25/08/2026
Israel kembali menyerang wilayah Suriah pada 22 Agustus, hanya beberapa hari setelah serangan ke pangkalan Abu Duhur yang memicu kritik keras dari Washington. Kali ini, sebuah kendaraan di dekat Beit Jinn, barat daya Damaskus, dihantam dalam serangan drone yang menurut Israel menargetkan seseorang yang dianggap teroris. Di saat jalur diplomasi sedang dibuka, serangan baru ini justru menambah risiko benturan yang lebih luas dan mempersempit ruang bagi de-eskalasi.
Serangan itu terjadi ketika ketegangan Israel-Suriah sedang meningkat tajam setelah serangan ke pangkalan udara Abu Duhur pada 18 Agustus. Utusan khusus AS untuk Suriah Tom Barrack menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi yang tidak perlu dan mengatakan tindakan sepihak semacam itu bisa mengganggu upaya meredakan ketegangan.
Pada 22 Agustus, militer Israel menyatakan pasukannya menembak ke arah target di Suriah selatan yang disebut sebagai teroris dan dinilai menimbulkan ancaman langsung bagi tentaranya. Namun, Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan serangan drone mengenai kendaraan sipil di jalan dekat Beit Jinn dan menyebabkan korban luka. Televisi pemerintah Suriah melaporkan sedikitnya satu orang terluka.
Perbedaan versi ini menjadi penting karena sasaran serangan dan dampaknya tidak sepenuhnya dipandang sama oleh kedua pihak. Israel menekankan alasan keamanan dan ancaman terhadap tentaranya, sementara Damaskus melihatnya sebagai pelanggaran kedaulatan. Tidak ada rincian yang diberikan secara terbuka mengenai identitas target yang disebut Israel sebagai teroris.
Yang membuat situasinya lebih sensitif adalah konteks serangan Abu Duhur. Israel mengatakan pangkalan itu diserang untuk mencegah kemungkinan penempatan militer Turki di sana. Barrack kemudian mempertanyakan langkah tersebut dan bahkan mengatakan serangan itu mungkin dimaksudkan untuk memicu konflik dengan Turki. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz membantah keras tuduhan itu dan menyatakan bahwa informasi intelijen telah dibagikan kepada pihak AS sebelum serangan tersebut.
Di belakang semua itu terdapat perubahan besar di Suriah sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Israel kemudian memperluas operasi militernya di wilayah Suriah selatan dan mempertahankan kehadiran di sejumlah area yang sebelumnya berada di luar kendalinya. Pada saat yang sama, Damaskus dan Israel sedang berusaha membuka kembali pembicaraan keamanan yang dimediasi Amerika Serikat untuk mencegah benturan lebih jauh.
Karena itu, serangan terbaru bukan sekadar insiden taktis. Serangan tersebut terjadi ketika Washington sedang mendorong jalur de-eskalasi, sementara Israel tetap menilai perkembangan militer di Suriah sebagai potensi ancaman. Setiap serangan tambahan dapat memperumit negosiasi, memperbesar ketegangan dengan Turki, dan membuat ruang diplomasi menjadi semakin sempit.
Masalahnya, perang tidak selalu dimulai dengan satu keputusan besar; eskalasi sering tumbuh dari serangkaian tindakan yang masing-masing dianggap terbatas. Dalam situasi Suriah, pola serangan berulang dapat membuat insiden berikutnya jauh lebih sulit dikendalikan. Pantau terus channel ini untuk perkembangan militer selanjutnya.