LOKA POLA

LOKA POLA Video dan Dokumenter

Selamat Hari Film Nasional šŸŽ¬Hari ini kita merayakan karya, cerita, dan mimpi yang hidup di balik setiap frame. Namun di ...
30/03/2026

Selamat Hari Film Nasional šŸŽ¬

Hari ini kita merayakan karya, cerita, dan mimpi yang hidup di balik setiap frame. Namun di balik layar yang indah, ada banyak tangan yang bekerja dalam sunyi—para filmmaker, videografer, editor, penulis naskah, hingga kru produksi yang sering kali belum mendapatkan ruang, apresiasi, dan keadilan yang layak.

Sudah saatnya industri kreatif tidak hanya menikmati hasil, tetapi juga menghargai proses dan manusia di baliknya. Karya bukan sekadar estetika, tapi juga keringat, waktu, dan dedikasi yang pantas dihormati—baik secara moral maupun kesejahteraan.

Mari kita suarakan bersama: keadilan untuk pekerja seni bukanlah tuntutan berlebihan, melainkan hak yang seharusnya menjadi standar. Karena tanpa mereka, tidak akan ada cerita yang bisa kita rasakan, tidak ada visual yang bisa kita kenang.

Selamat Hari Film Nasional—terus berkarya, terus bersuara, dan jangan pernah lelah memperjuangkan nilai dari setiap karya yang lahir. āœŠšŸŽ„



15/02/2026

SIE menjadi bagian dari MTN bidang Sinema/Film dengan tema ā€œ Diantara Tubuh, Ingatan dan Kehilanganā€

Monolog writren by : Felix K. Nesi
Monolog Actress : Lola Amaria
Host : Lukman Sardi

SIE menelusuri tubuh sebagai ruang yang menyimpan jejak—tentang apa yang pernah ada, yang hilang, dan yang terus hidup dalam ingatan. Di antara diam dan gema masa lalu, film ini mengajak kita merasakan bagaimana kehilangan tidak pernah benar-benar pergi; ia menetap, berdenyut, dan membentuk cara kita memahami diri.
Melalui bahasa visual yang intim dan reflektif, SIE menjadi ruang kontemplasi: tentang luka yang tak selalu terlihat, tentang memori yang tak pernah sepenuhnya padam, dan tentang tubuh yang terus mengingat, bahkan ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan.


31/01/2026
25/12/2025

Mari kita ingat dan rayakan hari kelahiran Dia yang kaya, memiliki alam semesta, namun berdiri teguh bersama kaum miskin. (Sebuah refleksi tentang posisi gereja saat ini).
Selamat berlibur.

ā˜•
23/12/2025

ā˜•

Bioskop Lembana malam itu diguyur gerimis sedikit-sedikit, alas terpal yang mulanya sudah digelar terpaksa kami lipat ke...
19/12/2025

Bioskop Lembana malam itu diguyur gerimis sedikit-sedikit, alas terpal yang mulanya sudah digelar terpaksa kami lipat kembali. Namun itu tidak lantas mematahkah semangat teman-teman shohibul hikayat yang sudah berada di rumah Lembana sehari sebelumnya, serta beberapa ibu-ibu tetangga disertai 5 bocil yang baru p**ang mengaji; mereka sudah siap duduk di depan layar. Kurang lebih mereka ada 40an orang. Pemutaran bioskop berjalan tepat waktu. Pukul 19.40 bioskop kami awali dengan film Oghem, karya Firman Ichlasul Amal, dilanjut film Gemintang karya Gresik Movie, lalu film Sie. Semua nomor film tersebut tidak kami awali dengan sambutan pengantar atau semacam ā€˜intro jalan cerita’, semuanya kami putar begitu saja secara bergantian. Ini menjadi ciri dari festival ini, dan berlaku juga pada display karya seni rupa. Kami ingin penonton menyaksikan atau melihat film/karya rupa terlebih dahulu, agar kemudian mereka bisa bebas untuk menangkap dan menafsirkan isi dari film atau karya rupa yang ada secara utuh, dan sejauh ini metode ini berjalan efektif.
Pada saat pemutaran film Sie, saat melihat Veronika Nona yang berjalan di semak-semak memegang tongkat mengejar suara kambing, beberapa ibu-ibu melontarkan komentar ā€œNguan Embik nyainah kanakā€ (mengembala kambing, nenek itu) "Kadik Mak Sulasā€ (Mirip Mak Sulas) Barang tentu komentar itu hadir sebagai refleksi yang spontan sebab apa yang dilihat itu seperti cermin aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan. Di sini, kambing merupakan hewan obuen (ternak) yang juga adalah warisan orang tua, selain sapi tentunya. Mayoritas warga Lembana bermata pencaharian petani, atau berkebun. Kami menyebut kebun itu adalah sawah, sepanjang dua musim dalam setahun warga bisa menanami sawah mereka dengan 3 jenis tanaman berbeda: jagung, padi dan paling dominan tanaman tembakau. Jarak rumah warga dengan sawah mereka relatif dekat, setiap pagi mereka jalan kaki menapaki jalan yang berlembah dengan topi jerami di kepala. Saat adzan dhuhur lewat, tibalah hewan ternak di rumah diberi pakan.
Sementara kelima bocil yang berada di barisan paling depan itu, tertawa terkekek-kekek, saat Nong Titus memanggil ā€œSieā€, karena mereka kira Sie panggilan pada anak, lantaslah salah satu teman dari mereka yang kebetulan bernama Rosi jadi sasaran olok-olok. ā€œSie ekatoen, Sieā€ (Sie kamu dipanggil kakek itu, Sie) Keseluruh cerita film ini menggambarkan kedekatan baik hubungan antara aktor, dan ketergantunga mereka kepada alam.
Menjaga kebun dan ternak juga merupakan warisan turu temurun leluhur di Lembana, itu dulu. Perkara anak muda yang kemudian ingin merantau ke luar p**au, mencari metoda pencaharian baru itu sah saja. Ayok, kawan kami yang datang dari Pakel, Banyuwangi, memberi komentar tentang Sie, ā€œSie, filmnya keren. Ikatan manusia dan alam itu luar biasa. Karena sekarang manusia memang ada yang memikirkan masalah industri, kerja di luar, tapi sebetulnya ikatan kita dengan alam tetap saling menjaga begitu. Sie, filmnya keren.
Begitu p**a dengan Maulana, mahasiswa semester akhir, yang sekaligus pemuda lokal, Lembana, ikut juga berkomentar, ā€œfilm Sie memberi pesan bahwasannya jangan terlalu curiga dan segera berbicara kasar manakala katakanlah ada pemuda lewat di kebun, nantinya mereka sakit hati, malah membuatnya mencuri apa2 yang ada di kebun. Sapalah sewajarnya.ā€
Bioskop Lembana, berlangsung sampai mejelang tengah malam. Semakin malam penonton mulai berinisiatif mengambil piring dan menyelesaikan pemutaran film-film lainnya sambil bersantap makan sepanjang malam.

Sejak awal, kami sepakat bahwa siapa pun yang ingin memutar "Sie…" tanpa kehadiran kami akan menulis laporan singkat tentang dinamika yang terjadi selama pemutaran dan diskusi. Kami percaya bahwa begitu sebuah karya bertemu dengan penontonnya, karya itu menjadi milik penonton, dan komentar mereka membuat karya tersebut tetap hidup.
Artikel di atas berasal dari Lembana Madura. Laporan mereka, komentar spontan penonton, dan lelucon anak-anak memberi kami energi, menunjukkan bahwa sinema dapat menjadi sarana untuk memupuk persahabatan antar etnis dan agama dalam masyarakat majemuk. Lelucon anak-anak menciptakan pengalaman unik; menonton film tidak memerlukan hal-hal yang rumit seperti memecahkan maksud asali sutradara. .

POLEWALI MANDAR
18/12/2025

POLEWALI MANDAR

11/12/2025

Address

Nele
Maumere

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when LOKA POLA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category