WIWEKA

WIWEKA Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from WIWEKA, Arts and entertainment, Bali/Indonesia, Tabanan.

Makna Dari Rahina Buda Cemeng Klawu Dalam Agama HinduRahina Buda Cemeng Klawu atau biasanya juga disebut dengan Buda Wag...
12/01/2021

Makna Dari Rahina Buda Cemeng Klawu Dalam Agama Hindu

Rahina Buda Cemeng Klawu atau biasanya juga disebut dengan Buda Wage Klawu merupakan hari pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sedana atau juga dikenal sebagai Dewi Laksmi, yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara Buda Cemeng Klawu ini jatuh pada hari Rabu Wage wuku Klawu kalender Saka-Bali,yang diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali oleh masyarakat Hindu di Bali.

Menurut adat istiadat umat Hindu di Bali meyakini Ida Betari Rambut Sedana/Dewi Laksmi sedang melaksanakan yoga dan di percaya juga pada hari ini tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang atau menabung, karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia.

Upacara Buda Cemeng Klawu ini dilakukan oleh seluruh umat Hindu di Bali, terutama mereka yang membuka usaha perdagangan, misalnya pedagang di pasar, pemilik warung, restaurant, jasa keuangan, bengkel, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaaan. Biasanya pada setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang, diberikan sesajen khusus untuk menghormati Ida Betara Sedana atau Dewi Laksmi sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih atas pemberian-Nya.

Filosofi dalam Buda Cemeng Klawu

Di dalam kekawin Nitisastra IV.7 ada dinyatakan sebagai berikut:

Singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara.

Artinya: kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai dari pada uang. Sudah susah dikatakan para ilmuwan, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat semuanya pelayan orang kaya.

Dari sumber Susastra Hindu tersebut diatas dapat dipahami bahwa uang itu pada hakikatnya adalah sarana bukan tujuan hidup, jadi tergantung cara manusia menggunakan sarana tersebut. Bila uang tersebut di dapat dan digunakan sesuai berdasarkan konsep ketuhanan maka uang itu amat berguna mengantarkan manusia mendapatkan hidup bahagia lahir batin, namun sebaliknya jika uang tersebut di anggap sebagai tujuan yang dianggap paling bernilai maka uang itu akan dapat membawa kesengsaraan. Karena itu tempatkanlah uang tersebut sebagai alat mewujudkan Dharma/kebenaran/kebaikan.

Sarana Buda Cemeng Klawu

Tidak ada yang khusus pada rahina Buda Cemeng Klawu, biasanya sarana yang digunakan mulai dari canang sari, banten pejati, maupun bebantenan tumpeng 7 disesuaikan dengan desa, kala, patra dan desa mawacara di masing – masing pakraman dan kemampuan umat masing – masing.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat mohon dikoreksi bersama.

Sumber:
(Dikutip dari berbagai sumber)

Buda Kliwon Matal & Kajeng KliwonBuda Kliwon Matal merupakan hari suci umat Hindu yang dirayakan dan jatuhnya setiap 6 b...
25/11/2020

Buda Kliwon Matal & Kajeng Kliwon

Buda Kliwon Matal merupakan hari suci umat Hindu yang dirayakan dan jatuhnya setiap 6 bulan sekali untuk memuja Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati guna memohon keselamatan serta anugrah rejeki yang melimpah dan sebagainya.
Buda Kliwon Matal merupakan pertemuan antara Sapta wara Buda yang berstana dibarat dengan lambang warna kuning, panca wara Kliwon yang berstana ditengah dengan lambang warna panca warna dan wuku matal.
Dan pada saat hari Buda Kliwon Matal yang bertepatan juga dengan jatuhnya hari kajeng Kliwon.

Kajeng Kliwon merupakan hari suci bagi umat Hindu yang jatuhnya pada setiap15 hari sekali, Kajeng Kliwon merupakan pertemuan dari dua unsur triwara dengan unsur pancawara.
Kajeng merupakan bagian dari unsur triwara sedangkan Kliwon merupakan bagian dari unsur pancawara.
Kajeng merupakan hari prabhawanya dari Sang Hyang Durga Dewi yang merupakan perwujudan dari Ahamkara yang merupakan manifestasi dari kekuatan Bhuta, Kala dan Durga yang ada di muka bumi.
Sedangkan Kliwon merupakan hari prabawanya Sang Hyang Siwa sebagai kekuatan dharma yang merupakan manifestasi dari kekuatan Dewa.

Dan pada saat hari Kajeng Kliwon sering dikaitkan dengan hal - hal yang berbau mistis dan diyakini oleh umat Hindu sebagai harinya Sang Hyang Siwa untuk melaksanakan yoga semadinya untuk keselamatan dunia.
Untuk itu setiap umat diharapkan pada saat Kajeng Kliwon untuk melakukan penyucian diri dan bersikap lebih berhati - hati karena kekuatan negatif cenderung lebih besar dari pada kekuatan yang positif, dan itu semua dapat mempengaruhi kehid**an manusia
dimuka bumi ini.
Karena pada saat hari Kajeng Kliwon umat meyakini bahwa Sang Tiga Bhucari memohon restu dari Sang Durga Dewi untuk menggoda manusia yang melanggar atau berbuat kesalahan juga membuat mara bahaya, mengundang semua desti, teluh, terang jana guna menggoda orang yang tidak menjalan ajaran dharma ataupun orang yang tidak berbuat baik.

Dengan demikian sudah sepatutnya dan sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Hindu untuk menghaturkan persembahan dimerajan, pura dan tempat suci lainnya kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Durga Dewi berupa canang sari, canang raka, puspa harum, tipat damp**an, segehan kepelan, segehan cacahan, segehan putih kuning, segehan panca
warna dan sebagainya.
Semua itu hendaknya disesuaikan dengan tempat atau keadaan dan kemampuan dari masing - masing umat.
Dan dengan kita menghaturkan semua persembahan dan segehan itu diharapkan agar bisa mewujudkan keseimbangan alam niskala dari alam Bhuta menjadi alam Dewa.
Semua jenis Banten atau upekara adalah merupakan simbul diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung.
(Lontar Yajna Prakrti)

Banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya bawang merah, jahe, garam dan juga dipergunakan api takep dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda (+) atau sw****ka disertai beras dan tetabuhan berupa air, arak serta berem.

Segehan dihaturkan kepada para Bhutakala agar tidak mengganggu, dinatar merajan dihaturkan segehan panca warna ditujukan pada Sang Bhuta Bhucari, dinatar pekarangan rumah dihaturkan pada Sang Kala Bhucari, didepan pintu pekarangan rumah atau angkul - angkul dihaturkan pada Sang Durga Bhucari dan juga ditempat lainya, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah atau kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu.
Dan dengan sarana segehan ini diharapkan nantinya dapat untuk menetralisir dan dapat untuk menghilangkan pengaruh negatip dari limbah tersebut. Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).
Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari atau pada saat rahinan dan hari - hari tertentu.
Setiap kepala keluarga hendaknya agar melaksanakan upacara Bali atau suguhan makanan kepada alam
dan menghaturkan persembahan ditempat - tempat terjadinya pembunuhan seperti pada ulekan, sapu, kompor, asahan pisau, dan talenan.

(Manavadharmasastra)

| | | | | | |
Facebook :
https://web.facebook.com/wiwekabali.id/

Instagram :
https://www.instagram.com/wiwekabali

Anggara Kasih Tambir dan Kajeng KliwonAnggara Kasih Tambir merupakan hari suci yang sangat istimewa, karena pada hari it...
10/11/2020

Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon

Anggara Kasih Tambir merupakan hari suci yang sangat istimewa, karena pada hari itu bertepatan juga dengan hari suci Kajeng Kliwon Uwudan.

Anggara Kasih Tambir dirayakan setiap 6 bulan sekali atau setiap 210 hari sekali, tepatnya pada setiap sapta wara Anggara (Selasa) dan panca wara kliwon serta wuku Tambir.

Dalam kutipan dari lontar Sundarigama disebutkan ; yang lain lagi yang perlu diperhatikan ketika Anggara bertemu Kliwon disebut sebagai Anggar Kasih.
Anggara Kasih atau Anggar Kasih, yang merupakan hari untuk mewujudkan cinta kasih terhadap diri kita sendiri.

Pada hari suci Anggar Kasih itu hendaknya kita merawat diri kita sendiri, dengan jalan melakukan pembersihan atau peleburan dari segala kecemaran (mala) dan bencana.

Dan hal yang paling utama adalah untuk melebur segala kecemaran yang ada pada pikiran yaitu, dengan jalan melakukan perenungan suci dan juga menghaturkan persembahan berupa banten wangi - wangi, Puspa wangi, Asep astangi dan dilanjutkan dengan metirta pembersihan serta pada malam harinya melakukan renungan suci atau semadhi.

Pada saat hari suci Anggar Kasih Tambir itu adalah merupakan hari dimana Sang Hyang Ludra untuk melaksanakan yoga dengan tujuan untuk memusnahkan ataupun untuk menghilangkan segala kecemaran di dunia ini.

Kajeng Kliwon juga merupakan salah satu hari suci bagi umat Hindu yang jatuhnya pada setiap15 hari sekali, hari suci Kajeng Kliwon merupakan pertemuan antara dua unsur triwara yang terakhir Kajeng dengan unsur pancawara yang terakhir Kliwon.
Kajeng merupakan hari prabhawanya dari Sang Hyang Durga Dewi yang merupakan perwujudan dari Ahamkara yang merupakan manifestasi dari kekuatan Bhuta Kala dan Durga yang ada dimuka bumi.

Sedangkan Kliwon merupakan hari prabawanya dari Sang Hyang Siwa sebagai kekuatan dharma yang merupakan manifestasi dari kekuatan Dewa.
Dan pada saat hari suci Kajeng Kliwon diyakini oleh umat Hindu sebagai harinya Sang Hyang Siwa untuk melaksanakan yoga samadhinya untuk keselamatan dunia.

Mengenai hari suci Kajeng Kliwon dalam lontar Sundarigama disebutkan ; sementara itu pada hari raya Kajeng Kliwon untuk upakaranya sama seperti hari Kliwon hanya tambahannya yaitu segehan warna lima tanding.

Untuk itu setiap umat diharapkan pada saat hari suci Kajeng Kliwon untuk melakukan penyucian diri dan bersikap untuk lebih berhati - hati dalam bertindak, karena kekuatan negatif cenderung lebih besar dari pada kekuatan yang positif, dan itu semua akan dapat mempengaruhi kehid**an dari manusia yang ada dimuka bumi ini.

Pada hari suci Kajeng Kliwon ada beberapa umat yang meyakininya bahwa, Sang Tiga Bhucari memohon restu dari Sang Durga Dewi untuk membuat bahaya, mengundang semua desti, teluh terang jana dan juga untuk menggoda orang yang tidak berbuat baik atau orang yang berbuat adharma.
Dengan demikian sudah sepatutnya dan sudah menjadi suatu kewajiban kita sebagai umat Hindu untuk menghaturkan persembahan dimerajan, pura dan tempat suci lainnya
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Yadnya atau Banten yang dipersembahkan berupa ; canang sari, canang raka, puspa harum, segehan kepelan, segehan putih kuning, segehan panca warna dan sebagainya. Didepan pintu pekarangan sebelah atasnya dihaturkan sesajen pada Sang Hyang Durga Dewi berupa canang wangi, burat wangi, canang yasa dan semua itu hendaknya disesuaikan dengan tempat atau keadaan serta kemampuan dari
setiap umat.

Dan dengan kita menghaturkan semua persembahan itu diharapkan agar bisa untuk mewujudkan keseimbangan alam Niskala dari alam bhuta menjadi alam Dewa.

Semua jenis Banten (upakara) adalah merupakan simbul diri kita, lambang kemaha - kuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung.
(Lontar Yajna Prakrti)
Kata segehan berasal kata Sega yang berarti nasi, jika dalam bahasa Jawa disebut sego. Oleh sebab itu, banten segehan itu isinya di dominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada yang berbentuk nasi kepelan (nasi dikepal) wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti ; bawang merah, jahe, garam dan lain - lainnya dan dipergunakan juga api takep yang terbuat dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda tambah (+) atau sw****ka, bukan api d**a, disertai beras serta tetabuhan berupa air, tuak, arak dan juga berem.

Makna dari Segehan

Segehan mempunyai arti suguh atau menyuguhkan dalam hal ini segehan dihaturkan kepada para Bhuta kala agar tidak mengganggu dan juga Ancangan atau Iringan dari Para Bhatara dan Bhatari, yang tak lain adalah merupakan akumulasi dari limbah atau kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan juga perbuatan manusia dalam kurun
waktu tertentu.

Dan dengan sarana segehan itu diharapkan nantinya dapat untuk menetralisir dan dapat menghilangkan pengaruh negatip dari limbah tersebut. Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan antara manusia dengan semua ciptaan dari Tuhan (palemahan).

Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari atau pada saat rerahinan dan hari - hari tertentu, dan penyajiannya itu diletakkan didepan pelinggih atau dinatar Merajan, Pura, halaman rumah, didepan pintu gerbang, pertigaan, perempatan jalan dsb. dan Caru itu juga banyak disinggung dalam lontar Kala Tattva, lontar Bhamakertih, dan Susastra Smerti.

Segehan nasi Kepel Putih merupakan segehan yang paling sederhana dan biasanya untuk dihaturkan setiap hari.
Segehan panca warna itu biasanya di letakkan atau dipersembahkan di natar merajan, halaman rumah, pintu keluar masuk pekarangan (lebuh, pemeda­l) dipertigaan, perempatan jalan dsb.

Semua unsur dari Segehan itu sejatinya memiliki suatu filosofi didalamnya yaitu :
Alas dari daun atau taledan kecil yang berisi tangkih disalah satu ujungnya, taledan yang berbentuk segi empat yang merupakan lambang dari arah mata angin.
- Nasi putih 2 kepal, yang melambangkan dari Rwa bhineda
- Jahe, secara ilmiah memiliki sifat panas, semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
- Bawang, memiliki sifat dingin, manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tetapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
- Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin)
- Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol yang secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai macam kuman atau bakteri yang merugikan.
- Dalam ilmu kedokteran alkohol digunakan juga untuk mensterilkan dari alat-alat kedokteran.
- Metabuh pada saat masegeh bertujuan agar semua bakteri, Virus, kuman yang dapat merugikan yang ada disekitar tempat itu akan menjadi hilang ataupun mati.

Semoga Bermanfaat

📷 : google (hanya ilustrasi)

| | | | | | |
Facebook :
https://web.facebook.com/wiwekabali.id/
Instagram :
https://www.instagram.com/wiwekabali/

Buda Wage MerakihHari suci Buda Wage Merakih disebut juga dengan Buda Cemeng Merakih, kata Cemeng itu dapat diartikan ju...
03/11/2020

Buda Wage Merakih

Hari suci Buda Wage Merakih disebut juga dengan Buda Cemeng Merakih, kata Cemeng itu dapat diartikan juga sebagai Ireng, gelap, hitam dan juga malam.

Wage Merakih merupakan hari suci yang perhitungannya berdasarkan wuku, dan merupakan pertemuan antara unsur saptawara Buda (Rabu) dengan panca wara Wage dan juga wuku Merakih. Buda Wage Merakih diperingati dan juga dirayakan oleh umat Hindu setiap 6 bulan sekali atau setiap 210 hari sekali.

Pada saat hari Buda Wage Merakih, seseorang diharapkan untuk mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, dengan jalan mengendalikan sifat - sifat kenafsuan atau indria - indrianya.

Dalam satu tahun kalender Bali, umat Hindu merayakan hari suci Buda Wage atau Buda Cemeng sebanyak 6 kali dan
yang terdiri dari ;
1️. Buda Wage ukir
2️. Buda Wage Warigadean
3️. Buda Wage Langkir
4️. Buda Wage Merakih
5️. Buda Wage Menail
6️. Buda Wage Klawu

Buda Wage Merakih merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Manik Galih atau Dewi Sri atau Dewi Laksmi yang merupakan sakti dari Dewa Wisnu atau yang sering juga disebut dengan Sang Hyang Sri Nini yang berfungsi sebagai Dewi kesuburan dan juga Dewi kemakmuran.

Di dalam kutipan lontar Sundari Gama
disebutkan bahwa ;
Buda Wage disebut juga Buda Cemeng, pada hari suci tersebut merupakan hari payogan dari Sang Hyang Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara Amrta atau inti hakekat kehid**an diluar ruang lingkup dunia skala.

Disanggar atau dimerajan dan diatas tempat tidur menghaturkan canang wangi - wangian dan juga persembahan kepada Sang Hyang Sri dilumbung serta pada malam harinya melaksanakan perenungan suci atau semadhi, yang bertujuan untuk menenangkan pikiran dan kedamaian serta kebahagiaan.

Dalam kutipan Bhagawad Gita 2.48 ada disebutkan bahwa ;
Yoga tidak selalu melakukan tapa, Brata dan semadhi, yoga dapat p**a berarti melakukan kewajiban atau pekerjaan yang seimbang dalam menjalankan kehid**an kita masing - masing, terlepas dari keberhasilan ataupun kegagalan kita tetap harus berusaha dan berjuang untuk melakukan kewajiban atau pekerjaan tersebut.

Dari semua itu dapat kita petik hikmahnya, bahwa sebagai umat manusia kita harus berusaha untuk bisa mengendalikan diri dan juga mengekang segala hawa nafsu yang ada pada diri kita.

yang mampu mengendalikan indrianya dan memusatkan pikirannya kepada Ku, dialah orang yang memiliki kesadaran sejati.
(Bhagawad Gita 2.61)

Foto : Google (hanya ilustrasi)



MAKNA TUMPEK KRULUTHari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu kliwon, wuku Krulut, yaitu setiap 6 bulan atau 210 hari kale...
30/10/2020

MAKNA TUMPEK KRULUT

Hari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu kliwon, wuku Krulut, yaitu setiap 6 bulan atau 210 hari kalender. Pada hari Tumpek Krulut masyarakat hindu mengadakan pemujaan puji syukur kepada Tuhan dalam manisfestasinya sebagai Dewa Iswara, yang telah terciptanya suara-suara suci dalam bentuk Tabuh atau Gamelan.

Istilah dari Tumpek Krulut diambil dari nama wuku (penanggalan jawa dan bali) berdasarkan kalender Bali, yaitu “lulut” yang memiliki makna jalinan atau rangkaian. Jadi Hari Tumpek Krulut merupakan wujud dari kasih sayang terhadap alat-alat seni berupa gamelan atau tetabuhan.

Hari Tumpek Krulut jika dicermati secara mendalam sesungguhnya sebagai sarana memunculkan rasa saling asih, asah dan asuh di antara sesama manusia melalui sarana seni tetabuhan, hasil dari karya cipta Hyang Widhi yang membuat rasa tertarik, senang, dan terpesona dalam kehid**an.

Krama Hindu di Bali selama ini merayakan hari Tumpek Krulut sebagai hari piodalan di pelinggih penyarikan di banjar - banjar.
Di Hari Tumpek Krulut krama banjar mengupacarai perangkat Gamelan atau Tetabuhan. Di dalam masyarakat tetabuhan sangat identik dengan Gong .
Oleh sebab itu Hari Tumpek Krulut juga sering disebut dengan Odalan Gong atau Otonan Gong yang bertujuan agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan bertaksu.

Tumpek Krulut. Menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan, mohon keselamatan.
Sesajen yang dihaturkan pada hari Hari Tumpek Krulut yaitu peras pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong.

Hari kasih sayang di Bali sudah ada sejak zaman dulu seperti hal nya hari valentine. Hanya saja banyak orang yang belum memahami kalau Hari Tumpek Krulut merupakan hari kasih sayang. Momen Hari Tumpek Krulut adalah salah satu implementasi dari Tri Hita Karana yang melibatkan yadnya atau korban suci.

Korban suci adalah bagian dari cinta yang tulus.
RAHAJENG RAHINA TUMPEK KRULUT

Sumber : colekpamor.com
Foto : google (hanya ilustrasi)




MAKNA DAN FUNGSI-FUNGSI PELANGKIRANDalam Hindu Khususnya di Bali ada yang disebut pelangkiran. Pelangkiran berasal dari ...
30/10/2020

MAKNA DAN FUNGSI-FUNGSI PELANGKIRAN

Dalam Hindu Khususnya di Bali ada yang disebut pelangkiran. Pelangkiran berasal dari kata “langkir” artinya tempat memuja. Pelangkiran merupakan niyasa yang bersifat umum dan tergantung dari letaknya serta tujuan pemuja untuk menstanakan Bhatara / Dewa siapa yang ingin dipuja.
Fungsi Pelangkiran
Pelangkiran mempunyai banyak fungsi sesuati dengan kondisi dan tempatnya. Yaitu sebagai berikut:

Untuk anak yang baru lahir sampai diupacarai 3 bulan, maka dibuatkan pelangkiran dari ulatan lidi/ ibus yang dinamakan berbentuk bulat, digantungkan di atas tempat tidur bayi. Itu adalah stana Sanghyang Kumara, putra Bhatara Siwa yang ditugasi ngemban para bayi.
Setelah upacara 3 bulanan sampai terus dewasa – tua, pelangkiran diganti dengan bentuk yang dipakukan ke tembok. Ini pelinggih Kanda-Pat (bukan Hyang Kumara
lagi)

Di dapur, stana untuk Bhatara Brahma
Sumur/jeding/kran air, untuk Bhatara Wisnu
Di pasar tempat berjualan, untuk Bhatari Dewa Ayu Melanting

Di Warung / Toko / Tempat Usaha, stana untuk Bhatara Sri Sedana sebagai pemberi kemakmuran kepada setiap umat manusia.
Di kantor, untuk Bhagawan Panyarikan atau Dewi Saraswati.
Beberapa hal penting yang perlu kita ketahui tentang pelangkiran yaitu:

Dalam penempatan pelangkiran di dalam rumah yang tidak boleh dilupakan ialah diperlukan ada pelangkiran di setiap k**ar tidur (bagian kepala) untuk linggih ‘kanda-pat’,sedangkan untuk stana Sanghyang Kumara bagi bayi yang belum upacara 3 bulan, pelangkiran dari anyaman bambu. Dan pelangkiran juga di dapur untuk linggih Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu, ditempatkan ‘pulu’ berisi beras segenggam. Di pelangkiran itu perlu diisi ‘pejati’, yakni banten tegteg, daksina, peras, ajuman.

Setiap purnama pejati ini diganti dengan yang baru. Setiap hari ‘ngejot’ atau maturan di pelangkiran-pelangkiran itu dengan canang sari berisi masakan hari itu, cukup dengan sesontengan memakai bahasa biasa saja, tidak usah pakai mantram.Tirta untuk mebanten ‘saiban’ itu minta di geria-geria, yaitu tirta pelukatan. Tirta itu bisa disimpan untuk keperluan sebulan atau lebih.

Saat tilem yang dihatukarn adalah pejati (tegteg daksidna peras ajuman) sama seperti purnama tapi di bawah pelakiran diisikan segehan nasi manca warna
Jika ingin melinggihkan patung Dewa Siwa di pelangkiran k**ar menurut Bhagawan Dwija boleh boleh saja akan tetapi terlalu berlebihan, karena Dewa Siwa adalah niyasa Tuhan (Sanghyang Widhi) mestinya distanakan di lingkungan yang lebih sakral/suci. Bukan di pelangkiran k**ar tidur yang mungkin digunakan untuk hal-hal khusus.

Jika merantau dan ingin tetap selalu memuja Ida Sang Hyang Widhi letakkanlah pelangkiran diruangan khusus yang tidak dipergunakan untuk tidur. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di k**ar tidur untuk stana Kanda Pat.
Apakah merupakan keharusan meletakkan pelangkiran di dalam k**ar? mungkin itu akan menjadi salah satu pertanyaan dari semeton.

Dalam lontar “Aji Maya Sandhi” disebutkan ketika manusia sedang tidur maka Kanda Pat itu keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dsb. sehingga mengganggu tidur manusia; oleh karena itu perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai “penunggu urip“.

Jadi tentunya dengan meletakkan pelangkiran di dalam k**ar, maka niscaya dalam tidur akan terasa lebih nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika ada penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama.

Like & Share Jika Bermanfaat

Sumber : inputbali.com
Foto : Google (hanya ilustrasi)




Tujuan Pernikahan Menurut HinduPada dasarnya manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga...
27/10/2020

Tujuan Pernikahan Menurut Hindu

Pada dasarnya manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga mereka harus hidup bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tuhan telah menciptakan manusia dengan berlainan jenis kelamin, yaitu pria dan wanita yang masing-masing telah menyadari perannya masing-masing. Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:

“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah

Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”

Artinya: Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan.

Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya.

Adapun 3 tujuan pernikahan menurut ajaran Hindu menurut kitab kitab Manavadharmasastra yaitu:

Dharmasampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña , sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.
Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna).
Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan k**a) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.
Tujuan lain dari pernikahan menurut ajaran Hindu adalah membentuk keluarga ( rumah tangga) yang bahagia dan kekal maka dalam agama Hindu sebagaimana diutarakan dalam kitab suci Veda perkawinan adalah terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Manava Dharmasastra IX. 101-102 sebagai berikut:

“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,

Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”

Artinya: Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri.

“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,

Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”

Artinya: Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain.

“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,

Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”

Artinya: Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian p**a sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal

Tujuan dari sebuah pernikahan adalah untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga yang berbahagia kekal abadi dapat dicapai bilamana di dalam rumah tangga terjadi keharmonisan serta keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri, masing-masing dengan swadharma mereka. Keduanya (suami-istri) haruslah saling isi mengisi, bahu membahu membina rumah tangganya serta mempertahankan keutuhan cintanya dengan berbagai “seni” berumah tangga, antara lain saling menyayangi, saling tenggang rasa, dan saling memperhatikan kehendak masing-masing. Mempersatukan dua pribadi yang berbeda tidaklah gampang, namun jika didasari oleh cinta kasih yang tulus, itu akan mudah dapat dilaksanakan.

Sumber : paduarsana.com
Foto : Google (hanya ilustrasi)



Hari suci Kajeng Kliwon Enyitan Hari suci Kajeng Kliwon Enyitan adalah hari suci Kajeng Kliwon yang pelaksanaanya dilaku...
26/10/2020

Hari suci Kajeng Kliwon Enyitan

Hari suci Kajeng Kliwon Enyitan adalah hari suci Kajeng Kliwon yang pelaksanaanya dilakukan setelah hari suci Tilem. Kajeng Kliwon merupakan penggabungan dari unsur Tri Wara Kajeng dengan unsur panca wara Kliwon. Pertemuan antara Kajeng dan Kliwon itu diyakini oleh umat sebagai saat dari energi alam semesta yang memiliki dualitas bertemu satu sama lainnya.
Energi didalam alam semesta yang ada di Bhuana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuana Alit atau tubuh dari manusia itu sendiri. Hari suci Kajeng Kliwon dirayakan setiap 15 hari sekali, yang dapat dibedakan menjadi tiga bagian antara lain :

1. Kajeng Kliwon Uwudan yang dilaksanakan setelah suci hari Purnama.
2. Kajeng Kliwon Enyitan yang dilaksanakan setelah hari suci Tilem.
3. Kajeng Kliwon Pemelastali yang jatuhnya setiap 6 bulan sekali atau setiap 210 hari sekali yang sering juga disebut dengan Watu Gunung Runtuh.

Kajeng merupakan hari prabhawanya dari Sang Hyang Durga Dewi, yang merupakan perwujudan dari Ahamkara yang merupakan manifestasi dari kekuatan Bhuta, Kala dan Durga yang ada dimuka bumi. Kliwon merupakan hari prabawanya dari Sang Hyang Siwa sebagai kekuatan dharma yang merupakan manifestasi dari kekuatan Dewa. Menyatunya unsur kekuatan dari Siwa dan Durga akan lahir kekuatan Dharma Wisesa, sehingga dari sini lahirnya kesidhian, kesaktian, kemandhian yang selalu dikendalikan oleh kekuatan Dharma. (Lontar Kala Maya Tattwa)

Umat Hindu juga meyakini hari pada hari suci Kajeng Kliwon sebagai harinya dari Sang Hyang Siwa untuk melaksanakan yoga dan semadinya dengan tujuan untuk keselamatan dunia beserta isinya.

Setiap kepala keluarga hendaknya agar melakukan upacara Bali atau suguhan makanan kepada alam dan menghaturkan persembahan ditempat - tempat terjadinya pembunuhan seperti pada ; ulekan, sapu, kompor, asahan, pisau dan talenan. (Manava Dharma Sastra)
Adapun Banten segehan panca warna dan nasi kepelan itu sebagai persembahan kepada ;

Bhuta Bhucari dinatar merajan atau didepan pelinggih.
Kala Bhucari dinatar rumah atau pekarangan.
Durga Bhucari didepan pintu pekarangan rumah atau lebuh.

Yang disuguhkan pada samping kori (lebuh) sebelah atasnya berupa ; canang wangi - wangi, burat wangi, canang yasa dan yang dipuja adalah Sang Hyang Durga Dewi. (Lontar Sundarigama)
itu setiap umat Hindu pada saat Kajeng Kliwon melakukan penyucian diri lahir bhatin dan bersikap lebih berhati - hati dalam segala hal, karena kekuatan negatif saat Kajeng Kliwon cenderung lebih besar dari pada kekuatan yang positif, dan itu semua dapat juga mempengaruhi dalam kehid**an manusia yang ada dimuka bumi ini.

Pada saat hari Kajeng Kliwon umat juga meyakini bahwa Sang Tiga Bhucari memohon restu dari Sang Durga Dewi untuk menggoda manusia yang melanggar ataupun yang berbuat kesalahan, juga membuat mara bahaya, mengundang semua desti, teluh, terang jana guna menggoda orang yang tidak menjalankan ajaran dharma ataupun orang yang tidak berprilaku baik.

Dengan menghaturkan bakti dan persembahan itu diharapkan nantinya agar bisa untuk mewujudkan keseimbangan alam niskala dari alam Bhuta menjadi alam Dewa.
jenis Banten atau upekara adalah merupakan simbul dari diri kita, lambang kemaha kuasaan dari Sang Hyang Widhi Wasa dan juga sebagai lambang dari Bhuana Agung. (Lontar Yajna Prakerti)

Dan dengan sarana segehan dan Banten itu juga diharapkan untuk bisa menetralisir dan menghilangkan segala pengaruh negatip, kekotoran atau mala dari manusia itu sendiri. juga dapat dikatakan sebagai suatu lambang dari harmonisnya hubungan antara manusia dengan semua mahluk ciptaan dari Tuhan.

Via : Prempuanbali.asia
Foto : Google (hanya ilustrasi)


Address

Bali/Indonesia
Tabanan
82181

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when WIWEKA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to WIWEKA:

Share