26/02/2023
NODA DI BALIK SERAGAM PUTIH ABU-ABU
“Hargai tubuh saya 20 juta, Pak. Saya mohon ....”
Hujan sudah membasahi tubuhnya, memperlihatkan setiap lekukan yang tercetak sangat jelas di balik dress putih berbahan tipis. Dia memeluk tubuh sendiri, bibirnya bergetar, menggigil karena kedinginan.
Sementara di luar sana, angin bertiup semakin kencang. Beberapa kali kilat menyambar, diikuti gemuruh petir. Kondisi ini membuat tangan gadis itu bergerak menutup wajah. Dia tampak ketakutan.
“Masuk!” perintahku.
Dia mendahuluiku, lalu kututup pintu rapat-rapat. Dia memandang dengan tatapan iba seakan-akan memohon agar aku mengabulkan permintaannya.
“Pak, hanya 20 juta. Saya yakin Bapak memilikinya.” Dia mengiba lagi. Sama seperti permohonannya di luar tadi.
“Bukan jumlahnya yang saya pertimbangkan, tetapi-”
Ucapanku terpotong oleh keterkejutan karena gadis ini yang tiba-tiba memelukku. Kaos yang kukenakan jadinya ikut basah. Dingin. Dia mulai menangis.
“Saya mohon. Saya tidak tau lagi harus minta tolong sama siapa. Saya tidak memiliki saudara. Bapak dan ibu saya orang miskin. Tolonglah, Pak. Ibu saya harus segera dioperasi.”
“Lepaskan dulu pelukanmu.”
Mendengar perintahku, gadis ini mengurai pelukan, berdiri tertegun dengan posisi wajah tengadah menghadapku. Tatapannya masih sama, mengiba ....
Mendadak, dia memejamkan mata, bibir sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Pipinya yang putih masih basah oleh air hujan. Sementara rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Aku menatap keseluruhan tubuhnya yang basah. Lalu ....
** SENSOR **
Nurani seperti mati, melupakan sejenak siapa gadis ini. Semestinya, aku cukup memberinya uang, lalu menyuruh pergi. Tetapi malahan rasa sayang menahannya untuk tetap tinggal.
Bukan salahku. Bukan. Aku hanya berniat memenuhi permintaannya, menukar kep*ra wanan dengan sejumlah uang yang dia pinta.
Dia duduk di tepi ranjang. Baju yang kuberikan terlihat kedodoran seakan-akan menelan tubuhnya yang mungil. Aku mengulurkan sebuah amlop. Dia menerimanya.
“Terima kasih, Pak.”
Terima kasih katanya? Apakah dia tidak sadar telah menyerahkan kes*ciannya pada laki-laki br*ngsek ini? Laki-laki yang seharusnya menjadi tempat berlindung.
Tiba-tiba aku merasa seperti predator. Dua puluh juta adalah harga yang sangat murah, dan dia masih berterima kasih padaku.
“Bersiaplah. Saya akan mengantarmu pulang.”
Aku berbalik untuk menyiapkan diri. Meraih kunci mobil, lalu ke garasi. Aku mengantarnya pulang.
Gadis yang mengenakan kembali pakaiannya yang basah itu berjalan tertatih-tatih keluar dari rumahku. Aku memapahnya hingga ke dalam mobil. Dia terus tertunduk, duduk di sampingku tanpa berani mengangkat wajah.
“Jangan ceritakan pada siapapun tentang kejadian malam ini. Saya tidak mau karier dan masa depan saya hancur,” ucapku mengingatkannya.
Dia mengangguk sebagai jawaban. Mobil melewati lampu merah, menuju arah rumah sakit.
“Saya pulang ke rumah saja, Pak. Saya harus mengambil pakaian ganti saya dan ibu saya,” ucapnya.
Aku mengubah arah perjalanan, mengantarnya pulang. Tak lama kemudian, rumah kecil dengan penerangan seadanya tampak di depan mata. Aku menelisik ke semua bagian rumah dari dalam mobil pada rumah yang halamannya sangat sempit. Gadis ini tinggal di sini rupanya. Pantas saja, uang 20 juta besar nilainya untuk dia.
“Ini rumahmu?” tanyaku memastikan.
Dia mengangguk. Merasa kasihan, akupun menarik dompet dan mengeluarkan seluruh isinya.
“Ambil.”
“Tapi ...." Dia menggantung ucapan. Wajahnya berselimut ragu.
“Ambil.”
Tangannya terulur, terlihat sungkan menerima uang dariku.
“Uang yang tadi sudah cukup,” ucapnya lirih.
“Gunakan untuk melunasi SPP, dan sisanya untuk kebutuhanmu,” ucapku. “Ngomong-ngomong, kamu kelas berapa?”
“Kelas 11 IPS 2, Pak.”
Untuk selanjutnya, dia turun, lalu berlari kecil menerobos lebatnya hujan menuju rumahya.
Aku menginjak gas setelah itu. Tidak melihat lagi bagaimana rupa gadis itu. Ingin melupakan semua kejadian malam ini.
Semua yang baru saja terjadi seperti mimpi. Aku dilenakan oleh kecantikan gadis belia yang datang dengan iming-iming sebuah kehangatan.
Setelah ini, ingin rasanya menghapus jejak tentang dia, melupakan seolah tidak terjadi apa-apa, lalu hidup seperti sedia kala.
Tapi ... mana Mungkin?
. . . .
Hari ini, aku mendapat giliran
piket. Sudah semestinya berangkat lebih awal. Ada beberapa tugas yang harus kukerjakan, berjaga mencatat keterlambatan siswa serta mengamati keadaan lingkungan sekolah.
Aku sengaja berkeliling sekolah, berjalan melewati ruang UKS. Tak sengaja mendengar percakapan dua siswa yang berbincang sambil berjalan.
“Aura pingsan. Gue dengar dia sedang sakit.”
“Sudah tau sakit, pakai acara ikut olah raga segala. Aneh.”
“Namanya juga hobi main basket.”
“Mestinya istirahat dulu kalau sudah tau sakit. Padahal dia bisa main basket sampai puas di halaman rumahnya yang luas itu, kalau sudah sembuh nanti. Tau kan, dia dan gengnya sering menghabiskan waktu di rumahnya Aura.”
“Wajarlah. Mereka gengnya anak-anak pejabat dan orang kaya. Kita mah, lewat.”
“Sudahlah, itu urusan mereka."
Aku menghentikan langkah setelah sekilas mendengar percakapan dua siswi yang kebetulan sedang melintas. Sebagian besar kata-kata mereka tidak lantas kupercaya. Maka, aku pun mengeluarkan ponsel lalu mencari informasi tentang diri Aurora. Aurora yang akrab dipanggil Aura.
"Aurora Malika putri adalah putri pertama seorang pejabat yang kini tengah digadang-gadang menjadi satu-satunya calon gubernur di kota X."
Aurora anak seorang pejabat? Mana mungkin?
Rumah yang kudatangi semalam jauh dari kata mewah. Apakah Aura yang dimaksud dua siswa tadi berbeda dengan Aurora, gadis semalam?
Untuk menjawab pertanyaan itu, aku buru-buru mengubah arah perjalanan. Langkah kupercepat menuju UKS.
Ruang UKS disekat menjadi dua. Satu bagian untuk laki-laki dan bagian satunya lagi untuk siswa perempuan. Aku memasuki ruang bagian laki-laki yang kebetulan kosong. Dari sana aku mendengarkan percakapan mereka, Aurora dan teman-temannya. Mungkin mereka ini yang dimaksud dua siswa tadi sebagai geng yang melibatkan anak-anak pejabat dan orang kaya.
“Iphone 14 keluaran terbaru SAH menjadi milik lo, Ra, plus uang taruhan 25 juta, ditambah 20 juta uang dari Pak Alan.”
“Oke, deal ya, gue menang taruhan.”
“DEAL ....”
“Kamu tidak menyesal kan, Ra, sudah kehilangan kep*rawanan?”
“Dari geng kita, Auralah yang terakhir.”
“Dan kita akan merayakan kemenangan ini dengan clubbing malam nanti.”
“Yeey! Akhirnya ... Aura sukses menundukkan guru baru yang sok cool itu. Sok jual mahal. Ujung-ujungnya disuguhi gadis bening diembat juga.”
“Sok polos.”
“Sok elegan juga.”
“Taunya kayak kucing l*ar, ikan asing disosor juga.”
“Eh, gue bukan ikan asin, ya? Catet!”
“Sory, Ra, bukan elu maksud gue. Itu cuma istilah saja.”
"Euw, gucing garong. Arrrrr ... kucing l*arnya setampan Pak Alan mah, pasti banyak korbannya."
Mereka cekikikan. Sialan.
Aku berbalik. Untuk selanjutnya meninggalkan ruangan.
Oh, ternyata itu semua hanya jebakan. Kedatangan Aurora semalam adalah sebuah bentuk taruhan anak-anak itu.
Kasihan sekali aku, dikerjai murid sendiri sampai tak menyadarinya. Tapi ... bukankah dalam hal ini bukan aku yang dirugikan?
Aku laki-laki. Jejakku bisa terhapus dengan berpura-pura polos. Lain halnya dengan gadis itu. Dia, Aurora namanya tidak mungkin dia tidak mengetahui jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang fatal.
Bagaimana jika masa mendatang suaminya menuntut jawaban atas keperawanannya? Apakah dia akan jujur atas keisengannya saat muda?
Ah, sudahlah. Untuk apa memikirkan gadis itu? Toh, dia juga tidak mempermasalahkannya. Sekarang, yang jadi pertanyaannya adalah untuk apa mereka menjebakku? Tidak mungkin jika hanya sebuah keisengan belaka.
“Pak Alan!”
Langkah terhenti oleh sebuah panggilan. Seseorang berseragam batik tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Ya, ada apa, Bu?”
“Pak Alan lagi kosong ‘kan? Bisa masuk ke kelas saya, Pak? Bapaknya anak-anak kecelakaan. Saya baru mendapat kabar. Ini rencananya mau langsung ke rumah sakit.”
“Oh, bisa, Bu. Bu Tati silakan urus suami Ibu, biar saja yang mengawasi anak-anak.”
“Terima kasih, Pak Alan. Tugas sudah ada di atas meja saya. Saya permisi dulu.”
Bel masuk langsung terdengar usai perbincangan singkat antara aku dengan salah satu guru di SMA ini. Artinya, tugas di jam terakhir telah menanti.
Kulangkahkan kaki memasuki ruang kelas yang menjadi tujuan. Akan ada kejutan yang terjadi sepertinya, karena ternyata kelas yang di amanahkan Bu Tati adalah kelas di mana Aurora dan geng-nya berada di dalamnya. Aku ingin tau, apa yang akan Aurora lakukan jika berhadapan denganku secara langsung? Setelah kejadian semalam, tidak mungkin dia pura-pura biasa saja.
Pertama kali yang kulakukan saat berada di belakang meja adalah mengamati satu persatu murid yang berjumlah puluhan orang. Mereka adalah wajah-wajah yang sangat kukenali meskipun tidak mengenal pasti nama-nama mereka. Beberapa di antara murid-murid itu adalah mereka yang menjadikan aku sebagai bahan taruhan.
Namun, keheranan segera mengalihkan perhatianku, tidak ada Aurora di antara mereka. Pandanganku terhenti pada bangku kosong yang letaknya ada di tengah-tengah.
“Aura masih di UKS, Pak. Masih sakit.” Seorang siswa berucap seakan-akan tau isi kepalaku.
Pelajaran pun dimulai. Aku memberikan tugas dengan mengabaikan ketidakhadiran Aurora.
Selama mengawasi mereka, rasanya perasaanku tidak tenang. Ingatanku masih lekat pada kejadian semalam.
“Permisi, Pak. Izin masuk," ucap seseorang di depan pintu.
Aurora!
Dia berjalan tertunduk menuju bangkunya. Teman-temannya langsung melontarkan pertanyaan tentang keadaannya yang sedang sakit, sambil berbisik-bisik. Lalu ketika aku berdeham, mereka buru-buru menghadap tugas mereka lagi.
Tak kulihat kecanggungan di wajah gadis yang semalam mengaku anak dari keluarga miskin. Tampak biasa saja. Bahkan dengan jelas memperlihatkan senyumnya saat menanggapi candaan teman sebangkunya.
Oke. Masalah selesai. Aurora mungkin akan menganggap peristiwa semalam adalah hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin begitu?
Lalu ... bagaimana dengan teman-temannya? Apakah mereka bisa dipercaya? Jangan-jangan, mereka akan berkhianat pada Aurora dan menceritakan semuanya pada orang lain. Maka sebelum hal itu terjadi, akupun akan membuat penegasan pada Aurora.
. . . .
Kutarik lengannya dan membawa ke sebuah lorong. Siang itu, usai jam pelajaran sekolah.
"Pak Alan!" Aura sangat terkejut.
"Ikuti saya dan jangan berteriak!" kecamku mengeratkan pegangan tangan. Kudorong tubuhnya hingga mencapai lorong yang sempit.
"Kamu bukan anak keluarga miskin, Aura. Katakan, di mana rumahmu yang sebenarnya?"
"S-saya tidak bilang begitu. S-saya ...."
Dia terbata-bata menjawabnya. Entah kesakitan atau ketakutan karena ketauan telah berbohong.
“Kamu menipu saya, Aura. Entah apa yang ada dalam otakmu. Saya tau, kamu melakukannya demi gengsi pada teman-temanmu. Demi gengsi kamu mempertaruhkan harga diri. Ternyata, tubuhmu hanya senilai dengan iPhone 14. Rendah sekali. Apa kamu tidak menyesalinya, Aura?”
"Bapak jangan lupa. Rahasia Bapak ada di tangan saya."
Wajahku rasanya seperti terbakar. Marah. Aku marah sekali. Baru kali ini diancam oleh perempuan yang notabenenya adalah seorang murid. Keterlaluan.
“Saya akan mencemarkan nama baik Bapak. Tolong lepaskan saya. Sopir sekaligus bodyguard Papi saya sudah menunggu di depan. Jangan sampai dia menemukan Bapak sedang mengancam saya.”
"Non Aura! Apa Non ada di sini?"
Sebuah panggilan terdengar samar-samar, lalu disusul suara sepatu yang semakin jelas terdengar.
"Itu bodyguard Papi saya. Tolong lepaskan saya."
Dengan terpaksa, aku melepas gadis yang semalam bersikap sangat lembut dan santun, tetapi sekarang berubah ketus dan bengis. Dia memegangi lengannya. Mungkin erat genggamku meninggalkan rasa sakit baginya.
Aura sempat menoleh, lalu melangkah lagi sambil mengibaskan rambutnya. Langkahnya ringan, seperti tidak ada beban. Lupakah dia jika telah meninggalkan jejak buruk di mataku?
Akan aku cari alamatnya. Akan kupastikan kalau dia tidak akan berbuat macam-macam seperti ancamannya.
Tapi sebentar.
Aurora tadi bilang kalau dia menyimpan rahasiaku. Jangan-jangan, dia dan teman-temannya menyimpan rekam jejak kejadian semalam.
Kalau benar iya, hancurlah namaku.