MadamSenikrat

MadamSenikrat create art each day

Buku ini tidak lahir untuk menyenangkan siapa pun.Ia lahir untuk membongkar.Tentang ijazah yang diperlakukan seperti mah...
18/02/2026

Buku ini tidak lahir untuk menyenangkan siapa pun.
Ia lahir untuk membongkar.

Tentang ijazah yang diperlakukan seperti mahkota.
Tentang universitas yang mengaku rasional tapi diam-diam menjaga pagar.
Tentang akses yang dipersempit lalu disebut standar.

Ini bukan glorifikasi pendidikan. Ini autopsi.
Kalau terasa tajam, mungkin karena selama ini kita terlalu nyaman menyembah simbol.

This book does not celebrate education.
It interrogates it.

It questions the diploma as power, the university as gatekeeper, and meritocracy as a polished myth.
It asks who gets in, who gets filtered out, and who benefits from silence.

Kalau kamu siap berpikir tanpa pelindung ego, baca bukunya sekarang.
Pesan hari ini. Mulai debatnya.

If you are ready to question what you were taught to respect, get your copy now.
Read it. Share it. Challenge someone.


🎨

26/01/2026

Kulitku menulis sejarah bodohku lebih cepat dari aku sempat menyesal.
Setiap pori, setiap patah, menari tanpa musik.
Aku menatap cermin, menertawakan diri sendiri,
marah, patah, terseret oleh adegan yang tak pernah berhenti.
Tirai hari ini turun, tapi teater tetap hidup di kulitku.
📌 Hadapi teatermu sendiri. Jangan lari.

_________________________________________________________

My skin writes the history of my stupidity faster than I can regret.
Every pore, every fracture, dances without music.
I stare into the mirror, laughing at myself,
angry, broken, swept by acts that never end.
The curtain falls today, but the theater lives on my skin.
📌 Confront your own theater. Don’t run away.

24/01/2026

Trauma menari di kulit.
Keputusan bodohku ikut berdansa.
Tak ada penonton, tak ada tepuk tangan.
Hanya aku. Dan semua yang kubuat salah.
📌 Swipe kalau berani lihat teater kesalahan sehari-hari.
_____________________________________________________

Trauma dances on my skin.
My stupid choices twirl along.
No audience, no applause.
Just me. And everything I got wrong.
📌 Swipe if you dare to watch the festival of everyday mistakes

🎨

23/01/2026

ini bukan tentang “perempuan” sebagai tema yang aman.
Ia tentang tubuh sebagai arsip.
Tentang tradisi yang diwariskan sambil melukai.
Tentang modernitas yang datang terlambat menganggap perempuan serius.
Tentang seni yang terlalu sering memuji keintiman, tapi takut pada pikiran.

Ini bukan teori.
Ini bukan manifesto manis.
Ini manuskrip yang menolak ditutup.

Karena selama tubuh perempuan masih dibaca sebagai objek makna,
bukan penghasil makna,
pekerjaan ini belum selesai.

Dan memang tidak perlu selesai.
Seni yang rapi biasanya sudah mati.

📖 Baca pelan.
🖤 Jangan cari kenyamanan.
👉 Simpan, bagikan, dan ganggu percakapan.
_______________________________________________________

is not about “women” as a safe topic.
It is about the body as an archive.
About tradition inherited through pressure.
About modernity that takes too long to take women seriously.
About art institutions that praise intimacy but fear thought.

This is not theory.
Not a gentle manifesto.
It is a manuscript that refuses closure.

As long as women’s bodies are treated as sites of meaning,
not producers of meaning,
this work remains unfinished.

And it should.
Finished art is often already dead.

📖 Read slowly.
🖤 Don’t look for comfort.
👉 Save, share, and disrupt the conversation.

Ini bukan buku yang ingin dis**ai.Ini buku yang ingin dipahami, atau ditolak sekalian.Ia membongkar seni yang malas berp...
22/01/2026

Ini bukan buku yang ingin dis**ai.
Ini buku yang ingin dipahami, atau ditolak sekalian.
Ia membongkar seni yang malas berpikir, modernitas yang munafik, dan tubuh perempuan yang terus diperlakukan sebagai dekor, bukan medan makna.
Tak ada estetika manis. Tak ada narasi penghiburan.
Hanya kritik yang bekerja seperti pisau: pelan, presisi, dan menyisakan bekas.

______________________________________________________

This book does not ask for sympathy.
It exposes lazy aesthetics, hollow modernity, and the long habit of turning women’s bodies into concepts instead of realities.
No therapy. No inspirational noise.
Only critique, sharpened and deliberate, cutting through institutions that prefer silence over accountability.

Baca jika siap berpikir.
Lewati jika hanya ingin merasa nyaman.

21/01/2026

Banyak pameran bukan bukti seni.
Itu hanya bukti sering dipajang.

Seni tidak lahir dari undangan, residensi, atau awards.
Seni lahir dari pikiran yang bekerja, etika yang konsisten, dan tanggung jawab sebagai manusia.

Jika visualmu indah tapi pikiranmu malas,
jika karirmu tinggi tapi kelakuanmu rendah,
maka kau bukan seniman.

Kau hanya dekorator ego.

📌 Simpan
💬 Tulis pendapatmu
🔁 Bagikan ke dunia seni yang alergi kritik
___________________________________________________________
Many exhibitions are not proof of art.
They only prove repeated exposure.

Art is not born from invitations, residencies, or awards.
Art is born from thinking, ethical consistency, and responsibility as a human being.

If your visuals are beautiful but your mind is lazy,
if your career is high but your behavior is low,
you are not an artist.

You are an ego decorator.

📌 Save
💬 Share your thoughts
🔁 Pass it to an art world afraid of critique
____________________________________________________________
Viele Ausstellungen sind kein Beweis für Kunst.
Sie beweisen nur ständige Sichtbarkeit.

Kunst entsteht nicht durch Einladungen, Residencies oder Preise.
Kunst entsteht durch Denken, ethische Haltung und menschliche Verantwortung.

Wenn deine Bilder schön sind, aber dein Denken faul,
wenn deine Karriere hoch ist, aber dein Verhalten niedrig,
bist du kein Künstler.

Du bist ein Dekorateur des Egos.

📌 Speichern
💬 Meinung teilen
🔁 Weitergeben an eine kunstscheue Kritikszene

🎨

20/01/2026

Ayo Baca Buku
Ini bukan buku untuk menghiburmu.
Ini buku yang mencurigaimu sejak halaman pertama.

Ia lahir dari puing makna, dari seni yang terlalu lama dijinakkan, dari tubuh dan pikiran yang dipaksa patuh sambil disebut bebas. Tidak ada ringkasan nyaman. Tidak ada moral penutup. Hanya bahasa yang bekerja seperti pisau, membedah seni, kuasa, hasrat, dan kebohongan sosial yang kita rawat bersama.

Jika kamu mencari validasi, silakan pergi.
Jika kamu siap berpikir tanpa pelindung, buku ini menunggumu.

📕 Baca perlahan. Tanggung jawab penuh.
👉 Link : https://fliphtml5.com/bookcase/zbnqt/
____________________________________________________

This is not a book meant to comfort you.
It distrusts you from the very first page.

Born from the collapse of meaning, it cuts through domesticated art, disciplined bodies, and the performance of freedom we politely maintain. No soothing conclusions. No moral closure. Just language sharpened enough to dissect power, desire, and the social lies we call culture.

If you want affirmation, this is not for you.
If you are ready to think without protection, it is waiting.

📕 Read slowly. Take responsibility.
👉 Link: https://fliphtml5.com/bookcase/zbnqt/

🎨 📚

20/01/2026

Interdisipliner bukan mantra.
Bukan jimat agar terlihat pintar.

Seni rupa sejak lama sudah lintas medium, lintas disiplin, lintas dunia.
Ketika sebuah program studi muncul seolah menawarkan “keluasan baru”,
yang perlu ditanya bukan niat baiknya,
melainkan apa yang sedang disembunyikan dari ketidakberanian akademik.

Mengganti nama tidak menyelamatkan cara berpikir lama.
Menumpuk jargon tidak menutup kemalasan metodologis.

Ini bukan kritik terhadap interdisipliner.
Ini kritik terhadap kedangkalan yang menyamar sebagai kemajuan.
______________________________________________________________
Interdisciplinary is not a spell.
It is not a shortcut to intellectual credibility.

Visual art has always crossed mediums, disciplines, and epistemologies.
When a study program claims to offer a “broader horizon,”
the real question is not innovation,
but what institutional fear is being quietly concealed.

Renaming a discipline does not reform thought.
Stacking jargon does not replace rigor.

This is not an attack on interdisciplinarity.
It is a critique of shallowness disguised as progress.
__________________________________________________________

Interdisziplinarität ist kein Zauberspruch.
Sie ist kein Ersatz für Denken.

Die bildende Kunst war seit jeher transdisziplinär.
Wenn ein Studiengang behauptet, neue Weite zu schaffen,
sollte man nicht nach Innovation fragen,
sondern nach der akademischen Angst, die dahinter verborgen liegt.

Ein neuer Name korrigiert kein altes Denken.
Begriffe ersetzen keine Tiefe.

Dies ist keine Ablehnung von Interdisziplinarität.
Dies ist Kritik an Oberflächlichkeit, die sich als Fortschritt tarnt.

Kalau mau lintas disiplin,
mulailah dari kedalaman,
bukan dari penghindaran.

19/01/2026

Seni rupa tidak wajib sopan.
Tapi ia wajib bertanggung jawab.

Brutal tidak berarti ceroboh.
Sarkastik tidak berarti miskin simbol.
Sinis tidak berarti kehilangan intelegensi.

Seni bukan tong sampah psikis.
Ia adalah hasil kerja batin yang panjang, sunyi, dan disiplin.

Jika mulut kotor, sumpah serapah,
dan obsesi dangkal dijadikan identitas artistik,
itu bukan pembebasan.
Itu kegagalan berpikir yang diberi bingkai.

Seni tidak berkewajiban memaafkan kemalasan itu.

➡️ Geser pelan. Ini bukan konten cepat.
➡️ Simpan jika kau percaya seni butuh disiplin.
➡️ Bagikan jika kau muak seni dijadikan alasan malas berpikir.

🎨

link : https://online.fliphtml5.com/xfief/iaza/Keratabasa Imajinasi bukan buku yang sopan. Ini pisau kecil yang kupakai ...
13/01/2026

link : https://online.fliphtml5.com/xfief/iaza/

Keratabasa Imajinasi bukan buku yang sopan. Ini pisau kecil yang kupakai untuk membelah ekosistem seni yang s**a tampil “progressive” sambil tetap memelihara kuasa yang sama.
Aku bongkar bagaimana sejarah dipakai sebagai mesin seleksi, bagaimana galeri memproduksi aura, kolektor mengatur suhu nilai, dan kurator menjahit kabut bahasa supaya keputusan tampak suci.

Yang paling lucu, sistemnya selalu bilang “ini objektif.” Padahal yang objektif itu cuma: siapa dekat, siapa aman, siapa menguntungkan.
Kalau kamu capek lihat seni jadi dekorasi kekuasaan, buku ini rumah yang tidak ramah buat kepura-puraan. 🔥

Scan QR untuk baca.
Save postingan ini biar kamu ingat: kritik itu bukan sikap, tapi alat.
Share ke 1 teman yang masih percaya “dunia seni baik-baik saja.”

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada pelukan.Luka duduk di sebelahku.Masih ada.Tapi tidak lagi sendirian.Dinding tetap penuh...
13/01/2026

Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pelukan.

Luka duduk di sebelahku.
Masih ada.
Tapi tidak lagi sendirian.

Dinding tetap penuh coretan.
Sekarang resmi sebagai arsip.
Bukan aib.

Aku keluar ruangan.
Langkahku lambat.
Tidak ringan.
Tidak heroik.

Tapi untuk pertama kalinya,
aku berjalan tanpa membawa rasa bersalah yang bukan punyaku.

Dan dunia boleh sinis.
Pengadilan ini sudah selesai.

(drama satu tubuh, banyak terdakwa) Daily writing promptThink back on your most memorable road trip.View all responses BABAK I: RUANG SIDANG DIBUKA Ruang itu tidak dibangun.Ia tumbuh dari retakan. …

Ini adegan yang tidak meminta simpati.Ini arsip.
13/01/2026

Ini adegan yang tidak meminta simpati.
Ini arsip.

Daily writing promptThink back on your most memorable road trip.View all responses Ruang itu sempit.Udara pengap.Bau keringat ingatan dan tinta tua bercampur seperti pengakuan yang gagal dibersihka…

Address

Mangrupart Studio
Sukabumi
43151

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MadamSenikrat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category