Kadipaten Wirasaba

Kadipaten Wirasaba Laman resmi Kadipaten Wirasaba

Cowongan adalah bentuk ritual budaya yang dilaksanakan untuk mengundang hujan yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas te...
06/09/2021

Cowongan adalah bentuk ritual budaya yang dilaksanakan untuk mengundang hujan yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas terutama para petani yang mengalami kemarau panjang. Ritual Cowongan biasanya dilaksanakan pada akhir masa kapat (hitungan masa pada kalender Jawa). Dalam pelaksanaannya, Cowongan dilakukan pada hitungan ganjil misalnya 1 kali, 2 kali, 5 kali, dan 7 kali. Apabila ketika dilaksanakan Cowongan dalam 1 kali belum turun hujan maka akan dilaksakan dalam 3 kali dan seterusnya hingga terjadi hujan.
Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, permintaan datangnya hujan dengan perantara Cowongan, dilakukan dengan bantuan bidadari, Dewi Sri yang merupakan dewi padi, lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Melalui doa-doa yang dilakukan penuh keyakinan, Dewi Sri akan datang melalui lengkung bianglala (pelangi) menuju ke bumi untuk menurunkan hujan.
Saat ini, Cowongan selain sebagai prosesi ritual, bagi masyarakat Banyumasan juga sering diselenggarakan sebagai seni pertunjukan.

Cowongan dicatat sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2012

Sumber:
dinporabudpar.banyumaskab.go.id
warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Kadipaten Wirasaba

Anak-anak yang berambut gimbal banyak ditemui di Dataran Tinggi Dieng dan lereng Gunung Sindoro-Sumbing. Rambut gimbal d...
04/07/2021

Anak-anak yang berambut gimbal banyak ditemui di Dataran Tinggi Dieng dan lereng Gunung Sindoro-Sumbing. Rambut gimbal dianggap sebagai sesuker oleh karena itu untuk membersihkan sesuker itu harus dengan upacara ruwatan dengan cara mencukur bagian rambutnya yang gimbal.
Ruwatan berasal dari kata ruwat yang artinya melepas dari nasib sial. Acara ruwatan dilakukan setelah si anak mengajukan permintaan sebagai persyaratan khusus yang disebut "bebana".
Masyarakat Dieng meyakini munculnya rambut gimbal merupakan warisan leluhurnya yaitu Kyai Kolodete. Menurut cerita, demi kemakmuran desa, Kyai Kolodete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tidak akan mandi sebelum desa yang dibukanya menjadi makmur, hal inilah yang menyebabkan keturunan Kyai Kolodete nantinya akan mempunyai ciri rambut yang sama seperti dirinya.
Versi lain menyebutkan bahwa munculnya rambut gimbal pada anak-anak merupakan titipan Kanjeng Ratu Kidul di Pantai Selatan terutama bagi masyarakat yang masih menganut kepercayaan Kejawen.

Tradisi ruwatan rambut gimbal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2016.

Sumber: warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Kadipaten Wirasaba









Begalan adalah bagian dari upacara adat perkawinan supaya terlepas dari malapetaka bagi kedua calon mempelai. Seni Begal...
27/06/2021

Begalan adalah bagian dari upacara adat perkawinan supaya terlepas dari malapetaka bagi kedua calon mempelai. Seni Begalan merupakan syarat yang harus dilakukan apabila menjodohkan anak sulung mendapat anak sulung, anak sulung mendapat anak bungsu.

Begalan sudah ada sejak zaman dahulu sebelum Islam masuk. Seni Begalan berawal ketika Adipati Wirasaba mengawinkan anaknya dengan putra Banyumas. Kejadian tersebut bertepatan dengan pageblug (wabah) sehingga dilakukan Begalan untuk menolak bala. Upacara ini dilakukan setelah pengantin melakukan ijab qobul untuk menuju tempat duduk pengantin diadakan upacara ritual.

Satu orang memikul seperangkat alat dapur dan seikat padi, satu orang berperan sebagai begal. Si begal menghalangi pemikul seperangkat alat dapur lewat kecuali bisa menjelaskan makna-maknanya, kemudian si pemikul menjelaskan fungsi dari semua perkakas yang dibawa.

Pada akhir pertunjukkan seluruh perkakas yang dibawa diperebutkan oleh seluruh penonton.

Begalan ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda sejak 2018.

Sumber: warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Kadipaten Wirasaba

Teruntuk Purbalingga tercinta, jejak jejak pabrik gula Bodjong (Bojong) yang tidak menyisakan banyak peninggalan. Pabrik...
26/06/2021

Teruntuk Purbalingga tercinta, jejak jejak pabrik gula Bodjong (Bojong) yang tidak menyisakan banyak peninggalan.

Pabrik gula Ini meninggalkan sedikit sekali bukti, video Ini menunjukkan bukti-bukti tersembunyi keberadaan pabrik gula Bodjong.

Banjoemas History Heritage YouTube Channel

Pabrik gula Bodjong (Bojong) Purbalingga adalah dua pabrik gula yang bergabung menjadi satu. Tutup tahun 1934 pabrik gula ini meninggalkan sedikit sekali buk...

Banjarnegara di masa Klasik Dahulu Wilayah Banjarnegara merupakan bagian dari beberapa kerajaan besar di Jawa ada yang m...
18/06/2021

Banjarnegara di masa Klasik

Dahulu Wilayah Banjarnegara merupakan bagian dari beberapa kerajaan besar di Jawa

ada yang menyebutkan migrasi umat Hindu dari India menuju Dataran Tinggi Dieng dimulai sejak Abad ke-4
Namun Prasasti Tertua Tentang Dieng berangka 608 M

dalam salah satu naskah jawa yang ditulis ulang, tahun 1937 disebutkan bahwa pecandian di Dieng dinamakan “Pasraman Indriya Pra Astha”

Waktu Pusat Pemerintahanya di Batur, Banjarnegara Negaranya Bernama KHAYANGAN RATNA (Galuh) Pertama Berdiri. Pasraman (Candi) itu dibuat oleh para Undagi /Tukang dari Indriya Satwa Mayu.

sejak saat itu kawasan Dieng menjadi pusat penyebaran Hindu dan wilayah sekitarnya termasuk Banjarnegara masuk wilayah kerajaan tersebut.

di Timur Jawa, ada kerajaan Keling/Kalingga atau disebut juga Galuh, dimana menurut catatan China dipimpin oleh ratu bernama Sima (Ratu yang sangat adil)

Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang lalu disebut Bumi Mataram, dan lalu membangun Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Wilayah kekuasannya meliputi pegunungan Dieng, Banjarnegara, Banyumas, wilayah Gunung Sindoro dan Sumbing. Peradaban kerajaan Holing beraliran Hindu Siwa.

Kekuasaan Mataram Kuno berganti menjadi Wangsa Syailendra yang bercorak Budha Mahayana, dan kembali berganti Wangsa Sanjaya saat Rakai Pikatan Berkuasa.

Pada masa Wangsa Syailendra mataram sangat maju sampai menguasai Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Kerajaan Mataram Kuno mengalami perpindahan pusat Pemerintahanya ke Jawa Timur, diperkirakan karena adanya letusan G. Merapi yang sangat dasyat, ada juga yang menyatakan karena desakan kerajaan lain.

Namun setelah berpindah ke Jawa Timur yang berkuasa bukan lagi Sanjayawangsa namun Isyanawangsa ini dikarenakan yang memimpin selanjutnya adalah Mpu Sindok merujuk pada gelar Abhiseka Mpu Sindok yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.

Setelah Kerajaan Mataram runtuh, wilayah Wilayah Dieng dan Banjarnegara secara berturut-turut menjadi wilayah Galuh Selatan, Sunda (Sriwijaya), Kahuripan, Panjalu, Kahuripan Kediri, dan Tumapel.

Setelah Tumapel direbut oleh Ken Arok, maka Tumapel berganti menjadi Kerajaan Singhasari dan selanjutnya diteruskan pada Kerajaan Majapahit.

Perpindahan Kekuasaan Abad ke X - XIII

Sumber : C***r Budaya Banjarnegara

Kadipaten Wirasaba

Bendung Banjar Cahyana Bendung Bersejarah yang dibangun direjasa, Banjarnegara Proyek Bandjar-Tjahjana atau Bandjar Tjah...
23/05/2021

Bendung Banjar Cahyana

Bendung Bersejarah yang dibangun direjasa, Banjarnegara Proyek Bandjar-Tjahjana atau Bandjar Tjahjana Werken di rancang oleh E.W.H. Clason dan D. Snell. Pada tahun 1912-1938 dan menurut Basunodo proyek ini dialiri air dengan mengambil air dari bendungan dibawah kampong legok, diatas pertemuan sungai Mrawu dan sungai Serayu. Dan kemudian lahan kering Wanadadi, Sus**an, Rakit, Bukateja (Tjahjana), Kejobong dan Kemangkon disulap menjadi lahan subur yang lebih banyak menghasilkan hasil bumi.

Proyek besar ini bernama Bandjar Tjahjana yang berarti aliran irigasi dari Bandjar (Banjarnegara) hingga distrik Tjahjana (Bukateja) merupakan proyek irigasi besar dan dengan medan yang sulit. Air untuk mengairi Proyek ini diambil dari Sungai Serayu yang dibendung di dusun Legok, desa Rejasa (Banjarnegara),sebuah desa sebelah utara Banjarnegara.

Air sungai serayu dibendung tepat setelah sungai serayu membelok jadi volume air besar dan deras. Kemudian air langsung menembus bukit dan dikeluarkan pada dinding bukit dari sisi yang lain. Dimana disana juga terdapat sungai Mrawu yang mengalir dari Pegunungan Dieng.

-CBB-

Wisanggeni, yang bermakna "racun api". Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brama, sang dewa penguasa api. Sela...
27/04/2021

Wisanggeni, yang bermakna "racun api". Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brama, sang dewa penguasa api. Selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh justru menghidupkan Wisanggeni.

Atas petunjuk Narada, Wisanggeni pun membuat kekacauan di kahyangan.
Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brama akhirnya bertobat dan mengaku salah.
Narada akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.

Wisanggeni kemudian datang ke Kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna supaya diakui sebagai anak. Semula Arjuna menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Wisanggeni dapat mengalahkan Arjuna dan para Pandawa lainnya.

❤️ Semoga bermanfaat





PENDOPO SIPANJI Pendopo Si Panji dibangun pada 1706 oleh Tumenggung Yudanegara II, Bupati Banyumas ke-7 (1707 -  1743), ...
23/04/2021

PENDOPO SIPANJI

Pendopo Si Panji dibangun pada 1706 oleh Tumenggung Yudanegara II, Bupati Banyumas ke-7 (1707 - 1743), setelah memindahkan pusat pemerintahan dari Kejawar ke Banyumas. Nama Si Panji untuk mengenang puteranya, Panji Gandasubrata (Bagus Kunthing), yang tinggal sejak kecil di Keraton Kartasura bersama neneknya, Raden Ayu Bendar.

Pendopo Si Panji dipindahkan pada jaman Adipati Aryo Sujiman Gandasubrata, Bupati Banyumas ke-20 (1933 - 1950), menyusul dihapusnya Kabupaten Purwokerto oleh Belanda pada 1 Januari 1936. Pemindahan dilakukan karena Purwokerto dipilih sebagai Ibukota Kabupaten Banyumas. Pendopo Si Panji diresmikan penggunaannya di Purwokerto pada 7 Januari 1937. Purwokerto dipilih menjadi Ibukota lantaran letaknya strategis dan ada jalur kereta api.

Nah sejak saat itu Pendopo Si Panji berada di kota Purwokerto sebagai pusat pemerintahan Banyumas yang baru.

Ini adalah Litografi Suasana Alun-alun Banyumas dan Pendopo Si Panji di tahun 1837 sebelum dipindahkan ke Purwokerto. Nah Litografi ini ada di Museum Wayang Banyumas.

Semoga Bermanfaat.

-CBB-

Kadipaten Wirasaba

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Werkudara. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Barun...
21/04/2021

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Werkudara. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Baruna. Bima menikah dengan Urangayu dalam cerita Kali Serayu Binangun, yaitu saat Pandawa dan Kurawa berlomba untuk membuat sungai tembus ke samudra. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri amarta.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, tetapi teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak s**a dengan basa-basi duniawi.

Saudara laki-laki yang lain ibu, bernama : Antareja, putra Bima dengan Dewi Nagagini, dan Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi. Antasena tidak terdapat dalam Mahabarata karena merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

Lakon-lakon Wayang yang mengisahkan kejenesiusan seperti Wahyu Eka Jati, Semar Mbangun Kayangan, Wahyu Topeng Wajah, dan sebagainya.

Semoga bermanfaat 🙏





Menanamkan jiwa seni sejak dini, mengajarkan pada generasi penerus itu penting, agar kebudayaan itu tidak musnah dan tet...
12/04/2021

Menanamkan jiwa seni sejak dini, mengajarkan pada generasi penerus itu penting, agar kebudayaan itu tidak musnah dan tetap bertahan dan berkembang di waktu yang akan datang.

📷:



Parikane cah Wirasaba kidul, Bandara mburi ngumah. 🤣 Mereka yang naik Pesawat, kita yang rungsing krungu swarane. 😂Ayo m...
02/04/2021

Parikane cah Wirasaba kidul, Bandara mburi ngumah. 🤣
Mereka yang naik Pesawat, kita yang rungsing krungu swarane. 😂
Ayo mikir..
Gimana cara supaya suara pesawat terdengar merdu.
😂

Sejarah Kadipaten Wirasaba?
Ya kan.. supaya banyak wisatawan yang datang ke Wirasaba.
Dan kita jadi tuan rumah di Wirasaba.

Jaga tanah leluhur 🔥🙏

Address

Purbalingga

Telephone

+628991239871

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kadipaten Wirasaba posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share