Bulan Novel

Bulan Novel Penulis di KBM App

"Nih, ambil! Udah jadi perempuan ma tre kamu?"Dua lembar u ang merah melayang, mendarat tepat di p!piku sebelum akhirnya...
03/05/2026

"Nih, ambil! Udah jadi perempuan ma tre kamu?"

Dua lembar u ang merah melayang, mendarat tepat di p!piku sebelum akhirnya ja tuh ke lantai. Ujung kertasnya yang ta jam sempat menggo res ku lit. Pe rihnya tak seberapa, tetapi panasnya menjalar hingga ke da da.

Aku terpaku. Mataku terpejam rapat, menahan genangan panas yang siap tumpah kapan saja.

"Baru sebulan aku jadi manajer, kamu tahunya minta du it, du it, du it!" sambung Mas Arya, suamiku, dengan nada lebih tinggi.

Aku membuka mata. Di depanku, dia berdiri dengan tangan berkacak ping gang. Seringai di b! birnya terasa begitu asing. Selama bertahun-tahun menikah, baru kali ini aku melihat tatapan mere mehkan itu.

Aku mencoba mengatur na pas, menelan gumpalan pahit yang menyumbat teng gorokan.

"Ini pertama kali aku minta u ang buat be li baju lebaran, Mas," lirihku, "Tahun-tahun kemarin nggak pernah karena aku tahu kondisi kita. Apa meminta hakku sekali saja itu salah?"

Ga jian pertamanya sebagai manajer bulan lalu bahkan tidak mampir ke ta nganku. Dia bilang habis untuk menutup u tang di kantor dan keperluan ru mah yang entah apa sebab dapur pun lebih sering aku yang mengusahakan isinya.

Mas Arya tertawa pendek, tawa yang kering. "Jelas salah! Sekarang aku jadi tahu wajah aslimu yang sebenarnya."

"Wajah asli apa yang kamu maksud?"

"Dulu kamu pura-pura sederhana, seolah menerima apa adanya. Begitu posisiku tinggi dan ga jiku besar, kamu mulai buka kartu. Kamu pikir aku mesin u ang?"

Aku menatapnya tidak percaya. "Dulu dan sekarang jelas beda, Mas. Dulu hidup kita kekurangan. Bahkan, untuk makan pun kita harus bagi dua. Sekarang, setelah kariermu naik, apa salah kalau aku ingin merasakan sedikit untuk naf kahku?"

Mas Arya hendak menyahut, tetapi suara kecil dari kamar memo tong kete gangan di antara kami.

"Ayah, ayolah cepat! Alina sudah nggak sabar, nih."

Alina muncul dengan seragam sekolah yang rapi. Wajahnya cerah, sangat kontras dengan mendung yang memenuhi ruang tamu ini.

Biasanya, dia paling malas berangkat sekolah. Dia sering menangis karena die jek teman-temannya sebab ibunya ini hanya seorang penju al kue keliling yang mengantar dagangan dengan motor tua. Namun, pagi ini dia terlihat begitu bersemangat.

Mas Arya mengalihkan pandangan padaku, mengabaikan Alina sejenak. "Oh, jadi ini alasan kamu tidak mau ju alan kue lagi?"

Aku terdiam, menatap jemariku yang ka sar.
Bahkan, bekas kerja keras itu masih terlihat jelas. Namun, baru sebulan dia naik jabatan,
semua pengorbananku seolah tak pernah ada.

"Karena aku sudah punya pengha silan besar, jadi kamu merasa tidak perlu kerja lagi?" tanyanya menyudutkan.

"Wajar 'kan, Mas? Dulu aku bekerja pagi bu ta, membuat kue dan keliling warung demi membia yai kuliahmu. Aku ingin fokus mengurus rumah sekarang. Aku ingin mengurus kamu dan Alina dengan benar."

Wajah Mas Arya berubah merah padam. Ra hangnya menge ras. Aku tahu, kalimatku barusan baru saja menyen tuh har ga dirinya yang setinggi langit itu.

"Kamu mulai mengungkit-ungkit pengorbananmu?" Suaranya meninggi, satu oktav lebih ta jam.

Aku langsung menunduk. Seharusnya dia yang merasa bersalah karena telah melem parkan u ang ke wajahku, tetapi justru aku yang merasa berdo sa. Aku tak*t sudah mengin jak har ga dirinya sebagai suami.

"Bukan begitu maksudku, Mas ...."

"Ayah, ayo! Cepetan nanti telat!" Alina merengek lagi, menarik ujung kemeja Mas Arya dengan tidak sabar.

Mas Arya tidak menjawabku. Dia langsung menyam bar tas kerja dan melangkah pergi tanpa pamit. Alina pun mengekor di belakang. Dia tampak begitu antusias sampai lupa menci um tanganku, kebiasaan yang tidak pernah dia lewatkan sebelumnya.

Sayup-sayup, suara Alina terdengar dari arah teras sebelum motor Vixion Mas Arya menjauh.

"Rindu banget, Yah! Rasanya ingin tinggal seru mah saja."

Jan tungku berdegup kencang. Kalimat itu menghantam kepalaku. Seru mah dengan siapa? Siapa yang putriku rindukan sampai seperti itu?

Kaki ini masih tertancap di tengah ruang tamu sempit ketika suara motor Mas Arya kian menjauh, menyisakan dengung yang perlahan hilang. Mendadak ruangan terasa pengap, seolah-olah dinding-dindingnya menyempit dan menekan da daku.

Tanpa kusadari, air ma ta yang sejak tadi k*tahan akhirnya ja tuh juga. Hangatnya meluncur di pi pi yang masih perih.

Ma taku kembali tertuju pada dua lembar u ang merah di lantai. Dengan tangan gemetar, aku memungutnya. Segumpal sesak kembali menghimpit da da saat mengingat bagaimana u ang itu menam par w ajahku tadi.

Berjalan gontai menuju ka mar, aku meletakkan u ang itu di atas nakas, tepat di samping jam tangan koleksi Mas Arya.

"Kalau har ga diriku harus ja tuh demi dua ratus r ibu, biar u ang ini tetap di sini, Mas," bisikku pada ruang kosong.

Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya detak jam dinding yang terdengar nyaring, seperti sedang mengejek kebo dohanku yang masih berharap didengar.

Pikiranku tiba-tiba melayang ke Alina. Ada sesuatu yang berubah darinya.

Dulu, setiap kali suara kami meninggi, dia akan berlari meme luk ka kiku. Ta ngannya gemetar, wa jahnya basah oleh tangis. Namun, pagi ini ... dia bahkan tidak menoleh padaku. Tidak melihatku. Seolah-olah aku bukan lagi pusat dunianya.

Aku mengusap wa jah ka sar ini dengan punggung tang an. Beranjak ke dapur, aku mencoba mengerjakan apa saja agar pikiranku tidak terus berputar. Baru saat membuka lemari bumbu, ternyata garam habis.

Dengan langkah lunglai, aku mengambil dom pet kecil dan berjalan menuju warung di depan komplek.

Begitu tiba di tikungan jalan, langkahku terhenti. Di sana, di dekat gerbang kompleks yang agak sepi, aku melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir. Itu mobil kantor Mas Arya, yang sudah beberapa hari ini tidak pernah lagi dibawanya ke rumah.

Ma taku menyipit. Mas Arya berdiri di samping mobil itu.

Tunggu! Dia tidak lagi memakai kemeja biru yang tadi dia kenakan saat keluar rumah. Dia sekarang memakai setelan jas ma hal yang sangat pas di tu buhnya. Dia terlihat begitu ga gah, berwibawa, dan seperti orang yang berbeda.

Lalu, pintu kemudi terbuka.

Seorang wanita turun dari sana. Rambut terurai indah, pa kaian modis dengan sepatu hak tinggi berkilau. Senyumnya manis mengarah ke Mas Arya.

Aku mematung di balik tembok pagar ru mah orang. Na pasku tercekat saat Mas Arya membalas senyuman itu hangat. Senyuman yang sudah beberapa minggu terakhir tidak pernah dia berikan lagi untukku.

Alina langsung berlari dan menghambur ke pe lukan wanita itu, seolah-olah melimpahkan kerinduan yang tumpah ruah.

Tang anku refleks mere mas sisi daster lusuh yang kupa kai. Di dalam da da, aku merasakan denyut nye ri yang luar biasa menjalar ke seluruh saraf dan bertumpuk di ulu hati.

Alina meme luknya seperti dulu ia meme lukku. Erat, hangat, dan tanpa ragu. Namun, bukan hanya itu yang membuatku benar-benar han cur, melainkan sikap Mas Arya yang hanya berdiri diam dan tersenyum, seakan-akan itu hal yang biasa.

Kalau Alina meme luk orang lain seperti ibunya dan Mas Arya membiarkan. Lalu, mereka anggap aku ini apa?

Judul : Berlian Yang Kalian Abaikan
Penulis : BulanSabit LTF SKMM
di KBM App

Ayahku berut ang, dan aku yang harus membayarnya. Dengan pernikahan yang tak pernah kuinginkan.________Part 5Bukan Istri...
02/05/2026

Ayahku berut ang, dan aku yang harus membayarnya. Dengan pernikahan yang tak pernah kuinginkan.

________

Part 5
Bukan Istri, Tapi Pemb antu

Jam baru menunjukkan pukul setengah empat pagi ketika Wulan sudah berdiri di dapur. Ba dannya masih terasa pegal dari aktivitas kemarin. Tang annya yang mele puh karena setrika masih pe rih. Tapi alarm di ponselnya tidak kenal ampun.

Bangun. Masak. Siapkan sarapan. Itu tugasmu.

Wulan menyala kan kompor. Api biru kecil menyala. Ia meleta kkan wajan, menua ngkan minyak, lalu mulai menumis bawang untuk nasi goreng. Menu sarapan favorit Bu Tuti. Kata mertuanya itu, "Nasi goreng buatanmu lumayan enak. Jangan sampai berubah rasanya."

Puji an sekaligus perin tah.

Sambil menunggu nasi ma ta ng, Wulan menye duh teh manis. Dua gelas untuk Bu Tuti dan Dewi. Satu gelas untuk Arga. Tidak ada untuk dirinya sendiri. Pemba ntu tidak perlu minum teh.

Jam setengah enam, semua hidangan siap. Wulan menghela nap as lega. Hari ini ia lebih cepat dari kemarin. Semoga tidak ada ome lan.

Pukul enam tepat, Bu Tuti turun. Rambutnya sudah ter sisir rapi. Ga mis batiknya melambai-lam bai saat ia berjalan menuju meja makan.

"Nasi goreng lagi?" tanya Bu Tuti sambil duduk.

"Iya, Bu. Menu kes**aan Ibu."

"Ya sudah. Cepat ambilkan."

Wulan segera menyajikan nasi goreng ke piring Bu Tuti. Tidak lupa taburan bawang goreng di atasnya. Bu Tuti s**a bawang goreng yang renyah.

Dewi turun lima menit kemudian. Mata nya masih sayu. Gadis itu duduk di kursi tanpa bilang selamat pagi. Langsung menga mbil sendok dan makan.

Wulan berdiri di sa mping meja. Ta ngannya terkep al di depan pe rut. Seperti pra musaji di restor an. Bukan seperti menantu di rum ah mertua.

Arga turun terakhir. Waja hnya di ngin. Ia tidak menatap Wulan. Tidak mengucapkan terima kasih. Ia hanya duduk, makan, lalu berdiri.

"Aku pergi dulu," kata Arga sambil mengambil kunci mobil.

"Belum sarapan, Nak?" tanya Bu Tuti.

"Sudah, Bu. Nasi gorengnya... biasa saja." Arga me lirik Wulan sekilas. Bukan liri kan suami ke istri. Tapi liri kan majikan ke pemb antu yang masakannya kurang memuaskan.

Mobil Arga melaju keluar halaman. Wulan hanya bisa menatap dari jendela dapur.

Dia suamiku. Tapi dia tidak pernah bertanya apakah aku sudah makan. Dia tidak pernah bertanya apakah aku cukup ti dur. Dia tidak pernah bertanya apa-apa tentang aku.

Karena baginya, aku bukan siapa-siapa.

Setelah Bu Tuti dan Dewi selesai makan, Wulan mulai membersihkan meja. Piring-piring kotor ia angkat ke da pur. Si sa nasi goreng ia simpan di kulkas. Mungkin nanti bisa untuk mak an siangku.

"Ibu, saya mau ke dulu," kata Wulan.

"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama. Nanti kamu setrika baju Dewi. Ada delapan blouse. Semuanya harus rapi."

"Baik, Ibu."

Wulan masuk ke kam ar pemb antunya. Ka mar 2x3 meter dengan ranj ang besi ti p*s. Tidak ada lemari. Bajunya hanya diga ntung di paku di dinding.

Ia duduk di ranj ang. Matanya terpej am sejenak.

Delapan blouse. Setrika. Lagi-lagi setrika.

Tangannya masih sakit karena melepuh. Tapi tidak ada yang peduli. Jika ia bilang sa kit, Bu Tuti pasti men jawab, "Kamu cari perh atian, ya?"

Wulan membuka mata. Ia melihat kartu nama Bu Mira yang masih ter selip di saku sera gamnya. Belum sempat ia hub ungi. Belum berani.

Nanti. Nanti kalau ada waktu.

Ia keluar kamar dan naik ke lantai dua. Di kamar Dewi, delapan blouse berwarna-warni sudah menunggu di atas ranjang.

Wulan mengambil setrika yang sudah dipanaskan. Ia mulai menyetrika satu per satu. Perlahan. Hati-hati. Jan gan sampai gosong. Jangan sampai kusut.

Blouse pertama. Kedua. Ketiga.

Tanga nnya terasa pan as. Mele puhnya bertamba h. Tapi ia teruskan.

Blouse keempat. Kelima. Keenam.

Keringa t mulai bercucur an. Ruanga n ini tidak ada AC. Hanya kipas angin yang putusannya lem ah.

Blouse ketujuh. Kedel apan.

Selesai.

Wulan mengh ela napa s panj ang. Ia melihat jam di dinding. Pukul sete ngah sepuluh pagi. Masih banyak waktu sebelum makan siang.

Ia turun ke da pur. Pe rutnya keronco ngan. Belum makan apa pun sejak bangun tidur.

Ia membuka kulkas. Sisa nasi goreng tadi pagi masih ada setengah porsi. Wulan menga mbilnya. Dimakannya dingin-dingin tanpa dipan askan. Tidak peduli. Yang pen ting perut tidak kosong.

"Wulan!"

Suara Dewi dari ruang tamu membuatnya tersentak. Wulan buru-buru menyimpan sisa nasi goreng itu ke kulkas. Lalu berlari ke ruang ta mu.

"Iya, Mbak?"

Dewi sedang duduk di sofa sambil meme gang ponsel. Matanya tidak lep as dari layar.

"Besok teman-temanku datang ke rum4h. Ada sepuluh orang. Kamu siapkan camilan. Yang banyak. Jangan pelit-pelit."

"Baik, Mbak. Camilannya apa?"

"Terserah. Yang penting en ak. Jangan kayak kemarin. Rasanya an eh."

Wulan mengan gguk. "Baik, Mbak."

Dewi mengger akkan tang an seperti mengu sir lalat. "Ya sudah. Pergi. Aku sedang sibuk."

Wulan kembali ke dapur. Ia duduk di lantai dekat kulkas. Tang annya geme tar.

Sepuluh orang. Camilan. Den gan ua ng belanja empat puluh ribu untuk seminggu?

Ia meme jamkan ma ta. Menghitung-hitung.

Tepung. Gula. Telur. Mungkin bisa buat kue bolu sederhana. Atau p*sang goreng. Yang murah-meriah.

Tapi dari mana ua ngnya?

Bu Tuti belum memberikan ua ng belanja tamb ahan. Jika ia minta, pasti dimarahi. "Kamu ini bor os! Masa cuma camilan segitu aja minta ua ng lagi?"

Wulan membuka ma ta. Ia melihat sekeliling dapur. Ada tepung si sa setengah kilogram. Gula pasir masih seperem pat. Telur tinggal tiga butir.

Itu tidak cukup untuk sepuluh orang.

Ia memutuskan untuk tidak memikirkan sekarang. Nanti sore mungkin Bu Tuti memberi ua ng lebih. Atau ia bisa berhem at dari menu makan ma lam.

Jam dua belas siang, Wulan mulai menyi apkan makan siang. Menu sederhana: sayur bening ba yam, tahu goreng, dan sambal.

Bu Tuti dan Dewi makan dengan wajah biasa saja. Tidak pujian. Tidak celaan. Wulan tidak tahu itu baik atau buruk.

Setelah mereka selesai, Wulan membersihkan meja lagi. Mencuci piring lagi. Mengel ap lantai lagi.

Ulang. Terus berul ang. Setiap hari sama.

Tidak ada akhir.

Baca selengkapnya di KBM App
Judul : Dulu Pembantu, Kini Jadi Ratu
Penulis : Theresia Anastasia

(3)"Mau ke mana, Mas? Kok, sudah rapi?" tanyaku sambil menggo sok loyang kue yang sudah lama berdebu. Mas Arya tidak lan...
29/04/2026

(3)"Mau ke mana, Mas? Kok, sudah rapi?" tanyaku sambil menggo sok loyang kue yang sudah lama berdebu.

Mas Arya tidak langsung menjawab. Ia berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikanku dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sampingnya, Alina sudah berdiri cantik dengan gaun kuning kes**aannya.

"Mau cari oleh-oleh buat Ibu di kampung," jawab lelaki itu singkat.

Aku meletakkan spons cuci piring, lalu dengan cepat mengelap tangan ke celemek yang sudah kusam. "Aku ik*t ya, Mas. Sekalian mau be li bahan-bahan ju alan lagi. Terigu dan mentega di lemari sudah habis."

Mas Arya diam sejenak. Ma tanya menyapu penampilanku dari rambut yang sedikit acak-acakan hingga daster yang terno da tepung dan minyak loyang. Ada lengkungan tip*s di sudut bi birnya, senyum yang terasa seperti sin diran.

"Kamu mau ju alan lagi?"

"Iya. Pesanan mulai banyak lewat grup WhatsApp. Sayang kalau ditolak."

"Mas sudah jadi manajer, Arena. Kamu nggak perlu capek-capek ju alan lagi," sahutnya dengan nada yang mulai meninggi.

"Ini bukan cuma soal kamu mampu atau tidak, Mas. Ini soal har ga diri. Aku nggak mau hidup dari sesuatu yang diberikan sambil merendahkanku," kataku. Padahal dalam hati, aku menjerit, aku tak akan pernah mau menerima naf kah yang dilem parkan seperti tadi pagi.

"Merendahkan?" ulangnya pelan, alisnya terangkat tip*s. "Kamu ini selalu membesar-besarkan hal kecil."

Ia lalu menengok jam tangannya.
"Mas sudah telat, Ren."

Alina mendengkus keras di samping ayahnya. Ia menatapku dengan sorot mata yang aneh, seperti malu melihat ibunya masih berk*tat dengan wadah plastik dan bau mentega.

"Bunda jangan ik*t, deh. Bunda bau tepung," cetus Alina tiba-tiba.

Ha tiku mencelos. "Alina, Bunda kan, bisa ganti baju dulu. Sebentar saja, ya?"

Mas Arya kembali menoleh ke arloji, wajahnya dingin. "Kelamaan kalau nunggu kamu dandan."

"Cuma lima menit, Mas. Tolong tunggu sebentar ... saja."

Tanpa menunggu persetujuannya, aku berlari menuju ka mar. Mengganti daster dengan gamis paling layak yang kupunya. Kupulas sedikit bedak dan lipstik tip*s untuk menutupi wajah yang pucat karena kurang ti dur. Aku ingin terlihat pantas bersanding dengan suami yang kini sudah menjadi orang penting di kantornya.

Akan tetapi, begitu aku keluar dan berlari menuju teras, pagar rumah sudah tertutup rapat. Suara motor Vixion Mas Arya sudah menjauh di ujung gang.

"Mas! Mas Arya!" teriakku, tetapi sia-sia.

Sebuah taksi tiba-tiba berhenti di depan ru mah. Sang sopir menurunkan kaca jendela. "Atas nama Ibu Arena?"

Aku mengernyit bingung. "Iya, Pak. Tapi, saya nggak pesan taksi."

"Tadi Bapak yang naik motor itu yang pesan untuk Ibu. Katanya Ibu mau belanja ke pasar."

Aku mengepalkan ta ngan kuat-kuat. Jadi ini caranya? Menyisihkanku dengan sopan supaya aku tidak meru sak pemandangan di sampingnya?

"Pak, tolong ik*ti motor itu," ucapku segera setelah masuk ke dalam mobil.

"Motor yang mana, Bu?"

"Motor Vixion merah di depan itu, Pak. Tolong jangan sampai kehilangan jejak."

Firasat burukku sebagai seorang istri mulai mengambil alih. Kalau hanya membe li oleh-oleh, kenapa mereka terburu-buru? Kenapa Alina terlihat begitu antusias?

Taksi terus membuntuti hingga ke supermarket besar. Mas Arya tidak masuk ke parkiran. Ia berhenti di pinggir jalan, di depan sebuah mobil mewah berwarna hitam. Mobil yang sama dengan yang kulihat tadi pagi.

"Berhenti di sini saja, Pak," bisikku pada sopir taksi.

Aku memba yar ongkos dengan tangan gemetar, lalu menuju trotoar. Hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Dari sana, aku melihat Mas Arya turun dari motor, lalu dengan sigap ia mengganti kemeja dengan jas yang sudah tergantung rapi di dalam mobil itu. Ia tampak begitu berwibawa.

Lalu, seorang wanita turun dari kursi kemudi. Wanita yang sama. Anggun, cantik, dan terlihat sangat berkelas.

"Mama! Ini buat Mama!" Suara Alina melengking riang.

Napasku tercekat. Panggilan itu menghan tam ulu ha tiku. Mama? A nak yang kulahirkan dengan taruhan nya wa, a nak yang kubesarkan dengan peluh keringat hasil ju alan kue, kini memanggil wanita lain dengan sebutan Mama?

Aku melihat putriku berlari, memberikan tumpukan bunga origami yang ia buat dengan sangat fokus sore tadi. Bunga yang dilarang keras untuk kusen tuh.

"Ya ampun, cantik sekali bunganya. Alina yang buat sendiri?" tanya wanita itu dengan suara yang sangat lembut.

"Iya, Ma! Spesial buat Mama. Biar Mama senang," sahut Alina sambil meme luk pinggang wanita itu.

Aku menekan da daku yang terasa makin sesak. Rupanya ini alasan kenapa dia tidak mau aku ada di ka marnya saat dia membuat hadiah itu. Ternyata, ada orang lain yang lebih berhar ga dariku sekarang.

"Aku senang deh, punya Mama yang cantik begini. Aku tidak akan malu lagi kalau Mama yang jemput ke sekolah," lanjut Alina, suaranya terdengar sangat bangga.

Jan tungku serasa dire mas kuat oleh ta ngan tak kasat ma ta. Selama ini, aku berjuang, capek, berpeluh demi dia, tetapi ternyata, aku malah membuatnya malu?

"Mama juga senang sekali punya a nak sepintar kamu, Sayang," ucap wanita itu sambil membe lai rambut Alina.

Gerakannya begitu lembut. Ia kemudian mendongak, dan tanpa sengaja pandangan kami bertemu.

Wanita itu tidak terkejut. Ia tidak panik melihatku di sana. Ia justru menatapku dengan sorot ma ta yang tenang, hampir seperti rasa kasihan, sebelum akhirnya kembali melem parkan senyum manis pada Alina.

"Ayah juga senang banget, 'kan, kalau kita sama-sama begini?" Alina menatap Mas Arya dengan ma ta berbinar, menunggu jawaban yang sangat ia harapkan.

Aku menahan napas, menunggu apa yang akan keluar dari mulut suamiku.

Mas Arya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tertawa pelan, lalu melangkah mendekat dan mengelus ubun-ubun wanita itu. Begitu alami. Cukup untuk membuatku paham, ia lebih bahagia di sana.

Aku menelan pahit itu tanpa suara, lalu berbalik. Langkah ini berat, tetapi aku tidak berani menoleh. Sekali saja melihat mereka lagi, mungkin aku benar-benar akan run tuh.

Pandanganku mengabur. Entah karena air ma ta yang akhirnya ja tuh tanpa izin atau karena dunia memang sedang berputar terlalu cepat. Tawa mereka masih terdengar di belakang. Pelan, tetapi cukup untuk mengoyak.

Di bawah lampu jalan, aku berhenti. Ta ngan ini menekan da da, mencoba menahan sesuatu yang seperti ingin pe cah dari dalam. Rasanya bukan sekadar sesak. Seperti ada yang mencabut jan tungku perlahan, tetapi membiarkanku tetap hidup untuk merasakannya.

Ta nganku gemetar. Untuk pertama kali, aku benar-benar merasa sendiri.

Selama ini aku bertahan demi mereka. Namun, malam ini aku sadar. Mungkin hanya aku yang merasa memiliki.

Aku tidak akan memohon. Jika aku harus menghilang, aku akan pergi dengan caraku sendiri. Saat hari itu tiba, aku ingin melihat, siapa yang benar-benar tidak siap kehilangan.

Judul : Berlian yang Kalian Abaikan
Penulis : BulanSabit LTF SKMM
di KBM App

Bab_8Rayan memban ting pin tu mobilnya dengan ka sar setibanya di halaman ru mah. Pikirannya masih dipenuhi bayangan wa ...
29/04/2026

Bab_8

Rayan memban ting pin tu mobilnya dengan ka sar setibanya di halaman ru mah. Pikirannya masih dipenuhi bayangan wa jah Rena. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, mengabaikan Ratna yang masih berdiri di ruang tamu dengan waj ah cemberut dan mulut yang tak henti-hentinya mem aki kes-ialan hari ini.

"Puas, Pah? Gara-gara perempuan itu, kita jadi tontonan orang rum ah sak it!" seru Ratna ke tus.

Rayan tidak menjawab. Ia meraba saku jasnya, lalu saku celananya. Kosong. “Si al, ponselku tertinggal di nakas kamar rawat,” gumam Rayan. Ia harus segera mengambilnya karena ada data proyek penting yang akan dibahas besok pagi.

Tanpa mempedulikan ocehan Ratna yang semakin meninggi, Rayan berbalik arah. Ia kembali masuk ke mo bil dan memacu kendaraannya membe lah jalanan malam menuju rum ah sa kit.

Hatinya merasa tidak tenang, entah kenapa seperti merasa akan terjadi sesuatu. sebuah rasa geli sah menggelayuti da danya.

Sementara itu, di dalam ka mar rawat, suasana begitu memu akkan. Rena menatap dengan mata yang memerah, menyaksikan suaminya sendiri sedang bercu mbu dengan wanita lain.

Tangannya yang tertan cap jar um infus gem etar hebat. Ia ingin berteriak, tapi suaranya seolah tersangk*t di tenggorokan.

Cklek.

Pin tu ka mar terbuka dengan sen takan keras. Rayan berdiri di sana. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan menjij ikkan di depannya.

Aris kaget dan langsung melepaskan pelukannya dari Dina, sementara Dina hanya merapikan rambutnya dengan santai tanpa rasa malu sedikit pun.

"Aris! Apa-apaan ini?!" suara Rayan mengg elegar, membuat Aris terse ntak mundur hingga menabrak kursi plastik.
"P-pah ... ini tidak seperti yang Papa lihat..." gagap Aris, wa jahnya pucat pasi.

Rayan melangkah maju dengan langkah lebar.

Bugh!

Sebuah puk ulan men tah mendarat telak di ra hang Aris hingga pria itu tersungkur ke lantai.

"Bina tang kamu, Aris! Istrimu sedang berta ruh nya wa, dan kamu membawa pelacur ini ke ka mar rawatnya?!" teri ak Rayan dengan na pas berburu.

"Jaga mulut Papa ya! Dina bukan pe lacur!" bela Aris sambil memegangi ra hangnya yang berdenyut sa kit.

Di atas ranj ang, Rena akhirnya mengeluarkan suara. “Cukup …” bisiknya parau. Semua mata tertuju padanya. Rena mencoba duduk meski terasa berputar. Udara matanya sudah mengering, digantikan oleh yang dingin dan kosong.

"Mas Aris ... cera-ikan aku," ucap Rena pelan namun tegas.

Aris tertawa si nis sambil berdiri sambil mengusap dar ah di sudut b ibirnya. "Oh, kamu minta cer-ai? Bagus! Memang itu yang aku tunggu-tunggu dari dulu. Kamu pikir aku tahan hidup dengan wanita kampung, ku sam, dan membo sankan sepertimu?"

"Aris, diam!" ben tak Rayan, namun Aris sudah kehilangan akal sehatnya.
Aris menatap Rena dengan penuh kebe ncian.

“Mas Aris sudah tak memiliki rasa terhadap wanita kampung itu, om. Mas Aris hanya mencintai ku wanita baik-baik, tidak sepertinya,” ucap Dina dengan santanya tanpa rasa ta k*t dan sopan sedikitpun terhadap Rayan.

Rayan menatap taj am wanita tersebut. Raha ngnya meng eras. Tangannya menge pal ku at. “Lihat dirimu, tidak ada wanita baik-baik mau dengan suami orang! Berpenampilan seperti jal ang mur ahan. Murah sekali seleramu, Ris. Papa gak habis pikir dimana ot akmu berada. Mempunyai istri yang taat, malah milih pela-cur!” Sar kas Rayan menatap jij ik wanita yang ada dihadapannya.

“Cukup, pah. Dia pilihanku. Aku mencintainya. Dan aku akan lebih memlilih Dina dari pada wanita ku mel ini,’ jelas Aris menatap tak s**a ke ara Rena dengan pandangan jij ik.

Karena tidak mau berlama-lama di sana, Aris pun mengucapkan kata Tal-ak tepat di hadapan Rena yang terb aring lemah yang sedang menatapnya ta jam.

"Rena binti Ahmad, hari ini, di depan Papa dan kekasihku, aku talak kamu! Aku ce rai kamu! Ambil semua barang busukmu dari rum ahku dan jangan pernah in jakkan kakimu di sana lagi!"

Dina tersenyum puas, ia mendekati Rena dan membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar semua orang. "Dengar itu, sam pah? Kamu sudah dibuang. Sekarang sadar diri, kecantikanmu tidak akan pernah bisa menandingi kuku kakiku sekalipun. Kamu itu cuma ba bu yang kebetulan punya surat nikah."

"Ayo, Say ang, kita pergi. Tempat ini bau kemis kinan," ajak Dina sambil menarik lengan Aris.

Aris melu dahi lantai di samping kasur Rena sebelum melangkah keluar dengan angkuh. Rayan hendak mengejar mereka, namun suara isakan lirih Rena menghentikan langkahnya.

Rayan berbalik. Ia melihat Rena yang rapuh, mencoba mencabut paksa jarum infus di tangannya hingga darah segar merembes keluar.

"Rena, jangan!" Rayan segera mendekat dan menahan tangan Rena. Ia mengambil kapas dan menekan luka itu dengan lembut.

“Tenanglah, Papa ada di sini.”
Rena menatap Rayan. Di mata pria berusia 40 tahun itu, ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar rasa kasihan seorang mertua pada menantunya, tapi ada kilatan perlindungan yang sangat dalam, bahkan mungkin ... kekaguman atas ketegaran Rena. Rayan merasakan dadanya bergemuruh saat menyentuh kulit tangan Rena yang dingin.

Sebuah perasaan tak wajar yang seharusnya tidak dimilikinya sendiri.

"Kenapa, Pah? Kenapa mereka begitu jahat padaku?" rintih Rena, tubuhnya ambruk ke dada Rayan.

Rayan memeluknya erat, mengusap
punggung Rena yang bergetar hebat.

"Maafkan Papa, Rena. Mereka tidak pantas untukmu. Kamu wanita yang luar biasa."
Rena melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap wajah tampan Rayan yang masih terlihat sangat segar dan berwibawa meski sudah berumur.

Ingatannya kembali pada Ratna, dikhianati Aris, dan hinaan Dina. Dendam mulai tumbuh di hatinya, membakar habis sisa-sisa harga diri yang tadinya hancur.

"Pah ..." suara Rena tiba-tiba berubah dingin dan tajam. "Setelah aku resmi bercerai dengan anakmu, aku tidak mau pergi dari keluarga ini sebagai pecundang."

Rayan mengernyitkan dahi. “Maksudmu?”
Rena memegang tangan Rayan dengan erat, menatap tepat ke manik mata pria itu. "Nikahi aku, Pah. Jadikan aku istrimu. Aku ingin kembali ke ru mah itu bukan sebagai ba bu atau menantu yang tertin das, tapi sebagai nyonya besar. Aku akan memba las setiap tetes air mata dan penderit aan yang mereka berikan padaku. Aku ingin mereka sujud di kakiku."

Rayan terletak. Jant ungnya berdegup kenc ang. Permintaan itu gi la, tapi entah kenapa, sebagian alarm berteriak untuk mengatakan 'ya'.

"Rena ... kamu sadar apa yang kamu katakan?" bisik Rayan dengan suara serak.

"Aku sangat sadar, Pah. Hanya Papa yang bisa membantuku menghan curkan mereka. Tolong, Pah ... bantu aku membalas den dam ini," pinta Rena dengan mata yang kini menyala penuh api kebe ncian.

Rayan terdiam cukup lama. Rua ngan itu seolah kehilangan suara, hanya detak jan tung mereka yang saling bersahutan dalam ketegangan.

Tatapan Rena tak goyah, penuh lu ka yang telah berubah menjadi ambisi. Dalam benaknya, bayangan masa lalu berputar, penghin aan, tangisan diam-diam, dan rasa tak berdaya yang kini menjelma menjadi tekad.

Rayan menelan lud ah. Ia tahu, keputusan ini akan mengubah segalanya.

“Kalau aku setuju…” suara Rayan rendah, “kamu siap menanggung semuanya?”

Judul : MENJADI MADU UNTUK MAMA MERTUA
Penulis : Lyra Aulia
Hanya di KBM-APP

Bab 7Kupakai helm dan sweater. Kukeluarkan motor diam-diam. Mas Bayu dan ibu tidak menyadari kepergianku.Malam ini aku m...
29/04/2026

Bab 7

Kupakai helm dan sweater. Kukeluarkan motor diam-diam. Mas Bayu dan ibu tidak menyadari kepergianku.

Malam ini aku menyusuri jalan raya seorang diri. Aku menangis dalam diam. Ha tiku sangat pe rih. Mereka keterlaluan.

Sepanjang jalan air ma taku tidak berhenti mengalir. Aku ingin berteriak untuk melepaskan semua lu ka-lara ini. Tapi aku tak*t, tak*t orang-orang mengira aku gi la.

Saat ini tujuan utamaku butik Namira, butik ternama di kota ini. Aku akan beli ba ju kopri dan sepatu di sana. Kalau perlu tas branded sekalian. Setelah itu baru aku akan makan di restoran ternama, lalu aku akan bawa pulang makanan dalam jumlah banyak. Akan aku buat mas Bayu dan ibu ternganga.

Si alnya, sebelum tiba di butik Namira motorku mogok. Ya Tuhan, aku baru ingat sudah berbulan-bulan motor ini tidak di-service.

Aku hanya bisa gi git ja ri. Mana ada bengkel buka malam-malam begini. Akun memutuskan untuk memperbaikinya sendiri. Mulai dari stater manual, hingga mengecek bagian sana-sini, namun tetap saja motor butut ini tidak hidup. Apes banget.

“Ada yang bisa dibantu?”

Suara seseorang mengagetkanku.

Aku langsung menoleh. Seketika aku tekesiap.

Dan pria di depanku tak kalah terkesiap denganku.

Kami sama-sama tertegun cukup lama.

“Haldi?” gumamku.

“Haha … haha.” Pria itu tertawa renyah. “Akhirnya kita ketemu lagi Nila, setelah ri buan purnama,” tambahnya.

Haldi, dia teman kuliahku dulu. Kami sempat punya hubungan spesial. Sayangnya dia harus berhenti kuliah dan memilih bekerja di luar negeri.

“Aku enggak nyangka kamu masih ingat sama aku, Nil,” selorohnya.

“Mana aku lupa sama kamu. Si ketua BEM yang kabur keluar negeri,” balasku sambil melipat kedu a ta ngan di bawah da da.

“Bahaha … haha.” Tawa Haldi pe cah.

Kuperhatikan pria itu. Tidak ada yang berubah darinya. Wa jah tampannya masih mempesona. Gayanya pun masih sama dengan Haldi yang dulu. Ram butnya yang sedikit ikal dikuncir, kaos oblongnya, gayanya memakai celana jeans compang-camping di bagian lu tut, dan bahkan wangi parfumnya pun masih sama.

“Kamu enggak berubah Nil. Masih sama seperti dulu. Tetap cantik,” pujinya. Ma ta elangnya tidak berkedip menatapku. Dasar Haldi, dia memang selalu begitu, s**a memujiku setinggi langit.

“Sayangnya, aku tidak butuh pujian. Aku lagi butuh bantuan. Motorku mogok,” ketusku.

Sebenarnya aku masih marah pada Haldi. Dia dulu meninggalkanku begitu saja di saat aku sayang-sayangnya.

“Duh, mana ada bengkel buka malam-malam begini.” Haldi garuk-garuk ke pala.

“Please bantuin ya, aku enggak tahu harus minta bantuan ke siapa lagi. Mana jalan ini sepi, belum lagi ponselku ketinggalan.” Aku mengatupkan kedu a ta nganku. Memohon bantuannya.

Haldi menarik napas berat. “Ok, aku coba cek dulu,” balasnya kemudian.

Haldi mengecek motorku. Terakhir ia menstater manual berkali-kali, namun sayangnya motor itu tetap tidak mau hidup.

“Ini harus dibawa ke bengkel, Nil. Aku kurang paham soal motor.” Haldi menyerah.

“Yah,” seruku.

“Kamu mau ke mana sih malam-malam begini?” tanyanya.

“Aku mau ke butik Namira, terus rencananya mau cari makan,” jawabku.

“Kalau gitu aku antar. Untuk motormu aku titipkan ke rumah teman di ujung sana. Biar besok aku yang urus,” ucapnya dengan santai.

Aku tertegun sesaat.

“Lho kok malah bengong.” Suara Haldi mengagetkanku.

“Aku harus ijin suamiku dulu, tapi ponselku ketinggalan,” keluhku.

“Ya ampun, aku lupa kalau kamu sudah menikah.” Pria tampan itu menepuk ji datnya.

Aku melengos.

“Ya sudahlah ayo kalau memang niat mau antar. Ini udah malam,” ucapku.

“Yakin kamu? Suamimu enggak marah nanti?” Haldi ragu.

“Itu urusan belakang. Aku yang tanggung,” balasku.

“Ok, tunggu sebentar ya. Aku titipkan sepedamu dulu,” ucapnya.

Aku mengangguk.

Haldi menuntun sepedaku hingga ke ujung sana, dan aku menunggunya di sini.

Kulihat motor Haldi, motornya butut, bahkan ma ling pun tidak akan mau mencu rinya. Separah itu kah kehidupan Haldi? Bukankah dia dulu kerja di luar negeri?

“Bengong lagi, nanti kesambet lho,” ucap Haldi. Rupanya ia sudah datang dan aku tidak menyadarinya.

“Ayuk, naik. Nanti keburu tutup butiknya,” ajaknya. Haldi sudah siap memboncengku.

Aku pun naik ke atas sepeda butut itu. Sepeda yang jauh lebih butut dari sepedaku.

Sepanjang perjalanan pikiranku ke mana-mana. Aku tidak bisa membayangkan kemarahan mas Bayu kalau dia tahu aku berboncengan dengan pria lain.

“Kamu tunggu di luar saja ya,” pintaku.

Haldi memakai kaos oblong yang sudah usang, belum celana jeans-nya robek di bagian lu tut. Aku malu masuk butik bareng dia. Kalau dipikir-pikir aku heran sendiri kenapa aku bisa punya hubungan spesial dengan pria macam dia.

“Aku mau masuk juga dong,” rajuknya.

Aku menghela napas. Pasrah pada akhirnya.

Haldi menemaniku masuk ke dalam butik Namira. Jujur aku risih dengan penampilannya. Kenapa sih dia belum berubah. Tampan tapi sedikit awut-awutan.

Aku memilih ba ju kopri yang sesuai dengan ukuranku.

“Jangan salah pilih ukuran, Nila. Size L. Ukuran sepatumu ti ga pu luh de lapan,” ucapnya.

Aku tertegun. Dia masih ingat ukuran sepatuku. Mas Bayu mana tahu semua itu.

Kutatap Haldi, dia tersenyum simpul.

Aku tidak mau terbawa perasaan. Gegas kuraih ba ju kopri ukuran L. Setelah itu kami pindah ke tempat sepatu. Aku meraih sebuah sepatu dengan ukuran ti ga pu luh de lapan. Sebuah sepatu dengan merek ternama. Tak lupa aku juga membeli sebuah tas branded, kebetulan tasku pun sudah usang.

Haldi selalu mengekor di belakangku. Seperti bodyguard saja.

“Berapa semua, Mbak?” tanyaku pada penjaga kasir.

“Li ma ju ta tu juh ra tus, Ibu,” balas kasir itu.

Kali ini aku sengaja menghambur-hamburkan u ang untuk membeli barang-barang yang sedikit mahal. Agar mas Bayu tahu kalau aku bisa tanpa bantuan darinya.

Aku sibuk merogoh dompet dari dalam sling bag.

“Pakai ini saja,” ucap Haldi. Ia menyorkan sebuah black card pada kasir.

Aku pun ternganga. Bagaimana bisa seorang Haldi yang awut-awutan plus bersepeda motor butut punya black card?

“Ah jangan. Aku bisa ba yar sendiri,” tolakku.

“Kamu selalu saja begitu, Nila. Selalu menolak,” ucapnya.

“Ini terlalu banyak,” balasku.

“Tidak apa, yang penting kamu bahagia,” ujarnya dengan tersenyum lebar.

Ya Tuhan, baik sekali dia. Tadi suamiku menolak permintaanku untuk be li sepatu dan seragam kopri, dan sekarang malah ada pria lain yang meratukanku.

Aku terkesima. Ma taku tak berkedip menatap Haldi.

Semua belanjaanku Haldi yang ba yar. Aku jadi tidak enak ha ti karena membeli barang yang lumayan mahal.

“Mau makan di mana?” tanya Haldi saat kami baru saja meninggalkan butik Namira.

“Di mana saja,” balasku.

Motor butut itu terus melaju membelah jalan raya yang penuh sesak.

Tiba-tiba motor butut itu berhenti di depan sebuah restoran ternama. Aku pun kembali dibuat kaget.

“Yakin kita mau makan di sini?” tanyaku.

“Yakin lah, masa enggak,” jawab Haldi dengan santainya. “Ayo masuk,” lanjutnya.

Kami pun masuk. Haldi tidak canggung dengan penampilannya. Sejak dulu dia memang selalu cuek.

Haldi memesan banyak menu makanan. Rupanya ia masih ingat betul makanan kes**aanku.

“Semua ini makanan kes**aanmu dulu, tapi maaf kalau sekarang makanan kes**aanmu sudah berubah,” ucapnya.

Aku tersenyum simpul.

Kami makan bersama. Kulihat Haldi sesekali mencu ri pandang ke arahku.

“Kenapa kamu belum menikah?” tanyaku.

“Ya, mau menikah gimana, calonnya sudah dicu ri orang,” jawabnya.

‘Uhuk-uhuk.’ Aku langsung terbatuk.

“Hati-hati kalau makan.” Dengan cekatan ia mengambilkan air minum untukku.

“Terimakasih,” ucapku.

Aku pun tidak berani lagi menyinggung hal pribadi. Aku memilih diam dan menikmati menu-menu lezat itu.

“Kalau mau bungkus makanan untuk suamimu dan orang rumah silahkan,” ujarnya.

“Serius?” tanyaku.

Haldi mengangguk sambil mengunyah makanannya.

Aku pun memesan sejumlah makanan untuk dibawa pulang. Makanan ini bukan untuk ibu dan mas Bayu tapi untuk diriku sendiri. Akan aku pamerkan semua ini pada mereka.

Haldi membayar makan malam kami dengan jumlah yang lumayan fantastis. Heran, dari mana dia dapat u ang.

“Aku antar pulang sekarang ya, tak*t kemaleman,” ucapnya.

Aku mengangguk kecil.

“Kira-kira suamimu punya ce lurit enggak di rumah?” tanya Haldi di tengah jalan.

“Memangnya kenapa?” tanyaku balik.

“Ya aku tak*t lah, tak*t diba cok,” selorohnya.

“Haha … haha.” Kami tertawa bersama.

Jujur aku deg-degan. Aku tidak tahu bagaimana reaksi mas Bayu jika tahu aku diantar pulang oleh Haldi.

“Sampai di sini saja ya. Rumahku sudah dekat. Tuh yang paling ujung.” Aku meminta diturunkan di jalan.

“Aku tidak mau meninggalkan wanita sendirian di tengah malam begini. Aku antar kamu sampai di depan rumah. Aku harus pastikan kami pulang dalam keadaan selamat,” tolaknya dengan panjang lebar.

Aku mulai gelisah.

“Kenapa? Kamu tak*t?” tanyanya.

“Iya, aku tak*t suamiku salah paham,” jelasku.

“Tenang saja aku yang akan jelaskan semuanya,” ucap Haldi santai.

Motor butut itu berhenti tepat di depan gerbang rumahku. Aku pun turun dan mas Bayu langsung membuka gebang. Tatapannya sa ngar, seperti hari mau yang siap mener kam.

“Mas--.”

“Oh, jadi seperti ini kelakuanmu selama ini,” desisnya pelan tapi penuh dengan pene kanan.

Aku gemetar.

Judul : Dicerai karena Guru PPPK Paruh Waktu
Penulis: Faradisya
Platform: Kbmapp

Address

Pontianak
Pontianak
79842

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bulan Novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category