22/12/2025
1
Azra sedang membersihkan lantai utama gedung bertingkat lima itu. Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai office girl di perusahaan ternama ini. Padahal dia itu baru beberapa bulan yang lalu menamatkan kuliahnya di jurusan manajemen bisnis.
Sudah tiga puluh menit berlalu sejak jadwal masuk kantor tadi. Suasana lobi mendadak lebih ramai dan lebih sibuk dari sebelumnya. Azra yang masih sibuk dengan pekerjaannya di salah satu bagian lobi, tidak memperhatikan perubahan yang sedang terjadi. Sampai-sampai seorang pria memanggil namanya.
"Mba Azra! Hentikan dulu kerjanya. Berdiri di sini," panggil pria yang memakai topi hitam.
Azra menoleh ke arah sumber suara. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri sudah tampak beberapa orang yang berbaris rapi.
"Tarok aja sapu pelnya di situ," pria itu memberikan perintah.
Azra menurut. Setelah meletakkan benda itu, Azra berlari kecil ke arah pria itu.
"Ada apa, Mas Denis?" tanya Azra heran.
"Tuan Muda akan segera sampai. Kita harus menyambutnya dengan baik," jawab pria yang dipanggil Denis itu.
"Siapa Tuan Muda itu, Mas?" kembali Azra bertanya.
"Pemilik perusahaan ini," jawab Denis pendek.
"Ooo..."
Azra hanya manggut-manggut. Tapi tetap dia tidak habis pikir. Apakah memang harus disambut seperti ini p**a saat pimpinan perusahaan itu datang? Kok, sepertinya berlebihan sekali.
'Hmm, berarti urutan barisan ini, makin ke pintu makin tinggi jabatannya. Sedangkan makin ke sini, makin rendah jabatannya di perusahaan ini,' simpul Azra dalam hati.
Beberapa saat kemudian, tampak sebuah mobil sedan hitam mengkilat berhenti di depan pintu lobi utama itu. Beberapa orang pria berjas dan berkaca mata hitam yang sejak tadi sudah berdiri di teras, menghampiri mobil yang baru berhenti tersebut.
Tampak salah seorang dari mereka membukakan pintu mobil. Tidak berapa lama kemudian, seorang pria berperawakan tinggi tegap keluar dari mobil. Dia juga memakai kaca mata hitam. Mukanya putih.
Azra yang tidak terlalu tinggi, mencondongkan tubuhnya agak ke depan. Dia ingin melihat sosok yang disebut-sebut sebagai Tuan Muda itu. Dua orang perempuan berpakaian seperti staf, memandang ke arah Azra.
Salah seorang di antara mereka berbisik ke telinga perempuan yang di sebelahnya. Beberapa saat kemudian, keduanya terlihat menahan tawa sambil melihat ke arah Azra.
Azra melihat sikap keduanya itu. Sangat jelas jika kedua wanita itu sedang menertawakan dirinya. Azra merasa tersing gung dan ma rah. Dia hendak melangkah ke arah kedua wanita itu. Tapi urung, karena sudah terdengar derap sepatu beradu dengan lantai dari arah pintu.
Rupanya Tuan Muda sudah masuk lobi. Azra hanya memandang ge ram ke arah keduanya. Salah seorang dari mereka hanya mengibaskan tangannya sambil tersenyum mere mehkan.
"Sabar Azra. Sabar," Azra berbisik menenangkan dirinya. Kini matanya sudah dialihkan ke sosok yang baru saja masuk. Paling depan berjalan seorang pria muda berkaca mata hitam. Rambutnya disisir rapi. Menggunakan setelan jas dan dasi dengan warna senada.
"Sepertinya orang itu pemilik perusahaan ini," kembali Azra berbisik sendiri.
Beberapa orang juga berjalan di samping dan di belakang pria itu. Semuanya berjas dan berkaca mata hitam. Azra melihat orang-orang yang berbaris sedikit menundukkan tubuhnya saat rombongan itu melewati mereka. Azra menjadi paham apa yang akan dia lakukan jika rombongan itu melewati dirinya.
Beberapa langkah lagi mereka akan sampai di tempat Azra berdiri. Azra juga sudah bersiap-siap sambil mencu ri pandang ke arah rombongan itu. Rombongan itu tinggal selangkah lagi untuk melewatinya. Azra sudah mulai membungkukkan wajahnya sedikit seperti yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya.
Tiba-tiba rombongan itu berhenti tepat di depannya.
Sudah tamat di KBMApp ya...
Judul: Wanita yang Kalian Hina Itu, Adalah Adikku
Penulis: Nurhaimi_Zettu