10/11/2018
Niluh Putu Vennny Narliyanti,kiri, 44, tengah mengajar di Taman Kanak-Kanak Rare Muchtary, di lingkungan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), Denpasar, Bali.
Ibu Putu, panggilan akrab perempuan kelahiran Tabanan ini adalah pengajar di sekolah ini. Putu mengampu sentra persiapan, sentra agama dan bahasa Bali.
"Sejak pertama kali melamar sebagai guru, saya merasa diterima sepenuh hati. Pengurus sekolah ini yang notabene muslim memperlakukan saya sangat baik, tidak ada sekat yang mempersoalkan suku dan agama saya," tutur Putu.
Yayasan SPMAA Bali, sejak awal mendesain wadah pendidikan berbasis Islam yang berkualitas, namun tetap terjangkau. Dalam perjalanannya, warga Bali non muslim lantas menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini.
Lahan pondok pesantren sendiri berdiri di bekas tempat sembahyang warga Bali yang dengan terbuka menerima kehadiran pusat pendidikan Islam ini. Di beberapa sudut pesantren masih bisa dijumpai patung-patung dan tempat pemujaan umat Hindu. Di saat tertentu, masih bisa dijumpai guru agama Hindu melakukan ritual keagamaan, sementara murid-murid lainnya tengah belajar mengaji di lingkungan yang sama.
Saat negeri ini dikoyak isu keyakinan dan golongan, di pusat kota dengan penganut mayoritas Hindu, SPMAA yang berbasis di Lamongan menjadi jembatan penyelaras harmoni Islam dengan lingkungan sekitarnya.