07/06/2020
!
Mengenang 83 Tahun Peristiwa 7 Juni 1946 (Sejarah yang mulai terlupakan).
Peristiwa pada hari Jum'at (Malam Sabtu), tanggal 7, bulan Juni, tahun 1946 merupakan salah satu peristiwa bersejarah penting bagi Lombok Timur, khususnya bagi Desa Lendang Nangka, serta Bangsa Indonesia pada umumnya.
Dimana pada tanggal tersebut terjadi sebuah gerakan dari berbagai Laskar Pejuang dan Pemuda yang berasal dari berbagai Desa dan Distrik yang ada di Lombok Timur, yang kemudian disebut dengan PASUKAN INDUK, untuk menyerang markas NICA yang bermarkas di Tangsi Semut Merah Kota Selong, yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Gedung Juang 45 Lombok Timur, dan berganti nama menjadi Gedung Pemuda Dan Mahasiswa Lombok Timur Pada 2017.
Pertempuran tersebut bertujuan untuk membebaskan Para Pejuang yang sebelumnya ditahan oleh pihak NICA sebagai Tahanan Politik, dan sekaligus untuk mengusir pasukan NICA sebagai upaya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang baru berumur jagung pada saat itu.
Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sendiri baru terdengar di daerah Lombok sekitar awal bulan September 1945, yang disusul dengan Pengibaran Bendera Merah Putih di Lapangan Pacuan Kuda (sekarang Lap. Nasional) kota Selong yang dihadiri ribuan masyarakat.
SEJARAH SINGKAT:
Pada awal bulan Desember 1945, pihak Jepang dengan alasan keamanan berusaha kembali mengambil alih Pemerintahan Lombok Timur serta wilayah-wilayah lain di Pulau Lombok yang sebelumnya Pemerintahan diisi oleh Warga Pribumi sendiri. Namun Kepala Daerah Lombok Timur pada waktu itu dengan berbagai cara membujuk Pemerintahan di Lombok Timur untuk tidak mau menyerah.
Upaya dari Mamiq Fadelah selaku Kepala Daerah Lombok itupun didukung oleh para pemimpin KNI (Komite Nasional Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang ada di Lombok Timur. Kondisi Pemerintahan di p**au Lombok pada saat itu masuk dalam wilayah Sunda Kecil yang dipimpin oleh Gubernur Mr. Puja.
Pada tanggal 5 Desember 1945, para Pejuang Sep**au Lombok bersama Staf Pemerintahan Daerah Lombok yang Pro terhadap perjuangan, mengadakan pertemuan rahasia yang bertempat di Desa Tengak, Montong Baan, Kedistrikan Kopang. Pertemuan tersebut bertujuan dalam menyikapi tindakan Jepang yang berusaha mengambil alih Pemerintahan di Lombok.
Pada tanggal 17 Januari 1946, terjadi sebuah gerakan yang dinamakan gerakan "Machvertoon" di Lombok Timur. Para Pemuda BKR dan Laskar Rakyat dari berbagai Kedistrikan berbaris dengan senjata lengkap berupa bambu runcing dan senapan hasil rampasan dari pihak penjajah. Para Pejuang dan Rakyat berjalan menuju ke kota Selong dan mengadakan rapat umum di lapangan Pacuan Kuda Kota Selong. Kemudian disusul penyerbuan terhadap dua rumah yang berada di bagian selatan Kota Selong yang disinyalir sebagai Mata-mata dari pihak Penjajah.
Pada tanggal 18 Maret 1946, Pasukan Inggris yang mengatasnamakan diri sebagai pasukan sekutu yang bertugas untuk melucuti Jepang di Indonesia, mendarat di Lombok melalui Lembar.
Tanggal 19 Maret 1946, Pitter Kuman (Pimpinan Sekutu), mengadakan rapat di Mataram dan menyatakan Pemerintahan di Lombok diambil alih Sekutu. Keputusan itupun ditolak oleh para Para Pimpinan Pejuang bersama Rakyat yang ada. Atas respon dari Para Pejuang tersebut, kemudian oleh pihak Sekutu dilakukan penangkapan terhadap Pemimpin-pemimpin dari KNI, BKR, DMI, dan lain-lain yang ada di Mataram, dan disusul Penangkapan Para Pimpinan Pejuang di Lombok Timur, dan Lombok Tengah. Para Pejuang yang ditangkap kemudian dimasukkan ke dalam penjara sebagai Tahanan Politik.
Tanggal 27 Maret 1946, pasukan NICA mendarat di Lombok Timur melalui Pelabuhan Lombok, dan kembali mengibarkan bendera Belanda.
Tanggal 11 Mei 1946, dilakukan pertemuan yang berlangsung dikediaman Mamiq Muhammad di Masbagik, dan di hadiri oleh para Tokoh-tokoh Pejuang, seperti: Mamiq Muhammad, H. Djumhur Hakim, Muhasim, Mas Seomidjan, Raden Soekro, dan Lalu Sahak. Pertemuan ini mengahsilkan kesepakatan, diantaranya:
1. Mengusahakan Pembebasan Tokoh-tokoh Pejuang yang ditangkap pihak NICA
2. Kesepakatan untuk menghimpun kekuatan dan mengadakan perlawanan terhadap NICA.
3. Membentuk Badan Perjuangan Rakyat Indonesia (BPRI).
Pada tanggal 17 Mei 1946, terjadi pertemuan di kediaman H. Misbah (Kepala Desa Masbagik). Sayid Salleh sebagai salah satu Tokoh Pimpinan Pejuang yang hadir pada saat itu mendesak agar secepatnya Kekuatan yang telah dihimpun untuk segera melakukan serangan terhadap NICA.
Pada akhir bulan Mei 1946, Laskar Banteng Hitam Pimpinan H. Djumhur Hakim mengadakan Pengibaran Bendera Merah Putih di depan SD Dwi Sempurna, serta di kawasan Pasar Hewan Masbagik. Selain itu para anggota Laskar juga memasang spanduk atau plakat tersebut sebagai ancaman terhadap pasukan NICA, yang tertulis:
“Kepada saudara-saudara putra Sasak disampaikan ucapan terima kasih atas sambutan saudara-saudara. Kepada saudara putra Indonesia suku Ambon insyaflah akan panggilan ibu pertiwi. Kepada bangsa asing terutama Tionghoa jangan menghalangi perjuangan suci kami. Ketahuilah pimpinan-pimpinan RI sedang mengadakan perundingan dengan H.J. Van Mook pimpinan NICA. Jawa, Madura, Sumatra sudah diserahkan kecuali Borneo, Selebes, Kep**auan Maluku, Nuiginia, Kep**auan Sunda Kecil sedang dalam penyelesaian. Ketahuilah Banteng Hitam sudah lama bersarang di Pulau Lombok. Tunggu tanggal mainnya”.
Kemudian pada keesokan harinya Plakat tersebut dihujani peluru oleh pasukan NICA. Rakyat diperalat untuk antipati kepada Banteng Hitam. Bukti berhasilnya hasutan NICA itu, muncul plakat yang terpasang pada salah satu rumah potong hewan di Kopang, yang berbunyi:
“Hai Banteng Hitam tunjukkan hidungmu ! rumah potong hewan sudah sedia ! pisau sudah tajam, akan kami babat kamu menjadi lawar”.
Plakat tersebut kemudian dibalas kembali oleh Pemuda Kopang dengan tulisan:
“Sekali Merdeka! Tetap Merdeka! Hidup Merdeka atau Mati! ”.
Plakat balasan tersebut dipasang pada tembok Masjid Pengoros.
Gertakan-gertakan dari Para Pejuang itupun memicu NICA untuk mengawasi Distrik Masbagik lebih ketat.
Pada tanggal 2 Juni 1946, dengan melalui kontak pribadi oleh Para Tokoh-tokoh Pejuang dan pimpinan-pimpinan Laskar, hari itu disepakati untuk dilakukan penyerangan terhadap pasukan NICA yang bermarkas di Selong. Namun rencana itu bocor dan diketahui pihak NICA, sehingga dilakukan kembali penangkapan oleh NICA terhadap pemuda-pemuda di Selong, Pancor, Masbagik, Pringgasela, dan tempat-tempat lainnya yang dicurigai.
Beberapa pemuda dan Tokoh-tokoh yang tidak tertangkap kemudian mengadakan Kontak satu sama lain dengan sangat ketat dan hati-hati untuk merancang Penyerbuan selanjutnya.
Pada tangal 6 Juni 1946, terjadi pertemuan dikediaman H. Muhammad di Pringgasela. Hadir pada saat itu yakni: Sayid Salleh, H. Djumhur Hakim dari Lendang Nangka, M. Syah dan Maidin dari Selong, Sayid Salim dari Tebaban, Amaq Raisah dari Anjani, dll.
Dari hasil informasi yang berhasil dikumpulkan serta perundingan Para Tokoh Pejuang tersebut, disepakati bahwa Penyerbuan ke Markas NICA akan dilakukan pada tanggal 7 Juni, serta dilakukan pada malam hari. Dan pada hari itu juga, Sayid Salleh dibantu H. Djumhur Hakim bergerak menuju ke Lenek dan Kalijaga untuk menghimpun laskar yang akan bergabung dengan Laskar Sayid Salleh di Pringgesela.
Pada tanggal 7 Juni 1946, sekitar pukul 18.00. Pasukan-pasukan dari arah timur yakni dari Pringgasela yang terdiri para Laskar-laskar BASMI Pimpinan Sayid Salleh tiba di Desa Lendang Nangka, guna untuk bergabung bersama para pasukan Laskar Banteng Hitam pimpinan H. Djumhur Hakim, dan para tokoh-tokoh Pejuang serta Pemuda yang ada di Lendang Nangka seperti: H. Muh. Tuhur, H. L. Darwita, H. L. Agus Salim, H. L. Adenan yang merupakan Kepala Desa Lendang Nangka saat itu, serta dari para Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat yang lainnya. Gerakan ini p**a mendapatkan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat Lendang Nangka pada saat itu, dan tidak sedikit dari mereka yang bergabung dengan Laskar Banteng Hitam dan ikut dalam perjuangan.
Kemudian, para pasukan yang sudah terkumpul tersebut dibentuk menjadi satu pasukan yang dikenal dengan nama Pasukan Induk yang terdiri dari seluruh gabungan pasukan pejuang dan Laskar-laskar dari berbagai Desa. Sehingga sampai saat ini, jalan menuju ke arah timur dari Desa Lendang Nangka yang merupakan jalur kedatangan dari pasukan Laskar tersebut di Desa Lendang Nangka diabadikan dengan nama "Jalan Laskar" Lendang Nangka.
Setelah tergabung, Pasukan ini kemudian dari Lendang Nangka bergerak menuju ke arah selatan, yakni menuju Desa Danger dan singgah di Masjid Al-Ijtihad desa Danger untuk berunding. Pada saat itu bergabung p**a pasukan dari Kumbung dan Desa Danger. Jalan yang dilalui oleh Pasukan Induk dari Lendang Nangka menuju ke arah selatan itupun diabadikan dengan nama "Jalan Lintas Gerilya" Lendang Nangka dan "Jalan Lintas Laskar" Danger.
Dari desa Danger, kemudian para pasukan yang sudah terbentuk sebagai Pasukan Induk ini bergerak secara cepat dan bergerilya melalui Lendang Keseo, Rumeneng, menuju ke arah timur Paok Motong, dan Paok Pampang. Disana bergabung p**a Laskar dari Dasan Lekong pimpinan Lalu Muhdar. Kemudian Pasukan bergerak menuju Pancor Manis. Selanjutnya ke arah timur menuju pertigaan Denggen, dan ke Utara menuju Batu Beleq. Dari Batu Beleq, pasukan bergerak ke arah timur menuju desa Desa Ketangga melewati Gunung Kembar, dan akhirnya tiba di Desa Bumba Saru/Embung Sari untuk kembali mengatur dan memantapkan strategi penyerbuan disana. Pada saat itu p**a tiba pasukan Pejuang Rakyat yang dipimpin H.Moh. Faisal untuk bergabung dengan pasukan Induk.
Setelah strategi disepakati, Pasukan kemudian langsung bergerak menuju ke Tangsi Gajah Merah di Kota Selong yang merupakan markas dari pasukan NICA.
Pada sekitar pukul 00.30, Pasukan pertama yang sudah terbagi dalam strategi tiba dari arah selatan Markas NICA, dan meletuslah pertempuran pada malam itu diiringi dengan teriakan takbir.
Disusul dengan Pasukan dari arah lain dan berhasil masuk sampai ke dalam halaman markas pasukan NICA.
Pasukan Induk yang sebagian besar hanya menggunakan Bambu Runcing sebagai senjata mendapat Perlawanan cukup sengit dari pasukan NICA yang terkejut dengan serang tiba-tiba tersebut.
Hanya beberapa dari Para Pimpinan Pejuang yang menggunakan Senapan hasil rampasan dari pihak musuh.
Letusan-letusan senjata disusul cahaya lampu kendaraan dari pihak musuh yang menyoroti para pejuang, membuat Pasukan Pejuang terdesak dan mundur secara teratur.
Dalam pertempuran tersebut, gugur tiga orang Tokoh Pejuang sebagai Syuhada Bangsa, yakni: Sayid Salleh (Pimpinan Laskar BASMI) dari Pringgasela, H. Moh Faesal (Pimp. Pejuang Rakyat) dari Pancor, dan Abdullah. Ketiga Jenazah dari Para Syuhada Bangsa tersebut tergeletak didepan halaman Markas NICA, sehingga tidak memungkinkan para pasukan yang tersisa untuk mengambil Jenazah-jenazah dari para Pejuang yang gugur tersebut pada saat itu juga.
Sementara di pihak NICA sejumlah 8 orang yang tewas. Malam itu secara rahasia semua tentara NICA yang tewas ini diangkat dan dikuburkan di Mataram.
Keesokan harinya, atas arahan Maulana Syaikh KH. Zainuddin Abdul Madjid, para santri yang belajar di Madrasah NW Pancor Bermi, datang ke lokasi itu dan mengangkat Jenazah para Pejuang yang gugur tersebut, lalu kemudian dimakamkan secara Syahid di Kota Selong.
Selain terdiri dari pasukan Laskar-laskar yang terbentuk, perlawanan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga muncul dari berbagai pemuka agama yang ada di Lombok Timur, seperti:
1. Maulana Syaikh KH. Zainuddin Abdul Madjid (Pancor).
2. TGH. Faesal (Pancor).
3. TGH. Muhammad (Pringgasela).
4. TGH. Mahsun (Masbagik).
5. TGH. Haris (Poh Gading).
6. TGH. Zainuddin Asryad (Mamben).
7. TGH. Jalil (Terara)
8. TGH. Umar (Kelayu), dll.
Sedangkan dari kalangan wanita, gerakan perjuangan masih terbatas pada kaum ibu-ibu di Kota Selong, yang dipelopori oleh Ny. Selamat Suyatin, Ny. Soekotjo, serta Ny. Fatimah Padang, dll.
Peran dari mereka adalah mengumpulkan dana dan harta dari berbagai pihak untuk membantu Para Pejuang serta rakyat Lombok Timur yang pada waktu itu dilanda musim paceklik.
Disamping itu juga, sikap dan peranan para pemuka masyarakat, utamanya para Pamong Desa sangat berperan dalam Gerakan-gerakan Perjuangan yang terjadi.
Akhirnya sejak pertempuran ini, NICA menghasut rakyat untuk berdemonstrasi keliling kota Selong untuk memojokkan pejuang-pejuang. Banyak pejuang dari sekitar Pringgabaya, Masbagik, Lendang Nangka, Lenek, Tebaban, Gapuk, Rumbuk, Lepak, Rarang, dan Dasan Lekong ditahan di penjara Selong dan sebagian dikirim ke penjara Denpasar dan Ambon.
Keadaan seperti ini berlangsung sampai penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949. Bersamaan dengan itu p**a masyarakat Lombok Timur menyambut hidup baru yaitu bebas dari penjajahan.
Semoga seluruh Para Pejuang yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya, ditempatkan di Surga bersama para Syuhada. Aamiin.
Sumber:
1. Arsip Catatan Singkat Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Lombok Timur Tahun 1945-1949. Yang disusun pada tahun 1989 oleh Pelaku Sejarah, yakni DHC ANGKATAN 45 LOMBOK TIMUR.
Adapun dari beliau-beliau yang hadir pada saat penyusunan, yakni:
1. H. Djumhur Hakim (Lendang Nangka).
2. Yek Syeh (Kopang).
3. Mustamin (Kumbung).
4. Mamiq Rusti (Dasan Lekong).
2. Buku Profil Lombok Timur Terbitan Tahun 2008.
3. harfian92.blogspot.com