Hadi Seggaf Asseggaf

Hadi Seggaf Asseggaf gunakan sosmed untuk kebaikan bukan untuk kebencian, kejelekan dan kemaksiatan...

📗RINGKASAN KAJIAN RAUHAH SABTU PAGI• Hari / Tanggal: Sabtu, 6 Juni 2026• Tempat: Pondok Pesantren As-Shofa, Kauman Gang ...
09/06/2026

📗RINGKASAN KAJIAN RAUHAH SABTU PAGI
• Hari / Tanggal: Sabtu, 6 Juni 2026
• Tempat: Pondok Pesantren As-Shofa, Kauman Gang 12, Mojosari, Mojokerto
• Pemateri: Ustadz Hadi bin Seggaf Asseggaf

Poin-Poin Utama Pembahasan Kajian:
1. Pentingnya Dakwah bagi Orang yang Meninggalkan Shalat
• Keinginan Kuat Mengajak: Kita ditekankan untuk memiliki tekad dan keinginan yang kuat dalam mengajak orang-orang yang telah meninggalkan shalat agar mau kembali melaksanakannya.
• Metode Dakwah yang Lembut: Disarankan untuk menggunakan pendekatan yang menyentuh hati, salah satunya dengan memberikan hadiah atau kebaikan sebagai sarana menarik simpati mereka agar tergerak untuk shalat.

2. Edukasi dan Tanggung Jawab Sosial
• Kewajiban Mengajar: Jika mendapati seseorang yang belum mengerti tata cara ibadah, kita berkewajiban mengajarkan surat Al-Fatihah serta syarat-syarat sahnya shalat. Hal ini bertujuan agar mereka tidak memiliki alasan lagi untuk meninggalkan kewajiban tersebut.
• Konsekuensi Berdiam Diri: Membiarkan atau mendiamkan orang yang meninggalkan salat tanpa ada usaha untuk mengajaknya dapat dianggap sebagai bentuk pembiaran atau membantu dalam kemaksiatan.

3. Kedudukan Shalat dalam Islam
• Shalat sebagai Pondasi: Shalat diibaratkan secara tegas sebagai tiang atau pondasi utama agama. Tanpa adanya pondasi yang kokoh ini, bangunan iman seseorang akan menjadi sangat rapuh dan mudah roboh.

4. Kisah Inspiratif & Bahaya Meninggalkan Shalat
• Teguran Allah kepada Nabi Musa AS: Dikisahkan tentang Nabi Musa AS yang ditegur oleh Allah SWT karena menolak seorang perempuan yang sebenarnya sudah bertobat.
• Perbandingan Dosa: Kisah tersebut memberikan penekanan yang mendalam bahwa orang yang meninggalkan shalat secara sengaja dapat dianggap memiliki kedudukan yang lebih buruk daripada pelaku perbuatan dosa besar lainnya.

5. Keutamaan Bersedekah kepada Makhluk Hidup
• Sedekah kepada Hewan: Terdapat penjelasan mengenai besarnya keutamaan memberi makan kepada hewan yang memiliki nyawa. Hal ini berlandaskan pada hadis Nabi: “Fi kulli kabidin harro ajrun” (Pada setiap yang memiliki hati/liver yang basah terdapat pahala).
• Kisah Syafaat: Diangkat p**a kisah seorang wanita salehah yang mendapatkan syafaat dan kemuliaan hanya karena amalan tulusnya memberi makan kepada hewan.

والله اعلم بالصّواب

Majelis Rauhah PagiKajian Majemuk Kalam Al Habib Ahmad bin Umar bi...

🗒️Rangkuman Kajian Kitab Maqōlūn NāṣiḥīnSabtu, 06 Juni 2026Bersama Ustadz Hadi AsseggafMadrasah Diniyyah As-Shofa Sawaha...
09/06/2026

🗒️Rangkuman Kajian Kitab Maqōlūn Nāṣiḥīn
Sabtu, 06 Juni 2026
Bersama Ustadz Hadi Asseggaf
Madrasah Diniyyah As-Shofa Sawahan, Mojosari

Golongan Hamba yang Mendapat Perhatian Allah:
1. Ahlu Dzikir (Orang yang Berdzikir)
Orang yang senantiasa mengingat Allah berada dalam kemuliaan-Nya. Dzikir menghadirkan ketenangan hati, menjadi benteng dari godaan setan, serta mengangkat derajat seorang hamba hingga Allah menyebut namanya di hadapan makhluk yang lebih mulia.

2. Ahlu Syukri (Orang yang Bersyukur)
Orang yang pandai bersyukur adalah golongan yang layak mendapatkan tambahan nikmat dari Allah. Syukur bukan hanya menjaga nikmat yang telah ada, tetapi juga menjadi sebab datangnya nikmat-nikmat baru.

3. Ahlu Maksiat (Orang yang Bermaksiat)
Orang yang bermaksiat diibaratkan sebagai orang yang sedang sakit, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Jika mereka bertaubat, Allah mencintai dan menerima taubat mereka. Namun apabila terus tenggelam dalam maksiat, Allah dapat mendidik mereka melalui berbagai ujian dan musibah sebagai sarana pembersihan dosa.

Pelajaran Penting
Menyikapi Musibah:
Seorang mukmin hendaknya memandang musibah dengan kacamata iman. Musibah bukan semata-mata penderitaan, tetapi dapat menjadi sarana penyucian diri, penghapus dosa, dan jalan untuk semakin dekat kepada Allah.

Pentingnya Benteng Diri:
Setiap muslim perlu memiliki benteng yang menjaga dirinya dari kemaksiatan, terutama ketika tidak ada manusia yang melihatnya. Ketakwaan sejati tampak saat seseorang tetap taat kepada Allah dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian.

Kesimp**an:
Kemuliaan seorang hamba di sisi Allah tidak diukur dari banyaknya harta atau kedudukan, tetapi dari kedekatannya kepada Allah melalui dzikir, syukur, dan taubat. Musibah hendaknya dijadikan sarana introspeksi, sedangkan ketakwaan harus dijaga dengan membangun benteng diri dari segala bentuk kemaksiatan.
والله اعلم بالصّواب

Kajian Kitab Maqolun NasihinSabtu, 06 Juni 2026Tempat, Aula Madra...

✍🏻Rangkuman Kajian Kitab ManhajusSawiJum’at, 5 Juni 2026 📍 Musholla Ar-Rohim, Mojosari 🎙️ Bersama Ustadz Hadi AsseggafTe...
08/06/2026

✍🏻Rangkuman Kajian Kitab ManhajusSawi
Jum’at, 5 Juni 2026
📍 Musholla Ar-Rohim, Mojosari
🎙️ Bersama Ustadz Hadi Asseggaf
Tema: "Membalas Keburukan dengan Kebaikan"

1. Jangan Membalas Keburukan dengan Keburukan:
Seorang muslim diajarkan untuk tidak membalas kesalahan, hinaan, atau perlakuan buruk dengan cara yang sama. Balasan terbaik atas keburukan adalah tetap berada dalam ketaatan kepada Allah dan membalasnya dengan akhlak yang baik. Sikap ini menunjukkan kemuliaan jiwa dan kekuatan iman.

2. Teladan Rasulullah ﷺ:
Rasulullah ﷺ senantiasa menghadapi gangguan, cacian, dan perlakuan buruk dengan kesabaran serta kelembutan. Beliau tidak membalas dengan dendam atau kemarahan, tetapi memilih memaafkan dan menyerahkan urusan kepada Allah. Inilah akhlak mulia yang patut diteladani oleh setiap muslim.

3. Kisah Para Ulama Salaf:
Para ulama terdahulu memberikan contoh nyata dalam mengamalkan akhlak ini:
• Imam Ali Zainal Abidin menunjukkan kemuliaan akhlak dengan membalas tuduhan dan perlakuan buruk yang diterimanya dengan kebaikan serta kemurahan hati.

• Imam Abu Hanifah menghadapi ejekan dan cemoohan dengan kesabaran, senyuman, dan kelapangan dada, tanpa membalasnya dengan keburukan.

4. Hikmah Membalas dengan Kebaikan:
Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperbesar permusuhan. Sebaliknya, kesabaran, kelembutan, dan kebaikan dapat meredam amarah, memperbaiki hubungan, serta membuka pintu hidayah bagi orang yang berbuat salah.

Pelajaran yang Dapat Diambil:
✅ Menahan diri saat disakiti adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.

✅ Kebaikan memiliki kekuatan untuk melunakkan hati yang keras.

✅ Akhlak mulia merupakan warisan para nabi dan orang-orang sholeh.

✅ Orang yang mampu memaafkan dan berbuat baik kepada yang menyakitinya akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Hikmah Kajian
"Jangan jadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk meninggalkan akhlak mulia. Karena kemuliaan seorang mukmin bukan terlihat dari bagaimana ia diperlakukan, tetapi dari bagaimana ia membalas perlakuan tersebut."
والله اعلم بالصّواب

Majelis Maulid SimtuddurorSetiap hari Jum'at ba'da sholat subuhPu...

06/06/2026
📃Rangkuman Kajian Rauhah PagiSelasa, 02 Juni 2026Bersama Ustadz Hadi bin Seggaf AsseggafPondok As-Shofa Kauman Gang 12 M...
06/06/2026

📃Rangkuman Kajian Rauhah Pagi
Selasa, 02 Juni 2026
Bersama Ustadz Hadi bin Seggaf Asseggaf
Pondok As-Shofa Kauman Gang 12 Mojosari
Tema: Bersyukur, Memuliakan Orang Sholeh, dan Memperbaiki Masyarakat dari Lingkup Keluarga.

Poin-Poin Utama Kajian
1. Pentingnya Bersyukur: Umat Islam diajak untuk senantiasa bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah berikan. Meskipun zaman ini memiliki banyak tantangan dan fitnah, terdapat p**a banyak kemudahan serta kesempatan untuk berbuat kebaikan yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya. Rasa syukur akan menjaga hati dari keluh kesah dan menambah keberkahan hidup.

2. Rahmat Allah Karena Keberadaan Orang Sholeh: Dijelaskan bahwa sering kali Allah mengangkat musibah atau menahan turunnya azab dari suatu kaum karena keberadaan orang-orang saleh di tengah mereka. Oleh sebab itu, orang-orang yang taat kepada Allah sepatutnya dihormati, dicintai, dan dijadikan teladan, bukan dimusuhi atau direndahkan.

3. Pentingnya Kerjasama dalam Kebaikan: Perbaikan masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri. Para pemimpin, tokoh masyarakat, dan ulama hendaknya saling bekerjasama dalam memberantas kemaksiatan serta menumbuhkan nilai-nilai kebaikan. Dengan adanya sinergi dalam kebaikan, masyarakat akan lebih mudah menuju kehidupan yang aman, tenteram, dan diridhai Allah.

4. Pendidikan dan Perbaikan Keluarga: Perubahan besar selalu dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga. Setiap orang tua memiliki tanggung jawab untuk membekali keluarganya dengan pendidikan agama yang benar. Anak-anak dan seluruh anggota keluarga perlu diberikan kesempatan belajar agama agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak mulia.

5. Syarat Mendapatkan Pemimpin yang Adil: Pemimpin yang baik dan adil merupakan anugerah dari Allah. Salah satu sebab hadirnya pemimpin yang adil adalah ketika masyarakat memperbaiki diri, meluruskan niat, saling menolong dalam kebaikan, serta istiqamah menjalankan ajaran agama. Perbaikan masyarakat akan melahirkan keberkahan, termasuk dalam urusan kepemimpinan.

والله اعلم بالصّواب

Majelis Rauhah PagiKajian Majemuk Kalam Al Habib Ahmad bin Umar bi...

📒Ringkasan Kajian Rauhah PagiSenin, 01 Juni 2026 / 15 Dzulhijjah 1447 HBersama Ustadz Hadi bin Seggaf AsseggafPondok As-...
02/06/2026

📒Ringkasan Kajian Rauhah Pagi
Senin, 01 Juni 2026 / 15 Dzulhijjah 1447 H
Bersama Ustadz Hadi bin Seggaf Asseggaf
Pondok As-Shofa Kauman Gang 12 Mojosari, Mojokerto.

📖 Setiap Individu adalah Pemimpin:
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Kepemimpinan pertama bukanlah kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri. Menjaga anggota badan, akal, dan hati dari perkara yang dilarang Allah merupakan bentuk kepemimpinan yang paling mendasar sebelum memimpin yang lain.

🏠 Kepemimpinan dalam Rumah Tangga:
Seorang suami dan ayah memiliki amanah besar untuk menjaga keluarganya dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kepada kebinasaan. Tugas utama seorang kepala keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga membimbing istri dan anak-anak dengan ilmu agama yang benar, sehingga mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.

🤝 Tanggung Jawab di Tengah Masyarakat:
Setiap pemimpin di lingkungan masyarakat memiliki pengaruh yang besar. Jabatan dan kedudukan akan menjadi sebab datangnya pahala yang besar apabila digunakan untuk mengajak kepada kebaikan, membimbing masyarakat menuju hidayah, serta menjadi teladan dalam amal dan akhlak.

🌿 Pentingnya Tolong-Menolong dalam Kebaikan:
Kebaikan tidak akan sempurna jika dilakukan sendirian. Diperlukan kerja sama dan saling membantu dalam ketaatan (ta'awun) untuk membangun lingkungan yang baik dan sholeh. Dengan lingkungan yang baik, keluarga dan anak-anak akan lebih terjaga dari pengaruh buruk yang dapat merusak agama dan akhlaknya.

✨ Hikmah Kajian
"Jadilah pemimpin yang baik dimulai dari diri sendiri. Ketika diri terjaga, keluarga terbimbing, masyarakat terbina, dan kebaikan ditegakkan bersama, maka keberkahan akan hadir dalam kehidupan."

والله اعلم بالصّواب

Majelis Rauhah PagiKajian Majemuk Kalam Al Habib Ahmad bin Umar bi...

📖 Ringkasan Kajian Kitab Risalatul MudzakarohPembahasan Lanjutan: Perkara-Perkara Penguat Iman (Bagian Kedua & Ketiga)🗓️...
01/06/2026

📖 Ringkasan Kajian Kitab Risalatul Mudzakaroh
Pembahasan Lanjutan: Perkara-Perkara Penguat Iman (Bagian Kedua & Ketiga)
🗓️ Ahad, 31 Mei 2026
🎙️ Bersama: Ustadz Hadi Asseggaf
📍 Musholla Ar-Rohim, Jalan Niaga Mojosari

2. Melihat dengan Pandangan (Al-Istibshar dan Al-Istidlal)
Seorang mukmin tidak cukup hanya melihat ciptaan Allah dengan mata kepala, tetapi juga merenungkannya dengan mata hati dan akal yang sehat. Langit yang tinggi, gunung yang kokoh, bumi yang terbentang luas, hingga penciptaan hewan dan manusia, semuanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir.
Dengan memperhatikan dan mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya, hati akan semakin mengenal keagungan Allah, sehingga iman menjadi lebih kuat dan keyakinan kepada-Nya semakin bertambah.

3. Merutinkan Amal Sholeh dan Menjauhi Maksiat.
Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya menjaga konsistensi dalam amal saleh, meskipun sedikit tetapi dilakukan secara terus-menerus.
Semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah p**a kedekatan kepada Allah, memperbanyak amal kebajikan, serta menjauhi segala hal yang dapat melemahkan iman. Kesungguhan dalam beramal dan meninggalkan maksiat merupakan salah satu sebab terbesar kokohnya iman dalam hati.

Kutipan Hikmah: Iman tidak tumbuh hanya dengan ilmu dan harapan, tetapi juga dengan tafakkur terhadap ayat-ayat Allah serta istiqamah dalam ketaatan. Barang siapa menjaga keduanya, Allah akan meneguhkan imannya hingga akhir hayat.

والله اعلم بالصّواب

Majelis Ahad PagiKajian Kitab Risalatul MudzakarohHari Ahad 31 Me...

31/05/2026

🗒️Rangkuman Kajian Kitab Manhajusshawi
Bab: Hikmah Al-Imam Asy-Syafi’i
Jumat, 9 Januari 2026
Musholla Ar-Rohim, Jl. Niaga Mojosari
Bersama Ustadz Hadi Asseggaf

---

▪︎ Kajian ini masih membahas hikmah berharga dari Al-Imam Asy-Syafi’i, kali ini tentang sikap ideal dalam bergaul dan bersosialisasi. Beliau menegaskan bahwa tidak berbaur sama sekali dengan manusia dapat memicu bibit permusuhan, karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Kehidupan tidak bisa dijalani sendirian; ada kebutuhan untuk saling tolong-menolong, peduli, dan menjaga hubungan, terutama dengan keluarga, kerabat, dan sesama muslim.

• Namun demikian, Imam Asy-Syafi’i juga mengingatkan bahwa terlalu supel atau terlalu mudah bergaul tanpa batas dapat menyeret seseorang ke dalam lingkaran pertemanan yang buruk, yang akhirnya merusak akhlak dan agama. Oleh karena itu, sikap yang benar bukanlah berada di salah satu ujung ekstrem.

• Jalan yang diajarkan adalah bersikap seimbang:
tidak kaku dan menutup diri, namun juga tidak larut dalam pergaulan yang melalaikan. Seorang muslim dituntut fleksibel dalam bersosialisasi, mampu menempatkan diri sesuai keadaan, menjaga adab, serta memilih lingkungan yang membawa kebaikan dunia dan akhirat.

• Intinya, hikmah Imam Asy-Syafi’i mengajarkan bahwa keselamatan ada pada sikap pertengahan, yaitu bergaul dengan manusia secara bijak, menjaga hubungan tanpa mengorbankan prinsip dan nilai agama.

Kata mutiara:
“Keselamatan hidup ada pada sikap pertengahan;
tidak mengasingkan diri hingga memicu permusuhan, dan tidak p**a larut bergaul hingga kehilangan arah kebaikan.”📿

Address

Mojosari

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hadi Seggaf Asseggaf posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category