Mabes Timur

Mabes Timur KPRM crew lebih berani

26/02/2023

NODA DI BALIK SERAGAM PUTIH ABU-ABU

“Hargai tubuh saya 20 juta, Pak. Saya mohon ....”

Hujan sudah membasahi tubuhnya, memperlihatkan setiap lekukan yang tercetak sangat jelas di balik dress putih berbahan tipis. Dia memeluk tubuh sendiri, bibirnya bergetar, menggigil karena kedinginan.

Sementara di luar sana, angin bertiup semakin kencang. Beberapa kali kilat menyambar, diikuti gemuruh petir. Kondisi ini membuat tangan gadis itu bergerak menutup wajah. Dia tampak ketakutan.

“Masuk!” perintahku.

Dia mendahuluiku, lalu kututup pintu rapat-rapat. Dia memandang dengan tatapan iba seakan-akan memohon agar aku mengabulkan permintaannya.

“Pak, hanya 20 juta. Saya yakin Bapak memilikinya.” Dia mengiba lagi. Sama seperti permohonannya di luar tadi.

“Bukan jumlahnya yang saya pertimbangkan, tetapi-”

Ucapanku terpotong oleh keterkejutan karena gadis ini yang tiba-tiba memelukku. Kaos yang kukenakan jadinya ikut basah. Dingin. Dia mulai menangis.

“Saya mohon. Saya tidak tau lagi harus minta tolong sama siapa. Saya tidak memiliki saudara. Bapak dan ibu saya orang miskin. Tolonglah, Pak. Ibu saya harus segera dioperasi.”

“Lepaskan dulu pelukanmu.”

Mendengar perintahku, gadis ini mengurai pelukan, berdiri tertegun dengan posisi wajah tengadah menghadapku. Tatapannya masih sama, mengiba ....

Mendadak, dia memejamkan mata, bibir sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Pipinya yang putih masih basah oleh air hujan. Sementara rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Aku menatap keseluruhan tubuhnya yang basah. Lalu ....

** SENSOR **

Nurani seperti mati, melupakan sejenak siapa gadis ini. Semestinya, aku cukup memberinya uang, lalu menyuruh pergi. Tetapi malahan rasa sayang menahannya untuk tetap tinggal.

Bukan salahku. Bukan. Aku hanya berniat memenuhi permintaannya, menukar kep*ra wanan dengan sejumlah uang yang dia pinta.


Dia duduk di tepi ranjang. Baju yang kuberikan terlihat kedodoran seakan-akan menelan tubuhnya yang mungil. Aku mengulurkan sebuah amlop. Dia menerimanya.

“Terima kasih, Pak.”

Terima kasih katanya? Apakah dia tidak sadar telah menyerahkan kes*ciannya pada laki-laki br*ngsek ini? Laki-laki yang seharusnya menjadi tempat berlindung.

Tiba-tiba aku merasa seperti predator. Dua puluh juta adalah harga yang sangat murah, dan dia masih berterima kasih padaku.

“Bersiaplah. Saya akan mengantarmu pulang.”
Aku berbalik untuk menyiapkan diri. Meraih kunci mobil, lalu ke garasi. Aku mengantarnya pulang.

Gadis yang mengenakan kembali pakaiannya yang basah itu berjalan tertatih-tatih keluar dari rumahku. Aku memapahnya hingga ke dalam mobil. Dia terus tertunduk, duduk di sampingku tanpa berani mengangkat wajah.

“Jangan ceritakan pada siapapun tentang kejadian malam ini. Saya tidak mau karier dan masa depan saya hancur,” ucapku mengingatkannya.

Dia mengangguk sebagai jawaban. Mobil melewati lampu merah, menuju arah rumah sakit.

“Saya pulang ke rumah saja, Pak. Saya harus mengambil pakaian ganti saya dan ibu saya,” ucapnya.

Aku mengubah arah perjalanan, mengantarnya pulang. Tak lama kemudian, rumah kecil dengan penerangan seadanya tampak di depan mata. Aku menelisik ke semua bagian rumah dari dalam mobil pada rumah yang halamannya sangat sempit. Gadis ini tinggal di sini rupanya. Pantas saja, uang 20 juta besar nilainya untuk dia.

“Ini rumahmu?” tanyaku memastikan.
Dia mengangguk. Merasa kasihan, akupun menarik dompet dan mengeluarkan seluruh isinya.

“Ambil.”

“Tapi ...." Dia menggantung ucapan. Wajahnya berselimut ragu.

“Ambil.”

Tangannya terulur, terlihat sungkan menerima uang dariku.

“Uang yang tadi sudah cukup,” ucapnya lirih.

“Gunakan untuk melunasi SPP, dan sisanya untuk kebutuhanmu,” ucapku. “Ngomong-ngomong, kamu kelas berapa?”

“Kelas 11 IPS 2, Pak.”

Untuk selanjutnya, dia turun, lalu berlari kecil menerobos lebatnya hujan menuju rumahya.
Aku menginjak gas setelah itu. Tidak melihat lagi bagaimana rupa gadis itu. Ingin melupakan semua kejadian malam ini.

Semua yang baru saja terjadi seperti mimpi. Aku dilenakan oleh kecantikan gadis belia yang datang dengan iming-iming sebuah kehangatan.

Setelah ini, ingin rasanya menghapus jejak tentang dia, melupakan seolah tidak terjadi apa-apa, lalu hidup seperti sedia kala.

Tapi ... mana Mungkin?
. . . .

Hari ini, aku mendapat giliran
piket. Sudah semestinya berangkat lebih awal. Ada beberapa tugas yang harus kukerjakan, berjaga mencatat keterlambatan siswa serta mengamati keadaan lingkungan sekolah.

Aku sengaja berkeliling sekolah, berjalan melewati ruang UKS. Tak sengaja mendengar percakapan dua siswa yang berbincang sambil berjalan.

“Aura pingsan. Gue dengar dia sedang sakit.”

“Sudah tau sakit, pakai acara ikut olah raga segala. Aneh.”

“Namanya juga hobi main basket.”

“Mestinya istirahat dulu kalau sudah tau sakit. Padahal dia bisa main basket sampai puas di halaman rumahnya yang luas itu, kalau sudah sembuh nanti. Tau kan, dia dan gengnya sering menghabiskan waktu di rumahnya Aura.”

“Wajarlah. Mereka gengnya anak-anak pejabat dan orang kaya. Kita mah, lewat.”

“Sudahlah, itu urusan mereka."

Aku menghentikan langkah setelah sekilas mendengar percakapan dua siswi yang kebetulan sedang melintas. Sebagian besar kata-kata mereka tidak lantas kupercaya. Maka, aku pun mengeluarkan ponsel lalu mencari informasi tentang diri Aurora. Aurora yang akrab dipanggil Aura.

"Aurora Malika putri adalah putri pertama seorang pejabat yang kini tengah digadang-gadang menjadi satu-satunya calon gubernur di kota X."

Aurora anak seorang pejabat? Mana mungkin?
Rumah yang kudatangi semalam jauh dari kata mewah. Apakah Aura yang dimaksud dua siswa tadi berbeda dengan Aurora, gadis semalam?
Untuk menjawab pertanyaan itu, aku buru-buru mengubah arah perjalanan. Langkah kupercepat menuju UKS.

Ruang UKS disekat menjadi dua. Satu bagian untuk laki-laki dan bagian satunya lagi untuk siswa perempuan. Aku memasuki ruang bagian laki-laki yang kebetulan kosong. Dari sana aku mendengarkan percakapan mereka, Aurora dan teman-temannya. Mungkin mereka ini yang dimaksud dua siswa tadi sebagai geng yang melibatkan anak-anak pejabat dan orang kaya.

“Iphone 14 keluaran terbaru SAH menjadi milik lo, Ra, plus uang taruhan 25 juta, ditambah 20 juta uang dari Pak Alan.”

“Oke, deal ya, gue menang taruhan.”

“DEAL ....”

“Kamu tidak menyesal kan, Ra, sudah kehilangan kep*rawanan?”

“Dari geng kita, Auralah yang terakhir.”

“Dan kita akan merayakan kemenangan ini dengan clubbing malam nanti.”

“Yeey! Akhirnya ... Aura sukses menundukkan guru baru yang sok cool itu. Sok jual mahal. Ujung-ujungnya disuguhi gadis bening diembat juga.”

“Sok polos.”

“Sok elegan juga.”

“Taunya kayak kucing l*ar, ikan asing disosor juga.”

“Eh, gue bukan ikan asin, ya? Catet!”

“Sory, Ra, bukan elu maksud gue. Itu cuma istilah saja.”

"Euw, gucing garong. Arrrrr ... kucing l*arnya setampan Pak Alan mah, pasti banyak korbannya."

Mereka cekikikan. Sialan.

Aku berbalik. Untuk selanjutnya meninggalkan ruangan.

Oh, ternyata itu semua hanya jebakan. Kedatangan Aurora semalam adalah sebuah bentuk taruhan anak-anak itu.

Kasihan sekali aku, dikerjai murid sendiri sampai tak menyadarinya. Tapi ... bukankah dalam hal ini bukan aku yang dirugikan?

Aku laki-laki. Jejakku bisa terhapus dengan berpura-pura polos. Lain halnya dengan gadis itu. Dia, Aurora namanya tidak mungkin dia tidak mengetahui jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang fatal.

Bagaimana jika masa mendatang suaminya menuntut jawaban atas keperawanannya? Apakah dia akan jujur atas keisengannya saat muda?

Ah, sudahlah. Untuk apa memikirkan gadis itu? Toh, dia juga tidak mempermasalahkannya. Sekarang, yang jadi pertanyaannya adalah untuk apa mereka menjebakku? Tidak mungkin jika hanya sebuah keisengan belaka.

“Pak Alan!”

Langkah terhenti oleh sebuah panggilan. Seseorang berseragam batik tergopoh-gopoh menghampiriku.

“Ya, ada apa, Bu?”

“Pak Alan lagi kosong ‘kan? Bisa masuk ke kelas saya, Pak? Bapaknya anak-anak kecelakaan. Saya baru mendapat kabar. Ini rencananya mau langsung ke rumah sakit.”

“Oh, bisa, Bu. Bu Tati silakan urus suami Ibu, biar saja yang mengawasi anak-anak.”

“Terima kasih, Pak Alan. Tugas sudah ada di atas meja saya. Saya permisi dulu.”
Bel masuk langsung terdengar usai perbincangan singkat antara aku dengan salah satu guru di SMA ini. Artinya, tugas di jam terakhir telah menanti.


Kulangkahkan kaki memasuki ruang kelas yang menjadi tujuan. Akan ada kejutan yang terjadi sepertinya, karena ternyata kelas yang di amanahkan Bu Tati adalah kelas di mana Aurora dan geng-nya berada di dalamnya. Aku ingin tau, apa yang akan Aurora lakukan jika berhadapan denganku secara langsung? Setelah kejadian semalam, tidak mungkin dia pura-pura biasa saja.

Pertama kali yang kulakukan saat berada di belakang meja adalah mengamati satu persatu murid yang berjumlah puluhan orang. Mereka adalah wajah-wajah yang sangat kukenali meskipun tidak mengenal pasti nama-nama mereka. Beberapa di antara murid-murid itu adalah mereka yang menjadikan aku sebagai bahan taruhan.

Namun, keheranan segera mengalihkan perhatianku, tidak ada Aurora di antara mereka. Pandanganku terhenti pada bangku kosong yang letaknya ada di tengah-tengah.

“Aura masih di UKS, Pak. Masih sakit.” Seorang siswa berucap seakan-akan tau isi kepalaku.
Pelajaran pun dimulai. Aku memberikan tugas dengan mengabaikan ketidakhadiran Aurora.
Selama mengawasi mereka, rasanya perasaanku tidak tenang. Ingatanku masih lekat pada kejadian semalam.

“Permisi, Pak. Izin masuk," ucap seseorang di depan pintu.

Aurora!

Dia berjalan tertunduk menuju bangkunya. Teman-temannya langsung melontarkan pertanyaan tentang keadaannya yang sedang sakit, sambil berbisik-bisik. Lalu ketika aku berdeham, mereka buru-buru menghadap tugas mereka lagi.

Tak kulihat kecanggungan di wajah gadis yang semalam mengaku anak dari keluarga miskin. Tampak biasa saja. Bahkan dengan jelas memperlihatkan senyumnya saat menanggapi candaan teman sebangkunya.

Oke. Masalah selesai. Aurora mungkin akan menganggap peristiwa semalam adalah hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin begitu?

Lalu ... bagaimana dengan teman-temannya? Apakah mereka bisa dipercaya? Jangan-jangan, mereka akan berkhianat pada Aurora dan menceritakan semuanya pada orang lain. Maka sebelum hal itu terjadi, akupun akan membuat penegasan pada Aurora.
. . . .

Kutarik lengannya dan membawa ke sebuah lorong. Siang itu, usai jam pelajaran sekolah.

"Pak Alan!" Aura sangat terkejut.

"Ikuti saya dan jangan berteriak!" kecamku mengeratkan pegangan tangan. Kudorong tubuhnya hingga mencapai lorong yang sempit.

"Kamu bukan anak keluarga miskin, Aura. Katakan, di mana rumahmu yang sebenarnya?"

"S-saya tidak bilang begitu. S-saya ...."

Dia terbata-bata menjawabnya. Entah kesakitan atau ketakutan karena ketauan telah berbohong.

“Kamu menipu saya, Aura. Entah apa yang ada dalam otakmu. Saya tau, kamu melakukannya demi gengsi pada teman-temanmu. Demi gengsi kamu mempertaruhkan harga diri. Ternyata, tubuhmu hanya senilai dengan iPhone 14. Rendah sekali. Apa kamu tidak menyesalinya, Aura?”

"Bapak jangan lupa. Rahasia Bapak ada di tangan saya."

Wajahku rasanya seperti terbakar. Marah. Aku marah sekali. Baru kali ini diancam oleh perempuan yang notabenenya adalah seorang murid. Keterlaluan.

“Saya akan mencemarkan nama baik Bapak. Tolong lepaskan saya. Sopir sekaligus bodyguard Papi saya sudah menunggu di depan. Jangan sampai dia menemukan Bapak sedang mengancam saya.”

"Non Aura! Apa Non ada di sini?"

Sebuah panggilan terdengar samar-samar, lalu disusul suara sepatu yang semakin jelas terdengar.

"Itu bodyguard Papi saya. Tolong lepaskan saya."

Dengan terpaksa, aku melepas gadis yang semalam bersikap sangat lembut dan santun, tetapi sekarang berubah ketus dan bengis. Dia memegangi lengannya. Mungkin erat genggamku meninggalkan rasa sakit baginya.

Aura sempat menoleh, lalu melangkah lagi sambil mengibaskan rambutnya. Langkahnya ringan, seperti tidak ada beban. Lupakah dia jika telah meninggalkan jejak buruk di mataku?

Akan aku cari alamatnya. Akan kupastikan kalau dia tidak akan berbuat macam-macam seperti ancamannya.

Tapi sebentar.

Aurora tadi bilang kalau dia menyimpan rahasiaku. Jangan-jangan, dia dan teman-temannya menyimpan rekam jejak kejadian semalam.

Kalau benar iya, hancurlah namaku.

11/02/2023

LIMA TAHUN DISELINGKUHI

Lima tahun menikah, lima tahun diselingkuhi, rasanya ... sakit sekali.

Ibarat setiap jengkal tubuhku diiris tipis-tipis dengan sembilu, lalu disiram dengan air garam dan cuka.

Perih.

Malam ini seharusnya aku menemani Ibu mertua di rumah sakit. Sudah seminggu beliau di rawat karena sakijt gulanya.

Pukul sepuluh malam di saat Ibu sudah terlelap, suasana sepi dan aku tiba-tiba sangat merindukan Maisa, putri kecilku bersama Mas Reksa.

Selama aku menjaga Ibu di rumah sakit, Maisa tidur di rumah bersama papanya saat malam. Sementara saat siang, ia dititipkan ke ibu kandungku karena Mas Reksa harus bekerja.

Aku memutuskan pulang sebentar untuk melepas rindu, sekadar menciumi wajah gemas Maisa yang sejak seminggu terakhir hanya kutemui paling lama satu jam per hari. Kebetulan rumahku tidak terlalu jauh jaraknya dengan rumah sakit.

Jalan gang sudah sangat lengang. Rumah kami pun demikian sepi. Pagar juga telah dirapatkan sempurna.

Di depan pagar, aku menghentikan sepeda motor dan membiarkannya di sana.

Aku membuka pintu pagar perlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan bising yang bisa saja mengganggu tidur Maisa.

Akan tetapi, saat posisiku hanya berjarak sekitar satu meter dari pintu rumah, aku menghentikan langkah. Tubuhku seolah kaku, darahku seakan membeku.

Dari kamarku bersama Mas Reksa yang terletak tidak jauh dari ruang depan, terdengar suara tabu yang seharusnya di rumah ini hanya menjadi milikku dan suamiku.

Suara terengah, napas yang memburu, serta erangan-erangan kecil yang membuatku seketika ingin menangis.

Rumah ini hanya dihuni kami berempat, aku, Mas Reksa, Ibu mertua, dan Maisa. Bapak mertua telah wafat dua tahun lalu.

Lantas, milik siapa suara itu?

Pernikahanku dan Mas Reksa memang bukan atas dasar s**a sama s**a. Kami berdua sama-sama terpaksa pada awalnya.

Dia terpaksa menikah denganku, demi menutup malu keluarga. Sementara aku terpaksa demi memenuhi permintaan Bapak.

Calon istri Mas Reksa membatalkan pernikahan satu minggu menjelang hari H karena lebih memilih mengikuti audisi pencarian bakat, yang konon katanya cita-citanya sejak lama.

Semua persiapan sudah matang. Undangan telah disebar. Kemudian aku didaulat untuk menggantikan Devia, calon istrinya yang kabur itu.

Limbung, aku melanjutkan langkah. Air mata sudah jatuh satu per satu dan serta merta mengaburkan netra.

Menggunakan kunci cadangan yang kubawa, aku membuka pintu dengan sangat pelan dan hati-hati.

Suara itu semakin kentara saat pintu berhasil kubuka. Satu milik Mas Reksa, tentu saja aku sangat mengenalnya. Suara yang satunya, aku harus mencari tahu dengan siapa dia bermain.

Ku keluarkan ponsel dari dalam tas, lalu menyiagakan kamera. Setelah bersandar cukup lama di dinding luar kamar untuk mengumpulkan kekuatan, aku memutar handle pintu yang ternyata tidak dikunci.

Tidak ada orang dewasa di rumah ini, tentu saja mereka merasa aman. Sementara Maisa, dia lebih s**a menangis di kamarnya ketika terbangun, dari pada keluar mencari orang tuanya.

Di bawah temaram lampu tidur, aku dapat melihat dua tubuh yang saling beradu terlonjak saat pintu terbuka. Kemudian saat kutekan saklar lampu utama, mereka kelimpungan menarik apa saja demi menutupi tubuh masing-masing.

"Kemala!" Mas Reksa berseru panik.

"Kamu pulang?" tanyanya.

Meski hati remuk, aku terus mengarahkan kamera beberapa lama pada mereka.

"Hentikan Kemala!" titah Mas Reksa. Ia melompat dari atas ranjang, mengenakan celana sport pendek miliknya yang sebelumnya tergeletak di lantai, lalu berniat hendak merebut ponselku.

Namun, aku lekas berkelit dan mengamankan benda itu ke dalam tas.

"Hapus! Berikan padaku!" bentaknya murka.

Terdengar rengekan dari kamar Maisa. Tidak memedulikan dua mahkluk laknat itu, aku menuju ke sana, meraih tubuh mungil itu ke dalam gendongan dan membawanya keluar.

Lima tahun menjalani rumah tangga bersama Mas Reksa tidaklah mudah. Kisah kami sama sekali tak manis, hambar, bahkan kerap kali terasa pahit.

Akan tetapi, aku memilih terus bertahan. Aku selalu berbaik sangka bahwa Mas Reksa masih butuh banyak waktu untuk bisa menerima pernikahan kami. Padahal, lima tahun itu tidak bisa dikatakan sedikit.

Bagiku sudah cukup usahanya untuk menjalankan peran sebagai kepala keluarga walaupun hanya sekadarnya.

Cukup bagiku dia memenuhi semua nafkah lahir, juga memberikan nafkah batin walau kadang terasa hanya sebagai formalitas.

Aku memaklumi semuanya hanya karena pernikahan kami hasil perjodohan. Aku tidak pernah menuntut lebih. Asal dia tidak pernah berlaku kasar.

Akan tetapi, tidak pernah kusangka ternyata dia masih menjalin hubungan dengan perempuan yang hampir saja membuat keluarga besarnya malu lima tahun lalu, jika aku tidak bersedia memenuhi permohonan ayahnya kala itu.

Sambil melangkah, aku memasang jarik untuk menggendong Maisa. Malam ini juga, aku akan pulang ke rumah Bapak dan Ibu.

"Kemala! Mau kemana?" Suara lantang Mas Reksa menahan langkahku. Maisa yang kugendong dengan kepala menyandar di pundak bergerak hendak menoleh, tetapi lekas kukepuk punggungnya agar tenang kembali.

Di belakang Mas Reksa, Devia berdiri dengan rupa berantakan. Aku tidak mau Maisa melihatnya.

Ya Tuhan. Apakah selama aku di rumah sakit, Mas Reksa membawa perempuan itu di depan Maisa?

"Pulang!" ketusku.

"Pulang kemana? Ini rumahmu!" Ia menatapku nyalang.

Ah, kenapa dia yang marah? Aku yang tersakiti di sini. Aku yang lebih berhak untuk marah.

"Berikan ponselmu!" Dia mengulurkan tangan sambil mencoba mendekat.

"Satu langkah lagi kamu datang, Mas, aku akan berteriak agar semua tetangga tahu," ancamku, "Kamu tidak punya hati. Tega berzina di dalam rumahku. Bahkan di atas tempat tidurku." Aku menatapnya murka.

"Kami tidak berzina, Kemala!"

"Lalu apa namanya?"

"Devia juga istriku!"

Tegas dan lantang suaranya menggema, menusuk, mencabik-cabik hatiku.

"Hah!"

Aku berdecak sakit, tersenyum perih. Sekuat hati menahan, air mata lolos juga dari persembunyiannya.

"Istri? Kamu bilang dia juga istrimu?" tanyaku serak tidak percaya.

"Ya."

"Sejak kapan?"

"Kami menikah hanya beda satu bulan setelah kita menikah."

Pengakuan yang lagi-lagi meremukkan perasaanku.

Aku menghapus air mata yang membanjir.

Kukorbankan impian demi menikah dengannya. Aku yang saat itu baru saja lulus sarjana, mengubur keinginan untuk mengejar karir, memenuhi permintaan Ayah Hermawan--mertua yang merupakan sahabat Bapak--untuk menyelamatkan reputasi keluarga mereka. Begitu besar pengorbananku, tetapi pengkhianatan balasannya.

Lima tahun! .

Sandiwara mereka sungguh sempurna selama lima tahun!

Ya Tuhan, bagaimana aku bisa begitu bodoh tertipu lima tahun lamanya, tidak bisa membaca pengkhianatan itu sedikit pun?

"Lima tahun? Hanya beda satu bulan?" ulangku dengan tulang terasa lunglai.

"Ya."

"Jadi, setelah dia dinyatakan gagal audisi saat itu, kalian langsung menikah?"

"Ya."

"Kamu masih mau menikahinya setelah dia meninggalkanmu di hari penting kalian?"

"Aku mencintainya. Sebesar apapun kesalahannya, tidak ada artinya."

"Heh!" Aku tertawa miris, "Selamat atas kesuksesan kalian membohongiku!"

Semula kupikir aku yang bodoh. Lima tahun mempertahankan pernikahan, sementara dia bersenang-senang dengan wanita pujaannya.

Akan tetapi, mendengar jawabannya, aku merasa dia jauh lebih bodoh. Mencintai wanita yang pernah mempermalukannya melebihi aku--wanita yang sudah memberinya anak keturunan.

"Mengapa tidak kamu lepaskan saja aku sejak saat itu? Kurasa akan lebih baik."

Laki-laki itu menggeleng, "Bagaimanapun, kami berhutang budi padamu."

Lagi, aku tertawa miris.

Jadi rumah tangga ini dipertahankan hanya karena utang budi?

"Apakah setiap malam ketika aku di rumah sakit, kamu selalu membawa dia ke sini?" Pertanyaan yang jawabannya bisa amat menyakitkan, tetapi entah kenapa aku sangat ingin tahu.

"Ya." Laki-laki itu menjawab lemah. Dan aku menahan perih.

"Bagaimana jika Ibu tahu kelakuanmu?"

"Ibu menyukai Devia. Dia mengetahui pernikahan kami sejak awal dan menyetujuinya."

Rasanya tulang-tulangku dilepaskan dari sendinya. Kalimat terakhirnya terasa lebih menyakitkan dari sekadar pengkhianatannya, Ibu mengetahui semua yang terjadi. Mereka bersekongkol, menipuku dengan begitu tega.

Selama satu Minggu aku begadang di rumah sakit menjaga Ibu, di sini Mas Reksa terlena dengan kehangatan Devia. Sungguh menyakitkan.

Walau perilaku Ibu padaku baik selama ini, tetapi tipu dayanya tidak bisa termaafkan.

"Selamat, Mas. Permainan kalian sangat luar biasa. Kalian berhasil menipuku secara berjamaah lima tahun lamanya. Silakan dilanjutkan selagi masih ada kesempatan. Mana tahu, mungkin dalam waktu dekat kesempatan itu tiba-tiba lenyap."

Next

10/12/2021

Sekuat apa pun kamu berusaha menahannya, yakinlah: yang ingin pergi akan tetap pergi.

Sehebat apa pun upayamu untuk memenangkan hatinya, percayalah: yang tak benar-benar mencintaimu akan meninggalkanmu.

Semua hanya soal waktu.

10/12/2021

Sepotong Surat Untuk Perempuan yang Meragu

Barangkali, kita memang telah menujukan muara yang berbeda. Menyesali tetiap langkah yang lahir di kemudian hari ketika ingatan di antara kita belum juga usai. Perpisahan tidak pernah berakhir baik-baik saja. Pun, denganmu, yang pergi tanpa kata. Seakan apa yang terjadi pada detak detik di masa lampau tidak tersemat abadi di dalam ingatanmu.

Kita pernah bicara untuk waktu yang sangat lama. Bertukar cerita perihal pekerjaan hingga kehidupan. Perihal dingin kesendirian yang menyelimuti tubuhsetelah kehilangan mulai meranggas dada detik demi detik. Jauh di kedalaman matamu, aku sadar betul jika kehilangan itu yang mempertemukan kita. Meski rasa itu datangnya tetiba, meski keraguan masih begitu nyalang di kedua matamu itu.

Ada ketakutan yang mendera, dan kamu memilih untuk jatuh keharibaannya. Sedang aku, berdiri di hadapanmu untuk menyelusupkan keyakinan di antara jemarimu. Tidak ada yang mudah untuk menghapuskan luka di dalam dada kita. Sedang aku, berdiri di hadapanmu menawarimu bahu sebagai sandaran bagi air matamu; mengalir jauh dari lautan kesedihanmu.

Aku di sini, berdiri di hadapanmumenemanimu di antara hujan yang terus membasahi luka itu. Kamu tahu itu dan tetap saja, kamu memilih jatuh pada keharibaan ketakutanmu sendiri. Bagaimana jika, untuk sekali saja, kamu buka hatimu dan percaya bahwa aku orang yang mampu menyapu air matamu?

Bahwa aku orang yang tepat untuk mengobati segala luka yang kamu rasakan?

Aku pernah mencoba untuk menjaga kita di jejalanan yang samadan tetap saja, kamu memilih buta dan melewatkan kesempatan yang ada. Kamu memilih untuk memeluk keraguanmu dan melangkah pergi. Meninggalkanku di jejalanan sepiyang kini sudah merindukan kehadiranmu.

Barangkali, jalan kita memang sudah berbeda. Tetapi percayalah, jika pada akhirnya kamu tersesat di dalam keraguanmu sendiri, aku masih di sini untuk menyelamatkanmu dari kesendirian.

✍. J. T.

10/12/2021

Persetan, Aku Rindu Kamu

Itu dusta, jika aku masih berkata baik-baik saja, sedang kamu terus merajut bahagiamu yang telah sempurna itu. Bagai berdiri di persimpangan jalan; menjauh dari perjalanan menujumu—menemukan kehidupan baru, atau tetap berada di jalanmu—meskipun di ujung sana tiada muara untukku berhenti.

Persetan dengan perasaan ini. Meskipun aku telah yakin untuk menerima kehilangan dan mencintai kepergianmu, entah mengapa segalanya berubah begitu saja seketika melihat tetiap momen yang kamu bagikan di dunia maya tempat kita bertukar cerita di antara keterdiaman.

Ya, puan. Aku diam-diam masih menyematkan perhatian untukmu, meskipun Tuhan telah memintaku untuk melepaskan.

Ya, aku telah melepaskanmu. Ya, aku telah berhenti untuk mencintaimu—sayangnya, setelah ribuan detik berlalu aku sadar jika perasaanku padamu bersembunyi di balik keputusan untuk memulai langkah baru.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai menyelimuti. Perihal mengapa kamu terus hidup di dalam tetiap penyesalanku?

Memandangi mirat matamu, rasanya aku ingin merutuk sekerasnya. Betapa melepaskan sebegini sulitnya. Mencintaimu, itu membuatku jauh lebih baik dari siapa pun yang pernah kucintai sebelumnya.

Di antara keterdiaman dan keterasingan, cinta itu mengakar dengan kuat; menjalar di antara hari demi hari yang terlewatkan. Cinta itu mekar sebagai sebuah keikhlasan untuk melepaskan.

Aku sadar betul, memilikimu ialah sepotong ilusi belaka. Tetapi, aku ingin percaya bahwa kelak akan ada orang sepertimu yang tiba dan menanyai kabarku. Aku ingin percaya, di suatu perputaran waktu yang berbeda, akan ada kesempatan untuk kita saling bertukar cerita di antara deras hujan; mengatakan bahwa aku begitu mencintaimu. Walau sekali saja.

Barangkali, mengingatmu ialah sebuah kesalahan besar di hari ini. Di kala janji untuk memulai langkah baru telah tersemat di dalam dada.
Namun, persetan. Aku rindu kamu.

✍. Jhendral Timur

08/12/2021
08/12/2021

Semua tentang kehidupan smesta

Pelajaran hidup
08/12/2021

Pelajaran hidup

Address

Palu
94221

Telephone

+6281356658424

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mabes Timur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Mabes Timur:

Share