19/12/2025
Bioskop Lembana malam itu diguyur gerimis sedikit-sedikit, alas terpal yang mulanya sudah digelar terpaksa kami lipat kembali. Namun itu tidak lantas mematahkah semangat teman-teman shohibul hikayat yang sudah berada di rumah Lembana sehari sebelumnya, serta beberapa ibu-ibu tetangga disertai 5 bocil yang baru p**ang mengaji; mereka sudah siap duduk di depan layar. Kurang lebih mereka ada 40an orang. Pemutaran bioskop berjalan tepat waktu. Pukul 19.40 bioskop kami awali dengan film Oghem, karya Firman Ichlasul Amal, dilanjut film Gemintang karya Gresik Movie, lalu film Sie. Semua nomor film tersebut tidak kami awali dengan sambutan pengantar atau semacam āintro jalan ceritaā, semuanya kami putar begitu saja secara bergantian. Ini menjadi ciri dari festival ini, dan berlaku juga pada display karya seni rupa. Kami ingin penonton menyaksikan atau melihat film/karya rupa terlebih dahulu, agar kemudian mereka bisa bebas untuk menangkap dan menafsirkan isi dari film atau karya rupa yang ada secara utuh, dan sejauh ini metode ini berjalan efektif.
Pada saat pemutaran film Sie, saat melihat Veronika Nona yang berjalan di semak-semak memegang tongkat mengejar suara kambing, beberapa ibu-ibu melontarkan komentar āNguan Embik nyainah kanakā (mengembala kambing, nenek itu) "Kadik Mak Sulasā (Mirip Mak Sulas) Barang tentu komentar itu hadir sebagai refleksi yang spontan sebab apa yang dilihat itu seperti cermin aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan. Di sini, kambing merupakan hewan obuen (ternak) yang juga adalah warisan orang tua, selain sapi tentunya. Mayoritas warga Lembana bermata pencaharian petani, atau berkebun. Kami menyebut kebun itu adalah sawah, sepanjang dua musim dalam setahun warga bisa menanami sawah mereka dengan 3 jenis tanaman berbeda: jagung, padi dan paling dominan tanaman tembakau. Jarak rumah warga dengan sawah mereka relatif dekat, setiap pagi mereka jalan kaki menapaki jalan yang berlembah dengan topi jerami di kepala. Saat adzan dhuhur lewat, tibalah hewan ternak di rumah diberi pakan.
Sementara kelima bocil yang berada di barisan paling depan itu, tertawa terkekek-kekek, saat Nong Titus memanggil āSieā, karena mereka kira Sie panggilan pada anak, lantaslah salah satu teman dari mereka yang kebetulan bernama Rosi jadi sasaran olok-olok. āSie ekatoen, Sieā (Sie kamu dipanggil kakek itu, Sie) Keseluruh cerita film ini menggambarkan kedekatan baik hubungan antara aktor, dan ketergantunga mereka kepada alam.
Menjaga kebun dan ternak juga merupakan warisan turu temurun leluhur di Lembana, itu dulu. Perkara anak muda yang kemudian ingin merantau ke luar p**au, mencari metoda pencaharian baru itu sah saja. Ayok, kawan kami yang datang dari Pakel, Banyuwangi, memberi komentar tentang Sie, āSie, filmnya keren. Ikatan manusia dan alam itu luar biasa. Karena sekarang manusia memang ada yang memikirkan masalah industri, kerja di luar, tapi sebetulnya ikatan kita dengan alam tetap saling menjaga begitu. Sie, filmnya keren.
Begitu p**a dengan Maulana, mahasiswa semester akhir, yang sekaligus pemuda lokal, Lembana, ikut juga berkomentar, āfilm Sie memberi pesan bahwasannya jangan terlalu curiga dan segera berbicara kasar manakala katakanlah ada pemuda lewat di kebun, nantinya mereka sakit hati, malah membuatnya mencuri apa2 yang ada di kebun. Sapalah sewajarnya.ā
Bioskop Lembana, berlangsung sampai mejelang tengah malam. Semakin malam penonton mulai berinisiatif mengambil piring dan menyelesaikan pemutaran film-film lainnya sambil bersantap makan sepanjang malam.
Sejak awal, kami sepakat bahwa siapa pun yang ingin memutar "Sieā¦" tanpa kehadiran kami akan menulis laporan singkat tentang dinamika yang terjadi selama pemutaran dan diskusi. Kami percaya bahwa begitu sebuah karya bertemu dengan penontonnya, karya itu menjadi milik penonton, dan komentar mereka membuat karya tersebut tetap hidup.
Artikel di atas berasal dari Lembana Madura. Laporan mereka, komentar spontan penonton, dan lelucon anak-anak memberi kami energi, menunjukkan bahwa sinema dapat menjadi sarana untuk memupuk persahabatan antar etnis dan agama dalam masyarakat majemuk. Lelucon anak-anak menciptakan pengalaman unik; menonton film tidak memerlukan hal-hal yang rumit seperti memecahkan maksud asali sutradara. .