Lukman Sambongi

Lukman Sambongi ASSALAMU ALAIKUM WR WBR
SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA SAHABAT PECINTA NIKE ARDILLA (NAFC ). 👍 Asssalamu alaikum wr wbr..

buat semua sahabat yang cinta seni sastra silahkan berbagi disini mengupas habis dalam pesastraan indonesia

16/02/2026

Post dulu guyes

"Lama nggak cover lagu Nike Ardila."

MATAHARIKU
Vocal: Nike Ardilla








Pengikut SEMUA ORANG Sorotan

15/02/2026

SIMBOL PERLAWANAN YANG DIBUNGKAM NEGARA
"Catatan Kritis atas Perjalanan Yeni Rosa Damayanti"

Pada dekade 1990-an, ketika rezim Soeharto masih berdiri kokoh dengan segala perangkat represi, suara kritis bukan sekadar dibantah, ia dilumpuhkan. Dalam lanskap politik yang timpang itulah nama Yeni Rosa Damayanti mencuat sebagai simbol keberanian sekaligus bukti nyata bagaimana negara memperlakukan warganya yang berbeda pendapat.

Ia bukan jenderal, bukan elite partai, melainkan mahasiswi Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas), Jakarta. Dari ruang-ruang diskusi kampus hingga mimbar demonstrasi, Yeni menempuh jalan sunyi yang penuh risiko. Melalui keterlibatannya di LSM PIJAR, ia mengartikulasikan kritik yang pada masa itu dianggap subversif: menuntut pertanggungjawaban penguasa tertinggi negara di hadapan konstitusi.

Tahun 1993 menjadi titik genting. Ketika ia mendesak agar MPR menggelar Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Soeharto, negara menjawabnya bukan dengan dialog, melainkan dengan jeruji besi. Satu tahun penjara dijalaninya. Pertanyaannya sederhana namun tajam, sejak kapan tuntutan konstitusional dianggap kejahatan?

Namun represi tidak berhenti di sana. Setelah bebas, Yeni melanjutkan studi Women & Development Studies di Belanda. Alih-alih memberi ruang bagi warganya untuk berkembang, negara justru memperpanjang daftar tekanannya. Paspor tak diperpanjang, akses pulang dibatasi. Ia praktis menjadi eksil politik, korban kebijakan administratif yang sarat motif politis. Aparat diplomatik berubah fungsi, bukan melindungi warga negara, tetapi mempersempit geraknya.

Baru setelah gelombang Reformasi 1998 meruntuhkan Orde Baru, Yeni dapat kembali ke tanah air. Kepulangannya bukan sekadar momen emosional, melainkan simbol runtuhnya tembok ketakutan yang selama puluhan tahun dibangun rezim.

Kisah Yeni Rosa Damayanti adalah cermin keras bagi sejarah bangsa ini. Demokrasi yang hari ini kerap kita sebut sebagai “warisan Reformasi” tidak lahir dari kemurahan hati kekuasaan, melainkan dari keberanian orang-orang yang rela kehilangan kebebasan pribadi. Negara pernah memilih membungkam daripada mendengar. Dan dari situ, kita belajar bahwa kekuasaan tanpa kontrol publik selalu cenderung menyalahgunakan wewenang.

Catatan ini bukan sekadar nostalgia gerakan mahasiswa 1998. Ia adalah pengingat ketika kritik kembali dicurigai, ketika aktivisme kembali distigma, sejarah pernah membuktikan bahwa pembungkaman hanya menunda, bukan menghapus, tuntutan perubahan.









berat Sorotan Pengikut

14/02/2026

BERFIKIR SECARA LOGIKA

"Wacana tinggal wacana doang, namun tidak pernah terleasisasi."





SEMUA ORANG berat

12/02/2026

PEREBUTAN PAKSA LAHAN TRANSMIGRASI

Diera Soeharto Yang Membagikan, Giliran Era Kepemimpinan Mantan Menantunya Jadi Sengketa.

kilat.media : Jerit tangis warga transmigrasi di Desa Bekambit, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, mencerminkan duka dan ketidakadilan yang mereka alami. Tanah milik warga yang telah dikuasai dan diratakan oleh perusahaan tambang batubara PT Sebuku Sejakah Coal (SSC) kini tak lagi dapat mereka manfaatkan. Ironisnya, penguasaan lahan tersebut dilakukan tanpa adanya ganti rugi sepeser pun kepada para pemiliknya.

Lahan yang disengketakan merupakan tanah transmigrasi yang memiliki sertifikat resmi dan diberikan oleh negara pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Namun saat ini, sekitar 700 sertifikat tanah warga tersebut disebut-sebut telah dibatalkan secara sepihak oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN), sehingga memperparah kondisi dan ketidakpastian hukum yang dihadapi masyarakat setempat.

Aksi tersebut diwarnai isak tangis para ibu yang dengan penuh harap memohon pertolongan kepada Presiden Prabowo. Video itu juga berisi ajakan kepada seluruh pengguna media sosial untuk membantu menyebarluaskan peristiwa ini agar warga mendapatkan perhatian serta keadilan dari negara sebagaimana mestinya.





berat Pengikut Sorotan

10/02/2026

SAMPAI HATI
Vocal: Maya






Sorotan berat Pengikut

07/02/2026

SAMPUL 10 FINALIS FESTIVAL ROCK SE-INDONESIA

Polusi Kehidupan
BIG BOYS








Pengikut Sorotan

SEBUAH BUKU MERENGGUT HARAPAN Tergeletak sebuah bukuDalam bayang-bayang yang tak sempat dibaca.Di halaman pertama, neger...
07/02/2026

SEBUAH BUKU MERENGGUT HARAPAN

Tergeletak sebuah buku
Dalam bayang-bayang yang tak sempat dibaca.
Di halaman pertama, negeri ini menulis janji tentang masa depan.
Buku itu justru menjelma jurang yang sunyi buat seorang bocah, hanya luka yang jatuh perlahan ke dalam diam. Sepertinya lupa, bahwa tragedi kadang lahir paling sederhana dan tak terduga.

Di rumah yang sempit, seorang ibu menghitung kekurangan. Pada nilai sebuah buku untuk anaknya, menjadikan beban hidup yang telah lama dipikulnya. Kemiskinan itu telah mengajarkan cara bertahan hidup dari segala kekurangan. Hanya sekedar jadi bayangan keinginan bisa menjadi mewah, terlintas dipikiran ketika pendidikan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan untuk menjadi generasi unggul dan masa depan emas.

Anggaran ditata rapi, angka-angka berdiri tegap seperti monumen kemajuan. Justru tak mampu dijangkau serta diraih sebuah keluarga yang sederhana dan bernasib malang.
Podium-podium genta gempita dan pidato melahirkan rektorika dengan tepuk tangan bersorak, seperti sedang menyambut sang juara. Sementara seorang anak yang merasa tertinggal sendirian berkawan sunyi, menyembunyikan kekurangan di balik senyum tipis.

Namun sebuah buku yang dapat merenggut harapannya, pendidikan seharusnya membuka pintu, bukan justru menutupnya. Retaknya cermin negeri ini yang memantulkan pada kita kian jelas.
Sebab bangsa selalu dikenang dari caranya menjaga yang paling rapuh biar tragedi ini tidak menggantung pada siapapun.

Pintu Langit, 07 Februari 2026




Pengikut beratSorotanSEMUA ORANG

BERITA SUPER NGERI Siapa sih Jeffrey Epstein?Bayangkan ada orang yang sangat kaya, punya pulau pribadi di Karibia, jet p...
06/02/2026

BERITA SUPER NGERI

Siapa sih Jeffrey Epstein?
Bayangkan ada orang yang sangat kaya, punya pulau pribadi di Karibia, jet pribadi (namanya "Lo**ta Express"), dan berteman sama presiden, pangeran, hingga ilmuwan jenius. Itulah Jeffrey Epstein.

Tapi, di balik kemewahan itu, dia menjalankan jaringan perdagangan seks anak di bawah umur selama bertahun-tahun. Dia ditangkap tahun 2019 dan meninggal di penjara (katanya bunuh diri, tapi banyak yang nggak percaya) apa itu "Epstein Files"?

Setelah Epstein meninggal, kasusnya nggak selesai gitu aja. Ribuan halaman dokumen pengadilan dari gugatan korban bernama Virginia Giuffre dibuka untuk umum awal tahun 2024.
Penting dipahami:

Dokumen ini bukan daftar klien baru.

Isinya adalah transkrip saksi, email, dan catatan hukum.

Kalau nama seseorang muncul, bukan berarti mereka pasti melakukan kejahatan. Bisa jadi mereka cuma pernah disebut atau pernah naik pesawatnya.

Siapa Saja Nama Besar yang Muncul?
Ini dia bagian yang bikin internet "meledak". Beberapa nama yang disebut dalam dokumen antara lain:

Bill Clinton: Mantan Presiden AS ini disebut puluhan kali. Meski nggak dituduh melakukan kriminalitas, hubungannya dengan Epstein jadi sorotan tajam.

Pangeran Andrew: Anggota kerajaan Inggris ini yang paling parah kena dampaknya. Dia dituduh melakukan pelecehan, bahkan sampai gelarnya dicopot.

Donald Trump: Namanya muncul karena mereka dulu berteman di pergaulan sosial elite New York, meski Trump mengklaim mereka sudah lama putus hubungan.

Stephen Hawking: Fisikawan jenius ini disebut pernah berkunjung ke pulau Epstein untuk konferensi sains. Muncul foto dia di sana, tapi nggak ada bukti dia terlibat skandal seks. Kenapa Skandal Ini Terasa "Seru" (tapi Ngeri)?
Karena ini adalah bukti nyata bahwa ada "dunia paralel" buat orang-orang super kaya.

Pulau Pribadi (Little St. James): Tempat yang konon jadi lokasi pusat kejahatan tersebut. Lokasinya terpencil, dijaga ketat, dan penuh misteri.

Power Dynamics: Epstein pakai uang dan koneksinya buat membungkam hukum. Dia bikin orang-orang berkuasa merasa "berhutang budi" padanya.

The Black Book: Epstein punya buku alamat berisi ribuan nomor telepon orang penting.Bukan cuma soal gosip artis atau politisi, tapi soal keadilan bagi para korban. Banyak perempuan yang hidupnya hancur karena jaringan ini, sementara banyak orang kuat yang (mungkin) terlibat masih melenggang bebas.
Dokumen-dokumen ini adalah cara dunia melihat seberapa jauh kekuasaan bisa menutupi kegelapan.

Gimana? Sudah mulai kebayang kan kenapa kasus ini nggak habis-habis dibahas?





Pengikut Sorotan berat

https://www.facebook.com/share/18GZVtkQkB/

06/02/2026

9 TENTARA AMERIKA KETURUNAN INDONESIA







berat SEMUA ORANG

Cerita · 30 Jan 2026 19:29 WITCerita Marina Rumawak Pensiunan Letkol TNI yang Pasang Badan Lindungi Tanah Adat dari Pemb...
05/02/2026

Cerita · 30 Jan 2026 19:29 WIT
Cerita Marina Rumawak Pensiunan Letkol TNI yang Pasang Badan Lindungi Tanah Adat dari Pembangunan Batalyon.
Edit by Sasagupapua.com.
_____________________________________

SASAGUPAPUA.COM, Biak – Di pengujung masa baktinya sebagai perwira menengah TNI Angkatan Darat, Letnan Kolonel (Purn) Marina Rumawak tidak pernah membayangkan bahwa harus menghadapi situasi terberat setelah pensiun. Situasi itu datang bukanlah ancaman dari luar, melainkan menghadapi oknum dari institusi yang pernah membesarkan namanya selama 38 tahun.
Di tanah kelahirannya, Biak Numfor, Marina kini berdiri di garis depan—bukan untuk memegang senjata, melainkan untuk memeluk erat tanah adat yang terancam hilang.

Semuanya bermula pada Agustus 2025, saat kabar pahit sampai ke telinganya. Sebanyak 56 hektare tanah adat milik keluarga besarnya dan sepuluh marga lainnya dihibahkan oleh beberapa oknum kepada Kodim 1708 Biak Numfor untuk pembangunan batalyon.

Kepada media ini, Marina bercerita semua terjadi tanpa musyawarah kolektif, tanpa kehadiran para pemilik sah, sebuah garis ditarik di atas peta, memisahkan masyarakat dari masa depan mereka.

Kegelisahan di Balik Prosedur yang Pincang
Marina, yang baru saja pensiun pada akhir 2023, memahami betul aturan di militer. Namun, ia melihat ada yang tidak beres dalam proses pengadaan lahan ini. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar angka atau koordinat di atas kertas, melainkan ruang hidup kolektif bagi marga Rumawak, Fairyo, Arfayan, Sanadi, Simbiak, Warnares, dan lainnya.

“Tanah itu secara kolegial milik orang banyak, bukan satu marga saja yang bisa menyerahkan 56 hektare. Padahal kalau dilihat, tanah di situ tempatnya sempit. Jika diserahkan seluas itu, bagaimana keluarga kami, anak-anak kami ke depan mau tinggal?” ungkap Marina.

Ia menyoroti absennya prosedur formal seperti pembentukan panitia pengadaan tanah yang seharusnya diketuai Bupati, serta ketiadaan dokumen penting seperti Amdal dan izin lingkungan hidup.
Di matanya, yang terjadi adalah ketergesaan yang dipaksakan. “Kita secara buru-buru saja, pokoknya harus segera jadi. Kenapa mereka berani bongkar dulu padahal belum ada kesetujuan?” tanyanya retoris.

Sidang Adat dan Intimidasi di Ladang Sasi
Upaya dialog terus ditempuh. Marina dan keluarga besar melapor ke Dewan Adat Biak Numfor. Namun, tiga kali undangan sidang adat diabaikan oleh kelompok oknum penyerah tanah.

Bahkan, instruksi Dewan Adat untuk menghentikan sementara aktivitas di lapangan tidak diindahkan oleh pihak Kodim.
Upaya mediasi melalui kepolisian pun menemui jalan buntu karena pihak lawan tak kunjung hadir.

Puncaknya terjadi pada 6 Januari 2026. Marina bersama fungsionaris Dewan Adat naik ke lokasi untuk melakukan sasi adat—sebuah tradisi sakral untuk mengadukan perkara tanah kepada Tuhan dan leluhur. Namun, bukan sambutan hangat yang mereka terima, melainkan ujung parang dan mata tombak.

“Kami datang ke sana bukan mau memalang, kami datang untuk berdoa saja. Tapi kami sudah ditunggu dengan alat tajam: parang, tombak, panah, samurai. Ada pengancaman, pemukulan terhadap saudara kami.

Dan yang sangat kami kecewa, ada oknum anggota TNI di situ yang diam saja, seolah sengaja mendukung intimidasi itu terjadi,” kenang Marina.

Meski diancam secara fisik, Marina tak gentar. Sebagai mantan Danramil Enarotali, ia tahu cara menghadapi tekanan.

“Saya bilang, kalau saya pakai parang, saya tidak takut. Tapi saya tidak mau membawa apa-apa. Kami ini orang terpelajar, kami pakai otak, bukan datang untuk melakukan hal-hal negatif.”

Segala upaya dilakukan oleh Marina Rumawak dan masyarakat adat lainnya, mulai dari menyurat kepada institusi, bertemu Bupati, RDP dengan DPRD Biak dan beberapa upaya lainnya.
Seorang perempuan asal Biak saat membawa seruan ketika aksi demo beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

“Kami juga terpaksa melakukan demo tanggal 21 Januari 2026 karena kami lihat tidak ada penyelesaian,” katanya.

Suara Mama Bangsa untuk Keadilan
Perjuangan Marina adalah tentang menjaga identitas Papua yang kian terhimpit. Ia melihat pola-pola manipulasi yang sistematis, mulai dari mencatut nama anggota Dewan Adat secara pribadi hingga memotret anggota DPRK untuk dikesan seolah-olah lembaga tersebut setuju. Baginya, ini bukan sekadar urusan lahan, melainkan tentang martabat.

Sebagai seorang perempuan Papua yang berdiri tegak melawan sistem, Marina memosisikan dirinya sebagai pelindung generasi.

“Kenapa seorang perempuan seperti saya harus berbicara? Karena kita yang lebih tahu. Kita mama bangsa. Kita perempuan yang akan menghasilkan anak-anak yang akan mendiami tempat ini. Kalau kita tidak berteriak, kalau kita tidak menangis di tanah ini, berarti tanah ini akan hancur,” ucapnya penuh haru.

Di usianya yang menginjak 60 tahun, Marina tidak sedang memusuhi negara. Ia justru ingin menyelamatkan wajah negara dari tindakan oknum yang merusak kepercayaan rakyat.

Baginya, pembangunan batalyon atau Proyek Strategis Nasional (PSN) boleh saja dilakukan, namun harus dengan cara yang terhormat dan di atas lahan yang memang milik pemerintah, bukan merampas hutan lindung yang menyimpan mata air dan kekayaan alam tersembunyi.

“Saya bukan melawan institusi saya. Institusi itu baik, tapi oknumnya yang tidak menggunakan cara-cara terhormat. Jangan mengajar kami menjadi jahat, jangan membuat kami tidak menghargai NKRI karena ulah oknum-oknum tertentu. Saya berbicara mewakili keluarga besar orang Papua yang saat ini menangis karena tanahnya diambil dengan cara yang tidak adil,” tutupnya.

Hingga hari ini, Marina Rumawak menjelaskan pihaknya erus bergerak. Dari kantor DPRK hingga rencana menuju Jakarta untuk menemui Panglima TNI dan Presiden, danembawa satu pesan sederhana: Tanah adat adalah nyawa, dan nyawa tidak bisa ditawar dengan satu kilogram sembako atau janji-janji kosong.

Semua yang dilakukan oleh Marina untuk melindungi generasi penerus yang akan terus menjaga tanah adat sebagai rumah mereka.

“Generasi kita akan hancur. Akan hilang. Harapan saya yang paling penting kenapa tidak dilakukan dengan cara-cara terhormat. Karena ini kan tanah adat. Tanah adat ini dijamin oleh negara bahwa tanah adat itu dilindungi oleh negara. Kenapa ini bisa terjadi? Jangan negara ini main-main terhadap tanah adat ini,” ungkapnya.

Ia mengatakan dirinya hanya ingin bersuara karena melihat keadaan di tanah Papua yang semakin hari masyarakat adat semakin kesulitan mempertahankan tanah adatnya.

“Sebenarnya saat saya di dalam sistem, saya anggap itu hal biasa. Tapi pada saat saya sudah keluar dan saya melihat nyata yang terjadi di masyarakat saat ini, di Merauke, di Timika terus di Waropen, Sorong Biak, dan supiori. Dan juga di tempat lain. Kita jangan diam,” ungkapnya.

Marina berharap agar Presiden Republik Indonesia, Menteri Pertanahan, Kehutanan. Bahkan hingga jajaran Panglima TNI untuk melihat situasi yang dialami oleh masyarakat adat di Biak secara serius dan melihat hal ini sebagai salah satu kekecewaan yang terjadi di masyarakat Papua.

“Perempuan berbicara karena perempuan merasa tidak ada keadilan bagi negara, bagi tanah air kita, tanah Papua, tanah adat kami. Saya berbicara tidak mewakili siapa-siapa, mewakili keluarga besar orang Papua yang saat ini menangis, berteriak karena tanahnya diambil dengan cara-cara yang tidak terhormat. Saya kira itu sudah yang bisa saya sampaikan harapan saya,” pungkasnya.

penulis : Kristin Rejang

Cerita Marina Rumawak Pensiunan Letkol TNI yang Pasang Badan Lindungi Tanah Adat dari Pembangunan Batalyon
30 Januari 2026









Pengikut Sorotan

Address

Makassar

Telephone

082347318218

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lukman Sambongi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Lukman Sambongi:

Share