Keris Jawa

Keris Jawa Tosan Aji Budaya Luhur Jawa Hanya menggunakan Rekening Mandiri. Hery Suryo Wibowo

PB X Dan HB VIISampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB X , dalam upayanya menyatukan kembali trah Mataram yan...
27/02/2023

PB X Dan HB VII

Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB X , dalam upayanya menyatukan kembali trah Mataram yang terpecah sejak 1755 melalui Pernikahan SISKS PB X dengan Putri Sultan HB VII yaitu BRAj Mur Sudarinah ( selanjutnya bergelar GKR Hemas).
Pernikahan Agung Kasunanan Surakarta dengan Kasultanan Jogjakarta yang berlangsung pada 27 Oktober 1915 ini dikaruniai keturunan GRAy Sekar Kedaton ( selanjutnya bergelar GKR Pembayun)

"Nyariyosaken badhenipun dedamel Jawi punika ingkang dipun angge mboten wonten kejawi saking tiga punika. Tosan punika h...
19/01/2023

"Nyariyosaken badhenipun dedamel Jawi punika ingkang dipun angge mboten wonten kejawi saking tiga punika.
Tosan punika hingkang sinungan minangka langkungan,
Waja punika ingkang sinungan kiyatan sarta landhep,
Pamor punika hingkang sinung yuana saha guwaya langkung.”

(Serat Pandameling Duwung ,
Kaserat rikala SISKS PB X jumeneng nata)

" RADEN DANANG SUTAWIJAYA /RADEN NGABEHI LORING PASAR / PANEMBAHAN SENOPATI  RAJA PERTAMA & PELETAK DASAR  MATARAM ISLAM...
16/11/2022

" RADEN DANANG SUTAWIJAYA /RADEN NGABEHI LORING PASAR / PANEMBAHAN SENOPATI
RAJA PERTAMA & PELETAK DASAR MATARAM ISLAM ".

Nama kecilnya adalah Raden Danang Sutawijaya, ia putra Ki Ageng Pamanahan, Kakeknya adalah Ki Ageng Ngenis Ulama Keraton Pajang yang mendirikan Masjid Laweyan dan juga berdiam di Laweyan (sebelah timur Pajang). Sedangkan ayah Ki Ageng Ngenis adalah Ki Ageng Sela dan ayah Ki Ageng Sela adalah Ki Getas Pandawa.
Berawal dari saat Raden Danang Sutawijaya di jadikan putra angkat oleh Sultan Hadiwijaya ing Pajang, dan diangkat sebagai Ngabehi...
Sejak saat itu namanya dikenal sebagai Raden Ngabehi Loring Pasar. Kediamannya
di kampung Lor Pasar, Laweyan, disebelah Selatan Hotel Zolia Laweyan sekarang. ( versi lain menyebutkan bahwa Lor Pasar terletak di Kota gede).

Awal kekuasaan Raden Danang Sutawijaya tidak lepas dari pemberitaan Babad Tanah Jawi (BTJ)
Meinsma, Babad,hal. 72 memberikan gambaran yg
singkat sekali :

- Setelah ada berita mengenai kemakmuran Mata-
ram ....murah sandang pangan ....menyusul beri-
ta tentang penyakit Kiai Gede Matraman. Ia me-
nyerahkan sepeninggalnya atas nasib keturunan-
nya kepada Ki Juru Martani, yang harus dipatuhi
oleh anak-anaknya . Putranya Ngabehi Loring
Pasar, akan menjadi penggantinya. Selanjutnya
jenazahnya dimakamkan di sebelah barat mas-
jid.

Serat Kandha (hal. 527-528) tidak memuat penje-
lasan lain. Namun sesudah itu terdapat berita me-
ngenai pengangkatan putranya (Meinsma, Babad,
hal. 72-73) :

- Sehari setelah meninggalnya Ki Gede Mataram, Ki
Juru Martani bersama seluruh keluarga pergi ke
Pajang menghadap Sultan, tepat pada suatu ha-
rI Senin. Mereka mengambil tempat di bawah
pohon beringin kurung. Setelah dipanggil Sultan
Ki Juru Martani menyampaikan berita tentang
junjungannya, dan bertanya siapakah dari keli-
ma putranya yang akan menggantikan peting-
gi Mataram itu. Sultan menunjuk "putranya",
Ngabehi Loring Pasar dan memberikan nama
Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama. Tahun
pertama ia tidak usah datang di istana Pajang,
agar dapat menggunakan waktunya untuk
menertibkan daerahnya dan mencicipi kenik-
matan.
- Setelah itu Ki Juru Martani dan kemenakan-
nya mencium kaki Sultan dan minta izin pu-
kang.
- Semenjak itu jumlah penduduk Mataram ber-
tambah banyak dan Senapati menikmati ke-
hidupan tanpa kesulitan.

Itulah awal berkuasanya Senapati di bumi Mata-
ram, tahun 1584 merupakan juga tahun mening- galnya Ki Gede Pamanahan. Menjadi Raja di Ke-
rajaan Mataram yang didirikannya pada tahun
1586 dan meninggal pada tahun 1601. Versi lain mengatakan mulai memerintah pada tahun 1584. Ia dimakamkan disebelah selatan masjid, diujung kaki ayahnya. Meninggalkan 2 orang permaisuri, yang nomor satu putrinya Ki Ageng Panjawi (Pati) dan yang nomor dua putrinya Panembahan Mas (Madiun).

Putra-putrinya ada 23 orang, yang hidup cuma 18
(Putra 11, Putri 7) serta yang meninggal sewaktu
masih kecil 5 orang.
- Dalam bidang budaya Panembahan Senopati telah menyempurnakan bentuk wayang dengan tatahan gempuran (Haryanto,1988, hal.204).
- Dalam bidang perkerisan, Keris-keris Tinangguh Mataram Senopaten sangat terkenal mempunyai ciri khas dan keindahan tersendiri.

KINATAH KAMAROGAN MATARAM SENOPATEN

EMPU - EMPU KERATON SURAKARTA 1. SISKS Pakubuwana III (Sunan Prabu) (15-Des-1749 sd 26-Sep-1788)           39 tahun- Emp...
09/11/2022

EMPU - EMPU KERATON SURAKARTA

1. SISKS Pakubuwana III (Sunan Prabu)
(15-Des-1749 sd 26-Sep-1788)
39 tahun
- Empu Brojoguna II alias Braja Sentika
- Empu Semara Gati
- Empu Singo Wijoyo.

2. SISKS Pakubuwana IV (Sunan Bagus)
( 29-Des-1788 sd 1-Okt 1820)
32 tahun
-Empu Brajaguna III,
-Empu Carang Mustopo,
-Empu Semara,
-Empu Sanabona,
-Empu Jokoriyo,
-Empu Tirto Dongso,
-Empu Singowijoyo

3. SISKS Pakubuwana V (Sunan Sugih)
(10-Okt-1820 sd 5-Sep-1823)
3 tahun
-Empu Brajaguna III
-Empu Singo Wijoyo

4. SISKS Pakubuwana VI ( Sunan Sapardan)
(15 Sep-1523 sd 14 Juni 1830)
7 tahun
-Empu Brajaguna III
-Empu Singo Wijoyo

5. SISKS Pakubuwana VII ( Sunan Purbaya)
(14 juni 1830 sd 10 Mei 1858)
28 tahun
-Empu Singo Wijoyo
-Empu Tirtodongso
-Empu Soijoyo
-Empu Japan
-Empu Braja Kariyo
-Empu Supa
-Empu Rejeng

6. SISKS Pakubuwana VIII ( Sunan Ngabehi)
(17 Mei-1858 13 Des1861)
3 tahun
-Empu Singowijoyo,
-Empu Tirtodongso,
-Empu Soijoyo,
-Empu Japan,
-Braja Kariyo,
-Empu Supa,
-Empu Rejeng

7.SISKS Pakubuwana IX (Sunan Banguntapa)
1863-1893.
33 tahun
-Empu Brajaguna IV
-Empu Japan
-Empu Singowijoyo
-Empu Braja Sentana

8. SISKS Pakubuwana X (Sunan Sugih)
30 Maret 1893 sd 9 Feb 1938
44 tahun.
-Empu Singo Wijoyo
-Empu Joyo Sukadga,
-Empu Japan
-Empu Mangun Malela
-Empu Wira Sukadga

9. SISKS Pakubuwana XI
1939-1944
6 tahun
Tidak mempunyai empu

# Sumber: naskah bundel ceramah Bowo Raos Paniti Kadga disusun RT Suparman Supowijoyo, dengan beberapa tambahan oleh penulis.

# Di antara empu yang ada, beberapa mempunyai nama yang sama, hal itu merupakan kebiasaan empu di masa lalu, dalam bahasa jawa "Nunggak semi" yang berarti memakai nama yang sama dengan empu sebelumnya, biasanya empu tersebut sebagai empu keturunanya.

Dalam catatan saya, pada masa jayanya sebelum era Kamardikan, Keraton ( baik Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Ngayo...
05/11/2022

Dalam catatan saya, pada masa jayanya sebelum era Kamardikan, Keraton ( baik Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Ngayogjakarta) juga melakukan pembelian Keris Pusaka yang dianggap bagus dari masyarakat umum diluar Keraton yang memiliki Keris Pusaka yang dianggap memenuhi kriteria. Di Keraton Kasunanan Surakarta, pada masa Suwargi SISKS PB X jumeneng nata, Putra Dalem KGPH HADIWIJAYA dengan dibantu juru taksir Keraton, melakukan pembelian beberapa Keris Pusaka dari luar lingkungan Keraton. Demikian p**a di Keraton Ngayogjakarta...

Jadi, sebelum banyak keris dari dalam lingkungan Keraton keluar dimahari oleh para kolektor dewasa ini, sebelumnya ada banyak juga Keris bagus dari luar lingkungan Keraton yang dimahari masuk kedalam lingkungan Keraton.

26/10/2022

Next...
KERIS INDONESIA FOR PEACE AND HUMANITY
@ BENTARA BUDAYA, JAKARTA.
22 sd 27 November 2022

13/08/2022

Mangayubagya 5 th Museum Keris Nusantara Surakarta bersama Pimpinan Dewan Bp. H. Sugeng Riyanto, para sesepuh dan Pegiat Budaya Ir. H. Budhi Hartanto, DR. Suparjito, Bp. Ady Sulistyono dkk

KERIS TARIKAN GHAIBKERIS DATANG SENDIRIAlhamdulillah, sejak dulu berkeris, saya tidak pernah sekalipun tergoda pada hal-...
11/07/2022

KERIS TARIKAN GHAIB
KERIS DATANG SENDIRI

Alhamdulillah, sejak dulu berkeris, saya tidak pernah sekalipun tergoda pada hal-hal klenik semacam itu. Dan memang kenyataannya 100% semua keris yang dikatakan tarikan ghaib tidak pernah ada satu pun yang " memper" ( cukup layak), bahkan kebanyakan adalah Keris baru kelas Kodian / keris-kerisan.

Adapun tentang " Keris Datang Sendiri"...
Sampai detik ini pun setahu saya tidak pernah ada keris yang benar-benar datang sendiri. Biasanya setidaknya diantar sang pemilik atau orang kepercayaan sang pemilik ketika datang kerumah untuk dimaharkan. Sebagaimana keris pada foto dibawah, ketika diantar kerumah oleh sang pemilik, saya langsung terpikat olehnya. Tanpa perlu pembicaraan panjang lebar ataupun nego menawar mahar, saya dengan hati menerima kehadirannya.
Alhamdulillah....

Memotret KerisDemi mendapatkan tampilan aspek-aspek penilaian keris yang diantaranya adalah : Guwaya, Wangun Pasikutan, ...
15/06/2022

Memotret Keris

Demi mendapatkan tampilan aspek-aspek penilaian keris yang diantaranya adalah : Guwaya, Wangun Pasikutan, Wesi, Wojo dan Pamor. Terkadang hanya dalam beberapa kali jepret dan setting yang mudah, kita mendapat hasil yang cukup memuaskan. Namun tak jarang harus menahan nafas cukup lama, gonta-ganti setting, merubah-rubah angle dst dst...

Kuncinya, secara umum adalah memahami benar karakter keris yang akan difoto dan banyak-banyak praktek memotret Keris disertai ketekunan dan kesabaran...

22/04/2022
KHADIRI ( KEDIRI) DAN PRABU JAYABAYAWilayah Khadiri berada di wilayah Kerajaan Panjalu yang sangat terkenal di era Prabu...
01/03/2022

KHADIRI ( KEDIRI) DAN PRABU JAYABAYA

Wilayah Khadiri berada di wilayah Kerajaan Panjalu yang sangat terkenal di era Prabu Jayabaya meski Jenggala juga masih keluarga kerajaan Kediri. Namun kerajaan yang paling masyhur adalah Pangjalu/Khadiri. Hal ini tak lepas dari keberhasilan Prabu Jayabaya dalam penyatuan Jenggala dan Panjalu. Keduanya disatukan dengan semboyan Panjalu Jayati.

Dalam perjalanan sejarah nusantara, Khadiri atau Kediri tidak bisa dipisahkan dari tokoh yang sangat terkenal dan melegenda yakni Prabu Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana.
Kisah tentang Jayabaya diawali ketika Prabu Airlangga membagi kekuasaan menjadi dua yakni Panjalu ( Ibukotanya di Daha) dan Jenggala ( Ibukotanya di Kahuripan).

Beberapa kitab kuno terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie menyebutkan, cerita panjang Khadiri atau Kediri berawal ketika pembagian kerajaan oleh Airlangga ternyata justru menimbulkan konflik di antara Panjalu dan Jenggala. Kedua kerajaan ini senantiasa perang saudara, diawali antara Samarawijaya (Panjalu) dan Panji Garasakan (Jenggala).
Tahun 1052 Masehi terjadi perebutan kekuasaan antara kedua belah pihak. Awalnya Panji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Selanjutnya pada 1059 Masehi muncul seorang raja lain, yaitu Raja Samarotsaha yang berkuasa di Kerajaan Jenggala.
Raja Samarotsaha adalah menantu Raja Airlangga. Namun, tahun 1104 Masehi tampil Kerajaan Panjalu sebagai rajanya yaitu Jayawangsa. Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Khadiri atau Kediri yang beribu kota di Dhahanapura .
Tahun 1117 Masehi Bameswara tampil sebagai raja Khadiri. Prasasti yang ditemukan antara lain, Prasasti Padlegan (1117 Masehi) dan Panumbangan (1120 Masehi). Isinya pemberian status perdikan untuk beberapa desa.

Pada th 1135 Masehi, tampil raja yang terkenal dengan Jangka Jayabaya yaitu Prabu Jayabaya. Prabu Jayabaya berhasil mengembalikan kejayaan seperti masa Prabu Airlangga. Panjalu dan Jenggala dapat bersatu kembali. Hal itu dijelaskan dalam Prasasti Hantang (1057 Saka) atau 1135 Masehi dituliskan kata Pangjalu/Panjalu Jayati, artinya Panjalu menang berperang atas Jenggala dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa Jayabaya adalah pewaris takhta kerajaan yang sah dari Airlangga....

Foto : JALAK BUDHO KHADIRI

SULTAN HADIWIJAYA KASULTANAN PAJANG ( 1551-1582 ) Asma asline yaiku Mas Karebet, putrane Ki Ageng Pengging, dadi Mas Kar...
17/02/2022

SULTAN HADIWIJAYA
KASULTANAN PAJANG ( 1551-1582 )

Asma asline yaiku Mas Karebet, putrane Ki Ageng Pengging, dadi Mas Karebet iku wayah dalem ( putunipun) Adipati Andayaningrat Pengging. Jeneng mau, asale saka Bapake kang nanggap wayang beber nalika laire Jaka Tingkir. Nalika Mas Karebet umur sepuluh taun, Ki Ageng Pengging diukum pati, merga dituduh mbrontak marang Kesultanan Demak. Ora sawetara suwe ibune uga seda. Banjur Mas Karebet dipek anak dening Nyi Ageng Tingkir. Sak wise ngancik cukup umur, Mas Karebet pamit marang Nyi Ageng Tingkir saperlu meguru.

Mas Karebet nyinau ilmu agama. Dheweke meguru marang Sunan Kalijaga, banjur meguru maneh marang Ki Ageng Sela. Dening Ki Ageng Sela, diaku anak lan digandeng sedulurke karo putu-putune yaiku Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan Lan Ki Panjawi. Sak banjure Jaka Tingkir lunga menyang Kasultanan Demak Bintoro. Ing Demak, dheweke mangggon ing omahe Kyai Gandamustaka (pamane Jaka Tingkir) kang dadi lurah ganjur (ngurusi mesjid). Dening Sultan Trenggana, Tingkir diangkat dadi lurah wiratamtama.

Ing sawijining dina, Kesultanan Demak nganakake sayembara milih prajurit. Tingkir kang diutus mbiji. Ana salah sijining calon prajurit kang rupane ala, senengane pamer lan umuk, arane Dadungawuk. Jaka Tingkir kang ora seneng marang calon prajurit iku banjur nguji kasektene, tanpa dinyana, Dadungawuk tiwas sanalika. Marga saka kedadeyan iku, Tingkir banjur ditundung saka Demak

Jaka Tingkir banjur meguru marang Ki Ageng Banyubiru, Tingkir diwenehi lemah kang bisa ndadekake dheweke bisa katampa maneh ing Demak Bintoro. Saka Banyubiru Jaka Tingkir mangkat menyang Demak dikancani dening muride Ki Ageng Banyubiru kang aran Mas Manca, Mas Wila, lan Ki Wuragil.

Rombongane Jaka Tingkir ngliwati kali Kedung Srengenge nganggo getek Kyai Tambak Boro. Ing tengahing kali, rombongane Jaka Tingkir dicegat siluman baya. Kekarone adu kasekten, baya-baya padha kalah, banjur aweh pambiyantu marang rombongane Jaka Tingkir nganti tekan sebrange kali.

Tumekane ing Demak, Jaka Tingkir ngeculake kebo kang wis dileboni lemah ana kupinge lan digiring menyang lapangan. Kebo mau ngamuk ora karuan. Lan ora ana kang bisa ngadepi polahe. Sultan Trenggana kelingan marang kasektene Jaka Tingkir, lan ngutus prajurit supaya Jaka Tingkir bisa ngrampungi ontran-ontran mau. Ora angel anggone Jaka Tingkir ngalahake kebo mau. Marga saka kridhane, Sultan Demak ngangkat Tingkir dadi Lurah Tamtama maneh.

Kasektene Jaka Tingkir, ndadekake dheweke dadi bupati Pajang lan ganti jeneng dadi Adipati Hadiwijaya. Duwe bojo Ratu Mas Cempaka, putri saka Sultan Trenggana. Sawuse Sultan Trenggana seda ing taun 1546, putrane kang aran Sunan Prawoto ngganteni dadi ratu, ananging tiwas ing tangane Arya Penangsang kang isih kapetung sedulur saka Jipang. Aryo Penagsang uga mateni Pangeran Kalinyamat (putra mantu Sultan Trenggana kang dadi bupati Jepara).

Arya Penangsang ngirim utusan kangggo mateni Hadiwijaya ing Pajang, Ananging tekan Pajang utusane Arya Penangsang malah diladeni kanthi becik lan diwenehi hadiah. Ratu Kalinyamat njaluk Hadiwijaya supaya mateni Arya Penangsang, Ananging merga isih ana gandheng sedulur, Sultan Hadiwijaya rumangsa pakewuh yen mateni kanthi cara terang-terangan.

Mula Sultan Hadiwijaya nganakake sayembara. Sapa kang bisa merjaya (mateni) Arya Penangsang, bakal diparingi hadiah tanah Pati lan Mataram. Ki Ageng Pemanahan lan Ki Panjawi melu sayembara mau. Lan kang bisa niwasake Arya Penangsang yaiku Ki Juru Martani kanthi siasat dhawuh Danang Sutawijaya (ipene Ki Ageng Pemanahan), ( ing crita sejarah liyane kasebut yen sing bisa merjaya Arya Penangsang yaiku Danang Sutawijaya ).

Sawuse prastawa ing taun 1549 kasebut, Ratu Kalinyamat menehake Keraton Demak marang Hadiwijaya. Pusate dipindah ing Pajang lan Hadiwijaya dadi ratu kang sepisanan.Sultan Hadiwijaya uga ngangkat Mas Manca dadi patih kanthi gelar Patih Mancanegara, banjur Mas Wila lan Ki Wuragil didadekake menteri kanthi pangkat ngabehi.

Ki Panjawi antuk hadiah tanah Pati kanthi gelar Ki Ageng Pati. Ananging Ki Ageng Pemanahan isih nunggu merga Sultan Hadiwijaya ora age-age menehake tanah Mataram. Nganti taun 1556, tanah Mataram isih ditahan dening Hadiwijaya. Ki Ageng Pemanahan pakewuh arep jaluk marang Hadiwijaya. Sunan Kalijaga kang ngerti kahanan mau, coba nengahi. Alesane Hadiwijaya ngenani hadiah tanah Mataram iku, amerga dheweke was sumelang krungu ramalane Sunan Prapen yen ing Mataram arep lair keraton kang bakale ngasorake Pajang.

Sunan Kalijaga mbujuk Hadiwijaya supaya netepi ing janji. Lan Pemanahan uga wajib sumpah prasetya mring Pajang. Ki Ageng Pemanahan jejuluk Ki Ageng Mataram, lan wajib ngadep mring Pajang.

Ki Ageng Pemanahan peputra Sutawijaya, kang ngganteni dheweke sawuse seda. Mataram ing tangane Sutawijaya saya makmur. Ananging Sutawijaya ora gelem menehi laporan uga ora gelem bayar pajek mring Pajang. Ing taun1582 Raden Pabelan (ponakane Sutawijaya) gawe geger ing taman kaputren Sekar Kedaton( anakke Hadiwijaya), Pabelan diukum pati, lan ramane kang aran Tumenggung Mayang disingkirke menyang Semarang. Ibune Pabelan (adhi saka Sutawijaya) njaluk pitulungan marang kangmase. Sutawijaya ngirim utusan supaya bisa nylametake Tumengggung Mayang saka paukuman. Tumindake Sutawijaya dianggep luput dening Hadiwijaya, banjur Pajang nyerbu Mataram. Ananging Pajang kalah perang. Sakwuse kalah perang, Hadiwijaya kondur menyang Pajang, nandang gerah, banjur seda lan disarekake ana ing tlatah Butuh, Sragen. Ning uga ana sak perangan pamanggih yen makam Sultan Hadiwijaya ana ing Kota gede, amarga ana cungkup makam Sultan Hadiwijaya ing Pasareyan Kota gede, Ngayogjakarta...

:

1. Pusaka Pajang.
2.. Ilustrasi Gambar Sultan Hadiwijaya.

Address

Surakarta

Telephone

085107018057

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Keris Jawa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category