22/02/2022
Fenomena kesurupan kerap dikaitkan dengan keberadaan makhluk halus yang memasuki tubuh dan mengambil alih kesadaran seseorang. Kesurupan semacam itu diklasifikasikan oleh para antropolog sebagai kesurupan nonkepemilikan (Erika Bourguignon & Thomas Evascu 1977).
Jenis lainnya, kesurupan kepemilikan, menganggap jiwa orang yang dirasuki meninggalkan tubuh karena diculik atau mengadakan perjalanan ke dunia gaib bersama makhluk halus.
Profesor psikiatri Dr Richard Gallagher, berdasarkan pengalamannya merawat pasien kesurupan selama puluhan tahun, percaya bahwa kesurupan yang sebenarnya adalah buatan manusia dan bukan seperti yang sering kita lihat.
Dari segi budaya, kesurupan bukan hanya sekadar pengalaman, tapi juga bagian dari perilaku manusia dan juga kepercayaan. Penelitian Ferracutti (1996) pernah mengungkap bahwa mereka yang punya kepercayaan kuat terhadap nilai-nilai religius lebih mudah mengalami kesurupan, dan itu disengaja.
Contoh, dalam ritual mistik kuda lumping atau reog, peneliti di AS menemukan fungsi dari bunyi-bunyian seperti musik atau tabuhan drum yang mengiringi ternyata berperan penting dalam membuat para medium tetap terjaga dan sadar, meskipun digunakan juga untuk menginduksi kesurupan.
Sebabnya, kesurupan terkait dengan keadaan berubahnya kesadaran (altered state of consciousness/ASC). Jadi, bukan benar-benar hilang kendali atas tubuh dan pikiran. Wolfgang Miltner, psikolog klinis dari Friedrich Schiller University di Jena, Jerman, mengatakan bahwa dalam keadaan sadar pikiran kita aktif, dan aktivitas otak bisa diukur lewat gelombang beta.
Siswanto, S.Psi.,M.Si, dalam studinya, pengarang buku Psikologi Kesehatan Mental Awas Kesurupan!, menemukan bahwa penyebab utama kesurupan adalah stres sosial dan mental yang ditekan ke alam bawah sadar sehingga memengaruhi kondisi emosional.
British Journal of Psychiatry menulis kesurupan bisa menular meski dipicu satu orang. Ini tergolong penyakit yang disebut psikogenik masal, karena bisa menyebar sesuai kredibilitas dan kerentanan suatu komunitas tertentu.Misal, lingkungan homogen bernasib sama atau memiliki penderitaan sama.
Sumber: Beritagar / Lokadata