PUISI SUARA HATI

PUISI SUARA HATI Berimajinasilah dalam sebuah kata, pasti akan menemukan sebuah keindahan dalam aksara

29/08/2025

Suara kami suara penderitaan
Suara kami suara kesengsaraan
Jangan kau diam membisu
Buka mata dan telingamu
Lihat dan dengarlah
Ribuan jerit meriuhkan bumi pertiwi
Ribuan tangis menatap linangan darah
Di mana hati nuranimu
Tertawamu di atas tangisan kami
Tarianmu di atas penderitaan kami
Sampai kapan harus kami rasakan itu
Sampai kapan rakyat tak lagi tersenyum ceria
Hanya kemuramanan muka memyelimuti
Di mana tiada lagi harapan yang kami titipkan pada kalian
Semua hanyalah mimpi
Semua hanya jalan untukmu meraih mimpi
Bergelimang harta meski tak kausyukuri
Di sini harapan dan mimpi kami musna oleh ke egoan dan ambisi yang kauturuti

29/08/2025

OTAK UDANG

Ketika ekonomi hancur
Ketika rakyat semakin sekarat
Seenak jidat kalian menaikan gaji dan tunjangan
Berjoget kaya orang kesetanan

Akankah selamanya tanah ini di gelimangi jasad
Sudah banyak anak negeri menjadi korban ambisi
Sudah lama rakyat dikorbankan
Tapi kalian bersenang-senang

Bumi Nusantara dibanjiri air mata
Bumi Nusantara kembali menjadi kubangan darah
Lihatlah, para ibu yang menangis
Lihatlah anak dan balita terlunta
Atau mata kalian buta
Telinga kalian tuli

Wakil rakyat bukan mewakili rakyat
Wakil rakyat mencekik rakyat
Wakil rakyat mengkhianati kesepatan dengan rakyat
Wakil rakyat wakil keparat

Tiada kesungguhanmu menyuarakan suara rakyat
Tiada kesungguhanmu berjuang untuk rakyat
Tetapi menyuarakan suara keluargamu yang takut melarat
Serta perjuangan untuk kepentinganmu di saat menjabat

Jiwa pengecut
Otak meringkuk seperti udang
Di tanah ini banyak anak menjadi yatim
Di tanah ini banyak ibu menjadi janda
Apakah kalian tidak merasa iba
Apa kalian tak tergugah hati untuk membantunya

Justru dengan sikap kalian itu sudah menyengsarakannya
Sudah menambah beban baginya
Sudah menambah pendertiaannya
Atas harapan yang dipunya sirna

13/08/2025

KUJARING WAJAHMU DALAM LAMUNAN
Jagad Satria Pasopati Candra

Kembali kubaitkan ingatan yang kerap datang padaku
Kuinterasionistikan lewat imaji kata
Selaksa sang penyair yang bisu
Kepada segumpal awan
Kulukis wajah nan sendu
Meski bayangan begitu jelas tertatap
Namun, kian lama tertutup kabut
Meski kucoba menjaring ke dalam lamunan
Tetapi yang kudapati pagi dengan kekosongan
Hanya angan yang mencair dalam inginku
Serta segenggam asa yang mengalir dari jiwaku
Sementara rindu lahir dari kepingan mimpi
Lantas meneteskan hujan kesedihan tanpa butiran embun yang berkilau

11/06/2025

WAKTU LEKAS BERLALU
Jspc

Selepas aku tulis puisi ini
Aku berharap rindu tercerai
Agar tak lagi membekam hati
Serta menyuplai mimpi di pikiranku
Ingin kutinggalkan abjad-abjad yang tertidur
Yang selalu melankoliskan alunan sendu
Irama sedu sedan merayap dinding telinga
Menamparku
Menguarkan air mata aroma pilu
Dalam fase di peraduan
Mengisahkan cinta terlerai
Mencermin kenangan
Lewat skesta wajah terberai
Lalu, pada lembar kertas
Kubaringkan cinta
Kusisakan embusan napas
Lantas kulepit bersama lembaran waktu agar lekas berlalu

11/06/2025

SAJAK PURNAMA
JSPC

Aku memiliki cinta
Semilir angin mengikuti suara
Namun, ada bintang yang membisu
Di antara puisi rinduku

Sungguh girang kunikmati setiap jengkal langkahku
Selaksa bunga bermandikan embun pagi
Bagai dahan pohon yang terus bersemi
Mengiringi hatiku yang tengah menjelajahi sepi

Kunantikan mekar bunga rindu
Agar tiada meringkuk asa di diriku
Biarkan akarnya menyusuri dalam pelukmu
Menggamit, mengajak melabuhkan asmaraku

Masih kurajut seuntai kata
Tentang cinta lewat angin senja
Tentang taman beraneka bunga
Lantas di hatimu kubaitkan sajak seindah purnama

11/06/2025

SAJAK ANGIN
JSPC

Rasakanlah
Lewat lembut kulit tubuhmu
Ketika dedaunan merah terperosok di lembah
Resapilah setiap kepak sayap dan cuit burung begitu resah

Lihatlah sungai-sungai rebahkan sedih
Pada situs batu tanpa airmata membasah
Dengarlah, ikan dan katak mengerang
Di tengah gersang cuaca dengan murung

Sore mulai menyisik hari
Bersama kesedihan yang tak pernah pergi
Menjelma ronce bunga
Pada rajutan malam sunyi

Gelap berjelepak
Terlentang di karpet bumi
Ketika waktu menyuruk pada mimpi
Melukiskan remang lewat lilin yang hampir mati

Cahaya mentari
Memagut angin
Hingga akar meraba bumi
Mencengkeram jantung pagi yang berembun

Di ujung sana
Ada kebangkitan tertatih
Matanya menyimpan harapan
Lewat sajak di antara angin yang berdesir

11/06/2025

AKHIR DARI SEBUAH AKHIR
Jagad Satria Pasopati Candra

Sang perangkai kata
Dalam diam menunduk kepala
Pejamkan mata
Dan merebahkan tangan di atas kepala

Dalam heningnya
Ia tengah mengejawantahkan nilai keputusan
Serta menaruh harapan
Menunggu, mendengar kisah yang terjegal

Perlahan ia membuka mata
Dengan suara lantang mengobarkan jiwanya yang terluka
Ia berkata ....

"Inilah kisahku, aku ingin mengakhiri semua yang tak pernah berakhir."

Lantas ia kembali tertunduk di depan jasad perempuan yang ia cintai
Sembari memandang wajah pucat pasi, serta jari jemari senja yang tak lagi menari
Ia berdiri dan kembali pada suasana sepi

Lalu ia bersandar pada derita
Membungkuk di bawah congkaknya keadilan
Dialah manusia yang tengah meratapi waktu
Lantas ia habiskan lewat sebuah takdir ; "Kematian."

03/02/2024
13/12/2023

Terima kasih kepada pengikut terbaru saya! Senang Anda bergabung! Mas Priono, Iena Rikha, Agus Kurnia, Daril Gemini

16/11/2023

ATAS NAMA CINTA
Jagad Satria Pasopati Candra

Demi cinta
Aku bisa menutupi sedih dengan kuasi bahagia
Dan demi cinta
Aku berusaha tersenyum walau kenyataan lara mendekap jiwa
Sebab cinta yang kupunya begitu sempurna
Serta aku tak berharap kelemahan dapat kauterka
Meski hanya dalam mimpi belaka
Karena aku tahu benih cinta yang kutanam tiakkan pernah tumbuh dan berbunga
Atas nama cinta aku tetap berharap
Perasaan cintaku tak akan berbuah simalakama

16/11/2023

TANGIS BOCAH-BOCAH PALESTINA
Jagad Satria Pasopati Candra

Di mana ceria bocah-bocah Palestina
Yang terlahir di tanah yang diberkahi
Kini tinggal hanyalah kemurungan
Kala ayah bunda tersunggkur tertimbun puing-puing tembok yang hancur

Di tengah desingan peluru
D antarai riuhnya dentum rudal-rudal yang membabi buta
Mereka tak bisa bicara hanya mampu menjerit dengan ketakutan yang ada
Tangisan tak dipedulikan oleh para zionis yang mengumbar angkara

Bocah-bocah berlarian
Mengumpat untuk bersembunyi
Sementara para iblis yang lapar masih berkeliaran
Serta drakula yang haus akan darah merajalela

Di atas timbunan derita
Di sisi tubuh ayah ibu yang tak ujud rupa
Bocah-bocah meratap bersedih dengan linangan air mata
Dengan luka-luka yang kian menganga
Mengundang lalat-lalat berpesta pora

Mereka tak lagi bisa bermimpi
Hanya mampu menuliskan nama di lengan yang terluka
Dengan sepenggal harapan yang tersisa
Agar dapat dikenali kala jazad tergeletak di tanah Palestina

Banyumas, 14 November 2023

Address

Purwokerto

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PUISI SUARA HATI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to PUISI SUARA HATI:

Share

Category