Grupkesenian Tuahsakato Medan

Grupkesenian Tuahsakato Medan MENGEMBANGKAN DAN MEWARISI BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU

Sejarah RandaiRANDAIRandai dalam sejarah Minangkabau Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang...
16/11/2013

Sejarah Randai
RANDAI

Randai dalam sejarah Minangkabau Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika mesyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Randai di Minangkabau suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang, berkelompok atau beregu, dimana dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.

Pemeran utama berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut.
Sekarang ini Randai merupakan sesuatu yang asing bagi pemuda-pemudi Minangkabau, hal ini dikarenakan bergesernya orientasi kesenian atau kegemaran dari generasi tersebut. Randai terdapat di Pasisie dan daerah Darek (daratan).

Pada awalnya Randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. namun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara modern, seperti kelompok Dardanela dan Tonil pada awal abad ke 20.

Jadi, Randai adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan kurang tepat jika Randai disebut sebagai Teater tradisi Minangkabau walaupun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.
“Sebelum randai menjadi teater berkembang saat ini, dulunya adalah tari randai. Tari randai dipelihara di perguruan silat yang mengajarkan Ulua Ambek terutama di daerah pesisir (Padang Pariaman). Tak heran tari-tari Minang kontemporer dewasa ini, ada yang pola gerak dan pola dialog seperti randai

Sebagai hiburan masyarakat biasanya yang diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri. Untuk mempertebal rasa ketradisian juga memberi kesempurnaan terhadap adat istiadat Minangkabau itu sendiri, sarana Aspirasi dan Media Informasi.

Randai berasal dari perkataan merandai berarti mengarang atau melingkar suatu kawasan lapang untuk mencari sesuatu yang hilang. Terdapat pelbagai versi sebenarnya tentang asal usul randai ini. Struktur persembahan randai berkonsepkan gerak tari silat diselangi nyanyian berunsur lagu rakyat serta diiringi muzik caklempong, rebana, salung dan gong. Randai sering di persembahkan pada pesta menuai padi, upacara perkahwinan dan adat istiadat lain.

Disaksikan ratusan pasang mata, 12 muda-mudi berpakaian tradisional Minangkabau membentuk lingkaran di tengah arena. Lima pemain lain, duduk di pinggir arena. Para pemain randai (anak randai) bergerak melingkar dan sering melakukan gelombang randai secara serempak, yang bersumber pada gerakan-gerakan silat atau seni pencak silat.

“Hep… ta…,” terdengar teriakan seorang di antaranya (tukang gore), dibarengi dengan tapuak galembong (menepuk celana) yang bunyinya tingkah-meningkah. Setiap anak randai punya gaya sendiri dalam gerak dan menepuk celana yang didesain khusus-mempunyai pisak yang dalam, sehingga menghasilkan bunyi beragam waktu ditepuk, tapi serempak. “Hep…ta… Dugudung-dak-dik-dung.” Cerita yang diangkat dari kaba Kasiah Putuih Dandam Tak Sudah (Kasih Putus Dendam Tak Sudah) pun dimulai, terjadi dialog dan akting. Kemudian diikuti saluang dan dendang (nyanyian), biola, kayat, kerincingan dan calti.

Penampilan anak randai penuh pesona dan seru. Tontonan sekitar tiga jam itu sering membuat penonton (segala usia; dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga kakek-nenek) tertawa riang. Dialog jeda sejenak, anak randai kembali ber-hepta-hepti diiringi cerita yang didendangkan (gurindam) dan diiringi saluang. Cerita bergulir, mengisahkan anak gadis (Sari Banilai) menolak keinginan orangtuanya (Datuk Tumanggung Tuo) untuk dinikahkan dengan bako-kemenakan Datuk Tumanggung Tuo-bernama Malendo Alam.

Oleh mamaknya, Lelo Manjo, Sari Banilai dinikahkan dengan bekas teman sekolahnya, Rambun Sati. Dendam Datuk Tumanggung Kayo dan kemenakannya Malendo Alam pun bergejolak. Ketika Sari Banilai pindah ke Kota Medan, rumah yang ditinggalkannya dibakar oleh Malendo Alam. Keinginan ayak/mamak untuk menyelamatkan “Sako dan Pusako” lenyap sudah, karena mengikuti kehendak hawa nafsu.
Kesenian randai tak kalah hebat dan mengagumkan dengan tarian lainnya. Yang menarik dan mengagumkan, perwatakan tokoh dalam penampilan randai tidak diungkapkan melalui tata rias, tetapi disampaikan lewat dendang (gurindam). Kemudian, yang menjadi musik selain tepuk galembong, juga tepuk tangan, tepuk kaki, tepuk siku, petikan jari, hentakan kaki, dan teriakan-teriakan “hep… ta…ti… hai” oleh tukang gore, dan nyanyian atau dendang yang dilakukan oleh para pemain sambil melakukan gerakan-gerakan galembong.

Kesenian randai sebagai teater rakyat di Minangkabau cukup diminati berbagai kalangan. Ini sering ditampilkan pada acara-acara seperti pesta panen, helat perkawinan, helat batagak penghulu, dan pesta-pesta rakyat lainnya. Ia menambahkan, jika kita melihat unsur utama dalam randai, misalnya tarian randai yang disebut bagalombang, pada randai-randai yang lebih klasik pada umumnya adalah gerak silat atau pencak silat yang diolah secara kreatif, dan diiringi dengan lagu-lagu dendang yang memang banyak sekali terdapat di dalam masyarakat Minangkabau, karena merupakan bagian dari tradisi seni budaya musik seperti saluang dan dendang, atau seni tutur seperti bakaba, barabab, dan basijobang.

“Karena kebudayaan Minangkabau adalah kebudayaan yang dinamis, terbuka terhadap inovasi, maka perkembangan randai dewasa ini cukup beragam. Ada unsur-unsur gerak dan musik baru yang diadaptasi ke dalam randai, yang umumnya berasal dari lagu-lagu melayu (joget), bahkan juga dari musik dangdut. Idiom-idiom baru ini antara lain diadaptasi untuk membuat pertunjukkan randai tetap relevan dengan perkembangan masyarakat dan zamannya.

Semasa Orde Baru berkuasa kesenian randai nyaris tenggelam, setelah pemerintahan nagari digantikan oleh pemerintahan desa. Kini, dengan kembalinya ke sistem pemerintahan nagari, kesenian randai kembali tumbuh. Setiap nagari memiliki sedikitnya 10 grup randai.

Hal lain yang menarik dari tradisi randai adalah, semangat kolektif dan partisipasi masyarakat pendukung tradisi tersebut. Organisasi dan manajemen pengelolaan randai bertumpu kepada semangat kebersamaan tersebut. Lingkungan masyarakat tempat randai tersebut tumbuh, merasa berkewajiban memelihara dan mengembangkannya. Tanpa dukungan mereka -termasuk finansial- tak mungkin randai bisa berkembang. Sampai kini kegiatan pertunjukan lebih bersifat sosial, kecuali ada perubahan pola organisasi pada pemilikan kelompok atau individu yang sudah mulai ada sekarang ini.

Uniknya saat randai di mainkan pemain bisa berinteraksi langsung dengan meminta syair dan pantun pilihan asalkan meletakkan uang di tengah-tengah lingkaran pemain.

15/11/2013

Disusun jari nan sapuluah, ditakuakan kapalo nan satu dihujamkan lutuik nan duo. Kapado ALLAH Ampun dimintak, sambah dianta dipuhunkan, kapado Panghulu Pamangku Adat, bilo maulana jo tuanku, Nan manjunjuang soko dalam adat, sarato imam dengan khatib. Nan mudo pambimbiang dunia Bundo kanduang samo didalam.

Ujuik kato buah rundiagan, sakiro paham dikahandaki bahubuang jo maso nan ditampuah, musim nan tumbuah iko kini, syariat ado bahakikat, lahia kulik manganduang isi. Dilua nan tampak nyato, didalam kanduangan ulemu, tiliak nyato paham mamanjek, dijauah hari simpanan kito. Kalau dipiliah jo ihktiar, jikok aka dijalankan, jo tanang budi marangkak, kateh nyato taambun jantan, kabawah jaleh takasiak bulan.

Sampai tabagi dek ulemu, lahia manjadi buah ama, dek enggeran soko nan tatagak, Malangkah diujuang padang, basilek dipangka karieh, kato salalu baumpamo, rundiang nan banyak bakiasan. Dalam kulik pandanglah isi, dinan lahia bathin tabayang. Kulik manieh ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia manganduang bathin, dalam bathin bahakikat pulo.

Rumah gadang bari bapintu, nak tarang jalan kahalaman, jokok dikumpa saleba kuku, kalau dikambang saleba alam, Talago adat nan indak kariang, sapayah payah manimbo, walau dalam musim kamarau, mailia taruih aia nan janiah . Latiak latiak tabang ka pinang, jatuah kapangka salironyo aia satitiak dalam pinang, sinan bamain ikan rayo.

Didorong dek kandak bana, dielo dek cinto hati, mangingek papatah dalam adat, bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun, ratak sabuah jadi tuah. Jokok dibukak pusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam , lah banyak ragi nan barubah. Seni budaya tanah aia, lapuak dizaman panjajahan, kinilah jadi buah pikia, sadang didalam panggalian. Lapuak lapuak dikanjangi, usang usang dibarui. Mamandang gujalo zaman, edaran maso putaran zaman , lah lanyap zaman panjajahan, lah patuik disalam nan tabanam.

Ambo nan bukan cadiak pandai, ulemu di TUHAN tasimpannyo, kok senteng tolonglah bilai, tandonyo kito sa-undiko. Ampun sagalo niniak mamak, nan gadang basa batuah, kok tasalah maaf pabanyak, nan Qadim hanyo sifat ALLAH.

12/05/2013

SYAHRUL TARUN YUSUF yang Kalah Pamor dari Karyanya
Sosok | oleh Tim Liputan 6 SCTV

Liputan6.com, Jakarta: Pria ini mungkin kalah tenar dibandingkan lagu-lagu ciptaannya. Tiar Ramon dan Elly Kasim adalah beberapa penyanyi yang berkembang setelah menyanyikan lagunya. Syahrul Tarun Yusuf atau SATAYU, merupakan nama yang tak bisa dilupakan begitu saja dalam sejarah pop Minang klasik yang berakar pada pantun modern.

Sejak tahun 1960-an, sedikitnya 400 judul lagu tercipta dari tangan dingin pria berusia 68 tahun ini. Bahkan, lagu-lagunya cukup akrab bagi publik sejumlah negara tetangga. Tak jarang, lagunya didaur ulang sampai belasan kali. Bahkan, baru-baru ini lagu karyanya mewarnai film layar lebar berjudul Merantau.

Bagi Tarun sendiri, adalah suatu yang tak diduga bila banyak lagu ciptaannya menjadi lagu-lagu yang populer dan abadi di masyarakat hingga kini. "Saya menganut prinsip kehati-hatian, tidak asal jadi dalam mencipta lagu. Saya banyak belajar dari alam dan budaya Minangkabau," ungkapnya suatu kali.

Ia juga mengungkapkan, sampai sekarang masih ada puluhan syair yang masih tersimpan dan belum bisa dijadikan lagu. "Lagu-lagu Minang yang sudah jadi ada lebih kurang 300 lagu," kata Tarun.

Lagu ciptaan pria kelahiran Balingka, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 12 Maret 1942 ini antara lain Bugih Lamo, Kasiah Tak Sampai, Bapisah Bukannyo Bacarai, Ampun Mande, Ranah Balingka, Gasiang Tangkurak, Tinggalah Kampuang, Hujan, dan Karam di Lauik Cinto.

Tarun kini tinggal di Balingka bersama tujuh orang anak dan sembilan cucunya. Untuk menambah penghasilan, sang istri Misnani asal Makassar, Sulawesi Selatan, belajar sulaman Koto Gadang. Sedangkan anaknya membuka usaha warung internet.

Bagi warga Sumbar, karya Tarun adalah bentuk peninggalan budaya Minang modern. Tak heran syair lagu-lagu Tarun kerap menjadi sumber tesis para mahasiswa karawitan. Bahkan, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi merupakan salah satu penggemar karya Tarun.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karyanya, setahun lalu buku biografi tentang perjalanan hidup Tarun diluncurkan. Selama alam masih terkembang, Tarun akan terus berguru dan mengasah kemampuannya menciptakan lagu yang tak lekang dimakan zaman.

LEGENDA RAKYAT MINANGKABAU - CINDUA MATOPada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon ...
06/04/2013

LEGENDA RAKYAT MINANGKABAU - CINDUA MATO

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.

Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.

Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.

Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kimpoi untuk Puti Bungsu.

Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.

Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkimpoian yang hendak dilangsungkan.

Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkimpoian yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.

Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.

Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.

Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.

Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkimpoian antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkimpoian kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.

Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.

Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.

Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.

Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.

Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.

Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.

Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.

Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkawinannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam.

ASAL MULA NAMA DAERAH GUNUNG PANGILUN PADANG :legenda tentang asal-usul nama daerah sangat menarik untuk diteliti.Dibutu...
16/03/2013

ASAL MULA NAMA DAERAH GUNUNG PANGILUN PADANG :

legenda tentang asal-usul nama daerah sangat menarik untuk diteliti.

Dibutuhkan kemampuan menggali layaknya wartawan untuk mendapatkan banyak informasi dari informan yang dipercaya. selain itu juga dipelukan bukti setidaknya bukti penglihatan yang menguatkan informasi informan. Pada tulisan ini akan diceritakan asal-usul nama Gunung Pangilun yang hingga saat ini hanya sedikit orang yang mengetahui.

Berikut kesimp**an dari cerita legenda ini.

Dahulu kala disebuah daerah hiduplah seorang pria tua yang bernama Angku Pangilun. Angku Pangilun tinggal di lereng sebuah perbukitan bersama beberapa anjing peliharaannya. Angku Pangilun ini adalah orang yang sangat dihormati dan disegani di desa karena kesaktiannya. Kesaktian Angku Pangilun tidak hanya menjadi buah bibir di desa saja, tetapi juga di berbagai daerah. Banyak penduduk desa dan penduduk dari daerah lain yang berguru kepadanya atau sekedar meminta pertolongan kepadanya.

Kesaktian yang dimiliki oleh Angku Pangilun sangat banyak. Orang-orang dari berbagai pelosok daerah sering meminta bantuannya untuk berbagai keperluan. Kebanyakan dari mereka pergi menemui Angku Pangilun untuk berobat. Mereka percaya bahwa paureh (ramuan) yang telah dimantrai oleh Angku Pangilun berkhasiat mengobati penyakit. Selain itu, Angku Pangilun juga sering dipanggil untuk menjadi pawang binatang buas yang sering menyerang desa. Tak jarang p**a ia dimintai untuk membuatkan Paureh Padi (Ramuan Padi). Paureh Padi ini adalah ramuan yang dibuat agar padi yang ditanam tumbuh subur dan terhindar dari hama.

Di akhir hayatnya Angku Pangilun masih mendapatkan penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Penduduk desa dan orang-orang yang menghormatinya sepakat untuk menguburkan jasadnya di puncak tertinggi dari bukit tempat ia tinggal. Puncak tersebut kemudian terkenal dengan nama “Puncak Tampat” atau Puncak Keramat. Untuk menghormati dan mengenang jasa Angku Pangilun yang telah banyak menolong, penduduk desa lalu menamai bukit itu dengan nama “Gunung Pangilun”, dan daerah sekitar juga dikenal dengan nama yang sama.

dahulu banyak orang berziarah ke kuburan Angku Pangilun. Tujuan mereka berziarah antara lain untuk berdoa agar tanaman padi mereka terhindar dari hama penyakit. Bahan-bahan yang mereka bawa ke Puncak Tampat adalah Paureh Padi yang terdiri atas air sumur yang di dalamnya ditambahkan bunga tujuh rupa dan beberapa potong asam kapeh. Selain membawa paureh padi, mereka juga membawa semacam sesaji berupa 2 gengggam beras, lapek, dan abu tungku rang marando. Lapek adalah makanan ringan yang dibungkus daun pisang, lapek ini ada berbagai macam, ada lapek pisang, lapek sagu, lapek sagan, lapek parancih,dll. Sedangkan abu tungku rang marando adalah abu tungku yang berasal dari rumah yang di dalamnya tinggal seorang janda.

bahwa pada zaman penjajahan Jepang dulu pernah terjadi peristiwa gaib di Puncak Tampat (Kuburan Angku Pangilun). Pada suatu hari ada sebuah pesawat Jepang yang oleng dan hampir jatuh tepat di atas kuburan Angku Pangilun. Karena keramatnya, pesawat yang seharusnya jatuh menimpa kuburan justru malantiang atau menyimpang jauh arah jatuhnya sehingga kuburan tersebut aman.

Hingga kini, cerita ini menjadi legenda karena dipercaya oleh sebagian orang.
di puncak bukit (puncak Tampat) memang terdapat bukti berupa kuburan yang panjangnya kira-kira 3 meter. yaitu makam Angku Pangilun.

TUANKU IMAM BONJOL,Pahlawan Nasional dari Ranah MinangDi awal abad ke-19 kondisi masyarakat Minangkabau mengalami peruba...
08/03/2013

TUANKU IMAM BONJOL,

Pahlawan Nasional dari Ranah Minang


Di awal abad ke-19 kondisi masyarakat Minangkabau mengalami perubahan setelah banyak warga Minangkabau kembali dari menunaikan ibadah haji di Mekkah. Kedatangan para haji tersebut membawa pandangan baru bagi masyarakat Minangkabau yang masih memegang teguh adat dan kebiasaan lama. Adat lama yang berlaku di Minangkabau adalah minum-minuman keras, menyabung ayam dan berjudi.


KAUM PADRI MELAWAN KAUM ADAT :

Para haji melihat bahwa tindakan masyarakat Minangkabau telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Oleh karena itu, mereka hendak membersihkan penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam yang ada di masyarakat Minangkabau dengan cara mengikuti ajaran Islam. Golongan yang ingin menjalankan aturan agama Islam di Minangkabau disebut Kaum Padri.

Di lain pihak, Kaum Adat masih berpegang atas kebiasaan lama dan menentang usaha pembaruan yang dilakukan oleh Kaum Padri. Dengan demikian, lahirlah dua kelompok masyarakat Minangkabau dan menimbulkan pertentangan. Adanya dua pandangan yang berbeda tersebut menimbulkan ketegangan yang akhirnya meningkat menjadi bentrokan senjata. Walau sama-sama berdarah Minangkabau, pandangan yang berbeda menyebabkan pertikaian darah.


BELANDA MENDUKUNG KAUM ADAT

Pertentangan semakin meningkat di daerah Bonjol sehingga Kaum Adat terdesak oleh Kaum Padri. Perlawanan Kaum Padri tersebut dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Pertentangan kedua golongan masyarakat di Minangkabau berubah setelah datangnya campur tangan dari pihak ketiga. Pihak lain yang masuk dalam konflik tersebut adalah Inggris yang dipimpin oleh Raffles dan Belanda yang menerima kembali kekuasaannya dari tangan Inggris.

Keterlibatan pihak ketiga ini sangat ditentang oleh Kaum Padri. Mereka merasa terjajah oleh bangsa asing di tanah Minangkabau. Sementara itu, Kaum Adat meminta bantuan dari pihak penguasa asing untuk melawan Kaum Padri di Minangkabau. Dengan adanya campur tangan penguasa asing tersebut, Kaum Padri tidak hanya berhadapan dengan Kaum Adat tetapi berhadapan juga berlawanan dengan penguasa asing, yaitu Belanda, yang hendak menanamkan kekuasaannya di Minangkabau.

Kebencian Kaum Padri terhadap Belanda diwujudkan dengan penyerbuan pos Belanda yang dimulai pada tahun 1821. Perlawanan tersebut dilakukan dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan Kaum Padri di daerah Boneo, Agam, Bonjol dan beberapa tempat lainnya. Pertempuran Kaum Padri melawan pasukan Belanda tersebut berjalan cukup lama, yaitu sampai dengan tahun 1825.


KONSENTRASI BELANDA TERPECAH :

Bersamaan dengan berlangsungnya pertempuran di Minangkabau, Belanda juga sedang menghadapi perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa. Akibatnya adalah pasukan Belanda di Minangkabau banyak yang ditarik ke Pulau Jawa. Akibat kekurangan pasukan di Minangkabau, Belanda menggunakan taktik damai untuk meredam perlawanan Kaum Padri. Perdamaian tersebut tidak berlangsung lama karena Belanda sering menekan rakyat Minangkabau.

Perdamaian yang gagal menghasilkan perlawanan hebat dari Kaum Padri dan banyak menelan korban dari kedua belah pihak. Setelah Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830, Belanda kembali mengerahkan pasukannya secara besar-besaran untuk menyerang Kaum Padri. Penyerangan pasukan Belanda dibantu oleh pasukan yang baru p**ang dari Pulau Jawa untuk menyerbu benteng pertahanan kaum Padri.


TUANKU IMAM BONJOL DITAHAN :

Pertempuran sengit berkobar pada tahun 1833 dan akhirnya melemahkan kekuatan Kaum Padri yang bermarkas di Tanjung Alam. Pemimpin Padri lainnya seperti Tuanku Nan Cerdik bahkan menyerahkan diri ke pihak Belanda. Sejak saat itu, Tuanku Imam Bonjol memimpin perlawanan rakyat Minangkabau seorang diri. Kegigihan Tuanku Imam Bonjol dalam memimpin perlawanan menyebabkan Belanda harus menambahkan pasukan gabungan orang Afrika, Eropa dan pribumi.

Setelah mengalami tekanan-tekanan berat dari pihak musuh, Tuanku Imam Bonjol mengadakan perundingan damai dengan Belanda pada tahun 1837. Perundingan ini digunakan oleh Belanda untuk melihat kekuatan Kaum Padri yang ada di Benteng Bonjol dan Tuanku Imam Bonjol diharapkan agar rela menyerahkan diri. Perundingan tersebut gagal tercapai karena pihak Belanda telah melakukan persiapan untuk mengepung benteng tersebut.

Akhirnya, pertempuran pun meledak sehingga benteng Kaum Padri dikuasai oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol ditahan pada tanggal 25 Oktober 1837. Dengan ditangkapnya Imam Bonjol bukan berarti perlawanan rakyat Minangkabau terhenti sampai disitu. Perjuangan masyarakat Minangkabau terus berlangsung walaupun dalam skala kecil, seperti halnya pergerakan rakyat yang dipimpin oleh Tuanku Tambusi.

RENDANG PADANG MASAKAN FAVORIT DUNIA .....??????Tahukah anda.!!makanan rendang Padang ini tidak hanya favoritnya warga S...
07/03/2013

RENDANG PADANG MASAKAN FAVORIT DUNIA .....??????

Tahukah anda.!!
makanan rendang Padang ini tidak hanya favoritnya warga Sumatera Barat dan Indonesia semata bahkan juga makanan favorit laur negeri. Rendang juga merupakan favorit Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Sekedar diketahui rendang adalah salah satu masakan tradisional Minangkabau yang menggunakan daging dan santan kelapa sebagai bahan utama dengan kandungan bumbu rempah-rempah yang kaya. Masakan dengan citarasa yang pedas ini digemari oleh seluruh kalangan masyarakat, dan dapat ditemukan di seluruh Rumah Makan Padang di Indonesia, Malaysia, ataupun di negara lainnya. Masakan ini kadang lebih dikenal dengan nama Rendang Padang.

Pada tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai hidangan peringkat pertama dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) yang digelar oleh CNN International.

Dinas Pariwisata DKI Jakarta gunakan momentum masuknya rendang dan nasi goreng sebagai juara dalam 50 makanan terenak di dunia (World's 50 most delicious food) versi CNN Travel, dalam ajang promosi pariwisata yang tengah berlangsung di kota Los Angeles, Amerika Serikat.

berikut daftar makanan terfavorit seantero dunia :
1.Massaman Curry, Thailand
2.Neapolitan Pizza, Italia
3.Chocolate, Mexico
4.Sushi, Jepang
5.Peking Duck, Cina
6.Hamburger, Jerman
7.Penang Assam Laksa, Malaysia
8.Tom Yam Goong, Thailand
9.Ice Cream, Amerika
10.Chicken Muamba, Gabon

11.Rendang, Indonesia

12.Sheperd's Pie, Inggris
13.Corn on the cob, global
14.Doughnut, Amerika
15.Kalua pig, Amerika
16.Egg Tart, Hongkong
17.Lobster, global
18.Kebab, Iran
19.Nam tok moo, Thailand
20.Arepaz, Venezuela
21.Croissant, Perancis
22.Brownie and Vanila Ice cream, global
23.Lasagna, Italia
24.Champ, Irlandia
25.Buttered Garlic Crab, India
26.Fajitas, Mexico
27.Montreal Style Smoked Meat, Canada
28.Pho, Vietnam
29.Ohmi-gyu Beefsteak, Jepang
30.Goi cuon, Vietnam
31.Parma ham, Italia
32.Ankimo, Jepang
33.Fish n Chips, Inggris
34.Maple Syrup, Kanada
35.Chilli Crab, Singapura
36.Texas BBQ pork, Texas
37.Chicken parm, Australia
38.Frensh Toast, Hongkong
39.Ketchup, Amerika
40.Marzipan, Jerman
41.Stinky Tofu, Asia Tenggara
42.Buttered Tost with Marmite, Inggris
43.Tacos, Mexico
44.Poutine, Kanada
45.Chicken Rice, Singapura
46.Som Tam, Thailand
47.Seafood Paella, Spanyol
48.Potato Chips, Amerika
49.Masala Dosa, India
50.Buttered popcorn, Amerika

“Rendang termasuk makanan favorit Barack Obama yang baru saja terpilih kembali jadi Presiden AS. Ini peluang bagi kita untuk menjadikan kuliner ini sebagai alat promosi kepada wisatawan AS agar lebih lagi tertarik datang ke Indonesia, khususnya ke Jakarta," jelas Cucu A Kurnia.

Menurut Cucu A Kurnia, Dinas Pariwisata DKI Jakarta bersama sejumlah stakeholder tengah melakukan kegiatan promosi di negeri Paman Sam. Selain memamerkan kuliner juga digelar berbagai kegiatan seni dan budaya.

Kegiatan promosi ini diselenggarakan di dua tempat, yaitu Backyard Garden W Los Angeles-Westwood Hotel dan di Central Court, Hollywood and Highland.

Address

Jalan Adinegoro No. 1 (Rumah Gadang BM-3 Sumut ) Kodya Medan/
Medan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Grupkesenian Tuahsakato Medan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share