26/04/2026
PANDU-WAJAH PUCAT
1. Kelahiran dan Nama "Pandu"
Pandu adalah putra kedua dari Begawan Abiyasa dan Dewi Ambalika. Ia lahir dengan wajah yang pucat (dalam bahasa Sanskerta, Pandu berarti pucat), karena ibunya merasa takut dan menutup mata saat bertemu Abiyasa. Meskipun memiliki kekurangan fisik tersebut, Pandu tumbuh menjadi ksatria yang sangat sakti, ahli memanah, dan mahir dalam ilmu tata negara.
2. Naik Takhta di Hastinapura
Karena kakaknya, Destarastra, lahir dalam keadaan buta, maka Pandu-lah yang berhak naik takhta menjadi Raja Hastinapura. Di bawah kepemimpinannya, Hastinapura mencapai masa kejayaan dan wilayah kekuasaannya meluas hingga ke berbagai negeri tetangga melalui diplomasi maupun penaklukan.
3. Pernikahan dan Sayembara
Pandu memiliki dua istri:
Dewi Kunti: Diperoleh melalui sayembara di Kerajaan Mandura. Kunti memiliki mantra Adityaherdaya yang bisa memanggil dewa.
Dewi Madrim: Diperoleh setelah Pandu berhasil mengalahkan kakaknya, Prabu Narasoma (Salya), dalam sebuah pertarungan memperebutkan putri tersebut.
4. Kutukan Resi Kindama
Titik balik kehidupan Pandu terjadi saat ia sedang berburu di hutan. Tanpa sengaja, ia memanah sepasang kijang yang sedang memadu kasih. Ternyata, kijang tersebut adalah penjelmaan Resi Kindama dan istrinya.
Sebelum meninggal, sang Resi menjatuhkan kutukan: Pandu akan mati seketika jika ia menyentuh istrinya dengan perasaan asmara.
Suatu hari di musim semi, Pandu yang sedang berada di hutan bersama Dewi Madrim tidak kuasa menahan perasaannya. Ia lupa akan kutukan Resi Kindama. Begitu ia menyentuh Madrim, kutukan itu bekerja dan Pandu pun wafat.
Dewi Madrim, karena rasa cintanya yang mendalam, memutuskan untuk melakukan ritual Bela (terjun ke api kremasi) untuk menyertai suaminya. Sebelum wafat, ia menitipkan Nakula dan Sadewa kepada Dewi Kunti.
5. Versi lain Akhir Hayat
Dalam kondisi sakit parah akibat sisa-sisa racun keris tersebut, ditambah kelelahan fisik dan batin, Pandu akhirnya wafat. Dalam versi ini, kutukan Resi Kindama tetap ada sebagai "takdir dasar", namun luka dari keris Tremboko dianggap sebagai penyebab fisik yang menyegerakan kematiannya.