19/03/2026
Menjelang Idul Fitri, saya melangkah masuk ke pasar induk di Palembang dengan kamera di tangan dan ruang yang terasa semakin sempit oleh keramaian. Dari langkah pertama, saya langsung disambut suara yang bertumpukโteriakan pedagang, tawar-menawar yang cepat, dan gesekan kantong belanja yang saling bersentuhan.
Saya bergerak perlahan di antara orang-orang yang datang dengan tujuan yang sama: memenuhi kebutuhan sebelum hari raya tiba. Di depan saya, seorang ibu berhenti cukup lama di satu lapak, menimbang pilihan dengan wajah serius. Saya mengangkat kamera, mencoba menangkap momen itu tanpa mengganggu alurnya. Semuanya terasa begitu cepat, tapi juga penuh makna.
Aroma rempah dan daging segar menyelinap di sela-sela napas. Di sisi lain, toples-toples kue kering berjejer rapi, memantulkan cahaya yang masuk dari celah atap pasar. Saya berhenti sejenak, memperhatikan bagaimana warna dan cahaya saling bertemu, lalu membingkainya dalam satu frame vertikalโmencoba merangkum kepadatan dalam ruang yang terbatas.
Setiap beberapa langkah, saya harus berhenti. Bukan hanya karena sempit, tapi karena selalu ada sesuatu yang menarik perhatianโekspresi lelah pedagang, tangan yang sibuk menghitung uang, atau tatapan pembeli yang penuh harap. Saya tidak hanya melihat, tapi ikut merasakan ritme itu.
Di tengah hiruk-pikuk ini, saya menyadari bahwa yang saya rekam bukan sekadar keramaian. Ini adalah tentang pergerakan manusia, tentang tradisi yang terus berulang, dan tentang harapan-harapan kecil yang dibawa pulang dalam kantong belanja.
Melalui lensa saya, pasar ini bukan hanya tempat transaksi. Ia adalah cerita yang hidupโdan saya hanya berusaha menangkap sebagian kecil darinya, sebelum semuanya kembali tenang setelah hari raya usai.๐ฅณ๐ฅณ ๐โช๏ธ ๐ซ ๐คฉ๐๐ ๐โช๏ธ ๐๐