Uhurtm

Uhurtm pemburu dollar,pejuang receh, pemungut rezeki halal....

07/08/2026

.... ....WARUNG ES FAMILY JL. PANE NO. 53 DEKAT MIE DAN . SATU- SATUNYA MINUMAN PELEPAS DAHAGA TERENDUL, TERMAKNYOS,TIADA DUANYA DI KOTA PEMATANG SIANTAR, YANG BELI SAMPAI NGANTRI LOH😁😁
HARGA TERJANGKAU HINGGA 12 K SAMPAI 15 K PERBUNGKUS
TERSEDIA : ES CAMPUR BIASA / KOMPLIT, ES SARANG BURUNG, KOLDING BIASA/ KOMPLIT DAN LAIN- LAIN....
JIKA PESANAN DIATAS 10 BUNGKUS KEATAS MENDAPAT BONUS BERUPA MAKANAN RINGAN ...
AYO TUNGGU APALAGI GAESS BURUAN LANGSUNG KE TKP✌️








JUDUL: JANJI DI UJUNG HARANGAN Bab1Hari Dimana Ulos MenangisEpisode 1 Hari Dimana Ulos MenangisPagi ini matahari seolah ...
29/07/2026

JUDUL: JANJI DI UJUNG HARANGAN

Bab
1
Hari Dimana Ulos Menangis
Episode 1 Hari Dimana Ulos Menangis

Pagi ini matahari seolah menghilang di balik gumpalan awan kelabu yang menyelimuti seluruh langit Balige. Yang tersisa cuma sisa sisa kabut yang masih menempel di dahan pohon, membuat suasana di depan rumah tua itu jadi terasa kian suram. Kabut tipis turun dari Danau Toba, merayap pelan menyentuh jendela rumah tua keluarga besar Lubis di atas bukit kecil. Rumah itu berdiri gagah walau usia kayunya sudah tua atap ijuknya menghitam dan sedikit berlumut di beberapa sisi, tapi tiang tiangnya masih kokoh menantang waktu. Dinding papan yang sudah mulai pudar warnanya itu seolah menyimpan ribuan rahasia tawa anak anak yang kini sudah merantau ke Jakarta, air mata kehilangan yang tumpah sunyi di sudut bilik, juga janji janji adat yang dulu pernah diucapkan dengan sakral di hadapan para leluhur.

Dari dapur yang terletak di bagian belakang, aroma kopi tubruk yang pekat bercampur dengan wangi kayu manis yang dibakar di atas tungku kayu. Suara denting piring dan kuali beradu dengan obrolan riuh rendah para ibu yang sudah sibuk sejak buta. Para boru hilir mudik menyiapkan hidangan lomok lomok yang gurih, arsik ikan mas yang bumbunya memenuhi rongga hidung, hingga tuak manis yang disiapkan dalam deretan jerigen untuk menyambut tamu besar. Sementara itu, di kejauhan, suara gondang mulai terdengar sayup sayup, ritmenya seolah memanggil jiwa jiwa yang sedang bimbang. Hari ini bukan hari biasa. Ada upacara besar, dan semua orang di desa itu tahu bahwa sebuah kisah baru atau mungkin sebuah beban lama akan segera dimulai.

Di Balik Cermin Gorga

Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, seolah ruang itu menjadi benteng terakhir sebelum ia menghadapi dunia, Rasmika Lubis, 27 tahun, duduk mematung di depan cermin bundar berbingkai ukiran Gorga yang artistik. Cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi menciptakan garis cahaya yang tajam di wajahnya, membelah wajah tenangnya menjadi dua sisi yang saling bergejolak antara kewajiban adat dan keinginan sendiri. Rambutnya disanggul setengah, sisanya dibiarkan tergerai begitu saja, menutupi sebagian punggungnya yang tampak kaku menahan sesak. Kebaya putih gading melekat anggun di tubuhnya, menampilkan kecantikan yang sempurna, tipe kecantikan yang justru membuat siapapun yang melihatnya merasa iba tanpa tahu sebabnya.

Namun, perhatian Rasmika terikat pada benda di pangkuannya. Di pangkuannya, menempel kain sakral yang terasa dingin sekaligus menusuk kulitnya benda yang tidak pernah dia minta, tapi sekarang harus dia pikul. Tekstur kain itu kasar namun terasa hangat saat disentuh, menyimpan bau kemenyan tipis dan wangi lemari tua yang khas. Ulos itu tak sekadar kain ia adalah saksi bisu sejarah keluarga Lubis yang panjang dan berliku. Bagi Rasmika, kain ini menyimpan restu yang terasa seperti belenggu, dan tanggung jawab yang beratnya melebihi berat kain itu sendiri. Jemarinya gemetar saat mengusap pola pola rumit pada tenunan tersebut, seolah sedang mencoba membaca garis takdirnya yang sudah dipetakan oleh orang lain jauh sebelum ia lahir.

Pintu kayu berderit pelan, memutus keheningan yang menyesakkan itu. Inangnya masuk dengan langkah yang tertahan, membawa ulos tumtuman yang tersampir rapi di bahunya. Wanita tua itu menatap pantulan wajah anaknya di cermin, mencoba mencari sisa sisa kegembiraan yang seharusnya ada pada wajah seorang calon pengantin.

“Sudah siap, Boru?” suaranya lembut, nyaris seperti bisikan, tapi matanya yang mulai keriput menyimpan sesuatu yang sulit dibaca antara rasa bersalah dan keharusan yang tak terelakkan.

Rasmika tidak langsung menjawab. Ia menatap cermin, mencoba mencari keberanian di dalam matanya sendiri. Wajahnya tampak tenang, riasan tipis menonjolkan kecantikannya yang alami, tapi di balik kebaya itu, hatinya bergetar hebat. Jantungnya mendadak berdentum tidak beraturan, seperti ada sesuatu yang memukul mukul dadanya dari dalam, menuntut jawaban yang tak ia miliki.

Hari ini, keluarga dari marga Ginting akan datang membawa sinamot. Sebuah transaksi adat, kata orang orang kota yang sudah lupa akan akarnya. Tapi bagi keluarga Lubis, ini adalah penebusan atas kehormatan keluarga. Lamaran ini bukan karena ada benih cinta yang tumbuh di antara dua anak manusia, melainkan karena sebuah perjanjian lama yang dibuat dua generasi lalu di bawah sumpah para tetua. Sebuah janji bahwa garis keturunan Lubis dan Ginting harus bersatu demi menjaga kemurnian darah dan harta warisan adat yang tak boleh jatuh ke tangan orang lain. Dan kini, takdir menunjuk Rasmika sebagai pihak yang harus menunaikan janji itu.

Ia menarik napas panjang, menghirup napas sedalam mungkin, melawan rasa tercekik yang muncul karena ia merasa kamar itu perlahan lahan sedang menelan seluruh hidupnya. “Kalau saja aku bisa memilih, Nang,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar, hanya ditujukan pada bayangannya sendiri di cermin. Inangnya hanya diam, jemarinya mengusap bahu Rasmika sebentar sebelum berbalik untuk memastikan segalanya di luar sudah siap.

Kedatangan Sang Penjemput Takdir

Tiba tiba, suara deru mesin memecah keheningan bukit yang biasanya hanya diisi suara kicau burung. Tiga mobil hitam mengkilap berhenti tepat di halaman rumah yang luas. Halaman yang tadinya bersih seketika keruh oleh tanah gersang yang terbang liar, meninggalkan rasa sesak sesaat sebelum pintu pintu mobil terbuka. Dari dalam kendaraan, keluarlah rombongan tamu dengan pakaian adat yang sangat resmi. Ada yang mengenakan gotong di kepala bagi para pria, sortali yang merah menyala, kain kain ulos terbaik yang pernah dilihat Rasmika, hingga para tetua yang memegang tongkat jior sebagai simbol kekuasaan. Langkah mereka teratur dan berirama, seolah setiap langkah kaki mereka adalah ketukan takdir yang tak bisa dihindari.

Di antara kerumunan itu, seorang pria turun terakhir dari mobil paling depan. Sosoknya langsung mencuri perhatian siapa pun yang melihat. Ia tinggi, tegap, dengan rahang yang tegas namun memiliki sorot mata yang teduh, jauh dari kesan angkuh yang biasa dimiliki orang sukses di kota. Sebuah ulos gelap tersampir gagah di bahu bidangnya, kontras dengan kemeja putihnya yang rapi. Dialah Tuan Uhur Ginting.

Rasmika mengintip dari balik tirai jendela yang tersingkap sedikit, tangannya mencengkeram kain gorden dengan erat. Dadanya berdegup cepat, seakan ada genderang yang dipukul tepat di bawah tulang rusuknya. “Jadi dia calon suamiku?” gumamnya lirih. Ada nada getir, tapi juga ada secercah rasa ingin tahu yang tak bisa ia sangkal sepenuhnya.

Pria itu tidak tampak seperti pria desa yang biasa ia temui. Ia menatap sekeliling dengan pandangan yang tenang, menyerap suasana rumah Lubis dengan penuh rasa hormat. Kabar burung yang sampai ke telinga Rasmika menyebutkan bahwa Tuan Uhur adalah seorang pengacara sukses yang disegani di kota besar, lulusan Universitas Simalungun. Ia pria kota yang jarang pulang kampung, seorang idealis yang konon pernah gagal dalam rencana pernikahannya beberapa tahun lalu. Cerita itu beredar di antara para ibu ibu di pasar seperti asap d**a samar, menyesakkan, tapi membuat orang ingin terus mencari tahu kebenarannya.

Tuan Uhur melangkah masuk ke balai adat dengan kepala tegak namun rendah hati. Ia menyalami para tetua satu per satu, mencium tangan mereka dengan sikap hormat yang sempurna. Saat tiba gilirannya berbicara di hadapan khalayak, suaranya terdengar dalam, bariton, dan penuh wibawa yang tulus.

“Horas. Saya datang ke sini bukan untuk memaksa keadaan, juga bukan untuk sekadar menggugurkan kewajiban adat,” ucapnya tegas. Matanya sempat melirik ke arah pintu kamar tempat Rasmika bersembunyi. “Saya datang untuk memulai sesuatu yang baru. Kalau memang ini adalah jalan yang digariskan untuk kita, biarlah cinta itu tumbuh bukan karena paksaan adat, tapi karena kita berdua memang memilih untuk menumbuhkannya secara sadar sebagai manusia merdeka.”

Pertanda yang Terurai

Suasana seketika hening. Para raja parhata saling berpandangan, sedikit terkejut dengan keberanian dan keterbukaan pria muda itu dalam menyampaikan isi hatinya di tengah ritual yang biasanya kaku. Semua mata kini beralih ke arah Rasmika yang perlahan melangkah keluar kamar didampingi inangnya. Kata kata Tuan Uhur tadi seperti embusan angin sejuk yang tiba tiba menyapu ruang dadanya yang sesak. Rasmika menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di pipinya.

Namun, tepat saat ia akan duduk di atas hamparan tikar pandan yang wangi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ujung ulos Ragidup yang ia pegang erat tersangkut pada sudut kursi kayu tua yang ukirannya sedikit tajam. Tanpa ditarik dengan keras, terdengar suara krek yang halus namun terasa sangat memilukan di telinga Rasmika. Beberapa helai benang dari ulos pusaka itu terlepas, terburai begitu saja di pangkuannya.

“Benangnya putus sendiri...” bisik Rasmika dengan bibir bergetar. Wajahnya mendadak pucat pasi. Matanya menatap nanar pada serat serat kain yang kini menjuntai tak beraturan, merusak pola yang sebelumnya sempurna selama puluhan tahun.

Inangnya segera mendekat, berusaha menutupi bagian yang rusak itu dengan tangannya yang dingin, mencoba tetap tenang di hadapan para tamu yang mulai berbisik bisik. “Mungkin benangnya sudah terlalu tua, Boru. Usia kain memang tidak bisa bohong, apalagi ini simpanan Opungmu. Jangan pikir macam macam, ini hari baik kita,” bisik inangnya cepat, mencoba mengusir aura gelap yang mendadak terasa menyelimuti ruangan tersebut.

Tapi Rasmika tahu lebih baik. Di Tanah Batak, di tengah ritual sesakral ini, tidak ada satu pun kejadian yang benar benar bisa disebut kebetulan. Benang yang putus adalah tanda, sebuah bisikan dari alam lain yang mungkin memperingatkan tentang retaknya sebuah harapan atau mungkin hancurnya sebuah tradisi yang sudah lapuk.

Meski diliputi kecemasan yang hebat, prosesi adat tetap berjalan sebagaimana mestinya. Gondang kembali berdentum dengan irama yang lebih bersemangat. Tortor ditarikan dengan gemulai oleh para gadis dan bertenaga oleh para pemuda desa. Para raja parhata mulai beradu argumen dengan gaya bahasa yang puitis sekaligus tajam, membicarakan nilai sinamot, silsilah marga, hingga aturan aturan warisan dengan penuh khidmat.

Namun, sepanjang acara, perhatian Rasmika hanya tertuju pada satu titik Tuan Uhur Ginting. Pria itu tidak banyak bicara selama tawar menawar adat berlangsung, namun setiap kali ia mengeluarkan sepatah kata, kata kata itu seolah memiliki berat yang nyata. Ia tampak menghormati setiap jengkal adat tanpa harus menjadi budak di dalamnya. Dan entah mengapa, kekakuan di hati Rasmika mulai mencair. Belum bisa disebut cinta, tapi rasa muak yang sebelumnya membuncah kini perlahan menguap, digantikan oleh rasa hormat yang muncul secara alami dari dasar sanubarinya.

Di Tepi Danau yang Bisu

Menjelang sore, saat matahari mulai tergelincir di balik perbukitan Samosir dan irama gondang mulai melambat menjadi nada nada yang lebih melankolis, Tuan Uhur Ginting berdiri. Ia mendekati inanda Rasmika dengan sikap yang sangat sopan, membungkuk sedikit untuk menghormati sang tuan rumah.

“Boleh saya bicara sebentar dengan Rasmika? Hanya sebentar, di belakang rumah saja, supaya kami bisa saling mengenal sedikit lebih baik,” pintanya dengan nada yang tenang namun berwibawa.

Inanda Rasmika menatap putrinya, mencari persetujuan di mata Mika, lalu mengangguk pelan. Rasmika berdiri, merapikan kebayanya yang terasa mulai berat karena keringat dingin, dan mengikuti langkah tegap Tuan Uhur menuju bagian belakang rumah yang langsung berbatasan dengan tebing menuju tepi danau.

Danau Toba terbentang luas di depan mereka, tampak tenang dan dalam, seolah sedang menatap mereka diam diam dengan kebijaksanaan purba yang telah ia simpan selama jutaan tahun. Kabut sore mulai naik perlahan dari permukaan air, menyelimuti udara dengan suhu dingin yang menggigit kulit. Dari kejauhan, suara gondang yang masih dimainkan terdengar sayup, seperti sebuah doa yang belum tuntas diucapkan kepada sang Khalik.

Tuan Uhur berdiri menghadap danau, membiarkan angin kencang meniup ujung ulosnya. “Aku tahu ini sangat berat bagimu,” ujarnya tanpa menoleh, suaranya menyatu dengan suara riak air yang menabrak bebatuan di bawah tebing. “Dan aku sadar sepenuhnya, mungkin ini terasa sangat tidak adil bagi seorang perempuan merdeka sepertimu.”

Rasmika menatap permukaan air yang mulai berubah warna menjadi biru pekat. “Kau bicara seolah olah aku benar benar memiliki pilihan untuk berkata tidak, Tuan Ginting. Di sini, suara perempuan seringkali tenggelam oleh suara palu adat yang keras.”

Pria itu menoleh, tersenyum tipis sebuah senyum yang jujur, tidak meremehkan, melainkan penuh pengertian yang dalam. “Bukankah memang seharusnya begitu? Manusia seharusnya punya hak atas hatinya sendiri, terlepas dari apa pun marga yang ia sandang di depan namanya.”

Ia menarik napas dalam, membiarkan oksigen dingin pegunungan memenuhi dadanya. “Aku ini pengacara, Rasmika. Pekerjaanku setiap hari adalah membela kebenaran di depan hukum. Tapi kali ini, aku tidak ingin membela siapa pun. Aku juga tidak ingin memenangkan debat adat ini hanya demi sebuah status warisan. Aku hanya ingin membangun sesuatu yang jujur antara kita berdua. Bukan karena tuntutan perjanjian Opung Doli dan Opung Boru kita yang sudah tiada, tapi karena ada dua orang manusia yang sadar dan memilih untuk mulai berjalan bersama, meski jalannya terjal.”

Rasmika terdiam seribu bahasa. Kata kata pria itu tidak puitis yang dibuat buat, tapi terasa sangat hangat dan tulus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, di tengah kepungan tuntutan keluarga, seseorang memberinya ruang untuk didengar sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar simbol penyatu marga.

Hatinya yang tadi terasa seperti batu yang berat, kini mulai terasa sedikit ringan. Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan yang panjang, menatap kabut yang makin tebal menyelimuti Danau Toba. Gondang masih terdengar samar di belakang mereka, mengiringi transisi waktu dari siang menuju malam yang penuh tanda tanya.

Rasmika tersenyum kecil, hampir tak terlihat, sembari jemarinya mengusap bagian ulos yang benangnya terlepas tadi. Kini ia mengerti. Mungkin ulos itu menangis bukan karena ia meratapi nasib malang sang pemakai yang dipaksa menikah.

Mungkin, ulos itu menangis karena rasa syukur yang dalam karena penantian panjang dalam kesunyian kamar itu akhirnya terjawab oleh suara yang mau mendengar hatinya sebagai manusia merdeka.







Dengan Imelda Emiliani Waruwu – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemarnya yang sedang naik daun! 🎉
29/07/2026

Dengan Imelda Emiliani Waruwu – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemarnya yang sedang naik daun! 🎉

18/04/2026

Alamat: jl Pane No.55A PEMATANG SIANTAR

🌈🌈 MIE PANGSIT PELANGI 🌈🌈

Salah satu makanan mie non halal terfavorit di Siantar Simalungun yang rasanya tidak diragukan lagi,ENAK,LEZAT,DAN NIKMATI
TERSEDIA Pangsit pelangi versi Jumbo dan biasa, pangsit bihun,Bubur ayam dan B2 Dan Kain- Lainnya 🫰🫰😍😍
Buka Pukul : 07 Pagi / 12 Siang ( sesi 1 )
16 Sore/ 21 Malam ( Sesi 2 )









04/04/2026

Tempat minuman yang enak di kota PEMATANG SIANTAR ,ES CAMPUR FAMILY berada di jl. Pane di samping mie pangsit pelangi.HARGA TERJANGKAU SESUAI KANTONG ,MULAI DARI HARGA Rp.12 ribuan aja.SOAL RASA DI JAMIN BERKUALITAS




15/01/2026

Merayakan tahun ke-5 saya di Facebook. Terima kasih atas dukungan berkelanjutan. Saya tidak mungkin berhasil tanpa Anda semua. 🙏🤗🎉

Address

Siantar
21152

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Uhurtm posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Uhurtm:

Shortcuts

Share