Penggemar Wayang Kulit

Penggemar Wayang Kulit Seni wayang kulit yang penuh makna

RESI ABIYASA MUDAResi Abiyasa muda, yang juga dikenal sebagai Krishna Dwipayana, adalah putra dari Resi Palasara dan Dew...
28/04/2026

RESI ABIYASA MUDA
Resi Abiyasa muda, yang juga dikenal sebagai Krishna Dwipayana, adalah putra dari Resi Palasara dan Dewi Durgandini (Satyawati). Lahir di sebuah pulau di Sungai Yamuna, ia dikisahkan memiliki kulit gelap dan langsung tumbuh dewasa setelah lahir.
Abiyasa muda sering digambarkan dalam wayang kulit dengan sosok yang tenang dan berwibawa, mencerminkan kebijaksanaannya sejak dini.

KRISNA DWIPAYANA - Abiyasa saat menjadi RajaKisah Krisna Dwipayana (lebih dikenal sebagai Begawan Abyasa di dunia pewaya...
28/04/2026

KRISNA DWIPAYANA - Abiyasa saat menjadi Raja
Kisah Krisna Dwipayana (lebih dikenal sebagai Begawan Abyasa di dunia pewayangan Jawa) adalah kisah tentang salah satu tokoh paling sentral, bijaksana, dan berumur panjang dalam wiracarita Mahabharata.
​Ia bukan sekadar karakter, melainkan "penulis" sekaligus kakek dari tokoh-tokoh utama Pandawa dan Kurawa. Berikut adalah ringkasan kisahnya:
​1. Asal-Usul Nama dan Kelahiran
​Krisna Dwipayana lahir dari pertemuan antara Resi Parasara dengan seorang putri nelayan bernama Dewi Satyawati (Durgandini).
​Krisna: Berarti "hitam", merujuk pada warna kulitnya yang gelap.
​Dwipayana: Berarti "lahir di pulau", karena ia lahir di sebuah pulau kecil di tengah sungai Yamuna.
​Sejak lahir, ia sudah memiliki kemampuan spiritual yang luar biasa dan langsung tumbuh menjadi dewasa. Ia berpamitan kepada ibunya untuk hidup bertapa, namun berjanji akan muncul kapan pun ibunya membutuhkannya.
​2. Penyelamat Garis Keturunan Dinasti Kuru
​Kisah Dwipayana menjadi krusial saat Kerajaan Hastinapura krisis pewaris tahta. Kedua adik tirinya (anak Satyawati dengan Raja Santanu), Citragada dan Wicitrawirya, mati muda tanpa meninggalkan keturunan.
​Demi menyambung garis keturunan, Satyawati memanggil Dwipayana untuk melakukan ritual Niyoga (memberikan keturunan kepada para janda adiknya). Dari ritual inilah lahir tiga putra yang menentukan nasib dunia:
​Destarata: Lahir buta (karena ibunya, Ambika, memejamkan mata saat bertemu Dwipayana yang wajahnya sangat menyeramkan akibat bertapa).
​Pandu: Lahir pucat (karena ibunya, Ambalika, pucat ketakutan).
​Widura: Lahir dari seorang pelayan yang tenang, sehingga ia menjadi sosok yang paling bijaksana.

BISMA GUGUR-Sumpah Sang ResiKematian Resi Bisma adalah salah satu fragmen paling mengharukan dan sakral dalam kisah Bhar...
28/04/2026

BISMA GUGUR-Sumpah Sang Resi
Kematian Resi Bisma adalah salah satu fragmen paling mengharukan dan sakral dalam kisah Bharatayuddha. Dalam pewayangan Jawa, lakon ini sering disebut dengan judul Bisma Gugur.
​Berikut adalah rincian peristiwa tersebut:
​1. Dilema di Medan Kurukshetra
​Hingga hari kesepuluh perang, tidak ada satu pun ksatria Pandawa yang mampu menandingi kesaktian Bisma. Sebagai panglima tertinggi Kurawa, ia membantai ribuan prajurit setiap harinya. Namun, di dalam hatinya, Bisma merasa lelah melihat pertumpahan darah antar keluarganya sendiri dan diam-diam merindukan kematian untuk lepas dari sumpah setianya kepada Astina.
​2. Munculnya Srikandi sebagai Senopati
​Pandawa menyadari bahwa satu-satunya cara mengalahkan Bisma adalah dengan menghadirkan sosok wanita atau ksatria yang memiliki jiwa wanita. Arjuna kemudian mendampingi Dewi Srikandi untuk maju menghadapi sang kakek.
​Bagi Bisma, Srikandi bukan sekadar musuh. Di mata batinnya, ia melihat titisan Dewi Amba—wanita yang dulu ia cintai namun tewas secara tidak sengaja oleh tangannya—berdiri di belakang Srikandi. Sesuai janji Amba, ia datang untuk menjemput Bisma ke alam baka.
​3. Rebah di Atas Kasur Panah
​Melihat Srikandi, Bisma tersenyum dan meletakkan semua senjatanya. Ia menolak melawan seorang wanita. Kesempatan ini digunakan Srikandi (dengan bantuan panah sakti Arjuna, Pasopati) untuk melepaskan tembakan.
​Tubuh Bisma dihujani ratusan anak panah hingga ia jatuh dari keretanya. Namun, tubuhnya tidak menyentuh tanah; ia terbaring di atas susunan anak panah yang menancap di punggungnya, yang dalam pewayangan disebut sebagai Kasur Panah.
​4. Menunggu Waktu yang Tepat
​Karena anugerah Iccha Mrityu (mampu menentukan waktu kematian sendiri), Bisma tidak langsung wafat. Ia memilih untuk tetap hidup selama beberapa hari di tengah medan perang yang membara. Ada dua alasan utama:
​Menunggu Uttarayana: Ia ingin meninggal saat matahari mulai bergerak ke utara, waktu yang dianggap paling suci untuk mencapai moksa.
​Memberikan Wejangan: Di atas kasur panah, ia memberikan nasihat terakhir (Rajadharma) kepada Yudhistira mengenai cara memerintah negara yang bijaksana.
​5. Akhir yang Mulia
​Setelah memberikan semua ilmunya dan saat matahari telah berada di posisi yang ia inginkan, Bisma akhirnya mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Kematiannya ditangisi oleh kedua belah pihak, baik Pandawa maupun Kurawa, karena hilangnya pilar kebenaran dan kakek yang paling mereka hormati.

28/04/2026

Baladewa perang dirusuhi Werkudara

Ada yang tau Nama2nya?Jin penghuni alas wanamartaMuncul saat lakon Babad Alas Wanamarta
28/04/2026

Ada yang tau Nama2nya?
Jin penghuni alas wanamarta
Muncul saat lakon Babad Alas Wanamarta

Anak dan Ayah, Sasikirana dan GatotkacaRaden Sasikirana adalah putra dari Gatotkaca dan Dewi Pregiwa. Ia merupakan cucu ...
27/04/2026

Anak dan Ayah, Sasikirana dan Gatotkaca
Raden Sasikirana adalah putra dari Gatotkaca dan Dewi Pregiwa. Ia merupakan cucu dari Bima. Sasikirana dikenal muncul setelah gugurnya Gatotkaca dalam perang Baratayudha Jayabinangun dan kemudian menjadi punggawa/panglima perang di Kerajaan Hastinapura pada era Prabu Parikesit.

27/04/2026

Cucu2 pandawa, ada yang tau namanya??

27/04/2026

Antareja Satriya Jangkarbumi
Antareja adalah ksatria Pandawa putra sulung Bima (Werkudara) dan Dewi Nagagini yang berkuasa di kerajaan Jangkarbumi. Ia dikenal sebagai raja yang memiliki kesaktian luar biasa, termasuk mampu hidup dan menembus bumi karena mewarisi darah ular dari kakeknya, Batara Antaboga.

PANDU-WAJAH PUCAT ​1. Kelahiran dan Nama "Pandu"​Pandu adalah putra kedua dari Begawan Abiyasa dan Dewi Ambalika. Ia lah...
26/04/2026

PANDU-WAJAH PUCAT
​1. Kelahiran dan Nama "Pandu"
​Pandu adalah putra kedua dari Begawan Abiyasa dan Dewi Ambalika. Ia lahir dengan wajah yang pucat (dalam bahasa Sanskerta, Pandu berarti pucat), karena ibunya merasa takut dan menutup mata saat bertemu Abiyasa. Meskipun memiliki kekurangan fisik tersebut, Pandu tumbuh menjadi ksatria yang sangat sakti, ahli memanah, dan mahir dalam ilmu tata negara.
​2. Naik Takhta di Hastinapura
​Karena kakaknya, Destarastra, lahir dalam keadaan buta, maka Pandu-lah yang berhak naik takhta menjadi Raja Hastinapura. Di bawah kepemimpinannya, Hastinapura mencapai masa kejayaan dan wilayah kekuasaannya meluas hingga ke berbagai negeri tetangga melalui diplomasi maupun penaklukan.
​3. Pernikahan dan Sayembara
​Pandu memiliki dua istri:
​Dewi Kunti: Diperoleh melalui sayembara di Kerajaan Mandura. Kunti memiliki mantra Adityaherdaya yang bisa memanggil dewa.
​Dewi Madrim: Diperoleh setelah Pandu berhasil mengalahkan kakaknya, Prabu Narasoma (Salya), dalam sebuah pertarungan memperebutkan putri tersebut.
​4. Kutukan Resi Kindama
​Titik balik kehidupan Pandu terjadi saat ia sedang berburu di hutan. Tanpa sengaja, ia memanah sepasang kijang yang sedang memadu kasih. Ternyata, kijang tersebut adalah penjelmaan Resi Kindama dan istrinya.
​Sebelum meninggal, sang Resi menjatuhkan kutukan: Pandu akan mati seketika jika ia menyentuh istrinya dengan perasaan asmara.
Suatu hari di musim semi, Pandu yang sedang berada di hutan bersama Dewi Madrim tidak kuasa menahan perasaannya. Ia lupa akan kutukan Resi Kindama. Begitu ia menyentuh Madrim, kutukan itu bekerja dan Pandu pun wafat.
​Dewi Madrim, karena rasa cintanya yang mendalam, memutuskan untuk melakukan ritual Bela (terjun ke api kremasi) untuk menyertai suaminya. Sebelum wafat, ia menitipkan Nakula dan Sadewa kepada Dewi Kunti.
5. Versi lain Akhir Hayat
​Dalam kondisi sakit parah akibat sisa-sisa racun keris tersebut, ditambah kelelahan fisik dan batin, Pandu akhirnya wafat. Dalam versi ini, kutukan Resi Kindama tetap ada sebagai "takdir dasar", namun luka dari keris Tremboko dianggap sebagai penyebab fisik yang menyegerakan kematiannya.

PERANG PAMUKSOPerang Pamuksa adalah sebuah lakon besar dalam dunia pewayangan yang menceritakan pertempuran dahsyat anta...
26/04/2026

PERANG PAMUKSO
Perang Pamuksa adalah sebuah lakon besar dalam dunia pewayangan yang menceritakan pertempuran dahsyat antara Kerajaan Hastinapura, yang dipimpin oleh raja legendaris Prabu Pandu Dewanata (ayah dari para Pandawa), melawan Kerajaan Pringgondani, yang dipimpin oleh raja raksasa sakti bernama Prabu Tremboko.
​Perang ini merupakan salah satu peristiwa penting yang terjadi sebelum pecahnya Bharatayuda. Kata "Pamuksa" sendiri secara harfiah sering diartikan sebagai pertempuran yang menyebabkan moksa atau kematian (pembebasan) bagi para pelakunya, karena dalam lakon ini, kedua raja utama tersebut akhirnya menemui ajalnya secara langsung maupun tidak langsung akibat perang ini.
Versi Hasutan (Harya Suman): Versi yang paling umum dalam pewayangan Jawa menyebutkan bahwa perang ini merupakan hasil adu domba dari patih licik Hastinapura, Harya Suman (yang kelak menjadi Sengkuni). Harya Suman merasa terancam oleh kedekatan Pandu dan Tremboko. Ia mengarang cerita bohong kepada Pandu bahwa Pringgondani berencana menyerang Hastinapura. Sebaliknya, ia menghasut Tremboko bahwa Pandu bermaksud menghancurkan kerajaan raksasa tersebut. Karena terprovokasi, kedua raja tersebut pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat senjata demi harga diri kerajaan masing-masing.
Lakon Perang Pamuksa berakhir tragis dengan gugurnya kedua pemimpin utama.
​Gugurnya Prabu Tremboko: Dalam puncak duel, Prabu Pandu akhirnya berhasil menewaskan Prabu Tremboko menggunakan senjata andalannya. Dalam banyak versi, Tremboko tewas setelah dada atau tenggorokannya tertembus panah sakti atau keris Pandu.
​Terlukanya Prabu Pandu (Sebab Kematian): Meskipun memenangkan duel, Pandu tidak keluar dari pertempuran tanpa luka. Dalam detik-detik terakhir sebelum tewas, Tremboko atau patihnya sempat melukai Pandu. Versi yang paling terkenal dalam pewayangan menyebutkan bahwa Patih (sebelum gugur) telah menggoreskan keris sakti Kiai Kalanadah milik Tremboko ke telapak kaki Pandu. Luka ini menyebabkan penyakit parah dan infeksi yang tidak dapat disembuhkan, yang akhirnya menyebabkan Pandu Dewanata mangkat beberapa waktu setelah perang usai.

ANTAREJA adalah salah satu tokoh sakti dalam jagat pewayangan. Sebagai putra sulung Bima dengan Dewi Nagagini (putri Hya...
25/04/2026

ANTAREJA adalah salah satu tokoh sakti dalam jagat pewayangan. Sebagai putra sulung Bima dengan Dewi Nagagini (putri Hyang Antaboga), ia mewarisi kekuatan luar biasa dari garis keturunan ksatria Pandawa dan bangsa Naga.

ABIMANYU RANJAB-KISAH SEDIHPada hari ke-13 Baratayuda, Resi Drona sebagai panglima Kurawa menyusun formasi tempur memati...
25/04/2026

ABIMANYU RANJAB-KISAH SEDIH
Pada hari ke-13 Baratayuda, Resi Drona sebagai panglima Kurawa menyusun formasi tempur mematikan yang disebut Cakrabuha (lingkaran melingkar yang terus berputar). Di pihak Pandawa, hanya Arjuna dan Kresna yang tahu cara menembus dan keluar dari formasi ini, namun mereka sedang dipancing menjauh dari medan utama oleh pasukan Samsaptaka.
​Abimanyu, yang mengaku pernah mendengar rahasia menembus formasi ini saat masih dalam kandungan, memberanikan diri maju sebagai ujung tombak. Namun, ia hanya tahu cara masuk, tapi tidak tahu cara keluar.
Pandawa lainnya (Bima, Yudistira, Nakula, Sadewa) mencoba mengikuti Abimanyu dari belakang untuk melindunginya. Namun, mereka dihadang oleh Jayadrata yang memiliki kesaktian dari anugerah Dewa sehingga mampu menahan seluruh Pandawa sendirian selama satu hari. Akibatnya, Abimanyu terisolasi sendirian di dalam kepungan ribuan tentara Kurawa.
Pandawa lainnya (Bima, Yudistira, Nakula, Sadewa) mencoba mengikuti Abimanyu dari belakang untuk melindunginya. Namun, mereka dihadang oleh Jayadrata yang memiliki kesaktian dari anugerah Dewa sehingga mampu menahan seluruh Pandawa sendirian selama satu hari. Akibatnya, Abimanyu terisolasi sendirian di dalam kepungan ribuan tentara Kurawa.
Abimanyu akhirnya gugur setelah kepalanya dipukul dengan gada oleh putra Dursala (dalam beberapa versi, oleh Jayadrata atau anak Aswatama).

Address

Semarang

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penggemar Wayang Kulit posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share