. bukan pencuri malam, tapi Angkatan Darat di siang bolong. anak yang ingin jadi guru, kini tak punya ruang kelas karena kalian ratakan. anak yang ingin jadi dokter, kini tak punya atap untuk berlindung dari hujan karena kalian robohkan.
penguasa selalu berkata, "ini demi hukum."
Angkatan Darat, mengangguk, lalu jadi algojo hukum itu. tapi hukum mana, Angkatan Darat, yang mengajarkan bahwa perintah atasan lebih berat daripada tangis anak miskin yang papa.? hukum mana yang membuat kalian lupa: senjata kalian tempa untuk musuh negara, bukan untuk menggusur anak bangsa.? apakah kalian lupa; seragam dari telapak kaki hingga ujung kepala dibeli dari tetes keringat Rakyat. mengapa tak tahu budi pekerti macam begini.? kepada siapa sesungguhnya kalian mengabdikan diri.?
angin berhembus, membawa debu semen yang pedih di mata. anak-anak itu diam. mereka belajar pelajaran paling pahit hari ini dari Angkatan Darat. kenyataanya; bahwa di negeri ini, sumpah prajurit bisa kalah oleh surat perintah, yang diminta warga, tak dikeluarkan. bahwa suara mereka terlalu kecil untuk didengar di atas deru mesin buldoser dan dentum langkah sepatu PDL kalian.
mereka hanya bisa berdiri. menatap seragam hijau Angkatan Darat itu yang tak mau tahu terima kasih.
dalam diam, mereka menyimpan dendam. dendam yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi pertanyaan besar yang akan kalian jawab di depan sejarah: "Angkatan Darat, siapa sebenarnya yang kalian lindungi? kami yang membangun negeri ini dengan keringat, atau mereka yang mengusir kami dengan perintah di atas lembar kertas yang belum kalian perlihatkan kepada kami itu.?"
kami, hari ini belajar kenyataan yang pedih dan benar-benar hidup, sebuah mata pelajaran yang belum pernah diajari guru sekolah; bahwa penindasan itu benar-benar ada, dilakukan secara struktur oleh negeri sendiri, kaki tangannya adalah Angkatan Darat.
09 Juni 2026
Puisi lentera merah.
Foto: P E M B E B A S A N