12/06/2026
Pernyataan Trump Tak Konsisten, 38 Kali Klaim Nyaris Damai dengan Iran namun Masih Kirim Serangan
Donald Trump kembali menjadi sorotan seusai berkali-kali mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang.
Sejak ketegangan meningkat, Trump terus mengancam akan menindak tegas Iran.
Di saat yang sama, ia juga berulang kali menyebut kesepakatan damai hampir tercapai.
Namun hingga kini, klaim tersebut belum menunjukkan hasil nyata.
Sejumlah media mencatat pernyataan serupa telah diucap puluhan kali oleh Trump.
Dilansir CNN pada Jumat (12/6/2026) sejak April, Trump sudah 38 kali mengucap bahwa kesepakatan damai dengan Iran kian dekat.
Kontradiksi itu juga terlihat dalam narasi kemenangan yang ia bangun.
Trump menyatakan Iran telah berhasil ditekan tapi fakta di lapangan menunjukkan situasi masih jauh dari kata selesai.
Selat Hormuz tetap belum sepenuhnya normal bagi arus perdagangan energi dunia.
Bahkan Iran sempat menutup total Selat Hormuz di tengah meningkatnya eskalasi perang.
Trump juga sering menyampaikan dua pesan berbeda secara bersamaan.
Di satu sisi, Iran disebut sudah melemah dan kehilangan pengaruhnya.
Di sisi lain Iran dianggap sebagai penghambat utama tercapainya perdamaian.
Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyebut ancaman kawasan telah berakhir.
Ia juga menuding Iran terlalu lama memainkan proses negosiasi.
Pernyataan itu muncul setelah sebuah helikopter Apache AS ditembak jatuh di wilayah perairan dekat Oman.
Peristiwa tersebut memicu pertanyaan terhadap klaim pemerintah Amerika Serikat.
Sebelumnya Washington menyebut kemampuan pertahanan udara Iran sangat terbatas.
Namun serangan dari Iran masih terus berlangsung.
Target serangan mencakup sejumlah negara sekutu AS di kawasan.
Sebagai respons, AS mengklaim menyerang puluhan pangkalan senjata Iran.
Target itu disebut meliputi fasilitas radar dan pertahanan udara.
Saat berbicara di Oval Office, Trump kembali memakai nada yang sama.
Ia mengancam tindakan keras sambil tetap membuka peluang kesepakatan.
Trump mengatakan proses damai sebenarnya sudah berada di tahap akhir.
Namun menurutnya, Iran terus menunda dan memperlambat pembicaraan.
Rangkaian pernyataan tersebut membuat namanya terus mendominasi pemberitaan.
Meski demikian, tingkat kepercayaan publik ikut menjadi sorotan.
Banyak pihak mulai mempertanyakan konsistensi pesan yang disampaikan.
Situasi itu juga terlihat dalam hubungan AS dan Israel.
Trump mengaku ingin mencegah serangan balasan Israel terhadap Iran.
Tetapi serangan tetap terjadi meski pernyataan itu telah disampaikan.
Trump kemudian menjelaskan bahwa rudal sudah lebih dulu diluncurkan.
Ia juga membantah bahwa permintaannya diabaikan oleh Israel.
Menurut Trump, pemerintah Israel tetap menghormati arahannya.
Pola yang sama terus muncul selama konflik dan proses negosiasi.
Ancaman keras sering disampaikan kepada pemerintah Iran.
Namun setelah itu arah kebijakan kembali bergeser ke jalur diplomasi.
Beberapa ultimatum bahkan berlalu tanpa tindak lanjut yang jelas.
Siklus ancaman dan negosiasi terus berulang dari waktu ke waktu.
Setiap insiden baru menjadi pemicu meningkatnya ketegangan berikutnya.
Laporan media AS menyebut opsi serangan lebih besar masih dipertimbangkan.
Langkah itu disebut dapat berdampak luas bagi Iran.
Meski begitu, tidak ada jaminan tujuan politik akan tercapai.
Selain pernyataan keras di media sosial, kemajuan diplomasi masih terbatas.
Sementara itu, Iran tetap menunjukkan sikap yang tegas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak akan mundur.
Ia menyebut tekanan dari Amerika tidak akan melemahkan tekad Iran.
Araghchi juga menegaskan setiap ancaman akan mendapat respons.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan masih jauh dari berakhir. (Kompas.com