Mematikan Mata Lampu

Mematikan Mata Lampu Tidak ada puisi hari ini, tidak ada puisi kemarin. Aku menghapus seluruh kata sebelum sempat menulis

PERTANYAAN-PERTANYAAN"The stupidity of people comes from having an answer for everything."— Milan Kunderaapakah hatiku m...
11/05/2023

PERTANYAAN-PERTANYAAN
"The stupidity of people comes from having an answer for everything."
— Milan Kundera

apakah hatiku mangkuk dangkal yang pecah—
yang alangkah mudah disi, namun mustahil

penuh? apakah mencintai diri sendiri berarti
menjadi batu yang dilemparkan ke lautan lepas

tanpa dasar? mengapa darah lebih api daripada api?
mengapa luka tidak memaafkan pisau—& mata

pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin?
mengapa kita mesti memiliki banyak pengetahuan

untuk bisa memahami betapa sedikit pengetahuan
kita? mengapa orang kota bersandar pada humor

untuk bisa bertahan hidup & mengapa orang desa
harus bertahan hidup untuk bisa tertawa? mengapa

usia seseorang tidak dihitung dari seberapa dekat
dia dari kematian? bukankah manusia sudah terlalu

tua sekarang? (seperti puisi ini, tidakkah hidupmu
sudah dituliskan—& ditafsirkan orang lain, bahkan

sebelum kamu bisa membacanya?)

____

dari buku puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau karya Aan Mansyur

Puisi Pernah MatiPuisi pernah mati. Kini puisi hidup lagi.Kata-kata berderap di jantungnya. Kata-katamilikku. Kata-kata ...
09/05/2023

Puisi Pernah Mati

Puisi pernah mati. Kini puisi hidup lagi.
Kata-kata berderap di jantungnya. Kata-kata
milikku. Kata-kata yang tak mengandung waktu.

Waktu aku lahir. Puisi menanam kata di pusarku.
Seluruh serangga berdoa di situ. Supaya nanti aku
bisa terbang. Melayang di ketinggian.

Lalu rumah berubah jadi taman. Tumbuh-
tumbuhan menjalar seperti kalimat melingkar.
Piring-piring adalah sampan yang ringan tanpa muatan.

Di taman ada telaga. Di tengahnya mata air memancar.
Aku selalu basah. Jamur terpekur di keliman jubah.

Sewaktu puisi mati. Dunia dipenuhi duri.
Sewaktu puisi hidup lagi. Dunia putih dan keras.

Sebagaimana dinding perbatasan.
Sebagaimana tulang-belulang.

____

—dari kumpulan puisi Dinding Diwani karya Kiki Sulistyo

Mari Duduk dan Bicaramari duduk dan bicaramusim gugur sedang berkemastirai terbuka memandang ke luardaun-daun telah meny...
09/05/2023

Mari Duduk dan Bicara

mari duduk dan bicara
musim gugur sedang berkemas
tirai terbuka memandang ke luar
daun-daun telah menyerah menjadi bunga
banyak kenangan di bawah pohon
ranting yang bisa dibengkokkan
tapi tidak pernah patah

november akhir tetes hujan kian banyak
bersama angin yang terus menyapu
sementara waktu melambat sejenak
menunggu kedatangan ingatan musim panas
cinta barangkali puisi yang cukup dibaca dalam hati
buatkan ia teh coklat tua seperti kayu maple
musim gugur akan berjalan jatuh
sampai tahun berakhir dalam keheningan salju

2017-2019

____

—dari kumpulan puisi Menuju Laut Utara karya Annisa Hidayat

Perpisahan KecilSeseorang memasuki pintu gerbong kereta apimeninggalkan sepasang sepiyang berpelukan di punggungnya.Sese...
08/05/2023

Perpisahan Kecil

Seseorang memasuki pintu gerbong kereta api
meninggalkan sepasang sepi
yang berpelukan di punggungnya.

Seseorang akan menemukan sebuah kursi
—semacam takdir,
yang tak pernah bisa dipilihnya sendiri.

Seseorang duduk di kursi itu
di dekat jendela, di samping sepi
sementara di depannya,
sepasang sepi yang lain lesap
ke dalam dekap.

Seseorang akan terbiasa
dengan perpisahan-perpisahan kecil semacam ini.

Seseorang akan mengerti
bahwa tak ada yang harus melambai

kepada sepi.

____

—dari buku Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu karya Aan Mansyur

Setiap Akhir PekanSetiap akhir pekankita kemasi segala kecemasan.Nyatanya kita tak pernah pergi kemana-mana.Di luar, seo...
06/05/2023

Setiap Akhir Pekan

Setiap akhir pekan
kita kemasi segala kecemasan.
Nyatanya kita tak pernah pergi kemana-mana.
Di luar, seolah lebih banyak ancaman.
Jalan-jalan membangkitkan cemburu
dan rasa malu.

Kita di sini saja, kataku.

Kau seduhkan secangkir kopi
dengan takjim yang menumbuhkan pertanyaan.
Bisa kau terima rumah yang muram dan segelisah ini?
Bisa kau terima dalam waktu yang terlalu lama?
Bisa kau terima—segala yang nyaris tak ada?

Nanti kita akan pergi, kataku.

Kau suapkan sesendok takar obat
untuk anak kita yang terserang diare.
Dan aku terserang keharuan,
semakin dalam dan demam.

Buka saja pintu itu, katamu.

Aku tahu, kita tak sanggup membeli udara
dari kipas angin yang tak pernah menyalakan apa-apa
di kamar ini.

____

—Serpihan puisi Cinta Tak Pernah Fanatik karya Tjak S Parlan

Melempar Batu-Batu Pipih ke Sebuah SungaiAku tak punya ingatan-ingatan romantisyang bisa kuceritakan padamu. Aku tak bis...
02/05/2023

Melempar Batu-Batu Pipih ke Sebuah Sungai

Aku tak punya ingatan-ingatan romantis
yang bisa kuceritakan padamu. Aku tak bisa
menemukan
Ingatan masa mudaku yang berjatuhan di tengah jalan.
Aku hanya memiliki ingatan sebuah sungai
—sungai masa kecilku yang bening-permai.

Aku tak bersamamu, aku bersamanya
menggunakan waktu senggang memilih batu-batu
p**ih di sepanjang bantaran. Aku serampangan
memilih keberuntungan.

Aku bersamanya, bergantian melemparkan
batu-batu p**ih itu ke permukaan. Lalu kecipak
dan riak dan gelombang-gelombang kecil,
dan keriangan-keriangan kecil
menyebar ke permukaan sungai,
ke paras kami yang sore dan damai.

Aku tak bersamamu, aku bersamanya
bergantian menghitung jumlah bunyi,
lompatan-lompatan batu di permukaan sungai:

seberapa jauh
keberuntungan bisa diseberangkan,
butuh berapa kali jatuh?

Tapi selalu saja ada yang kosong,
bunyi yang hening di kedalaman yang bening,
di setiap jeda, di antara angka.

Aku tak punya ingatan-ingatan romantis
yang bisa kuceritakan padamu. Aku tak bisa
menemukannya, tapi aku bisa

menemukanmu. Sekarang aku bersamamu
dan sungai itu masih ada, serupa usia
tua dan menyusut.

Aku bersamamu, tapi tak bisa menemukan
anak-anak kecil yang melempar batu-batu p**ih
ke sungai itu. Para orangtua melarangnya
— mereka mencemaskan soal limbah,
serapah yang mereka lemparkan sendiri ke sungai itu.

Dan kita—karena dorongan sebuah romantika—
bisa saja melakukannya dengan cara yang berbeda.
Kita mungkin akan menyeberangi sungai itu,
dan mengatakan kepada anak kita:

sungai-sungai yang memiliki kenangan,
mestinya harus tetap muda,
dan bening.

____

—Serpihan puisi Cinta Tak Pernah Fanatik karya Tjak S Parlan

insomniasejak sajak meringkuk danmenetap di ruang hampa rasamenatap pun siasiarupanya tubuh harus kembalimemulai lagi da...
01/05/2023

insomnia

sejak sajak meringkuk dan
menetap di ruang hampa rasa
menatap pun siasia

rupanya tubuh harus kembali
memulai lagi dari jejakjejak mati
mengganti alas kaki berkalikali
menukar mata dengan yang lebih tajam
tidak dibenarkan memberi ujung
pada peta yang digenggam

: mungkin waktu
harus sabar

2018

____

dari kumpulan puisi Binatang Kesepian dalam Tubuhmu karya Ilda Karwayu

Nostalgia Kecemasanpada cemas akan perpisahanaku urai kembali sejarah kejatuhandi beranda kubayangkandaun-daun tergetar ...
01/05/2023

Nostalgia Kecemasan

pada cemas akan perpisahan
aku urai kembali sejarah kejatuhan

di beranda kubayangkan
daun-daun tergetar disisir angin
parasmu berpendar
di gelas minuman

tapi perpisahan seperti tukang pos
selalu lewat di jalan depan
menyimpan surat pada kotak-kotak kosong
denting belnya bergema di kamar tak berlampu
dengan dinding lapuk
selapuk hatiku sebab lembab oleh rindu

maka apalagi yang harus dicemaskan
jika segalanya telah demikian terang
bahwa hatiku akan tersedia
hanya untuk dipatahkan

2012

____

dari kumpulan puisi Rencana Berciuman karya Kiki Sulistyo

Sebelum Tidur atau Sesudahnyaia bertemu dengan dirinya yang asli dalam mimpidengung nyamuk tiba-tiba merusak jaring tidu...
30/04/2023

Sebelum Tidur atau Sesudahnya

ia bertemu dengan dirinya yang asli dalam mimpi
dengung nyamuk tiba-tiba merusak jaring tidur itu
membangunkan kembali ngilu dari tubuh

sempat dilupakan, sekarang melahirkan ungkapan

“apakah perlu kelambu untuk menjaga mimpi-mimpi?
ragu apakah esok aku hidup kembali”

ia merasa tak pernah benar-benar menjadi dirinya

____

—kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi karya Iin Farliani

APRIL TERAKHIRdi luar senja jatuhmenerpa pelatarandaun-daun keringdebu-debu yang terbangoleh angindi dalam ruangApril di...
30/04/2023

APRIL TERAKHIR

di luar senja jatuh
menerpa pelataran
daun-daun kering
debu-debu yang terbang
oleh angin

di dalam ruang
April diliputi perasaan hangat

di atas meja, sebotol lotion
dalam kemasan warna coklat
bersebelahan dengan
sebuah kalender duduk

rapi menanggalkan catatan
demi catatan yang begitu majemuk

kemudian seseorang duduk
memandang ke arah kalender
dan sesorot

cahaya senja menerabas kisi jendela
menerpa p**i dan pucuk-pucuk jemarinya yang mulai menyusut

rindu yang meluap
dari kedua sudut pelupuk

Jakarta, April 2012
______

—dalam kumpulan puisi Perginya Seekor Burung karya Lailatul Kiptiyah

Address

Selong
83661

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mematikan Mata Lampu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share