Hadi Seggaf Asseggaf

Hadi Seggaf Asseggaf gunakan sosmed untuk kebaikan bukan untuk kebencian, kejelekan dan kemaksiatan...

15/08/2026

📝Ringkasan Kajian Rauhah Pagi
Selasa, 28 Juli 2026
Pondok As-Shofa Kauman Mojosari
Bersama Al-Ustadz Hadi Asseggaf
"Mengikuti Jalan yang Lurus"

- Pemateri mengingatkan bahwa Allah telah menunjukkan jalan yang benar melalui Al-Qur'an dan sunnah. Seorang muslim diperintahkan untuk istiqamah di atas jalan tersebut serta tidak mengikuti jalan-jalan lain yang dapat menyesatkan dari kebenaran.

- Meneladani Jalan Para Salaf
Keselamatan dalam beragama terletak pada mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi'in, dan para ulama salaf. Jalan yang telah mereka tempuh adalah jalan yang terbukti membawa manusia semakin dekat kepada Allah.

- Waspada terhadap Jalan yang Menyimpang
Kajian juga mengingatkan agar tidak mudah menerima pemikiran atau amalan baru yang tidak memiliki landasan syariat yang kuat. Agama harus dijalankan berdasarkan ilmu, bukan sekadar mengikuti logika atau kemudahan semata.

- Menjaga Muamalah dan Rezeki Halal
Selain memperbaiki ibadah, seorang muslim juga wajib menjaga akhlak dalam bermuamalah. Kehati-hatian dalam mencari rezeki sangat penting agar terhindar dari harta yang haram maupun syubhat, karena makanan dan penghasilan yang halal menjadi sebab diterimanya amal.

- Teladan Sayidatuna Fatimah
Kaum perempuan diajak meneladani Sayidatuna Fatimah Az-Zahra sebagai sosok yang menjaga kehormatan, rasa malu, dan kemuliaan dirinya. Kemuliaan seorang wanita terletak pada ketakwaan dan kemampuannya menjaga kehormatan sesuai tuntunan agama.

Kesimpulan:
Kajian Rauhah Pagi menegaskan bahwa keselamatan dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan istiqomah mengikuti jalan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dipahami dan diamalkan oleh para salafus shalih. Seorang muslim hendaknya menjauhi pemikiran atau amalan yang tidak memiliki dasar syariat, menjaga kehalalan rezeki serta akhlak dalam bermuamalah, dan menjadikan Sayidatuna Fatimah sebagai teladan dalam menjaga kehormatan. Dengan berpegang teguh pada tuntunan para ulama pewaris Nabi, seseorang akan lebih mudah meraih ridha Allah dan terhindar dari jalan-jalan yang menyesatkan.

والله اعلم بالصّواب

15/08/2026

📨Rangkuman Kajian Rauhah Pagi
Senin, 28 Juli 2026
Bersama Al Habib Hadi Seggaf Asseggaf
di Pondok As-Shofa Kauman Gang 12, Mojosari, Mojokerto
Tema: Kelapangan Hati dalam Menuntut Ilmu

- Menuntut ilmu bukan hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kelapangan hati yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hati yang lapang akan lebih mudah menerima nasihat, memahami ilmu, dan merasakan manisnya belajar.

- Ilmu tidak diraih secara instan. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan waktu yang panjang. Sebagaimana nasihat Al Imam As-Syafi'i, salah satu syarat memperoleh ilmu adalah belajar dalam waktu yang lama dengan penuh kesungguhan.

- Orang yang hatinya dilapangkan oleh Allah tidak mudah tertipu oleh gemerlap dunia. Hatinya selalu terhubung dengan ilmu dan menjadikan setiap ilmu yang dipelajari sebagai bekal menuju akhirat.

- Para ulama terdahulu memberikan teladan luar biasa dalam mengorbankan harta, tenaga, dan waktu demi mencari ilmu. Kecintaan mereka kepada ilmu mengalahkan kecintaan terhadap kenyamanan hidup.

- Sebagai amalan agar Allah melapangkan hati, dianjurkan memperbanyak membaca Surat Al-Insyirah (Alam Nasyroh) dan doa "Robbisyroh li shodri...", dibaca minimal tujuh kali setiap selesai shalat atau seratus kali dalam sehari.

Hikmah Kajian:
"Ilmu akan mudah masuk ke hati yang lapang. Maka mintalah kelapangan hati kepada Allah, karena hati yang bersih lebih berharga daripada akal yang cerdas tetapi keras."

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melapangkan hati kita, menumbuhkan kecintaan kepada ilmu, serta menjadikan kita termasuk hamba yang istiqamah menuntut ilmu dan mengamalkannya. Aamiin.🤲🏻
والله أعلم بالصواب

14/08/2026
14/08/2026

📒Ringkasan Kajian Kitab Maqōlūn Nāṣiḥīn
Senin, 27 Juli 2026
Madrasah Diniyyah As-Shofa Sawahan Mojosari, Mojokerto
Bersama: Al Habib Hadi Asseggaf
Tema: Menjaga Iman di Tengah Fitnah Akhir Zaman

Dalam kajian kali ini dijelaskan bahwa salah satu tanda kerusakan zaman adalah ketika manusia lebih mengutamakan hawa nafsu dan urusan dunia daripada akhirat. Seorang mukmin dituntut untuk menjaga diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan tidak larut dalam fitnah yang semakin meluas.

Poin-Poin Penting Kajian
1. Sadar bahwa Zaman Semakin Penuh Fitnah
• Kerusakan zaman terjadi ketika hawa nafsu dan kepentingan dunia lebih diutamakan daripada agama.
• Orang yang fokus pada akhirat akan lebih peka melihat keadaan dan tidak mudah terbawa arus.

2. Terbaliknya Standar Kebaikan
• Di akhir zaman, orang yang istiqamah dalam agama sering dianggap kolot atau aneh.
• Sebaliknya, orang yang lalai terhadap agama justru dipandang hebat dan modern.
• Seorang mukmin harus tetap berpegang teguh pada kebenaran, meski bertentangan dengan penilaian manusia.

3. Perbanyak Berdiam di Rumah
• Kurangi keluar rumah tanpa kebutuhan yang jelas agar terhindar dari berbagai fitnah dan kemaksiatan.
• Gunakan waktu untuk memperbanyak ibadah, ilmu, dan amal shaleh.

4. Menjaga Diri dari Pergaulan yang Buruk
• Hindari lingkungan yang dapat merusak agama dan akhlak.
• Memilih teman yang baik merupakan salah satu cara menjaga keimanan.

5. Fokus Memperbaiki Diri
• Jangan sibuk mengurusi kesalahan orang lain jika nasihat sudah tidak lagi bermanfaat.
• Utamakan memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan dengan Allah SWT.

Hikmah Kajian:
Di tengah rusaknya zaman, keselamatan bukanlah dengan mengikuti arus, tetapi dengan menjaga iman, memperbaiki diri, dan tetap istiqamah di atas jalan Allah meskipun terasa berat.
والله اعلم بالصّواب

13/08/2026

📗Rangkuman Kajian Muqoddimah Hadromiyah
📅 Kamis, 23 Juli 2026
📍 Pondok As-Shofa Kauman Gang 12 Mojosari, Mojokerto
👤 Bersama Al Ustadz Hadi Asseggaf beserta para Asatidz

- Kajian kali ini melanjutkan pembahasan tentang sunnah-sunnah wudhu, khususnya mengusap kepala, mengusap telinga, serta menyela-nyelai jari. Selain menjelaskan tata caranya, pemateri juga menerangkan hikmah dan perbedaan pendapat ulama dalam madzhab Imam Syafi'i.

Poin-poin Kajian
1. Mengusap Seluruh Kepala
Dalam madzhab Imam Syafi'i, mengusap sebagian kepala merupakan rukun wudhu, sedangkan mengusap seluruh kepala hukumnya sunnah dan lebih sempurna. Tata cara yang dianjurkan adalah meletakkan kedua ibu jari di pelipis, lalu mengusap kepala hingga tengkuk dan mengembalikannya ke arah semula sebagai bentuk penyempurnaan sunnah.

2. Mengusap Kepala Bagi yang Memakai Imamah atau Kopiah
Seseorang yang mengenakan imamah atau penutup kepala tetap dapat meraih kesunahan mengusap seluruh kepala. Caranya, terlebih dahulu mengusap bagian rambut yang wajib (ubun-ubun), kemudian menyempurnakan usapan di atas imamah atau penutup kepala sesuai tuntunan syariat.

3. Mengusap Telinga
Mengusap bagian luar dan dalam telinga dengan air baru termasuk sunnah dalam wudhu. Bagian dalam telinga diusap menggunakan jari telunjuk, sedangkan bagian luarnya menggunakan ibu jari agar seluruh telinga terkena usapan secara sempurna.

4. Menyela-nyelai Jari
Disunnahkan menyela-nyelai jari tangan dan kaki (tasybik) agar air dapat merata ke seluruh sela-sela jari. Sunnah ini menjadi bentuk kesempurnaan dalam bersuci dan menghindarkan adanya bagian yang luput dari air wudhu.

5. Syarat Mengusap Imamah
Kesunahan mengusap imamah memiliki beberapa syarat, di antaranya penutup kepala harus suci dari najis, tangan tidak terputus dari usapan saat mengusap, serta tetap mendahulukan mengusap bagian rambut yang menjadi kewajiban. Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, seseorang dapat memperoleh keutamaan sunnah mengusap imamah.

Hikmah Kajian:
Kesempurnaan wudhu bukan hanya terletak pada sahnya rukun, tetapi juga pada kesungguhan dalam menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Semakin sempurna wudhu seseorang, semakin besar harapan mendapatkan keberkahan, kebersihan lahir, dan kesucian batin.

والله اعلم بالصّواب

12/08/2026

📠Rangkuman Kajian Kitab Sullamut Taufiq

Rabu, 22 Juli 2026
Madrasah Diniyyah As-Shofa Sawahan Mojosari
Bersama Al Habib Hadi Seggaf Asseggaf

Pada pertemuan kali ini dibahas lanjutan makna kalimat "Asyhadu an lā ilāha illallāh" dengan mengenal sifat-sifat Allah SWT menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Keimanan yang benar dibangun di atas keyakinan bahwa Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan.

Poin-Poin Kajian:

- Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan mustahil memiliki sifat kekurangan sedikit pun.

- Prinsip tauhid mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya." Laisa kamitslihi syai'un."

- Allah bersifat As-Samī' (Maha Mendengar) dan Al-Bashīr (Maha Melihat), tanpa alat, tanpa batas, dan tidak terhalang oleh apa pun.

- Allah bersifat Qadim, yaitu tidak berawal. Adapun seluruh makhluk bersifat hadits, yakni diciptakan dan memiliki permulaan.

- Kalam Allah bersifat qadim, bukan makhluk, serta tidak menyerupai ucapan manusia yang tersusun dari huruf dan suara.

- Memahami sifat-sifat Allah merupakan bagian dari kewajiban mengenal Allah (ma'rifatullah), sehingga keimanan menjadi benar dan terhindar dari keyakinan yang menyimpang.

Hikmah Kajian:

- Tauhid yang lurus lahir dari mengenal Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya. Semakin benar akidah seseorang, semakin kokoh ibadahnya, semakin tenang hatinya, dan semakin kuat ketundukannya kepada Allah SWT.
والله اعلم بالصّواب

11/08/2026

📓Ringkasan Kajian Rauhah Pagi
Rabu, 22 Juli 2026
Pondok As-Shofa Kauman Gang 12 Mojosari, Mojokerto
Bersama Al Ustadz Hadi bin Seggaf Asseggaf

Kajian Rauhah pagi kali ini mengangkat tema tentang kemuliaan ilmu, adab terhadap penuntut ilmu, serta pentingnya menghormati para ulama sebagai pewaris para nabi.

1. Memuliakan Penuntut Ilmu
Beliau meneladankan akhlak mulia Sayidina Ahmad bin Zain Al-Habsyi, murid Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, yang selalu menyambut dan menghormati para penuntut ilmu dengan penuh kegembiraan. Hal ini menunjukkan bahwa memuliakan pencari ilmu termasuk bentuk penghormatan terhadap agama Allah.

2. Ilmu Adalah Bekal Terbaik
Ilmu merupakan nikmat terbesar yang dapat diraih di dunia. Derajat orang berilmu tidak akan sama dengan orang yang tidak berilmu. Dengan ilmu, seseorang dimudahkan menempuh jalan menuju surga dan memperoleh kebahagiaan dunia maupun akhirat.

3. Semangat Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Para ulama tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayat. Ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah tidak akan pernah habis untuk digali, sehingga seorang mukmin harus terus memperbarui ilmunya.

4. Keutamaan Bersedekah untuk Penuntut Ilmu
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa membantu penuntut ilmu termasuk sedekah yang paling utama. Pahalanya terus mengalir selama ilmu yang dipelajari diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.

5. Menghormati dan Mendukung Ulama
Para ulama memiliki jasa besar dalam menjaga umat dari kesesatan dan membimbing mereka menuju jalan Allah. Karena itu, sudah sepatutnya umat Islam mencintai, menghormati, serta mendukung perjuangan para ulama dalam berdakwah.

Penutup
"Ilmu adalah cahaya kehidupan. Carilah dengan sungguh-sungguh, hormatilah guru dan penuntut ilmu, serta dukunglah para ulama. Dengan ilmu yang diamalkan, Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di dunia dan di akhirat."
والله اعلم بالصّواب

10/08/2026

Ringkasan Kajian Kitab Syifā'us Saqīm

Selasa, 21 Juli 2026
Kediaman Bapak Luluk, Capangan, Ngoro
Bersama Al-Ustadz Hadi Asseggaf

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci oleh hawa nafsu, sedangkan neraka dikelilingi oleh segala sesuatu yang disenangi oleh hawa nafsu."
(HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa jalan menuju surga memang berat karena menuntut kesabaran dan pengorbanan. Sebaliknya, jalan menuju neraka tampak mudah dan menyenangkan karena mengikuti hawa nafsu.

Poin-poin Kajian

1. Jalan menuju surga membutuhkan perjuangan.
Ibadah, menahan hawa nafsu, meninggalkan maksiat, serta bersabar dalam ketaatan adalah jalan yang terasa berat, namun itulah jalan yang mengantarkan seorang hamba kepada surga.

2. Hakikat bil makārih.
Yang dimaksud perkara yang dibenci oleh nafsu ialah segala amal yang memerlukan kesungguhan, seperti menjaga salat, berpuasa, bersedekah, memaafkan orang yang menzalimi, dan istiqamah dalam kebaikan.

3. Kesenangan nafsu bisa menjadi jebakan.
Segala sesuatu yang membuat manusia lalai dari Allah dan hanya mengikuti syahwat terlihat mudah dan menyenangkan. Namun, jika tidak dikendalikan, itulah jalan yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka.

4. Surga layak diperjuangkan.
Ketika Allah menciptakan surga dan memperlihatkannya kepada Jibril, beliau kagum akan keindahannya. Namun setelah jalan menuju surga dipenuhi berbagai ujian, seseorang tidak akan mencapainya kecuali dengan kesabaran, keimanan, dan perjuangan.

Hikmah Kajian:

Jangan menilai sebuah jalan dari mudah atau sulitnya, tetapi lihatlah ke mana jalan itu bermuara. Jalan yang berat karena ketaatan akan berakhir dengan kenikmatan abadi, sedangkan jalan yang dipenuhi kesenangan hawa nafsu dapat berakhir dengan penyesalan.

والله اعلم بالصّواب

09/08/2026

📚Rangkuman Kajian Rauhah Pagi
Selasa, 21 Juli 2026
Pondok As-Shofa Kauman Gang 12 Mojosari
Bersama Al Habib Hadi Seggaf Asseggaf

Tema: Menjaga Kehormatan Sesama Muslim dan Bertawakal kepada Allah

1. Menutup Aib Saudara adalah Jalan Ditutupi Aib oleh Allah
◦ Siapa yang menjaga kehormatan saudaranya dengan tidak membuka aibnya, maka Allah akan menjaga kehormatannya di dunia dan akhirat.
◦ Sebaliknya, orang yang gemar mengumbar keburukan orang lain akan dibongkar aibnya oleh Allah.

2. Hakikat Manusia: Lemah dan Tempatnya Salah
◦ Setiap manusia memiliki sifat lemah (dho'if) dan tidak luput dari kesalahan (mahallul khottho').
◦ Karena itu, hendaknya kita saling memaklumi, menasihati dengan kasih sayang, dan tidak mudah menghakimi.

3. Manusia Diciptakan untuk Saling Melengkapi
◦ Allah menjadikan manusia memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda agar saling membantu dalam kebaikan.
◦ Jangan merasa paling sempurna, karena setiap orang membutuhkan orang lain.

4. Jangan Bergantung kepada Makhluk, Bergantunglah kepada Allah
◦ Rasulullah ﷺ mengajarkan doa agar tidak diserahkan kepada diri sendiri ataupun kepada makhluk walau hanya sekejap mata.
◦ Sandaran utama seorang mukmin hanyalah Allah SWT.

Penutup: "Orang yang memahami kelemahan dirinya akan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Jagalah lisan dari membuka aib sesama, perkuat persaudaraan dengan saling menolong, dan gantungkan seluruh harapan hanya kepada Allah SWT."
والله اعلم بالصّواب

📨Ringkasan Kajian Rauhah PagiSenin, 20 Juli 2026Pondok As-ShofaKauman Gang 12 Mojosari, MojokertoBersama Al Habib Hadi S...
08/08/2026

📨Ringkasan Kajian Rauhah Pagi
Senin, 20 Juli 2026
Pondok As-Shofa
Kauman Gang 12 Mojosari, Mojokerto
Bersama Al Habib Hadi Seggaf Asseggaf

- Pada kajian Rauhah pagi ini, pemateri mengawali dengan pesan bahwa untuk menjalani sisa kehidupan di dunia, peganglah dua perkara: ittiba'ur Rasul (mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ) dan Tarkul Fudhul (meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat). Dua prinsip inilah yang akan menjaga seorang muslim tetap istiqamah hingga akhir hayat.

1. Pegang Dua Bekal dalam Menjalani Sisa Kehidupan
• Ittiba'ur Rasul adalah meneladani dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah jalan menuju kebahagiaan, keselamatan, serta meraih cinta dan ampunan Allah SWT.
• Tarkul Fudhul adalah meninggalkan ucapan, perbuatan, dan kesibukan yang tidak bermanfaat. Hal ini merupakan tanda baiknya dan sempurnanya keimanan seseorang.

2. Selalu Mengingat Kematian
Kematian bisa datang kapan saja. Karena itu, setiap waktu yang Allah berikan hendaknya diisi dengan amal saleh dan memperbaiki diri sebelum kesempatan berakhir.

3. Berpegang Teguh di Tengah Fitnah Akhir Zaman
Di zaman yang penuh godaan dan fitnah, keselamatan hanya bisa diraih dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, sunnah Rasulullah ﷺ, serta bimbingan para ulama.

4. Menghargai Waktu
Sisa umur diibaratkan seperti waktu pertandingan yang tinggal sedikit. Jangan menunda amal kebaikan, karena waktu yang berlalu tidak akan kembali.

5. Hidup Sederhana
Hindari kebiasaan menumpuk barang dan mengejar hal-hal yang tidak diperlukan. Kesederhanaan membuat hati lebih tenang dan hidup lebih ringan.

6. Memendekkan Angan-angan
Jangan terlalu panjang berharap pada urusan dunia. Fokuslah memperbaiki amal hari ini, karena tidak ada jaminan masih diberi umur esok hari.

Penutup
"Jalani sisa umur dengan dua bekal: ikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan tinggalkan segala yang tidak bermanfaat. Insya Allah, hidup akan lebih berkah dan akhir menjadi indah."
والله اعلم بالصّواب

Majelis Rauhah PagiKajian Majemuk Kalam Al Habib Ahmad bin Umar bi...

Address

Mojosari

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hadi Seggaf Asseggaf posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category