08/09/2026
Sebuah teori yang dirumuskan fisikawan Heinz von Foerster bersama Patricia Mora dan Lawrence Amiot pada 1960 kembali menjadi perhatian. Teori tersebut menghasilkan tanggal Jumat, 13 November 2026 sebagai “Doomsday”. Perhitungan itu menggunakan model matematika berdasarkan laju pertumbuhan populasi dunia. Jika tren pertumbuhan manusia selama sekitar 2.000 tahun terus berlanjut tanpa perubahan, model tersebut menunjukkan populasi akan secara matematis mencapai kondisi tak terbatas pada tanggal tersebut.
Namun, istilah “kiamat” dalam teori ini bukan berarti bumi diprediksi benar-benar hancur pada 13 November 2026. Tanggal tersebut lebih merupakan gambaran matematis mengenai batas ekstrem dari pertumbuhan populasi yang tidak mungkin berlangsung tanpa batas.
Teori lama itu kembali ramai diperbincangkan bersamaan dengan pernyataan pengamat cuaca amatir asal Kanada, Frankie MacDonald, yang menyebut Indonesia berpotensi mengalami gempa besar sebelum penghujung 2026. Dalam video yang diunggah pada Kamis (3/9/2026), Frankie menyampaikan kemungkinan terjadinya gempa berkekuatan Magnitudo 7,0 atau lebih, bahkan hingga Magnitudo 9,0 atau lebih, yang disebut dapat berdampak ke sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan Pulau Jawa.
Meski demikian, pernyataan tersebut bukan merupakan peringatan resmi. Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara presisi terkait waktu, lokasi, maupun kekuatannya. Masyarakat diimbau tetap tenang, meningkatkan kesiapsiagaan, dan mengikuti informasi serta imbauan dari BMKG.