03/05/2026
"Nih, ambil! Udah jadi perempuan ma tre kamu?"
Dua lembar u ang merah melayang, mendarat tepat di p!piku sebelum akhirnya ja tuh ke lantai. Ujung kertasnya yang ta jam sempat menggo res ku lit. Pe rihnya tak seberapa, tetapi panasnya menjalar hingga ke da da.
Aku terpaku. Mataku terpejam rapat, menahan genangan panas yang siap tumpah kapan saja.
"Baru sebulan aku jadi manajer, kamu tahunya minta du it, du it, du it!" sambung Mas Arya, suamiku, dengan nada lebih tinggi.
Aku membuka mata. Di depanku, dia berdiri dengan tangan berkacak ping gang. Seringai di b! birnya terasa begitu asing. Selama bertahun-tahun menikah, baru kali ini aku melihat tatapan mere mehkan itu.
Aku mencoba mengatur na pas, menelan gumpalan pahit yang menyumbat teng gorokan.
"Ini pertama kali aku minta u ang buat be li baju lebaran, Mas," lirihku, "Tahun-tahun kemarin nggak pernah karena aku tahu kondisi kita. Apa meminta hakku sekali saja itu salah?"
Ga jian pertamanya sebagai manajer bulan lalu bahkan tidak mampir ke ta nganku. Dia bilang habis untuk menutup u tang di kantor dan keperluan ru mah yang entah apa sebab dapur pun lebih sering aku yang mengusahakan isinya.
Mas Arya tertawa pendek, tawa yang kering. "Jelas salah! Sekarang aku jadi tahu wajah aslimu yang sebenarnya."
"Wajah asli apa yang kamu maksud?"
"Dulu kamu pura-pura sederhana, seolah menerima apa adanya. Begitu posisiku tinggi dan ga jiku besar, kamu mulai buka kartu. Kamu pikir aku mesin u ang?"
Aku menatapnya tidak percaya. "Dulu dan sekarang jelas beda, Mas. Dulu hidup kita kekurangan. Bahkan, untuk makan pun kita harus bagi dua. Sekarang, setelah kariermu naik, apa salah kalau aku ingin merasakan sedikit untuk naf kahku?"
Mas Arya hendak menyahut, tetapi suara kecil dari kamar memo tong kete gangan di antara kami.
"Ayah, ayolah cepat! Alina sudah nggak sabar, nih."
Alina muncul dengan seragam sekolah yang rapi. Wajahnya cerah, sangat kontras dengan mendung yang memenuhi ruang tamu ini.
Biasanya, dia paling malas berangkat sekolah. Dia sering menangis karena die jek teman-temannya sebab ibunya ini hanya seorang penju al kue keliling yang mengantar dagangan dengan motor tua. Namun, pagi ini dia terlihat begitu bersemangat.
Mas Arya mengalihkan pandangan padaku, mengabaikan Alina sejenak. "Oh, jadi ini alasan kamu tidak mau ju alan kue lagi?"
Aku terdiam, menatap jemariku yang ka sar.
Bahkan, bekas kerja keras itu masih terlihat jelas. Namun, baru sebulan dia naik jabatan,
semua pengorbananku seolah tak pernah ada.
"Karena aku sudah punya pengha silan besar, jadi kamu merasa tidak perlu kerja lagi?" tanyanya menyudutkan.
"Wajar 'kan, Mas? Dulu aku bekerja pagi bu ta, membuat kue dan keliling warung demi membia yai kuliahmu. Aku ingin fokus mengurus rumah sekarang. Aku ingin mengurus kamu dan Alina dengan benar."
Wajah Mas Arya berubah merah padam. Ra hangnya menge ras. Aku tahu, kalimatku barusan baru saja menyen tuh har ga dirinya yang setinggi langit itu.
"Kamu mulai mengungkit-ungkit pengorbananmu?" Suaranya meninggi, satu oktav lebih ta jam.
Aku langsung menunduk. Seharusnya dia yang merasa bersalah karena telah melem parkan u ang ke wajahku, tetapi justru aku yang merasa berdo sa. Aku tak*t sudah mengin jak har ga dirinya sebagai suami.
"Bukan begitu maksudku, Mas ...."
"Ayah, ayo! Cepetan nanti telat!" Alina merengek lagi, menarik ujung kemeja Mas Arya dengan tidak sabar.
Mas Arya tidak menjawabku. Dia langsung menyam bar tas kerja dan melangkah pergi tanpa pamit. Alina pun mengekor di belakang. Dia tampak begitu antusias sampai lupa menci um tanganku, kebiasaan yang tidak pernah dia lewatkan sebelumnya.
Sayup-sayup, suara Alina terdengar dari arah teras sebelum motor Vixion Mas Arya menjauh.
"Rindu banget, Yah! Rasanya ingin tinggal seru mah saja."
Jan tungku berdegup kencang. Kalimat itu menghantam kepalaku. Seru mah dengan siapa? Siapa yang putriku rindukan sampai seperti itu?
Kaki ini masih tertancap di tengah ruang tamu sempit ketika suara motor Mas Arya kian menjauh, menyisakan dengung yang perlahan hilang. Mendadak ruangan terasa pengap, seolah-olah dinding-dindingnya menyempit dan menekan da daku.
Tanpa kusadari, air ma ta yang sejak tadi k*tahan akhirnya ja tuh juga. Hangatnya meluncur di pi pi yang masih perih.
Ma taku kembali tertuju pada dua lembar u ang merah di lantai. Dengan tangan gemetar, aku memungutnya. Segumpal sesak kembali menghimpit da da saat mengingat bagaimana u ang itu menam par w ajahku tadi.
Berjalan gontai menuju ka mar, aku meletakkan u ang itu di atas nakas, tepat di samping jam tangan koleksi Mas Arya.
"Kalau har ga diriku harus ja tuh demi dua ratus r ibu, biar u ang ini tetap di sini, Mas," bisikku pada ruang kosong.
Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya detak jam dinding yang terdengar nyaring, seperti sedang mengejek kebo dohanku yang masih berharap didengar.
Pikiranku tiba-tiba melayang ke Alina. Ada sesuatu yang berubah darinya.
Dulu, setiap kali suara kami meninggi, dia akan berlari meme luk ka kiku. Ta ngannya gemetar, wa jahnya basah oleh tangis. Namun, pagi ini ... dia bahkan tidak menoleh padaku. Tidak melihatku. Seolah-olah aku bukan lagi pusat dunianya.
Aku mengusap wa jah ka sar ini dengan punggung tang an. Beranjak ke dapur, aku mencoba mengerjakan apa saja agar pikiranku tidak terus berputar. Baru saat membuka lemari bumbu, ternyata garam habis.
Dengan langkah lunglai, aku mengambil dom pet kecil dan berjalan menuju warung di depan komplek.
Begitu tiba di tikungan jalan, langkahku terhenti. Di sana, di dekat gerbang kompleks yang agak sepi, aku melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir. Itu mobil kantor Mas Arya, yang sudah beberapa hari ini tidak pernah lagi dibawanya ke rumah.
Ma taku menyipit. Mas Arya berdiri di samping mobil itu.
Tunggu! Dia tidak lagi memakai kemeja biru yang tadi dia kenakan saat keluar rumah. Dia sekarang memakai setelan jas ma hal yang sangat pas di tu buhnya. Dia terlihat begitu ga gah, berwibawa, dan seperti orang yang berbeda.
Lalu, pintu kemudi terbuka.
Seorang wanita turun dari sana. Rambut terurai indah, pa kaian modis dengan sepatu hak tinggi berkilau. Senyumnya manis mengarah ke Mas Arya.
Aku mematung di balik tembok pagar ru mah orang. Na pasku tercekat saat Mas Arya membalas senyuman itu hangat. Senyuman yang sudah beberapa minggu terakhir tidak pernah dia berikan lagi untukku.
Alina langsung berlari dan menghambur ke pe lukan wanita itu, seolah-olah melimpahkan kerinduan yang tumpah ruah.
Tang anku refleks mere mas sisi daster lusuh yang kupa kai. Di dalam da da, aku merasakan denyut nye ri yang luar biasa menjalar ke seluruh saraf dan bertumpuk di ulu hati.
Alina meme luknya seperti dulu ia meme lukku. Erat, hangat, dan tanpa ragu. Namun, bukan hanya itu yang membuatku benar-benar han cur, melainkan sikap Mas Arya yang hanya berdiri diam dan tersenyum, seakan-akan itu hal yang biasa.
Kalau Alina meme luk orang lain seperti ibunya dan Mas Arya membiarkan. Lalu, mereka anggap aku ini apa?
Judul : Berlian Yang Kalian Abaikan
Penulis : BulanSabit LTF SKMM
di KBM App