Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Cerita Silat Wiro Sableng

Wiro Sableng PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212Bastian Tito PEDANG NAGA SUCI 212_01 OF 04    Walau saat itu menjelang ten...
22/08/2026

Wiro Sableng
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Bastian Tito

PEDANG NAGA SUCI 212_01 OF 04

Walau saat itu menjelang tengah hari namun puncak Gunung Gede diselimuti elapan mencekam.

Langit hitam kelam ditebali awan hitam mendung Angin bertiup kencang mengeluarkan suara aneh.

Suara deru hujan ras seolah langit koyak terbelah.

Udara sangat dingin membungkus puncak gunung.

Ditambah dengan gelegar guntur yang sesekali ditimpali sambaran petir membuat suasana benar-benar menggidikkan.

Di tepi sebuah telaga yang terletak di puncak timur Gunung Gede, dua sosok tubuh tampak duduk bersila di tanah yang becek.

Sepasang lengan dirangkapkan di depan dada.

Mereka tidak bergerak sedikitpun seolah telah berubah menjadi patung tanpa nafas.

Sekujur tubuh ke dua orang ini basah kuyup mulai dari rambut sampai ke kaki.

Hawa dingin luar biasa membuat tubuh mereka sedingin es!

Dua orang ini tidak sedang bersamadi atau bertapa karena sepasang mata mereka memandang tak ber-kesip ke tengah telaga yang airnya mengeluarkan riak seolah mendidih dan mengepulkan asap putih.

Orang di sebelah kanan adalah seorang pemuda berpakaian dan berikat kepala putih.

Wajahnya tampan dan memiliki sepasang mata besar dengan pandangan tajam tak berkesip menyorot ke arah telaga.

Di samping kiri si pemuda duduk tak bergerak seorang dara berpakaian biru muda, berparas cantik dan berkulit hitam manis.

Di pinggangnya melilit ketat sehelai selendang merah hingga pinggangnya tampak ramping dan pinggulnya mencuat bagus.

Gadis ini memiliki rambut panjang sepinggang yang dijalin lalu dilingkarkandi atas kepala.

Seolah hiasan, jalinan rambut ini menambah kecantikan wajahnya.

Sulit diduga apa yang tengah dilakukan sepasang muda mudi itu.

Mereka tetap tak bergerak dan tak berkesip walau hujan terus mendera, hawa dingin mencucuk, guntur menggelegar dan kilat membuat darah berulang kali tersirap.

Tiba-tiba si pemuda tampak membuat gerakan.

Perlahan sekali kepalanya dipalingkan ke kiri ke arah gadis berpakaian biru.

Sesaat dipandanginya gadis itu.

Mulutnya bergerak sedikit seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Namun tak ada suara yang keluar.

Orang yang dipandangi tetap diam tak bergerak.

Si pemuda sesaat menjadi bimbang.

Akhirnya dia memutar kepala, memandang kembali ke arah telaga.

Tapi dia seperti tidak dapat memusatkan perhatian lebih lanjut.

Tak selang berapa lama kembali dia menoleh ke kiri, pandangi gadis cantik di sebelahnya itu.

Mulutnya bergerak namun tetap saja tak ada suara yang keluar.

Hanya di dalam hatinya si pemuda membatin.

Air mukanya jelas masih membayangkan marah dan dendam. Dia pasti tetap tak akan mau bicara denganku. Tapi kalau aku tidak bicara bisa-bisa lebih salah kaprah. . . . Hemmm. Bagaimana aku harus memulai. Hatinya sekeras batu, sikapnya segarang harimau betina. . . .

Kilat menyambar.

Sekilas puncak Gunung Gede terang benderang.

Guntur menggelegar seperti merobek telinga dan menghancurkan jantung.

Air telaga tampak beriak keras dan kep**an asap semakin tebal bergulung ke udara.

Cahaya kilat lenyap dan tempat itu kembali dibungkus kegelapan.

"Aku harus bicara! Terserah dia mau marahi"

Pemuda berwajah tampan ambil keputusan.

Dia menarik nafas dalam lebih dulu seolah berusaha mempertabah diri.

Lalu terdengar suaranya menegur diantara deru hujan dan tiupan angin.

Sinto, apa kita tidak salah menghitung hari? Jangan-jangan kita datang terlambat atau terlalu cepat. . . .

Si pemuda menunggu.

Tapi orang yang ditanya jangankan menjawab.

Bergerak sedikitpun tidak.

Bahkan dua matanya yang tajam bagus terus saja memandang ke tengah telaga tanpa berkedip.

Sinto, kau mendengar pertanyaanku. Harap kau s**a menjawab dan sementara melupakan dulu apa-apa yang menjadi ganjalan di hatimu. . . .

Pemuda gagah di sebelah kanan si gadis kembali membuka suara.

Gadis yang diajak bicara tetap membungkam seribu bahasa.

Hujan dan angin terus berkecamuk.

Kegelapan dan hawa dingin semakin mencekam.

"Sinto Weni kalau kau. . . . "

Aku tak pernah salah memperhitungkan segala sesuatu dalam hidupku. Satusatunya kesalahan adalah kesalahan memperhitungkan dirimu. . . .

Kata-kata yang tiba-tiba keluar dari mulut si gadis walaupun diucapkan secara lembut tapi membuat wajah pemuda tampan di sebelahnya menjadi berubah.

Untuk beberapa lamanya dia terdiam dengan mulut ternganga.

"Sinto Weni adikku. . . . "

Suaramu tidak sedap masuk ke telingaku. Kalau kau tak mau berhenti bicara lebih baik segera saja angkat kaki dari tempat ini. . . ,

Si pemuda menggigit bibirnya sendiri.

Hatinya bukan saja sekeras batu tapi juga sepanas bara. Tak mungkin aku membujuknya. Dari pada urusan jadi panjang memang lebih baik aku pergi saja. dari sini. . . . "

Sinto, terus terang aku memang tidak mengharapkan warisan apa-apa dari kiai Gede Tapa Pamungkas. Hanya sebagai murid aku harus patuh. Itu sebabnya aku datang ke sini sesuai pesan Kiai beberapa tahun lalu. Kalau kau tidak menginginkan kehadiranku di sini mungkin memang benar aku harus angkat kaki dari tempat ini. Selamat tinggal Sinto. Urusan di antara kita pasti ada saat penyelesaiannya. . . . Satu hal perlu kau ketahui. Hatiku tidak sejahat yang kau duga. Hanya memang mungkin imanku setipis embun di permukaan daun. Mudah sirna terkena cahaya sang surya. . . .

Habis berkata begitu si pemuda siap bergerak bangkit.

Bagi si gadis apa yang dikatakan pemuda itu sama sekali tidak ada pengaruhnya.

Dia tetap tak bergerak danterus menatap ke arah telaga.

Tiba-tiba petir menyambar.

Guntur menggelegar.

Puncak Gunung Gede bergetar hebat.

Si pemuda yang hendak berdiri jatuh terduduk di tanah becek.

Tapi hatinya telah bulat, tekadnya telah tetap.

Dia kembali bangkit berdiri.

Namun sekali lagi gerakannya tertahan.

Mendadak di kejauhan terdengar suara orang menyanyi.

Demikian halus lembut suara itu hingga sulit diketahui apakah yang menyanyi seorang lelaki atau seorang perempuan.

Hari pertemuan datang sudah Dua warisan akan muncul di dunia Benda mati akan membawa manusia Memilih jalan lurus atau jalan sesat Memilih sorga atau dunia maksiat Karena itu manusia diberi otak untuk berpikir Diberi hati untuk menimbang Manusia harus menguasai benda Bukan benda yang harus menguasai manusia Kalau warisan sudah berbagi Saat berpisah datang sudah.

Baru saja suara nyanyian sirap tiba-tiba kilat menyambar.

Laksana sebilah pedang raksasa yang menderu dari atas langit, kilat menghantam pertengahan telaga.

Air telaga berobah menjadi panas, mencuat sampai puluhan tombak!

Puncak Gunung Gede laksana dilanda gempa ketika guntur menyusul menggelegar.

Sepasang muda-mudi yang duduk ditepi telaga merasa ada hawa aneh keluar dari tanah lalu menjalar masuk ke dalam tubuh masing-masing.

Keduanya tampak bergetar hebat dan terhuyung-huyung.

Mereka kerahkantenaga agar tidak terbanting roboh ke tanah.

Sambaran kilat lenyap.

Suara gema guntur sirna.

Air telaga beriak tenang kembali seperti semula.

Dua orang di tepi telaga masih belum lenyap rasa kejut masing-masing.

Wajah mereka masih kelihatan pucat.

Dalam keadaan seperti itu sekonyong-konyong terdengar suara bergemuruh di dalam telaga.

Lalu seolah ada satu kekuatan dahsyat air di pertengahan telaga muncrat setinggi lima tombak.

Bersamaan dengan itu dari dalam telaga mencuat muncul sosok tubuh seorang tua berselempang kain putih.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas!"

Pemuda dan gadis di tepi telaga sama-sama keluarkan seruan.

Keduanya lalu membungkuk dalam-dalam memberi penghormatan.

Orang tua berselempang kain putih yang dipanggil dengan sebutan Kiai Gede Tapa Pamungkas seolah berdiri di atas air.

Kep**an asap putih berhawa dingin membuat sosok dan wajahnya tampak samar.

Orang tua ini memiliki rambut putih panjang menjulai yang bukan saja menutupi kepala dan punggungnya tapi juga sebagian wajahnya.

Selain dari itu kumis alis dan janggutnya yang putih panjang ikut menyembunyikan mukanya.

Ada beberapa keanehan menyertai kemunculan Kiai Gede Tapa Pamungkas ini.

Pertama dia muncul dari dalam telaga.

Apakah dia memang diam dalam telaga itu?

Manusia mana yang mampu hidup dalam air?

Ke dua dia bisa berdiri di atas air telaga merupakan satu kepandaian yang s**ar dijajagi.

Lalu keanehan ke tiga, walau saat itu hujan terus mendera dan barusan dia keluar dari dalam air telaga namun baik tubuh, rambut maupun pakaian Kiai Gede Tapa Pamungkas sama sekali tidak basah!

Baik si pemuda maupun gadis bernama Sinto Weni sebelumnya tidak pernah melihat kemunculan dan penampilan Kiai Gede Tapa Pamungkas begini hebat!

"Murid-muridku apakah kalian berdua sudah lama menunggu?!"

Sang Kiai ajukan pertanyaan.

Sampai saat itu dia tetap tidak beranjak dari pertengahan telaga sementara cuaca tetap pekat mengetam.

"Kami belum berapa lama berada di tempat ini Kiai,"

Menjawab si pemuda.

"Kalau Kiai yang memerintah apapun akan kami lakukan. Berapa lamapun menunggu akan kami nantikan,"

Berkata Sinto Weni. Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.

Aku tahu kalian sudah lima hari menunggu di tepi telaga.

Tanpa makan tanpa minum.

Kehujanan dan kedinginan.

Murid-muridku, Tuhan menjadikan hidup manusia ini tidak mudah.

Cobaan dan ujian datang silih berganti dalam berbagai bentuk.

Tuhan tidak ingin menyusahkan umat-Nya.

Semua cobaan dan ujian itu justru untuk membuat manusia menjadi tabah dan berani menghadapi tantangan.

Hanya dengan ketabahan dan keberanian berdasarkan kebenaran manusia menyadari apa artinya hidup ini.

Ujian dan cobaan yang kalian alami selama lima hari ini hanya sejumput kecil dari padang luas rimba percobaan.

Banyak lagi ujian, cobaan dan tantangan yang kelak akan kalian hadapi.

Untuk semua itu sandarkan keberanian dan kekuatan kalian pada kekuatan dan perlindungan Yang Maha Kuasa.

Karena hanya keberanian dan kekuatan Tuhanlah yang maha benar dari semua kebenaran.

Murid-muridku, Sinto Weni dan S**at Tandika apakah selama empat tahun tidak bertemu kalian berdua ada baik-baik saja?"

Berkat doa Kiai dan perlindungan Yang Maha Kuasa kami ada baik-baik saja. Walau empat tahun tidak terlalu lama namun kami merasa mulai mengenal apa artinya hidup dan apa artinya dunia persilatan. . . .

Yang menjawab adalah pemuda bernama S**at Tandika.

Sinto Weni sang dara berkulit hitam manis hanya berdiam diri memandang ke tengah telaga tepat pada arah sepasang kaki sang Kiai.

Di tengah telaga, Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.

Sambil melirik pada muridnya yang bernama Sinto Weni dia kembali ajukan pertanyaan.

"Murid-muridku apa kalian berdua ada baik-baik saja selama empat tahun ini?"

"Kami. . . kami berdua ada baik-baik saja Kiai,"

Akhirnya si gadis menjawab.

"Bagus kalau begitu,"

Ujar Kiai Gede Tapa Pamungkas sambil anggukkan kepala walau sebenarnya dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan murid perempuannya ini.

Sinto Weni dan S**at Tandika.

Empat tahun kalian terjun ke dalam rimba persilatan bukan satu waktu yang lama.

Tidak dapat dijadikan ukuran apakah kalian telah mampu menjadi pendekar-pendekar yang dihormati dan disegani.

Namun aku sudah menyirap kabar bahwa ilmu Pukulan Sinar Matahari yang kuwariskan padamu Sinto Weni telah membuat geger dunia persilatan.

Lalu aku juga mengetahui bahwa ilmu silat tangan kosong yang kau dapat dariku S**at Tandika telah membuat orang-orang golongan hitam menjadi mati kutu.

Seperti yang pernah aku katakan dulu, hari ini adalah hari pertemuan yang dijanjikan.

Hari ini adalah hari dua warisan akan kuserahkan pada kalian.

Dan hari ini p**a kita akan berpisah untuk selama-lamanya.

Entah kalau Tuhan masih mengijinkan bagi kita bertemu.

Adapun bentuk warisan yang akan kuberikan pada kalian, akan kalian lihat sendiri nanti.

S**a atau tidak s**a kalian harus menerimanya sebagai kenyataan.

Karena dua benda warisan itu hanyalah titipan anak cucu kalian yang harus dipergunakan untuk menyelamatkan dunia persilatan dari segala macam angkara murka.

Waktuku pendek, aku tak mungkin bicara terlalu banyak.

Harap kalian tetap duduk di tempat masing-masing.

Jangan bicara kalau aku tidak mengajak bicara.

Jangan bergerak kalau tidak aku suruh!

Habis berkata begitu Kiai Gede Tapa Pamungkas lalu kembangkan ke dua tangannya ke samping.

Bersamaan dengan itu terdengar, suara menggemuruh yang datang dari dua arah di dasar telaga.

Lalu air telaga di kiri kanan si orang tua mencuat setinggi sepuluh tombak.

Anehnya air yang melesat ke udara itu tampak mengeluarkan tiga warna yakni putih, merah dan biru.

Bersamaan dengan mencuatnya air telaga di dua tempat, mendadak tiupan angin semakin kencang dan hujan mendera bertambah keras!

Sinto Wenidan S**at Tandika merasakan jantung masing-masing berdebar keras.

Mata mereka dibuka lebar-lebar ketika ada suara mendesir di dalam telaga- Lalu dua buah kepala mencuat ke permukaan air.

Sepasang muda-mudi ini kalau tidak ingat pesan guru mereka tadi, niscaya saat itu sudah tersurut ke belakang atau keluarkan seruan tertahan ketika melihat dua makhluk yang keluar dari dalam telaga!

*** Dua makhluk yang muncul di permukaan air telaga di kiri kanan Kiai Gede Tapa Pamungkas ternyata adalah dua ekor ular besar bermata merah, satu jantan satu betina, memiliki lidah terbelah yang menjulur panjang serta gigi dan taring besar runcing.

Di atas kepala sebelah depan ada sebentuk mahkota putih bertabur batu-batu yang memantulkan sinar berkilauan.

Di bagian kepala sebelah belakang tampak sebentuk tanduk berwarna hijau.

"Ular naga. . . "

Desis pemuda bernama S**at Tan-dika dalam hati.

"S

etahuku binatang ini hanya ada dalam dongeng.

Apa yang kulihat ini ular naga sungguhan atau hanya makhluk jejadian ciptaan kepandaian Kiai Gede Tapa Pamungkas?

Kalau si pemuda berpikir seperti itu maka lain halnya dengan gadis bernama Sinto Weni.

Dalam hati gadis ini bertanya-tanya.

Permainan apa yang hendak diperlihatkan Kiai padaku? Apa ular raksasa ini yang hendak diwariskannya padaku? Celaka!

Di tengah telaga Kiai Gede Tapa Pamungkas mendongakkan ke langit.

Dua tangannya diangkat sebatas dada dengan telapak membuka menghadap ke atas.

Dia seperti tengah membaca sesuatu.

Dua ekor naga besar bergulung-gulung di sebelah kiri dan kanan tubuhnya.

Tiba-tiba Kiai Gede Tapa Pamungkas rentangkan ke dua tangannya kembali ke samping.

Bersamaan dengan itu dia jentikkan jari-jari tangannya kiri kanan.

Mendengar suara jentikan dua ekor ular naga susupkan kepala ke dalam air telaga sementara di sebelan sana air telaga tiga warna terus mencuat di dua tempat.

Sekali lagi Kiai Gede Tapa Pamungkas jentikkan jari-jari tangan kiri kanan.

Terdengar suara menggemuruh ketika dua naga munculkan lagi kepala di permukaan air telaga.

Kali ini di dalam mulut masing-masing mereka menggigit sebuah benda.

Ular naga sebelah kanan yakni ular naga yang jantan mengigit sebuah benda berbentuk kapak yang memiliki dua mata.

Kapak ini bergagang putih kekuningan terbuat dari gading.

Bagian ujung gagang berbentuk ukiran kepala naga jantan dan ada enam buah lobang kecil seperti lobang seruling.

Pada dua mata kapak yang memancarkan sinar berkilauan itu tertera tiga buah angka.

212.

Dalam mulut ular naga kedua yaitu yang betina ada sebuah benda berbentuk seperti gulungan ikat pinggang berwarna putih, memiliki ujung berbentuk kepala naga sama seperti gagang kapak yang ada di mulut naga satunya.

Kiai Gede Tapa Pamungkas kembali jentikkan dua tangannya kiri kanan.

Dua ular naga kibaskan ekor masing-masing dengan keras hingga air telaga muncrat tinggi.

Lalu binatang ini rundukkan kepala dan meluncur menuju tepi telaga di mana Sinto Weni dan S**at Tandika duduk bersila tanpa berani bergerak ataupun keluarkan suara.

Namun sekali ini begitu dua ular naga meluncur ke arah mereka walau mereka tetap mampu bertahan tanpa keluarkan suara tanpa bergerak rasanya saat itu nyawa masing-masing sudah melayang terbang!

Di tepi telaga dua ular naga jantan dan betina letakkan senjata berbentuk kapak dan gulungan benda putih di hadapan Sinto Weni dan S**at Tandika.

Untuk beberapa lamanya binatang ini menjilati dua benda itu.

Lalu keduanya perlahan-lahan meluncur mundur kembali ke dalam telaga.

Kiai Gede Tapa Pamungkas jentikkan lagi jari-jari tangannya.

Dua ular naga luruskan badan masing-masing laksana tonggak lalu dongakkan kepala.

Dari mulut mereka keluar suara raungan aneh, terdengar antara lolongan srigala dan ringkik kuda, membuat merinding Sinto Weni dan S**at Tandika.

Sang Kiai kembali menjentik.

Saat itu juga sosok tubuh sepasang naga perlahan-lahan meluncur turun ke dalam air hingga akhirnya lenyap dari pemandangan.

Murid-muridku. . . . Dua warisan telah berada di hadapan kalian. Sebelum aku meminta kalian untuk memilih sendiri mana yang kalian s**at, aku akan perlihatkan kepada kalian kehebatan dua benda itu.

Di tengah telaga Kiai Gede Tapa Pamungkas angkat kedua tangannya, diarahkan pada dua benda yang ada di tepi telaga.

Ketika dua tangannya disentakkan ke atas, senjata berbentuk kapak bermata dua melesat ke udara mengeluarkan suara aneh seperti ribuan tawon terbang mengamuk.

Dari dua mata kapak memancar sinar putih laksana perak.

Sinar ini bukan saja sangat menyilaukan tapi sekaligus menghamparkan hawa panas luar biasa.

Untuk beberapa lamanya senjata ini berputar-putar di atas telaga mengikuti gerak putaran tangan kanan Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Begitu sang Kiai hantamkan tangan kanannya ke kiri, kapak bermata dua melesat laksana kilat ke arah sebatang pohon yang tumbuh di tepi telaga.

"Craasss!"

Batang pohon sebesar pemelukan tangan tertebas putus.

Bagian atas pohon besar tumbang dengan suara bergemuruh.

Baik pohon yang tumbang maupun Sisa batang yang masih tegak kelihatan berubah menjadi hitam gosong laksana habis dimakan api!

S**at Tandika menyaksikan dengan mata lebarnya bertambah lebar sedang lidahnya berulang kali dijulurkan membasahi bibir.

Sinto Weni memandang dengan mata melotot tapi mulut terkancing.

Kiai Gede Tapa Pamungkas gerakkan tangannya ke arah tepian telaga.

Kapak bermata dua melayang turun dan perlahan-lahan digeletakkan kembali di depan sepasang muda mudi.

Kini sang Kiai ganti angkat tangannya yang kiri.

Benda putih berbentuk gulungan ikat pinggang melesat ke atas lalu "srettt!"

Gulungannya terbuka.

Satu cahaya putih yang menghamparkan hawa dingin berkiblat.

Di udara saat itu tampak sebilah pedang putih tipis bergagang gading berbentuk kepala naga betina.

Pada badan pedang tertera angka 212.

Pada bagian ujung pedang yang lancip kelihatan sebuah lobang yang demikian kecilnya hingga sulit dilihat mata telanjang.

Kiai Gede Tapa Pamungkas sentakkan tangan kirinya ke atas.

Pedang putih melesat ke udara,.

berputar memancarkan cahaya putih menyilaukan, menebar hawa dingin dan mengeluarkan suara berdesing yang membuat liang telinga laksana ditusuk!

"Lihat pedang!"

Berseru sang Kiai seraya hantamkan tangan kanannya ke arah kanan telaga di mana tumbuh sebuah pohon besar berdaun rimbun.

Kiai Gede Tapa putar tangannya di atas kepala berulang kali.

Terdengar suara tebasan tak henti-hentinya.

Daun pohon bertaburan di udara lalu melayang jatuh ke tanah dan ke dalam telaga.

Dalam waktu beberapa kejapan mata saja pohon yang tadinya rimbun itu kini telah botak, hanya tinggal cabang dan ranting meranggas.

Ketika Kiai Gede Tapa Pamungkas meletakkan pedang putih itu di tepi telaga, begitu menyentuh tanah pedang ini kembali menggulung diri secara aneh.

Sekarang kalian lihat bagaimana kalau dua senjata sakti dari dua sumber yang sama saling baku hantam satu sama lain!

Kata Kiai Gede Tapa p**a. Lalu dua tangannya sama disentakkan ke atas.

"Sreettt!"

"Wuttt!"

"Wuuutt!"

Pedang putih tipis melesat ke atas dan lepas dari gulungannya.

Kapak bermata dua menyusul melesat lalu membeset gerakan pedang.

Dengan lincah pedang tipis membuat gerakan berputar menghindari tebasan kapak.

Dalam waktu singkat di udara dua senjata itu berubah menjadi buntalan cahaya yang saling menggempur.

Dua cahaya berkilauan saling menyabung.

Hawa panas dan hawa . dingin berbenturan hebat.

Suara mengaung dan suara mendesing seperti seruling seolah merobek langit.

"Traangg!"

Dua senjata mustika sakti beradu di udara.

Lidah api mencuat sejauh dua tombak.

Suara beradunya kapak dan pedang disusul dengan getaran dahsyat yang membuat tempat itu laksana dilanda gempa.

Karena bentrokan dua senjata sakti terjadi berulang-ulang, baik Sinto Weni maupun S**at Tandika terpaksa tutup telinga masing-masing dengan tangan sementara tubuh mereka yang duduk bersila ditanah terguncang-guncang, aliran darah tersentak-sentak.

Kalau bentrokan dua senjata sakti itu tidak lekas dihentikan sepasang muda-mudi ini pasti akan menderita luka dalam yang parah!

Untung Kiai Gede Tapa Pamungkas saat itu membuat gerakan dua tangan ke kiri dan ke kanan.

Kapak bermata dua dan pedang tipis lentur serta merta bergerak menjauh.

Lalu perlahan-lahan turun ke tanah di hadapan Sinto Weni dan S**at Tandika.

Seperti tadi begitu menyentuh tanah pedang tipis lentur langsung bergelung menggulung.

Untuk ke sekian kalinya dua murid Kiai Gede Tapa itu dibuat terkagum-kagum menyaksikan kehebatan senjata berupa kapak bermata dua dan pedang tipis lentur yang memancarkan cahaya putih menyilaukan itu.

Murid-muridku, kalian telah menyaksikan kehebatan dua senjata itu.

Apa yang barusan kalian lihat hanya sebagian kecil saja dari kehebatan yang tersimpan di dalam dua senjata itu.

Inilah dua warisan yang akan aku berikan pada kalian.

Senjata berbentuk kapak cocok menjadi pegangan seorang kesatria.

Senjata ini bernama Kapak Naga Geni 212.

Jika mulut kepala naga yang merupakan gagang kapak ditiup maka senjata itu akan berubah menjadi sebuah seruling yang mampu mengeluarkan suara keras.

Membuat kacau jalan pikiran, peredaran darah dan bisa memecahkan gendang-gendang telinga lawan.

Bilamana mata naga kiri kanan ditekan maka dari mulut naga akan melesat keluar jarum-jarum putih yang merupakan senjata rahasia ampuh.

Siapa saja yang mempergunakan senjata ini dia harus memiliki tenaga dalam tinggi.

Tanpa tenaga dalam Kapak Naga Geni 212 hanya merupakan satu benda mati belaka.

Berarti senjata ini tidak bisa dipergunakan oleh sembarang orang.

Kiai Gede Tapa Pamungkas memandang pada Sinto Weni sesaat lalu meneruskan penuturannya.

Senjata yang satunya yakni berupa pedang tipis dan bisa digulung bernama Pedang Naga Suci 212.

Keampuhannya tidak kalah dengan Kapak Naga Geni 212 dan cocok sebagai senjata andalan seorang dara perkasa.

Di dalam badan pedang tersimpan ratusan senjata rahasia berbentuk jarum putih.

Bilamana mulut naga ditiup maka jarum-jarum itu akan melesat keluar lewat sebuah lubang kecil di ujung pedang.

Seperti Kapak Naga Geni 212, pedang sakti ini juga bisa ditiup dijadikan seruling yang bunyinya dapat menghantam lawan.

Untuk mengeluarkan segala kehebatan yang tersimpan dalam pedang seseorang harus mengerahkan tenaga dalam.

Murid-muridku dua senjata ini bukan senjata sembarangan.

Dicipta-kan oleh para pendahuluku hanya dengan satu maksud dan tujuan yakni membela kebenaran dan keadilan, menghancurkan angkara murka dalam rimba persilatan.

Inilah warisan yang harus kalian jaga dengan baik, dalam merawat maupun mempergunakannya.

Sekali kalian mempergunakan senjata itu di jalan yang salah maka kesaktiannya akan memukul balik pada diri kalian!

Murid-muridku, walau tadi aku sebutkan bahwa Kapak Naga Geni 212 cocok untuk seorang kesatria dan Pedang Naga Suci 212 cocok untuk seorang pendekar dara perkasa, namun terserah pada kalian masing-masing untuk berunding memilih yang mana.

Khusus untuk Kapak Naga Geni 212 memiliki pasangan sebuah batu hitam berbentuk persegi panjang.

Jika batu ini digosokkan atau dipukulkan ke mata kapak maka lidah api akan mencuat keluar dan merupakan senjata luar biasa.

Dua senjata sakti ini akan menjadi senjata maut bagi semua orang jahat di rimba persilatan, merupakan senjata andalan atau senjata pamungkas bagi kalian masing-masing.

Nah murid-muridku sekarang aku persilahkan kalian berunding.

Setelah kalian menerima warisan dua senjata mustika sakti itii maka aku akan merasa lega dan segera eninggalkan kalian. . . .

Dari balik seiempang kain putih yang melilit di tubuhnya Kiai Gede Tapa Pamungkas keluarkan sebuah batu hitam berbentuk empat persegi yang besarnya segenggaman tangan.

Batu ini dilemparkannya dan jatuh tepat di samping Kapak Naga Geni 212.

S**at Tandika bukan . seorang pemuda yang s**a mementingkan diri sendiri dan tak pernah temahak dalam hal apapun.

Karena itu walau sang guru telah berkata demikian dia tetap saja duduk di tempatnya, seolah memberi kesempatan pada adik seperguruannya yaitu Sinto Weni untuk memilih lebih dulu salah satu dari dua senjata mustika sakti itu.

Bagaimanapun dia tidak berprasangka buruk dan yakin bahwa Sinto Weni akan mengambil Pedang Naga Suci 212 dan dia akan kebagian Kapak Naga Geni 212.

Namun dugaan S**at Tandika keliru.

* * * Sinto Weni membungkuk memberi hormat pada Kiai Gede Tapa Pamungkas lalu berkata.

Kiai jika memang kau memberi izin untuk memilih, saya akan mengambil Kapak Naga Geni 212 dan batu pasangannya!

Di tengah telaga sang Kiai kerenyitkan kening sedang S**at Tandika melengak kaget.

Sehabis bicara Sinto Weni bergerak cepat mengambil Kapak Naga Geni 212 dan batu pasangannya.

Setelah menyimpan dua benda itu dibalik pakaian ringkasnya, dia kemudian menyambar p**a Pedang Naga Suci 212.

Kiai Gede Tapa Pamungkas segera menegur.

Sinto Weni, kau hanya boleh mengambil satu dari dua senjata sakti itu. Kau telah mengambil Kapak Naga Geni 212. Mengapa kau juga mengambil Pedang Naga Suci 212?!

Sinto Weni cepat membungkuk.

Maafkan saya Kiai. Saya memang berlaku lancang mengambil Pedang Naga Suci ini. Bukan untuk memilikinya tapi justru menyelamatkannya.

Baik Kiai Gede Tapa maupun S**at Tandika sama-sama heran dan tidak mengerti akan ucapan Sinto Weni.

Kalau si pemuda diam saja tak berani bertanya, tidak demikian dengan sang Kiai.

Orang tua ini ajukan pertanyaan.

"Apa maksud ucapanmu tadi, Sinto?!"

Maafkan kalau jawaban saya terdengar, kasar atau keliru. Tapi saya beranggapan, senjata sehebat Pedang Naga Suci 212 ini tak layak berada di tangan S**at Tandika, Saya mempunyai firasat senjata ini kelak akan disalati gunakannya! Jadi biar Pedang Naga Suci 212 ini saya bawa dulu. Saya akan menyimpannya dengan baik sampai suatu saat ada seseorang yang lebih pantas memilikinya.

"Kau berani menilai kakak seperguruanmu seperti itu Sinto?! Kau berani memberikan warisan berupa pedang itu pada orang lain?!

Suara Kiai Gede Tapa Pamungkas tetap lembut namun alunan nadanya jelas menegur keras.

Kalau saya salah harap maafkan saya-Kiah Kalau ini sebuah dosa mohon kau mau memberi ampun. Kelak waktu yang akan membuktikan ucapan saya!

Habis berkata begitu Sinto Weni membungkuk lalu dengan gerakan luar biasa cepatnya bersamaan dengan sambaran kilat pada gelegar guntur gadis ini berkelebat dan lenyap dalam kegelapan sementara hujan masih terus mengguyur dan angin terus mendera kencang.

Melihat gurunya diam saja walau menunjukkan wajah masygul S**at Tandika segera bergerak hendak mengejar.

Namun sang Kiai mencegah.

"S**at! Tak usah kau kejar!"

"Tapi Kiai. . . "

"Aku tahu kau tak s**a melihat orang melarikan warisan milikmu. . . . "

Bukan hanya itu Kiai. Saya tidak s**a melihat peri laku budi pekertinya. Dia begitu merendahkan Kiai. . . .

Kiai Gede Tapa angkat tangan kanannya dan berkata.

"Tetap di tempatmu S**at. Kita perlu bicara. . . . "

"Sementara kita bicara Sinto Weni telah lari jauh!"

Memotong si pemuda.

Kita perlu bicara, S**at. Setahuku gadis itu memiliki perasaan halus, penuh welas asih walau kadang-kadang s**a usil dan bicara ceplas-ceplos. Aku yakin ada sesuatu yang telah membuat dirinya berubah seperti itu. Dan yang tahu mengapa dia jadi begitu hanya, kau seorang. Selama empat tahun kalian berkelana menimba ilmu dan pengalaman di rimba persilatan. Kau mau memberikan penjelasan padaku S**at?

Mendengar kata-kata sang guru S**at Tandika jadi pucat, sesaat dia terdiam.

"Saya rasa. . . . "

"Jelaskan padaku terus terang. . . . "

Kiai Gede Tapa Pamungkas seperti mendesak.

Kiai. . . . Sejak dilepas empat tahun lalu, dua tahun pertama kami memang selalu bersama-sama. Pada masa-masa itulah antara kami terjalin hubungan yang sangat akrab. . . .

"Akrab sebagai teman, saudara seperguruan atau apa?"

Tanya Kiai Gede Tapa p**a.

Kembali S**at Tandika terdiam.

Setelah menarik nafas dalam dia baru menjawab.

"Kami saling jatuh cinta. Namun sesuatu terjadi. . . . "

"Apa yang kau maksud dengan sesuatu itu?"

Tanya Kiai Gede Tapa.

Untuk mencari pengalaman lebih luas pada tahun ke tiga kami setuju saling berpisah. Meneruskan perjalanan sendiri-sendiri. Sinto berkelana di barat, saya sendiri malang melintang ke berbagai penjuru. Saya kemudian bertemu dengan beberapa orang gadis. Saya terpikat dan melupakan Sinto. Saya mengkhianati cintanya. . . . Mungkin itu sebabnya dia menjadi sangat marah dan mendendam pada saya. Saya akan mencarinya. . . .

"Tidak, kau tetap di sini sampai aku selesai bicara!"

Tukas Kiai Gede Tapa.

Muridku S**at Tandika! Bagi seorang gadis cinta adalah sejuta bahagia dalam sejuta kesucian! Kalau dia dikhianati dia bisa sejuta diam dalam sejuta derita. Namun bisa juga dia mendekam sejuta kebencian sejuta dendam. Agaknya Sinto Weni telah memilih dua hal yang terakhir. Kalau kau kejar dia saat ini, selagi bara kebencian dan dendam berkobar hebat dalam dirinya, bukan mustahil dia akan membunuhmu. . . .

"Saya rela menemui kematian di tangannya. . . . "

Kiai Gede Tapa tersenyum.

Hanya orang tolol yang memilih jalan hidup seperti itu muridku. Jangan menebus ketololan dengan menggadaikan nyawamu! Ketahuilah dalam hidup ini ada tiga hal yang mendatangkan kehancuran pada kaum laki-laki kalau dia menyimpang dari hukum alam yang telah ditentukan. Pertama jabatan, ke dua harta dan ke tiga perempuan. Kau telah membenturkan diri pada salah satu dari tiga hukum alam itu muridku. Apa jawabmu?!"

Saya mengerti Kiai. Saya telah berbuat sesuatu yang salah terhadap Sinto Weni. Saya harus berani bertanggung jawab. Saya mohon maafmu Kiai. . . .

Kiai Gede Tapa tersenyum rawan.

Kalau kau hendak mencarinya jangan lakukan sekarang. Sinto Weni membutuhkan waktu bertahun-tahun, mungkin belasan tahun untuk mengobati luka hatinya. Kau harus menunggu dan memilih waktu yang tepat. Jika kau bersikeras dan bertindak ceroboh kau bisa celaka sendiri. . . . Lagi p**a aku rasa ada baiknya untuk sementara Pedang Naga Suci 212 berada di tangannya. Ketahuilah senjata mustika sakti itu hanya bertuah di tangan seorang yang benar-benar suci lahir bathin dan dipergunakan atas nama kebaikan serta kebenaran. Menyimpang dari itu Pedang Naga Suci 212 akan mendatangkan malapetaka bagi orang yang memakainya secara salah. . . .

"Nasihat Kiai akan saya perhatikan. . . "

Kata S**at Tandika dan dalam hati dia berkata.

Kalau memang begitu tuah Pedang Naga Suci 212 mungkin sekaji senjata itu tidak cocok bagiku. Selama empat tahun terakhir ini aku banyak melakukan hal-hal yang tidak benar. . . . Agaknya aku harus melupakan pedang sakti itu seumur hidupku.

S**at memandang ke arah Kiai Gede Tapa.

Nasihat merupakan hal terakhir yang bisa kuberikan. Selanjutnya kau sendiri yang menentukan jalan hidupmu. Waktuku sudah habis. Aku harus pergi sekarang!

Habis berkata begitu Kiai Gede Tapa Pamungkas rapatkan telapak tangannya satu sama lain lalu ke dua tangannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.

Kilat menyambar.

Guntur menggelegar.

Air telaga beriak keras.

Asap putih berbuntal-buntal.

Perlahan-lahan sosok tubuh Kiai Gede Tapa Pamungkas lenyap masuk ke dalam telaga.

S**at Tandika mengusap wajahnya berulang kali.

Walau saat itu udara dinginnya bukan alang kepalang namun hujan yang membasahi wajah dan tubuhnya telah bercampur dengan keringat.

Seperti dituturkan dalam Episode sebelumnya S**at Tandika malang melintang dalam rimba persilatan sambil berusaha mencari Sinto Weni.

Namun dalam pengelanaannya itu justru S**at Tandika semakin jauh tenggelam dalam kata hati dan bujukan nafsu.

Dia mempunyai kelemahan menghadapi gadis-gadis cantik.

Mudah jatuh hati.

Sebelum dan sesudah kawin dengan seorang janda cantik puteri Adipati Plered, pemuda itu menjalin hubungan cinta dengan beberapa gadis.

Di antaranya Sabai Nan Rancak dan Sika Sure Jelantik.

Rata-rata semua gadis itu kemudian ditinggalkannya begitu saja.

S**at Tandika sendiri kemudian melenyapkan diri selama bertahun-tahun.

Ketika dia muncul kembali keadaannya berubah seperti orang kurang waras.

Tindak tanduknya menggegerkan rimba persilatan.

Dia bukan saja membasmi para tokoh golongan hitam tapi juga menumpas mereka dari golongan putih yang dianggapnya menjadi penghalang.

Tak jelas apa yang menjadi tujuan S**at Tandika.

Apa dia ingin menjadi raja di raja dunia persilatan atau semua perbuatannya itu akibat penyesalan sesaat atas segala kelakuannya di masa lalu?

Rimba persilatan memberi beberapa julukan pada S**at Tandika.

Dia disebut sebagai Pendekar Gila Patah Hati dan Iblis Gila Pencabut Jiwa.

Dari beberapa gelar yang diberikan orang padanya, dia lebih dikenai dengan julukan Tua Gila.

Dalam usia tuanya dia kemudian bertemu dengan Pendekar 212 Wiro Sableng dan mengajarkan ilmu silat Orang Gila ciptaannya sendiri pada Wiro yang sebelumnya telah diambil murid oleh Sinto Weni.

Sinto Weni sendiri dikenal dengan nama Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede.

Sinto Gendeng mewariskan Kapak Naga Geni 212 pada Wiro yang dalam dunia persilatan kemudian lebih dikenal sebagai Kapak Maut Naga Geni 212.

Sedangkan Pedang Naga Suci 212 tetap disembunyikan Sinto Gendeng sekalipun di hari tuanya dia telah bertemu dan berbaik-baik dengan Tua Gila alias S**at Tandika kekasihnya di masa muda Sinto Gendeng sendiri tidak pernah mempergunakan Pedang Naga Suci.

Mungkin dia menyadari sejak menjalin hubungan dengan S**at Tandika dan ditinggal pergi Setelah cinta dan kesuciannya dirampas begitu saja maka pedang mustika sakti itu tidak mungkin, bisa dimanfaatkannya.

Namun bagaimanapun Sinto Gendeng merahasiakan di mana dia menyembunyikan Pedang Naga Suci 212 itu, pada akhirnya Tua Gila mengetahui juga dimana senjata itu beradanya.

Hal itu kemudian diberitahukannya pada Puti Andini, cucunya sendiri.

Sementara itu di rimba persilatan selain berita besar mengenai Kitab Wasiat Malaikat kini kabar tentang adanya Pedang Naga Suci 212 itu telah tersiar santar, membuat para tokoh baik golongan putih maupun golongan hitam sama-sama membuka mata memasang telinga dan mengatur siasat untuk menjejakinya!

* * Badai yang melanda pantai barat Pulau Andalas sekali ini dahsyat bukan main.

Sejak tengah malam tadi angin keras mendera tanpa henti, menerabas apa saja yang ada di permukaan laut.

Beberapa p**au kecil lenyap seolah amblas ke dasar samudera.

Puluhan nelayan menemui ajal, tenggelam bersama perahu mereka.

Menjelang pagi walau langit di ufuk timur tampak terang tanda sang surya akan segera terbit, badai masih belum berhenti.

Malah bertiup ke arah pantai, menyapu segala yang ada di daratan.

Di puncak barat Gunung Singgalang seorang tua kurus mengenakan jubah hijau yang kebesaran berulang kali mengusap wajahnya yang cekung.

Sejak tadi dia melangkah mundar-mandir.

Sepasang matanya yang jereng berputar liar kian kemari dan sebentarsebentar mengerling ke arah mulut goa di dalam mana dia saat itu berada.

Semua gerakgerik orang tua ini memberi pertanda bahwa saat itu dia berada dalam satu kegelisahan.

Paling tidak ada sesuatu yang membuatnya tidak sabar.

Bosan mundar-mandir akhirnya orang tua ini duduk di lantai goa.

Berusaha bersamadi.

Namun sia-sia saja.

Sepasang telinganya tidak mampu menghambat suara deru angin yang tiada henti-hentinya di luar sana.

Sadar dia tak akan bisa bersamadi orang tua ini akhirnya bangkit berdiri.

Diluruskannya tubuhnya yang agak bungkuk dimakan usia lalu sambil merapikan letak destar tinggi hijau di atas kepalanya dengan langkah gontai dia berjalan menuju mulut goa yang sebagian tertutup oleh sebuah batu besar.

Si orang tua menyeruak di antara mulut goa dan batu besar.

Angin kencang menerpa muka dan tubuhnya.

Rambut putihnya yang menjulai di bawah destar, janggut serta kumisnya melambai-lambai.

Jubah dan destar hijaunya ikut berkibar-kibar.

"Pertanda apakah yang tengah diberikan alam. . . "

Kata si orang tua dalam hati.

"S

ekian lama diam di p**au besar ini baru sekarang ada badai begini hebat.

Alam agaknya mulai tidak lagi bersahabat dengan umat.

Atau mung kin ini satu isyarat bagiku untuk segera keluar dari komplotan manusia-manusia aneh tapi jahat itu?

Orang tua itu kembali mengusap wajahnya yang cekung lalu gelengkan kepala.

Beberapa kali menarik nafas dalam, biasanya kalau dia berdiri di mulut goa seperti itu dia akan melihat pemandangan sangat indah di sepanjang lereng sampai kaki Gunung Singgaiang.

Namun saat itu dia nyaris tidak dapat melihat apa-apa karena lebatnya curahan hujan ditambah kabut menutup dimana-mana.

tiupan badai semakin menggila.

Hujan mendera bumi semakin ganas.

Bagian bawah jubah hijau si orang tua tampak basah.

Sebelum tambah kuyup orang tua ini melangkah mundur, masuk kembali ke dalam goa.

Namun gerakannya terhenti ketika sekonyong-konyong satu bayangan berkelebat di depan goa, tersamar oleh badai dan hujan.

Paras orang tua ini berubah.

Sesaat rasa tegang menguasai dirinya.

"Orang yang aku tunggu sudah datang. . . "

Hatinya berbisik.

"Wuttt!"

Tahu-tahu satu sosok serba hitam dalam keadaan basah kuyup telah berdiri di hadapan orang tua itu.

Meski orang yang tegak di hadapannya itu angker luar biasa namun si orang tua bersikap tenang.

Sepasang matanya yang jereng memperhatikan orang dengan tak berkesip.

Hemmm. . . . Ini tampang manusianya. Tak pernah kulihat sebelumnya tapi dari ciri-ciri jelas dia orangnya. Lebih baik aku bertanya dulu untuk memastikan,

Kata orang tua berjubah hijau dalam hati.

Orang tak dikenal, apakah kau tersesat mencari tempat berteduh? Atau memang goaku ini menjadi tujuanmu?

Orang yang ditegur balas menatap tanpa berkedip.

Orang ini bertubuh tinggi besar hingga kepalanya yang berambut kasar seperti ijuk hampir menyondak mulut goa.

Kulitnya hitam laksana arang.

Pakaiannya yang basah kuyup juga berwarna hitam.

Orang ini memiliki alis aneh.

Tebal panjang dan bersambung mulai dari pelipis kiri sampai ke pelipis kanan.

Di atas alis, pada keningnya terdapat enam buah lobang besar hitam.

Lalu di bawah alis terdapat juga enam lobang serupa yakni tiga di p**i kanan dan tiga di p**i kiri.

Mungkin sekali dua belas lobang ini diakibatkan oleh penyakit cacar air yang ganas.

"Aku mencari Sutan Alam Rajo Di Bumi! Apakah kau orangnya?"

Orang yang tegak di depan goa menjawab dengan mata tetap tak berkesip memandangi orang tua di hadapannya.

Suaranya serak namun dibawah hujan dan badai keras begitu rupa ucapannya itu jelas terdengar ke telinga si orang tua pertanda dia barusan bicara dengan mempergunakan tenaga dalam.

Di puncak Singgalang ini hanya ada satu goa didiami manusia. Di muka bumi ini hanya ada satu orang bergelar Sutan Alam Rajo Di Bumi. Apakah kau masih ingin bertanya?!

Si tinggi besar bermuka angker undur selangkah.

Turut yang aku dengar Sutan Alam Rajo Di Bumi adalah seorang yang meski tua tapi berbadan tegap. Selalu mengenakan jubah putih. Kalau kau orangnya maka sungguh lain apa yang kudengar dengan kenyataan.

Mata jereng orang tua berdestar dan berjubah hijau berputar beberapa kali.

Sambil menyeringai dia kemudian berkata.

Berita yang didengar tidak selalu sama dengan kenyataan yang ada. Apakah kau lebih mempercayai ucapan orang ketimbang kenyataan?!

"Kalau begitu. . . . Hemmm. . . . "

Lelaki berpakaian hitam basah kuyup dengan muka berlubang dua belas usap alisnya yang melintang panjang bersambung di atas sepasang mata.

"Jadi aku tidak salah saat ini berhadapan dengan Sutan Alam Rajo Di Bumi?!"

"Kau berhadapan dengan orang yang kau cari!"

Kata orang tua di dalam goa.

Aku sudah tahu kau baka! datang. Lebih dari itu aku juga sudah tahu maksud dan tujuan kedatanganmu. Jika kau memang orangnya yang dijuluki Hantu Balak Anam Dari Sijunjung!

Agak terkesiap juga si jubah hitam mendengar orang sudah tahu siapa dia adanya.

"Kalau kau memang Sutan Alam Rajo Oi Bumi, maka harap kau s**a terima salam hormatku!"

Hantu Balak Anam Dari Sijunjung letakkan tangan kiri di atas dada lalu melipat lutut sedikit.

Orang tua bergelar Sutan Alam Rajo Di Langit tersenyum dan berkata.

Tampangmu seburuk setan. Namun nyatanya kau cukup punya peradatan, tahu bagaimana menghormati orang tua sepertiku!

"Kalau bicara soal hormat menghormati masalah usia tidak layak dijadikan pegangan. . . . "

"Eh, apa maksudmu. . . ?"

Tanya Sutan Alam Rajo Di Bumi dengan senyum masih terkulum di bibirnya.

"Karena usiaku jauh lebih tua darimu. . . . "

Tentu saja orang tua di dalam goa menjadi terkejut.

"Aku berusia hampir tujuh puiuh tahun. Kau sendiri memangnya berapa umurmu?!"

Si orang tua bertanya.

"Tujuh puluh delapan!"

Jawab si jubah hitam Hantu Balak Anam.

Sesaat Sutan Alam tampak seperti bengong tak percaya.

Kalau memang benar bagaimana mungkin orang seusia tujuh puluh delapan tahun masih memiliki tubuh tegap kokoh begitu rupa.

Rambutnya pun tak ada yang putih.

Luar biasa! Kalau kau memang berusia tujuh puluh delapan, walau wajahmu seburuk setan ternyata kau awet muda! Aku si tua bangka ini ingin belajar ilmu apa yang kau pergunakan agar tetap awet muda! Ha. . . ha. . . ha!

Address

Jalan Amd Talang Jambe
Palembang
30155

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share