03/05/2014
Lahirnya Kesadaran Diri Melalui ZMP
Home Lahirnya Kesadaran Diri Melalui ZMP
Next Post
Previous Post
Lahirnya Kesadaran Diri Melalui ZMP
Lahirnya kesadaran diri melalui ZMP sudah di bahas di dalam ruangan training bahwa sesungguhnya ada tujuh belenggu di dalam diri, yakni prasangka negatif, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding, serta fanatisme, merupakan hal yang mempengaruhi cara berpikir seseorang. Oleh karena itu, kemampuan melihat sesuatu secara jernih harus didahului oleh kemampuan mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi kejernihan berpikir. Dengan mengembalikan manusia pada fitrahnya, manusia akan mampu melihat dengan “mata hati”, mampu memilih, dan memprioritaskan pilihan dengan benar, sesuai suara hati murni ( Fitrah Diri ).
Berzikir Asmaul Husna secara berulang, selalu mengingat dan memahami maknanya dengan hati, mampu mendorong hati seseorang untuk selalu dalam keadaan suci dan bersih.Ucapan Subhanallah Mahasuci Allah, bisa diterapkan untuk membangun kekuatan pikiran bawah sadar untuk selalu suci, sehingga akan mendarah daging dalam diri kita menjadi sebuah kekuatan—itulah yang disebut Repetitive Magic Power yang mampu menghilangkan pengaruh buruk ketujuh belenggu lainnya.
diri
Repetitive magic power adalah zikir dan tasbih. Mengingat kesucian nama serta sifat Allah setiap hari, akan terus membantu mengendalikan kejernihan hati. Seseorang akan mampu melihat permasalahan tanpa didasari latar belakang, interest, pembanding dari sudut pandang subyektif, dan melihat sesuatu secara apa adanya. Ia tidak akan memandang suatu benda menjadi merah karena lensa kacamatanya berwarna merah, atau semua hijau karena lensa kacamatanya hijau, namun lensa bening yang memantulkan warna kejernihan, apa adanya.
Hati kita seperti tanah tempat kita bercocok tanam, sedangkan tanaman adalah ide, visi, atau gagasan. Apabila tanah tersebut sudah tercemar, tanaman akan rusak dan mati. Begitu p**a dengan ide dan gagasan, apabila ditanam pada pikiran yang kotor, maka yang tumbuh kemudian adalah tunas-tunas berpenyakit yang telah tercemar. Jadi, sebelum merespons suatu permasalahan, melihat suatu peluang, menyusun rencana atau mengambil sebuah langkah, periksa dahulu hati dan pikiran kita, sebagai pembimbing paling sederhana, apakah ia telah terbebas dari belenggu? Jika belum, hendaklah beristigfar dan berwudhu.
Langkah pengenalan hama dan pembersihan fitrah diri itulah yang disebut “Zero Mind Process” sehingga hati kembali jernih dan suci. Ia mampu bersikap positif dan tanggap terhadap peluang serta pemikiran baru, tanpa dipengaruhi dogma yang membelenggu. Kebersihan hati akan melahirkan pribadi-pribadi kreatif, berwawasan luas, terbuka, fleksibel, mampu berpikir jernih dan fitrah yang kembali bercahaya.
Ari Gynanjar