Puisi Rasa Kopi Malam

Puisi Rasa Kopi Malam curahan insan yang s**a memendam rasa dalam kata

16/11/2025

TENTANG RUMAH

"Cita-citaku ingin punya rumah." Kalimat itu keluar dengan cara yang paling tulus dan mata yang penuh kesungguhan. Begitu polos. Seperti anak kecil yang tak segan bermimpi. Tanpa peduli sistem ekonomi yang membuat harganya semakin kurang ajar. Orang-orang seperti kita mungkin akan berutang seumur hidup hanya untuk mempunyai tempat meletakkan kepala.

Kamu begitu menginginkan keamanan dalam lindungan dinding dan tanah yang milikmu sendiri. Tempat orang-orang tercintamu tertawa, marah-marah, dan beristirahat dengan nyaman. Sementara aku, sudah lama jauh dari rumah: Kedua lengan yang dekapannya membuatku dekat dengan debaran jantung. Setiap detaknya adalah suara yang memanggilku kembali pada tempat di mana aku berasal.

Mari mengusahakan rumah yang kita inginkan masing-masing. Kita buat rencananya yang besar. Tapi langkahnya kecil-kecil. Biar lebih banyak bersyukur dalam perjalanan itu.

20/07/2025

BIENVENUE JAKARTA

Di kota ini,
Orang-orangnya memanjat langit
Lalu merayap di bawah tanah

Kota ini tidak pernah tidur
Hanya ngantuk
Karena itu, dia punya banyak waktu
Namun, orang-orangnya tetap terburu-buru:
Pagi pergi kerja, lari-lari
Sore pulang kerja, lari-lari

Transportasi umum adalah tempat terbaik mengamati mereka
Ada yang lelah kemudian tertidur
Ada yang mentap kosong ke arah jalan yang macet
Ada yang menonton drama di layar hp
Ada yang mengecek jumlah saldo di rekening gawai

Kota ini tidak digerakan oleh kehendak manusia
Dia membabu pada sesuatu yang tak terlihat
Orang adalah pion yang bersemangat saat pagi
Namun kosong saat sore
Seperti nyawanya diperas habis saat siang

Tapi, kota ini tak pernah ditinggalkan
Sebab semua orang berjuang untuk satu hal:
Tetap hidup
Meski mereka harus terasa mati setiap hari

20/07/2025

KOMOREBI

Waktu itu,
Cantikmu adalah cahaya matahari jam delapan pagi
Yang menembus pepohonan rimbun
Di pinggir jalanan yang sepi

Kita memungut bunga-bunga sepanjang jalan
Lalu merangkaianya seperti waktu dalam puisi Sapardi
- Kita abadi

Matamu berbinar,
Seperti pupa yang siap merekah menjadi kupu-kupu
Setiap kali yapping mengenai tempat ini:
Dahulunya merupakan hutan milik warga kota
Lalu berubah menjadi kompleks perumahan elit
Ibumu yang waktu itu seusia kita
Turut menggabungkan diri dalam kelompok yang menentang hal itu

Sebentar lagi kita akan minggat dari kota ini
Sorot matamu kemudian berubah redup
Namun, kau lupa kita sudah merangkai bunga-bunga
Seperti waktu dalam puisi Sapardi
- Kita abadi

Setidaknya pada bangku-bangku perpustakaan
Trotoar jalan, kafe 24 jam, gerobak nasi goreng
Sampai secuil ingatan tukang parkir gondrong Tomoro

Tapi kau tak berhenti murung sampai akhir hari
Memang benar: Hanya waktu yang fana
Ruang itu swatantra
Dia tidak terikat oleh kita
Dia abadi

20/07/2025

PENGAKUAN

Aku ingin mengaku dosa:
Saban hari aku duduk di kursi prioritas bus
- Tentunya bukan hakku
Bersampingan dengan seorang kakek beruban

Dia sedang khusyuk membaca Mazmur
Tangannya terus mengusap layar hp
Matanya melompat dari satu ayat ke ayat berikutnya

Di mataku, huruf-huruf di layar itu melayang
Memutari kepalaku dan terjatuh
Tepat untuk menyumbat mulutku
Yang sudah lama tidak mengucapkan:
Dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus

20/07/2025

SUWUNG

Cinta pertama di dunia
Detak perdana jantungku dalam tubuhnya
Dadanya tempat ternyaman yang pernah kurasa
Kini telah hilang, hanya membekas maya

Merindukan dia untuk selamanya
Merupakan ketakutanku yang paling nyata

30/04/2025

MALANG, TERIMA KASIH

Malang mengumpulkan pemuda-pemudi
Dari berbagai penjuru
Supaya mereka jatuh cinta

Lalu melepaskannya kepada kota lain
Untuk menampung senang
Atau malang akibat hal itu

Malang hanya tidur saat pagi
Sebab malamnya dipenuhi mimpi-mimpi
Yang tumpah di kopian-kopian tujuh ribu

Malang bisa memberikan kehidupan
Hanya dengan ambisi dan bakso
Sedia dibeli dengan berapa ribu rupiah
Yang sebatang kara di kantong celana-celana kusam

Malang tak pernah terburu-buru
Sopir angkot dengan penumpang penuh pun
Masih sempat mampir ngopi dan sebat dengan temannya
-- Tak ada kebahagiaan yang boleh dilewatkan

Tapi, Malang tidak sempurna
Ia sama dengan kita
Lebih s**a berdansa dengan romansa

26/04/2025

TIRTASANI, PERTAMA KALI

Embun baru saja bercinta dengan dedaunan
Kita sudah berdampingan
Menyusuri jalanan

Jarak sempit di antara kita melahirkan ketakterhinggaan
Tentang hasrat yang memburu
Dan rasa malu-malu menggebu-gebu

Waktu itu, pertama kali aku terbenam di pundakmu
Pertama kali juga jemari kita saling bersilang
Tersembunyi nyaman dalam kantong jaketmu

Aku pun menyadari:
Mulai saat ini aku berjudi dengan takdir
Mulai saat ini aku bertaruh tentang masa depan

23/03/2025

PUISI ORANG GEMINI

Tak ada kupu-kupu
Di dada dan perutku
Yang ada hanyalah bulan Juni

Waktu itu
bumi dalam setengah perjalanan
Waktu itu
dia begitu hangat
Waktu itu
dipenuhi tawa bocah libur sekolah
Waktu itu
langit dihiasi layang-layang
Waktu itu
kamu lahir

Tak ada cake bertabur lilin di atasnya
Hanya ada donat murah dari waralaba
Juga sepenggal puisi Christina Rossetti
Diiringi alunan daftar putar spotify
Yang kau buat dengan hati
hati

“Work it in gold and silver grapes,
In leaves and silver fleurs-de-lys;
Because the birthday of my life
Is come, my love is come to me.”

25/05/2024

BAWA AKU PLANET LAIN

Bawa aku planet lain
Tempat di mana menyayangimu
Tak seperti pengalaman pertama kali bolos sekolah

Bawa aku planet lain
Dunia di mana kita dapat bermimpi seperti anak kecil
Tanpa rasa takut membuat harapan
Tanpa hilang asa tentang masa depan

Bawa aku planet lain
Ruang di mana kita bisa bertindak hanya untuk kita
Bisa berkata hanya karena kita
Bisa berpikir hanya tentang kita

Bawa aku planet lain
Waktu di mana kita bisa menyukai cukup dengan s**a
Bisa menyayangi cukup dengan sayang
Bisa mencintai cukup dengan cinta
Semua apa adanya

Bawa aku planet lain
Semesta di mana banyak hal lebih mudah
Selalu dilimpahkan kepada kita

Bawa aku planet lain
Bawa aku ke planet itu

25/04/2024

EKOLOGIE 2

Pertama kali yang hanya ada kita berdua
Riuh berbagi kata, gelisah, dan tawa
Melewati sore, malam, sampai tanggal yang berubah

Saat itu aku tahu akhirnya
Rasaku t'lah menyentuh purnama
Sama halnya dengan malam yang mulai jatuh didorong matahari
Begitu juga yang terjadi dengan hati ini

Caramu berbicara
Kata-kata yang mengalir dari sana
Membuatku serasa tak menyentuh tanah
Mengambang, melayang ke dalam pikiranmu
Menyelesaikan setebal apapun halaman teka-teki silang di dalamnya

Waktu itu kutemukan hal-hal seperti ini:
Seperti seorang bayi dan langkah pertamanya
Seperti seorang remaja dan coklat valentine-nya
Seperti menemukan gunting kuku di saat tak ada yang mencarinya

Jika dahulu kusebut aku tak tahu malu
Ketika berharap hal yang lebih dari sekedar senyummu
Kini kau menjelma jadi diksi indah dalam puisi
Yang dibacakan saat tatap pertamaku di waktu pagi

19/03/2024

TAK ADA MISA BAGI YANG TERLAMBAT

Jalan depan gereja berserak gelisah
Kaki-kaki renta melaluinya setiap pagi
Memohon tenang yang begitu rapuh
Sebab manusia tercipta dari takut tak tahu malu

Aku tak lagi bisa mencapai peraduan itu
Pintunya sudah ditutup rapat
Mata Tuhan pun tak sanggup mengintip
Tak ada celahnya sama sekali

"Akan tetapi, banyak orang yang pertama akan jadi yang terakhir, dan yang terakhir akan jadi yang pertama."

SabdaMu itu tak lagi berlaku
Tak ada misa lagi untukku
Aku lantas berbalik tanpa bisa mengucapkan
Satu kalimat yang selalu jatuh pada rindu:
"Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai."

21/01/2024

RISALAH USAI BERTEMU

"Bienvenue mon amor"

Sebuah puisi
Sepenggal larik di dalamnya
Benih-benih renjana
Luruh mencapaimu
Saat lisanku pun tak cukup berhasil

Niatku dalam diam
Satu per satu mulai didengar batinmu
Renjana kau lepas liar
Dilema kita tabuh bersama

"Kita merayakan hari ini
Sembari mengutuk masa depan
Lantas merenungi dari mana kita berasal"

Rasa kita bertemu
Begitu juga dengan gelisah dan ketakutannya
Mendekapmu menantang realita
Tangan kita terikat tak bisa apa-apa

Tinggal keinginan-keinganan yang kulantunkan
Namun ia terlalu malu menjadi doa
Sayang dibalut nestapa yang selalu tersisa
Tapi hanya itu yang kita punya

Address

Jalan Simpang Borobudur No 29 Malang
Malang

Telephone

+6281348864055

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Puisi Rasa Kopi Malam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Puisi Rasa Kopi Malam:

Share