Santrina Puang

Santrina Puang Santrina Puang

`المفعول لأجله` = Maf'ul li Ajlihi*1. PENGERTIAN DASAR*`المفعول لأجله` = *Objek yang menerangkan SEBAB / TUJUAN* dilakuk...
02/08/2026

`المفعول لأجله` = Maf'ul li Ajlihi

*1. PENGERTIAN DASAR*

`المفعول لأجله` = *Objek yang menerangkan SEBAB / TUJUAN* dilakukannya suatu pekerjaan

Pertanyaannya: `لماذا فعلت؟` = Kenapa kamu melakukan itu?

Contoh paling gampang:
`جَلَسْتُ احْتِرَامًا لِلْمُعَلِّمِ`
= Aku duduk _karena menghormati_ guru

`احتراما` = Maf'ul li Ajlihi. Dia jawab "kenapa duduk?"

*2. 4 SYARAT BIAR BISA JADI MAF'UL LI AJLIHI*
Ini kaedah dari Alfiyah Ibn Malik:

1. *مَصْدَرٌ* → Harus berupa mashdar
Salah: `جَلَسْتُ لِلْمُعَلِّمِ`
Benar: `جَلَسْتُ احْتِرَامًا`

2. *قَلْبِيٌّ* → Sebabnya dari hati/perasaan
Harus hal batin: cinta, takut, malu, harap, sombong
Salah: `ضَرَبْتُهُ عَصًا` → "cambuk" itu benda, bukan perasaan

3. *مُتَّحِدٌ مَعَ الْفِعْلِ فِي الْفَاعِلِ وَالزَّمَنِ*
= Pelakunya sama & waktunya sama
`أَنَا` yg belajar DAN `أَنَا` yg punya tujuan
`أَنَا` belajar SEKARANG & `أَنَا` punya tujuan SEKARANG

4. *مُخَالِفٌ لِلْفِعْلِ فِي اللَّفْظِ*
= Lafalnya beda dari fi'ilnya
`قَامَ قِيَامًا` → ini maf'ul mutlak, bukan li ajlihi

*3. CIRI-CIRI / TANDA I'ROB*

*Hukum Asal: MANSHUB*
Selalu fathah. Karena dia maf'ul.

Contoh:
`خَوْفًا` `رَجَاءً` `حَيَاءً` `تَعْظِيْمًا` `شُكْرًا`

*4. BENTUK-BENTUKNYA*

Ada 3 model:

*A. Mujarrad dari Al & Mudhaf* → paling fasih
`صُمْتُ طَاعَةً` = Aku puasa karena taat

*B. Mudhaf*
`قُمْتُ طَاعَةَ لِلَّهِ` = Aku berdiri karena taat kepada Allah

*C. Ada Al*
`فَعَلْتُ ذَلِكَ لِلْخَوْفِ` = Aku melakukan itu karena takut

Catatan: Kalau ada `لـ` di depannya kayak `لِلْخَوْفِ`, itu namanya `اللام الجارة` bukan maf'ul li ajlihi murni. Tapi maknanya sama.

*5. BEDAIN SAMA YG MIRIP*
MAF'UL LI AJLIHI MAF'UL BIH MAF'UL MUTLAK
**Tanya** Kenapa? Apa? Bagaimana?
**Jenis** Mashdar hati Apapun Mashdar dari fi'ilnya
**Contoh** `دَرَسْتُ رَغْبَةً` `دَرَسْتُ النَّحْوَ` `دَرَسْتُ دَرْسًا`
**Arti** Karena ingin Objeknya Penekanan
*6. CONTOH AL-QURAN & HADITS*

1. `وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ`
= Jangan bunuh anak karena takut miskin

2. `يَدَعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا`
= Mereka berdoa karena takut dan berharap

3. Hadits: `مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا`
= Siapa puasa karena iman dan mengharap pahala

*7. TRIK GAMPANG NEMUINNYA*

Tanya ke fi'ilnya: `لماذا؟`
Jawabannya yg mashdar hati → itulah dia.

`بَكَيْتُ` → لماذا؟ → `نَدَمًا` = karena menyesal ✅

---

*KESIMPULAN 1 KALIMAT:*
`Maf'ul li Ajlihi` = Alasan hati yg dinashabkan buat nerangin kenapa suatu fi'il dilakukan.


People Pengikut sorotan

Bab "Lā" (لا) dalam Ilmu NahwuBab Lā (لا) merupakan salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu karena huruf ini memi...
28/07/2026

Bab "Lā" (لا) dalam Ilmu Nahwu

Bab Lā (لا) merupakan salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu karena huruf ini memiliki beberapa fungsi yang berbeda, tergantung pada konteks kalimat. Memahami perbedaan fungsi Lā akan membantu seseorang membaca, menerjemahkan, dan memahami teks Arab, khususnya Al-Qur'an, hadis, dan kitab-kitab klasik.

Secara umum, Lā digunakan untuk menafikan (meniadakan), melarang, atau memberikan penegasan terhadap suatu keadaan. Oleh sebab itu, para ulama nahwu membagi Lā ke dalam beberapa jenis, di antaranya Lā an-Nāfiyah lil Jins, Lā an-Nāhiyah, Lā an-Nāfiyah, dan beberapa bentuk lainnya.

Yang paling terkenal adalah Lā an-Nāfiyah lil Jins, yaitu Lā yang berfungsi meniadakan seluruh jenis suatu benda atau sifat. Isim setelahnya harus berbentuk nakirah dan biasanya dibaca manshub apabila memenuhi syarat-syaratnya. Contohnya:

لاَ رَجُلَ فِي الْبَيْتِ

"Tidak ada seorang laki-laki pun di dalam rumah."

Pada contoh tersebut, kata رجل menjadi isim Lā dan dibaca manshub karena Lā meniadakan seluruh jenis laki-laki di dalam rumah.

Adapun Lā an-Nāhiyah berfungsi sebagai larangan. Huruf ini masuk kepada fi'il mudhari' sehingga fi'il tersebut menjadi majzum. Contohnya:

لاَ تَكْذِبْ

"Janganlah kamu berdusta."

Sementara itu, Lā an-Nāfiyah hanya berfungsi meniadakan suatu perbuatan atau keadaan tanpa memengaruhi i'rab fi'il setelahnya. Contohnya:

لاَ يَذْهَبُ زَيْدٌ

"Zaid tidak pergi."


People Pengikut sorotan

Dzaraf (الظَّرْفُ) adalah salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu yang termasuk ke dalam kelompok isim manshub. S...
25/07/2026

Dzaraf (الظَّرْفُ) adalah salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu yang termasuk ke dalam kelompok isim manshub. Secara bahasa, dzaraf berarti "wadah" atau "tempat". Adapun secara istilah nahwu, dzaraf adalah isim yang menunjukkan keterangan waktu atau tempat terjadinya suatu perbuatan, sehingga berfungsi memberikan informasi tambahan tentang kapan atau di mana suatu pekerjaan berlangsung.
Dzaraf biasanya berkedudukan sebagai maf'ul fīh (المفعول فيه), yaitu isim manshub yang menjelaskan waktu atau tempat berlangsungnya suatu fi'il (kata kerja). Kehadiran dzaraf membuat makna kalimat menjadi lebih jelas, karena pembaca atau pendengar dapat mengetahui waktu maupun lokasi terjadinya suatu aktivitas.
A. Macam-Macam Dzaraf
1. Dzaraf Zamān (ظرف الزمان)
Dzaraf zamān adalah isim yang menerangkan waktu terjadinya suatu perbuatan.
Contoh:
• سَافَرْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Aku bepergian pada hari Jumat.
• يَدْرُسُ الطَّالِبُ لَيْلًا
Siswa itu belajar pada malam hari.
Contoh kata-kata dzaraf zamān: اليوم (hari ini), أمس (kemarin), غدًا (besok), صباحًا (pagi), مساءً (sore), ليلًا (malam), نهارًا (siang), حين (ketika), ساعة (jam), شهر (bulan), سنة (tahun).

2. Dzaraf Makān (ظرف المكان)
Dzaraf makān adalah isim yang menerangkan tempat berlangsungnya suatu pekerjaan.
Contoh:
• جَلَسْتُ أَمَامَ الْبَيْتِ
Aku duduk di depan rumah.
• وَقَفَ الْمُعَلِّمُ عِنْدَ الْبَابِ
Guru berdiri di dekat pintu.
Contoh kata-kata dzaraf makān: أمام (di depan), خلف (di belakang), فوق (di atas), تحت (di bawah), بين (di antara), عند (di sisi/dekat), هنا (di sini), هناك (di sana), يمين (sebelah kanan), شمال (sebelah kiri).
B. Hukum I'rab Dzaraf
Pada umumnya dzaraf berstatus manshub, sehingga tanda i'rabnya adalah:
• Fathah, jika berupa isim mufrad atau jamak taksir.
• Ya', jika berupa mutsanna atau jamak mudzakkar salim.
• Kasrah sebagai pengganti fathah pada jamak muannats salim.
Contoh:
• ذَهَبْتُ صَبَاحًا
صباحًا adalah dzaraf zamān yang manshub dengan tanda fathah.
• جَلَسْتُ أَمَامَ الْمَسْجِدِ
أمامَ adalah dzaraf makān yang manshub dengan tanda fathah.
C. Fungsi Dzaraf
Dzaraf memiliki beberapa fungsi penting dalam kalimat, antara lain:
• Menjelaskan waktu berlangsungnya suatu peristiwa.
• Menjelaskan tempat berlangsungnya suatu peristiwa.
• Menyempurnakan makna fi'il sehingga informasi menjadi lebih lengkap.
• Mempermudah pembaca atau pendengar memahami konteks suatu kalimat.
D. Perbedaan Dzaraf Zamān dan Dzaraf Makān
• Dzaraf Zamān menjawab pertanyaan "kapan?" (متى؟).
• Dzaraf Makān menjawab pertanyaan "di mana?" (أين؟).
Contoh:
• مَتَى ذَهَبْتَ؟ → ذَهَبْتُ صَبَاحًا.
• أَيْنَ جَلَسْتَ؟ → جَلَسْتُ أَمَامَ الْمَسْجِدِ.

Istisna' (الاستثناء): Pengertian, Unsur, Macam, dan Contohnya dalam Ilmu NahwuPengertian Istisna'Istisna' (الاستثناء) se...
22/07/2026

Istisna' (الاستثناء): Pengertian, Unsur, Macam, dan Contohnya dalam Ilmu Nahwu
Pengertian Istisna'
Istisna' (الاستثناء) secara bahasa berarti pengecualian. Adapun menurut istilah ilmu nahwu, istisna' adalah mengeluarkan sebagian anggota dari suatu kelompok yang disebutkan sebelumnya dengan menggunakan salah satu adatul istisna' (alat pengecualian).

A. Definisi ulama nahwu:
الاستثناء هو إخراج ما بعد أداة الاستثناء من حكم ما قبلها.
Artinya:
"Istisna' adalah mengeluarkan sesuatu yang datang setelah alat istisna' dari hukum yang berlaku pada sesuatu yang disebut sebelumnya."
Contoh:
حضر الطلابُ إلا زيدًا.
"Para siswa hadir kecuali Zaid."
Pada contoh tersebut:
• الطلابُ = Mustatsna Minhu (yang dikecualikan darinya)
• إلا = Adat Istisna'
• زيدًا = Mustatsna (yang dikecualikan)
Artinya, hukum "hadir" berlaku bagi semua siswa, kecuali Zaid.

B. Unsur-unsur Istisna'
Istisna' terdiri dari tiga unsur utama.
1. المستثنى منه (Mustatsna Minhu)
Yaitu sesuatu yang menjadi asal pengecualian.
Contoh:
جاء القومُ إلا خالدًا.
Kata القوم adalah mustatsna minhu.
2. أداة الاستثناء (Adat Istisna')
Yaitu kata yang digunakan untuk mengecualikan.
Alat-alat istisna' yang terkenal antara lain:
• إلا
• غير
• سوى
• خلا
• عدا
• حاشا
Yang paling banyak digunakan adalah إلا.
3. المستثنى (Mustatsna)
Yaitu bagian yang dikeluarkan dari hukum mustatsna minhu.
Contoh:
قام الطلابُ إلا محمدًا.
Muhammad adalah mustatsna.

C. Macam-macam Istisna'
Para ulama membagi istisna' menjadi beberapa macam.
1. Istisna' Muttashil (المتصل)
Yaitu mustatsna masih termasuk bagian dari mustatsna minhu.
Contoh:
أكل الضيوفُ إلا رجلًا.
"Tamu-tamu makan kecuali seorang laki-laki."
Laki-laki tersebut masih termasuk kelompok tamu.
2. Istisna' Munqathi' (المنقطع)
Yaitu mustatsna bukan bagian dari mustatsna minhu.
Contoh:
جاء الطلابُ إلا السيارةَ.
"Para siswa datang, tetapi mobil tidak."
Mobil bukan bagian dari siswa.

D. Pembagian Berdasarkan Bentuk Kalimat
Istisna' juga dibagi menjadi tiga.
1. Istisna' Tām Mujab (تام موجب)
Kalimat sempurna dan tidak mengandung penafian.
Contoh:
حضر الطلابُ إلا زيدًا.
Hukum mustatsna wajib manshub.
2. Istisna' Tām Ghair Mujab (تام غير موجب)
Kalimat sempurna tetapi didahului penafian.
Contoh:
ما حضر الطلابُ إلا زيدٌ.
Pada jenis ini mustatsna boleh:
• mengikuti i'rab mustatsna minhu (badal)
• atau tetap manshub.
3. Istisna' Nāqish Ghair Mujab (ناقص غير موجب)
Disebut juga Istisna' Mufarragh.
Mustatsna minhu tidak disebutkan.
Contoh:
ما حضر إلا زيدٌ.
"Tidak ada yang hadir selain Zaid."
Kata زيد mengikuti kedudukannya dalam kalimat, bukan karena hukum istisna'.

E. I'rab Mustatsna
Hukum i'rab berbeda sesuai jenis istisna'.
Jika Tām Mujab
Mustatsna wajib manshub.
Contoh:
زارني القومُ إلا خالدًا.
Jika Tām Ghair Mujab
Boleh dua wajah.
Contoh:
ما حضر الطلابُ إلا زيدٌ
atau
ما حضر الطلابُ إلا زيدًا
Jika Mufarragh
Mengikuti posisi dalam kalimat.
Contoh:
ما حضر إلا زيدٌ
زيد menjadi fa'il sehingga marfu'.
Alat-alat Istisna'
إلا
Merupakan alat yang paling sering digunakan.
غير
Selalu menjadi mudhaf.
Contoh:
جاء الطلابُ غيرَ زيدٍ.
سوى
Hukumnya sama dengan غير.
خلا
Bisa menjadi fi'il atau huruf.
عدا
Sama seperti خلا.
حاشا
Digunakan untuk pengecualian dan memiliki beberapa pendapat ulama mengenai i'rabnya.

People Pengikut sorotan

Hāl (الْحَالُ) adalah kata keterangan yang menjelaskan kondisi atau keadaan pelaku (fā'il) atau objek (maf'ūl bih) ketik...
18/07/2026

Hāl (الْحَالُ) adalah kata keterangan yang menjelaskan kondisi atau keadaan pelaku (fā'il) atau objek (maf'ūl bih) ketika suatu perbuatan sedang terjadi. Fungsi utamanya mirip dengan kata keterangan keadaan dalam bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan "bagaimana" (kaifa) peristiwa tersebut dilakukan.
Struktur dan aturan lengkap mengenai Hāl dalam tata bahasa Arab dijabarkan secara rinci di bawah ini.

1. Karakteristik Utama Hāl
• Isim Manshūb : Status hukum tata bahasanya (i'rāb) harus selalu manshūb, biasanya ditandai dengan harakat fathah.
• Isim Nakirah: Kata yang digunakan sebagai Hāl wajib berupa kata benda umum atau tidak spesifik (nakirah).
• Fadhlah: Berkedudukan sebagai kata pelengkap, artinya kalimat dasar sudah sempurna tanpa kehadirannya, meski perannya sangat penting untuk kejelasan konteks.
2. Komponen Pasangan: Shahibul Hāl
Setiap ada Hāl, pasti ada Shāhibul Hāl (pemilik keadaan), yaitu subjek atau objek yang dijelaskan kondisinya.
• Syarat Utama: Shāhibul Hāl wajib berupa isim ma'rifah (kata benda spesifik/khusus).
• Kesesuaian: Hāl harus sesuai dengan Shāhibul Hāl dalam hal gender (maskulin/feminin) dan jumlah (mufrad, tsunai, atau jamak).
Contoh Klasik:
جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا (Jā'a Zaidun Rākiban)
◦ Arti: Zaid telah datang dalam keadaan berkendara.Analisis: Kata رَاكِبًا (Rākiban) adalah Hāl (manshūb dengan fathah), sedangkan زَيْدٌ (Zaidun) adalah Shāhibul Hāl.
3. Pembagian Jenis Hāl
Berdasarkan bentuk katanya, Hāl terbagi menjadi tiga kelompok utama:
1. Hāl Mufrad (Tunggal)
Hāl yang hanya terdiri dari satu kata saja (bukan berupa kalimat), meskipun kata tersebut bermakna jamak.
• Contoh: جَاءَ الطُّلَّابُ مَسْرُوْرِيْنَ (Jā'a ath-thullābu masrūrīna) — "Para siswa datang dalam keadaan gembira."
2. Hāl Jumlah (Kalimat)
Hāl yang terbentuk dari sebuah struktur kalimat utuh. Jenis ini membutuhkan kata hubung (wāwul hāl) atau kata ganti (dhāmīr) untuk menyambungkannya ke kalimat utama.
• Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominator): جَاءَ زَيْدٌ وَهُوَ يَبْتَسِمُ (Jā'a Zaidun wa huwa yabtasimu) — "Zaid datang dan (dalam keadaan) dia tersenyum."
• Jumlah Fi'liyyah (Kalimat Verbal): رَأَيْتُ الْأُسْتَاذَ يَكْتُبُ (Ra'aitul ustādza yaktubu) — "Saya melihat guru (dalam keadaan) sedang menulis."
3. Hāl Syibhul Jumlah (Serupa Kalimat)
Hāl yang berwujud frasa preposisi atau kata keterangan tempat/waktu.
• Zharaf (Keterangan): رَأَيْتُ الْهِلَالَ بَيْنَ السَّحَابِ (Ra'aitul hilāla baina-s-sahābi) — "Saya melihat bulan sabit di antara awan."
• Jār wa Majrūr (Preposisi): رَأَيْتُ الطَّائِرَ عَلَى الْغُصْنِ (Ra'aituth-thā'ira 'alal gushni) "Saya melihat burung itu di atas dahan."

People Pengikut sorotan

Dalam ilmu Nahwu (tata bahasa Arab), masdar (مصدر) adalah kata benda (isim) yang menunjukkan sebuah kejadian atau perbua...
14/07/2026

Dalam ilmu Nahwu (tata bahasa Arab), masdar (مصدر) adalah kata benda (isim) yang menunjukkan sebuah kejadian atau perbuatan, tetapi tidak terikat oleh waktu (past, present, atau future).
Secara sederhana, jika kata kerja (fi'il) memiliki dimensi waktu (misalnya: "telah menulis" atau "sedang menulis"), maka masdar adalah kata dasarnya atau bentuk pembendaharaannya (misalnya: "tulisan" atau "hal menulis").
Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami masdar dengan mudah:
1. Perbedaan Fi'il (Kata Kerja) dan Masdar (Kata Benda)
Untuk melihat bedanya, perhatikan contoh kata Ka-Ta-Ba (كتب) berikut:
• كَتَبَ (Kataba - Fi'il Madi): Telah menulis (Ada unsur perbuatan + waktu lampau).يَكْتُبُ (Yaktubu - Fi'il Mudari'): Sedang/Akan menulis (Ada unsur perbuatan + waktu sekarang/nanti).كِتَابَةً (Kitabatan - Masdar): Penulisan / Hal menulis (Hanya esensi perbuatannya saja, bebas dari unsur waktu).
2. Kedudukan Masdar dalam Tasrif
Dalam ilmu Sharaf (perubahan kata), masdar biasanya menempati urutan ketiga dalam skema perubahan kata (tasrif istilahi).
نَصَرَ - يَنْصُرُ - نَصْرًا
(Nasara [telah menolong] - Yansuru [sedang menolong] - Nasran [pertolongan/masdar])
3. Jenis-Jenis Masdar yang Sering Dijumpai
• Masdar Sarih (صريح): Masdar yang jelas dan tertulis langsung sebagai satu kata benda tunggal. Contoh: جُلُوْسٌ (Julusan = Duduk).Masdar Mu'awwal (مؤول): Kalimat majemuk (biasanya susunan huruf An [أَنْ] + kata kerja) yang maknanya dilebur menjadi satu kata benda. Contoh: أَنْ تَصُومُوا (An Tasumu = Bahwa kalian berpuasa) maknanya sama dengan صِيَامُكُمْ (Siyamukum = Puasa kalian).Masdar Mimi (ميمي): Masdar yang diawali dengan huruf mim tambahan. Contoh: مَطْلَبٌ (Matlabun = Pencarian/Tuntutan).

Pengikut sorotan People

Address

Jalan Kandea
Makassar
90156

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Santrina Puang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category