AMT Syndicate

AMT Syndicate pekerja perenungan sosial politik

CORETAN SUMPAH MUHAMMAD YAMINOleh Armin Mustamin ToputiriFounder dan Ceo Toaccae InstitutePertama; Kami poetera dan poet...
30/10/2025

CORETAN SUMPAH MUHAMMAD YAMIN

Oleh Armin Mustamin Toputiri
Founder dan Ceo Toaccae Institute

Pertama; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia

Kedoea; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia

Ketiga; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Rangkaian kata mewujud kalimat itu, bukanlah jampi-jampi, juga bukan mantra. Bukanlah bait sajak, maupun lagu. Tapi entah, rangkaian kata itu terlanjur memiliki “tuah”-nya sendiri.

Telah 97 tahun --- sejak diikrarkan pertama kali dalam Kongres (kekerapan) Pemuda II di Gedung Oost-Java Bioscoop, Stovia-Batavia, 28 Oktober 1928 --- usia rangkai kata itu, masih tetap saja mengiang. Melekat, mengiringi perjalanan sebuah negara berdaulat, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Betapa “beruntung” orang yang merumus susunan kata-kata itu. Andai NKRI kelak berusia satu juta tahun misalnya, maka rangakai kata itu p**a usianya lebih dari pada satu juta itu. Padahal, dapatlah diduga, bahwa ketika orang yang merumus kata itu, mulanya tidak sedikitpun pernah menduga jika kata yang ia rumuskan kelak akan mengiringi perjalanan suatu negara berdaulat.

Susunan kata dirumuskannya, tak lain semata karena itulah rumusan kebutuhan mendesak bagai orang-orang bumi putera dikala 1928 itu, sebelum NKRI ada. NKRI – negeri yang berdaulat --selain sebatas angan, menjadi harapan dan tekad.

Lebih mengagungkannya lagi, lembaran sejarah mengungkap jika rangkaian kata --- yang belakangan kita kenal “Sumpah Pemuda” --- itu, rumusannya hanya bermula berupa coretan tangan di atas sehelai sobekan kertas bekas.

Pimpinan sidang Kongres Pemuda II, Soegondo Djojopoespito, membacanya sebagai putusan kongres. Para perwakilan pemuda yang hadir dalam kongres itu, bersama mengikrarkan coretan itu diiringi alunan “Indonesia Raya” -- tanpa teks -- lewat biola Wage Rudolf Soepratman, meski saat bersamaan bayonet kolonial mengarah ke kerumunan mereka.

***

Nun jauh dari Batavia, di pelosok kampung Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, tempat lahir putra juragan kopi (23 Agustus 1903) sekaligus tempat dimakam (17 Oktober 1962). Di liang lahat itu, mungkin tak lagi ada tulang berserak, memberi persaksian jika Sumpah Pemuda dulu dirumus ketua Jong Sumatranen Bond itu, ternyata abadi sepanjang republik ini ada.

Rangkaian kata dulu dirumusnya, bukan jampi-jampi dan bukan mantra, untuk dibaca di atas pusara suami R.A. Sundari Mertoatmaodjo, juga kakak kandung tokoh perfilman nasional Djamaluddin Adinegoro itu. Tapi rangkai kalimat itu, legacy penerang alam kuburnya.

Mohammad Yamin, itulah nama tertulis pada nizan makam itu. Namanya jauh terlampaui dari pop**aritas apa pernah dirumuskannya. Kita fasih mengeja Sumpah Pemuda. Seisi bangsa tahu, tanpa kita tahu siapa sesungguhnya sosok manusia yang mula pertama merumuskan teksnya di atas lembar kertas bekas.

Tanpa kita tahu, jika sosok sastrawan ini jugalah yang mula (dalam sidang BPUPKI. 29 Mei 1945) menawar rumusan Pancasila – tiga hari sebelum Soekarno menyampaikan pidato 1 Juni 1945 -- kelak menjadi idiologi (permanen) NKRI; “peri kebangsaan, peri ke-Tuhanan, peri kesejahteraan rakyat, peri kemanusiaan, dan peri kerakyatan”.

Juga tanpa kita tahu, jika dirinya jugalah sosok pemrasaran dalam Kongres Pancawarsa (I) Jong Sumatranen Bond (1923) berjudul “De maleische taal in het verleden, heden en toekomst”, yang meramal dan mengajukan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.

Dan mungkin tanpa kita tahu jika inilah jugalah sosok --- anggota BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai atau dilafalkan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai) --- yang banyak andil dalam perumusan naskah UUD 1945, khususnya pasal berkaitan soal HAM.

Bahkan uniknya, tanpa kita tahu jika visualisasi wajah Gadjah Mada, bersumber dari wajahnya.

***

Mohammad Yamin, anak bangsa dengan totalitas gagasan yang cerdas dan sistemik. Lewat goresan tangannya ia mengawal sejak NKRI belum ada, hingga benar-benar nyata. Bahkan saat usianya masih belia, 20 tahun, ia mengajukan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.

Lima tahun berikutnya, di usia 25 tahun, gagasannya lanjut dirumuskan dalam Sumpah Pemuda. Tak hanya sebatas itu, kala usianya beranjak 42 tahun, ia coba menawar rumusan Pancasila, dan hingga titik kulminasinya dalam keterlibatannya di BPUPKI dalam merumuskan UUD 1945.

Maha karya abadi, sungguh luar biasa lahir dari anak muda Minangkabau bernama Mohammad Yamin. Kalaupun pop**aritas namanya terlampaui dari karyanya, usahlah disesali. Keabadian memang bukan datang dari niat untuk keabadian. Keabadaian datang justru dari ketidakabadian.

Rumusan Sumpah Pemuda dituliskan misalnya, bukanlah sumpah “serapah” pemuda, yang didasari emosi pada kaum penjajah yang menindas. Bukan dengan kepalan tangan --- seperti belakangan divisualisasikan tentang identitas pemuda --- tapi ia datang dengan coretan tangan.

Bukan demonstrasi, tapi diplomasi. Tidak untuk jangka pendek, tapi untuk jangka panjang, seperti dipesankan dalam bait (salah satu) sajaknya.

Adapun kami anak sekarang/ Mari berjerih berbanting tulang/ Menjaga kemegahan janganlah hilang/ Supaya lepas ke padang yang bebas/ Sebagai poyangku masa dahulu/ Karena bangsaku dalam hatiku / Turunan Indonesia darah Melayu.

21/10/2025
09/09/2025

LUKISAN SRI MULYANI

armin mustamin toputiri

Kediaman trio legislator artis diseruduk, seisi rumah ludes dijarah massa. Sesudahnya, viral fokus mereka sesali, jauh dari ekspektasi dibayangkan publik.

Sahroni geram akibat dua patung, statue “Iron-Man” dan “Spider-Man” miliknya dijarah. Istri Eko Patrio, meringis akibat satu tas kesayangannya ikut terjarah. Uya Kuya, sedih kucing-kucing piaraannya, p**a ikut dijarah.

Khusus Sri Mulyani, Menkeu RI -- kediamannya ikut terjarah -- paling disesali karena sebilah lukisan bunga, ia kerjakan 14 tahun lalu, p**a ikut dijarah.

***

Sri Mulyani kesal. Tak main-main, tanggung demi sebilah lukisan itu, kursi Menkeu ia duduki di kabinet Merah Putih -- diincar banyak orang – justru dipertaruhkan untuk dilepas.

"Bocor-Halus" TEMPO, mencium aroma itu. Minggu malam 02/09/2025, kediamannya dijarah. Paginya bergegas ke Hambalang. Selembar kertas ia sodor ke Prabowo, ia minta mundur dari kabinet. Pagi ditolak, sorenya di istana negara, surat itu disodor sekali lagi. Tetap saja ditolak.

Presiden Prabowo, tak sudih. Dalihnya singkat, Sri Mulyani tak boleh hengkang dari kabinet. Ia sosok ekonom, teknokrat dis**ai pasar. Jika ia pergi, dipastikan pasar ikut menjauh. Lebih lagi saat sama perekonomian dan fiskal republik ini, gonjang ganjing. Pertumbuhan ekonomi seret, rasio PDB versus pelunasan utang luar negeri, kian mendekat ke ambang batas.

***

Sri Mulyani, bukan sosok sembarangan. Kiprahnya diapresiasi lembaga bergengsi dunia. Saat sidang tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura, Emerging Markets menobatkannya, Menteri Keuangan Terbaik Asia 2006. Majalah Globe Asia 2007, menetapkannya Wanita Berpengaruh ke-2 di Indonesia. Di 2008, majalah Forbes mengklaim Wanita Paling Berpengaruh ke-23 dunia.

Sri Mulyani mencuat awal reformasi. Ia Kepala LPEM Fakultas Ekonomi UI, berulang mejeng di stasiun tivi, mentarjih perekonomian Indonesia mutakhir yang meyakinkan SBY. Ia pun diminta jadi Kepala Bappenas. Lalu Menkeu, juga Menko Perekonomian. Ia lalu terbang ke Washington, dia orang Indonesia pertama menduduki kursi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Dia balik p**ang gegara Jokowi mengajak kembali jadi Menkeu. Prabowo terpilih, ia tak beranjak dari kursinya.

Sehebat begitu kiprahnya, tapi kenapa kediamannya – bahkan satu-satunya anggota kabinet Merah Putih – diseruduk dan dijarah massa? Anomali, sekira apa “dosa” Sri Mulyani?

Sesederhana sekali, sekira itulah konsokuensi mesti ia tanggung selaku bendahara negara. Di tengah Kaum Oligan “berselingkuh” penguasa, Sri Mulyani mesti pontang panting mendulang berbagai sumber pendapatan negara. Juga mengatur perbelajaannya cara efektif dan efisien.

Sri Mulyani, meminta koleganya di kabinet, agar semua lahan berproduksi, jika tidak “direbut” negara. Rekening “dormant” blokir, berharap uang bergulir membantu pertumbuhan ekonomi. Pembantuan keuangan pusat ke daerah dipangkas. Diminta efisien, carilah pendapatan sendiri. Paling banter, naikkan PBB. Asset apapun dimiliki daerah, semua mesti berpendapatan.

Nilai cukai rokok dilonjak, namun tak membuah hasil, akibat berbagai ragam rokok (non-cukai) kreasi masyarakat masuk pasar. Beralih, jajanan rakyat sekalipun, dipunguti pajak. Saat rakyat terjepit, malah toleran kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR. Sebaliknya sinis kenaikan gaji/tunjangan guru dan dosen, dinilai membebani negara. Berbalik, ia disorot sinis oleh publik.

***

Alih-alih, segenting apa lukisan kasat mata terlihat tak dikerja profesional itu? "Lukisan Bunga itu telah raib, lenyap seperti lenyapnya rasa aman, rasa kepastian hukum dan perikemanusiaan yang adil dan beradab di bumi Indonesia," jelas Sri Mulyani di akun IG pribadinya,

Frasa kalimatnya berbalut majaz. Ia memilih kelompok kata metafora yang jika hendak ditarjih, makananya dalam. Sri Mulyani bertolak dari sebilah lukisan bunga karyanya, bukan pada indah tak indahnya, baik-buruknya, sekerdil publik memahami lukisan sebatas hiasan dinding.

Sri Mulyani mempertotonkan publik, lukisan jauh lebih dari itu. Lukisan punya jiwa, hasrat dan imajinasi tersendiri. Universal menyimpan cerita impersonal bebas ruang dan waktu, tentang perjalanan setiap orang. Sekalipun dirinya tak lagi duduk di kursi Menkeu, niscaya lukisan itu harusnya jika tak dijarah, mewujud legacy, mewaris bagi anak cucunya kelak.

Wajar jika Sri Mulyani bertaruh “value” lukisannya, dibanding material kedudukannya. Lukisan itu, tentulah maharnya tinggi. Tak semata “value” di baliknya. Jauh lebih dari itu, pelukisnya pernah tercatat; Wanita Paling Berpengaruh ke-23 di dunia.

Makassar, 9 September 2025

16/07/2025

EMPAT JUDUL NOVEL

Armin Mustamin Toputiri

Lazimnya di waktu senggang, jika tak main cat di kanvas, saya melahap novel.

Dua pekan ini, saya melahap empat judul novel. “Royan Revolusi" (Ramadhan KH, 1986). “Harimau-Harimau” (Mochtar Lubis, 1992). “Cantik Itu Luka” (Eka Kurniawan, 2004). Dan, “Gadis Kretek” (Ratih Kumala, 2012).

Ramadhan KH, ayah mertua dari Zanas Haque, ayah drummer Gilang Ramadhan. Menulis otobiografi Soeharto, Ali Sadikin dan Jenderal Soemitro. Adapun Mochtar Lubis, ia jurnalis disegani di eranya, juga budayawan-sastrawan, menulis banyak novel. Ia lebib banyak dikenang pada isi pidatonya di TIM 1976 tentang karakter negatif Manusia Indonesia.

Eka Kurniawan dan Ratih Kumala, berdua sepasang suami istri. Eka tamat filsafat UGM, novelnya terbit 24 ragam bahasa dunia, menobatkannya sastrawan kini diperhitungkan. Ratih Kumala, alumnus Sastra Universitas 11 Maret Surakarta, ia menulis sekian novel. Novelnya “Gadis Kretek”, meraih penghargaan bergengsi. Juga telah difilmkan.

***

Saya sadar, sengaja memilih dua novel lama ditulis 1960an dan 1970-an, p**a dua novel teranyar era 2000-an. Niat saya semata – tanpa teori sastra pakem – untuk tau, tepatnya “merasai” pembeda novel karya para sastrawan mumpuni, di dua era yang berbeda.

Di era 1960-an dan 2000-an, nuansa dan kondisi sosial masing-masing melingkupi, jauh beda. Maka tema, plot, konflik dan daya ungkap masing-masing novel, tentu saja ikutlab berbeda. Lebih lagi alat tulis digunakan, di era 1960-an tersedia hanya pena dan mesin tik, sekali tulis. Tapi, era 2000-an novel dicipta dari tik computer, meralat kekeliruan, melengkapi plotnya, meralat yang keliru sangatlah enteng.

***

Khatam melumat ke-empat judul novel lama dan baru itu, benar terasa bedanya. Tentu saja, juga terasa persamaannya.

Latarnya, sama berpijak sejarah. Plotnya sama, maju mundur. Berangkatnya sama, star dari kisah persahabatan yang diramu dalam konflik muslahat bin muslihat. Dan kelak di ujung kisah saling khianat. Tragis menggemaskan, memilukan, juga bahkan menyedihkan. Keempat novel ini, tak alfa membumbui soal konflik perselingkuhan, romantisme, bahkan persetubuhan.

Pembeda yang paling terasa, novel lama berlatar sejarah, pertaruhan idiologi, juga petualangan yang kaya dan padat pesan moral. Bahasanya sederhana dan mudah dipahami. Novel baru, justru lebih padat pada plot yang kompleks, membuatnya makin kaya. Menarik meski kadang justru plot yang meliuk itu yang membosankan.

Khatam melumat empat judul novel ini, saya menempatkan “Gadis Kretek” (282 hal) di nomor wahid. “Harimau - Harimau (220 hal) di posisi kedua, lalu “Cantik Itu Luka” (494 hal) posisi tiga. Dan terakhir, "Royan Revolusi” (337 hal).

Asyiklah. Saatnya, menuntaskan "Kereta Semar Lembu" karya kenalan saya Zaky Yamani. Novelnya ini, Juara 1 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021.

Makassar, 15 Juli 2025

NOTE;
meski keempat novel ini bertengger di rak Pustaka Pribadi saya di rumah, tapi saya memilih melahapnya lewat E-Book. Jika berminat E-Book keempat novel ini, atau salah satunya, kirim nomor Hape Anda, saya kirimi Pdf lewat pesan WA.

PRABOWODari Cinjantung Bergerak ke Istana
30/03/2025

PRABOWO
Dari Cinjantung Bergerak ke Istana

073 Prabowo Dari Cijantung Bergerak ke Istana

27/03/2025

CENDOL MANIS JUALAN DAENG TE’NE

armin mustamin toputiti

CENDOL, dawet dibubuhi gula aren, juga tape beras ketan. Masyarakat Bugis, akrab pada akronimnya; "Cinta" (Cindolo’ na-tape). Penganan ini, saya s**ai buat berbuka puasa.

Wajar, tiap kali Ramadhan, tiap itu p**a saya teringat pada Daeng Te’ne (Makassar; julukan perempuan berparas manis, cantik). Namun, saya ingat bukan pada paras Daeng Te’ne yang manis, tapi pada jualan cendolnya yang memang manis. Semanis, paras Daeng Te’ne.

Daeng Te’ne menjajakan jualan cendolnya, di bulan Ramadhan saja. Bulan lain, Daeng Te’ne di Malino, di lereng pegunungan Bawakaraeng, berhawa sejuk. Membersamai lelaki pujaannya, menyemai kebun, tumpuan hidup keluarganya. Tiap Ramadhan, Daeng Te’ne turun gunung. Di Makassar, ia menjajakan cendolnya. Bagi saya, rasanya khas. Sedaplah, begitu kira-kira!

Saya mula tahu cendol khas Daeng Te’ne, sejak saya masih bujang, 30-an tahun lalu. Isi dompet masih pas-pasan. Membeli penganan buka puasa, jajanan di tepi jalan, cukuplah. Sejak itu, tiap Ramadhan, saya berurusan Daeng Te'ne, pelanggan setianya. Usia Daeng Te’ne kala itu, sekira 45-an tahun.

Peralatan jualannya, sederhana. Bermodal meja kayu, mulai melapuk. Di atasnya diletakkan termos dan toples. Ramadhan sekian tahun lalu, saya masih mampir. Nyaris tak ada berubah. Paling berubah, paras Daeng Te’ne yang kian menua. Gerakan tangannya, mengaduk cendol, tak segesit dulu lagi.

Lokasinya berjualan, tak bergeser. Masih di lokasi sama, tepi jalan Hertasning Makassar, meski di jalan itu tak sesepi dulu lagi. Kini dipadati kendaraan berlalu lalang, seolah ingin menghempas Daeng Te’ne dari posisinya. Namun ia bergeming. Dalihnya kuat, makin ramai orang berlalu lalang, berkah baginya. Pembelinya kian berjubel, mengerubung jualannya. Semua harus antri, apapun status sosial dimiliki.

Di masa-masa awal, pembelinya dihitung jari. Kini makin padat, pelanggannya berjubel. Daeng Te’ne makin sibuk melayani pembeli. Sebaliknya saya justru risau, menduga-duga nasib jualan Daeng Te’ne selanjutnya. Haruskah dia bergeser dari prinsip, mazhab dagang sekian lama dia taruh. Kukuh, gigih dia anut.

Bagi Daeng Te’ne, semua pembeli mesti dapat bagian. Pembeli yang lebih dulu datang, dibolehkan hanya membeli secukupnya. Sisa sebagian jualan cendolnya, disisih bagi pembeli berikutnya. Tak lasim, wajar jika tak sedkit pembelinya mengajukan protes. “Kenapa hanya secukupnya, toh juga saya bayar?”.

Mazhab dagang dia anut, menyimpang dari teori ekonomi pakar manapun. Bahwa; kian laris, jualan kian cepat habis, kian laba diraih berlipat. Daeng Te’ne hanya tamatan SMP, jauh dari buku ditulis pakar marketing, Phillip Kotler atau Hermawan Kartajaya misalnya. Tapi ajaibnya, teori dagangnya menyimpang, tapi dia mampu bertahan. Telah 30-an tahun, dia berjualan di situ.

Sekian hari lalu, saya mampir lagi. Daeng Te’ne sudah tak lagi ada di sana. Daeng Te’ne telah berp**ang.

Makassar, 26 Maret 2025

26/03/2025

INNEKE DAN TAFSIR AL-MISBAH

armin mustamin toputiri

ERA 1980-an, saya masih nyantri di Pesantren Modern IMMIM. Sehabis liburan dalam kota, saat balik p**ang ke asrama di Tamalanrea berkendara mobil angkutan umum “pete-pete”, acapkali melintas di jalur searah ini. Kala itu bernama Jalan Gunung Bulusaraung, kini Jl Jenderal M Yusuf. Kota Makassar, pun juga masih dinamai Ujungpandang.

Sekira seratusan meter, sebelum melintas depan Masjid Raya Kota, lebih dulu melintasi dua bangunan bioskop yang berhadapan di dua sisi jalan. Bioskop Dewi dan bioskop Jaya. Rasa-rasanya, tak absah jika melintas di depan kedua bioskop itu, jika tak memalingkan muka ke arah antara dua bangunan bioskop itu. Mau tak mau, s**a tak s**a, tatapan mata akan tetap saja terjerat, tergoda melirik kain layar lebar yang menggantung di bagian depan kedua bioskop itu.

Kain layar lebar itu semacam iklan, spanduk promosi judul film sedang tayang. Buktinya, berisi gambar paraaktor dan aktris yang berperan dalam film itu. Gambar aktris, pakaiannya serba minim, memamer kemolekan lelukan tubuh mereka. Sexy, menggoda hasrat dan birahi. Di antara aktris yang masih saya ingat, Inneke Koesherawati, Zuzanna, Anna Tairas, Eva Arnas, Yurike, serta sekian aktris yang lainnya. Masa itu, mereka digelari “bom sex”. Populer sebai pemain film bermodalkan sensualitas diri belaka.

Saat saya ikut melintas depan kedua bioskop itu, sebagai anak pondok pesantren yang saban waktu di kurung dalam asrama dengan jejal ilmu agama, risih dan miris melihatnya. Tetapi ironisnya – Ya, harap maklum “santri juga manusia” -- sebelum mobil tumpangan pete-pete berlalu, cara sembunyi di balik jendela mobil, saya ikutan p**a mengintip gambar para artis seronok itu. Ehm, mumpung penumpang lain, kecuali sopir, punya titik pandangan searah. Sama-sama melototi kain layar di kedua bioskop itu.

Jika mobil tumpangan berlalu, penglihatan pada spanduk kain lebar itu, sendirinya juga berlalu. Lebih lagi, jika telah sampai di asrama, toh seluruh waktu dan fikiran kembali dijajal narasi-narasi keagamaan. Salah satu di antara ustadz, guru kelas favorit santri (siswa) kala itu, Quraish Shihab masih sesekali ikut mengajar di pondok. Kini satu di antara cendekiawan muslim terkemuka di negeri ini. Meski tidak rutin datang mengajar, tetapi ilmu tafsir diajarkan kuat melekat dalam benak para santri IMMIM hingga kini.

Ustadz Quraish, cara mengajarnya dengan bahasa sederhana, sebabnya mudah dicerna. Dia mengajari kami tafsir al-Qur’an, tak semata mendaras teks-teks, lebih jauh pada ko-teks, bahkan kontekstualnya. Selengkapnya untuk memahami bahasa Arab dalam bahasa al-Qur’an, Quraish Shihab mentarjih dalam kitab tafsir al-Misbah (15 volume). Selain bahasanya tak rumit, tafsirannya relevan sesuai kondisi sosial kontemporer, sehingga memudahkan masyarakat muslim, yang awam sekalipun mampu memahami.

Mau buktinya, sesekali simaklah ulasan Tafsir al-Misbah di layar tivi, rutin menjelang sahur Ramadhan. Saya rutin mengikuti. Namun, dinihari tadi, saat duduk manis depan tivi, menyimak maha guru Quraish Shihab mengulas Tafsir al-Misbah, alangkah takjubnya saya. Sosok yang memandu, tak lain artis yang dulu gambarnya depan bioskop, cara sembunyi ikut saya intip. Dia Inneke Koesherawati. Subahanallah!

Makassar, 10 Juli 2013

12/09/2023

Sepenggal Cerita
UANG PEMBERIAN AMIN SYAM

armin mustamin toputiri

SIANG itu, Oktober 2003. Tepat 20 tahun lalu.

“Apa benar, ini Pak Armin?” tanya seseorang di seberang sana, masuk lewat hape saya.

“Iyya”, jawab saya. “Siapa?”, balik, saya bertanya.

“Maaf pak, saya ajudan Bapak Gubernur”. Dimaksud tentu saja Bapak Amin Syam. “Pak Armin, diminta menghadap beliau!”, jelas ajudan asal kepolisian itu.

“Kapan?”, tanya saya. Dijawab, sekarang! “Dimana?“. Dijawab, ruang kerja gubernur.

***

Perjalanan ke kantor gubernur, pada adik yang menyopiri saya, tak henti saya tanyai, sekira apa urusan orang selevel gubernur meminta saya menemui. Saya ini, bukan siapa-siapa.

Kala 2003 itu, saya Sekretaris KNPI. Juga Sekretaris AMPG, organisasi sayap Golkar Sulsel, parpol yang diketuai Pak Amin Syam.

Ajaibnya, semalam saya baru saja tiba di Makassar, setelah sebulan berada di Jakarta. Tapi siang itu, saya diminta menemui. Dari mana ia tau, saya telah berada di Makassar? Apakah Brigjen TNI (Purn) itu memata-matai saya? Entah, juga buat apa?

***

Memasuki ruang tunggu, ruangan kerja gubernur, sesak banyak orang antri menunggu giliran bersua gubernur. Tak ada lagi, kursi kosong. Beruntung, ajudan -- yang tadi menelpon -- menyodori saya kursi kosong.

Agar tak membelakangi tetamu lain, kursi saya geser ke samping. Tapi, ajudan mejegat. “Pak Armin di posisi situ saja”. Lalu, membisiki saya. “Agar Pak Armin tersorot kamera cctv dari meja kerja Pak Gub!”

Ohw, begitu! Ajudan itu, benar. Tak lama, bell dari meja kerja gubernur, berbunyi. Ajudan gesit masuk, lalu balik memberi isyarat, mengikuti masuk ruang kerja gubernur.

“Saya lebih dulu antri dari Bapak itu!”, jegat seorang tamu menunjuk ke arah saya. Ajudan memberi penjelasan, dia makhfum. Tetamu lain, hanya bisa melongo.

“Silahkan duduk dek!”, sapa Gubernur. Saya duduk, tepat depan meja kebesaran orang nomor wahid di Sulsel. Gerangan urusan apa saya diminta menghadap? Muka saya, merunduk. Jantung saya, berdegub kencang. Kedua tungkai kaki saya, gemetaran. Berada dalam ruangan itu, seolah mustahil bagi saya.

Inilah kali pertama saya bersua empat mata dengan seorang gubernur. Juga sekalian ketua parpol dimana saya bergabung. Sambutannya ramah, senyuman khasnya tiada henti dikulum, membuat saya lebih tenang.

Lebih lagi, kala Jenderal Bintang Satu itu, meninggalkan kursi kebesarannya, menghampiri saya. Menepuk-nepuk pundak saya. Lalu, menyodori saya benda berbungkus koran, terlilit karet gelang.

***

Diucapkan, hanya sekian patah kalimat. Dari mulut saya, tak ada kata selain, “Siap Pak”. Lima menit, saya pamit keluar. Sekalian menjauhi area kantor gubernur.

Perjalanan p**ang, didera rasa penasaran, ujung bungkusan koran itu, saya sobek. Wow, setumpuk uang warna merah. Ada lima lilitan kertas merek sebuah bank, masing-masing tertulis Rp. 10.000.000,- Maka, totalnya Rp.50.000.000,-

Semur-umur, baru kali itu saya memegang uang sebanyak itu. Juga kali pertama, seseorang memberi uang sebesar itu, tanpa saya minta.

Tapi, diberi sekira alasan apa? Juga buat apa? “Kamu caleg, pakailah itu agar kamu peroleh suara sebanyaknya!”.

Pemilu 2004, sistem tertutup. Keterpilihan berdasar nomor urut. Kali itu, saya belum terpilih.

***

Kini, Pak Amin Syam, telah tiada. Jika peristiwa itu saya kenang, bola mata saya berkaca-kaca.

Bukan semata di 2003 itu, saya diberi uang sebesar itu. Tapi jauh lebih dari itu, tauladan kerendahan hati seorang pemimpin yang saya hormati. Mengucap maaf pada saya, bukan siapa-siapa, selain anak buahnya. Juga, empatinya pada saya, anak muda usia 36 tahun yang kala itu menjajak karir di rimba politik.

“Dek Armin, saya minta maaf. Nomor urutmu (caleg), bagian bawah. Dek Armin masih muda, mesti bersabar. Masih punya waktu cukup panjang untuk berjuang meraih masa depan”.

Terima kasih Pak Amin Syam, kelak 2009-2019 harapan Bapak terkabul, 10 tahun saya menduduki kursi DPRD Sulsel.

Selamat jalan. Selamat berpisah. Kebaikan Bapak, amal jariyah, abadi dalam kenangan. Ila arwahu, al-Fatihah.

Makassar, 07 September 2023

Sepenggal Cerita di Balik LayarAMIN SYAM, YUNUS BANDU DAN MAJID TAHIRarmin mustamin toputiriKolonel Inf (Purn) Yunus Ban...
08/09/2023

Sepenggal Cerita di Balik Layar
AMIN SYAM, YUNUS BANDU DAN MAJID TAHIR

armin mustamin toputiri

Kolonel Inf (Purn) Yunus Bandu, hari ini berp**ang. Hanya selisih tiga hari, menyusul Mayor Jenderal TNI (Purn) HM Amin Syam yang lebih dulu berp**ang, 1 September 2023.

Di sela kep**angan kedua tokoh ini, 4 September 2023, juga berp**ang seorang tokoh masyarakat Luwu, Abdul Majid Tahir.

Dan hanya karena kebetulan, ketiganya menyimpan sepenggal cerita di balik layar.

***

Yunus Bandu, juga Amin Syam, sama-sama berlatar militer. Keduanya, tentara aktif yang sama-sama pernah mendapat giliran bertugas mengejawantahkan “Dwi Fungsi ABRI”.

Yaitu sebuah gagasan yang diterapkan di era pemerintahan orde baru Soeharto. Bahwa ABRI, khususnya TNI-AD, memiliki dua tugas. Selain menjaga keamanan dan ketertiban negara, juga bertugas memegang kekuasaan pemerintahan untuk mengatur negara.

Pada tahun 1988, Yunus Bandu dan Amin Syam, bersamaan mendapat giliran penugasan. Yunus Bandu ditunjuk sebagai Bupati Sidrap, pengganti Opu Sidik (1978-1988). Sementara Amin Syam ditunjuk menjadi Bupati Enrekang, pengganti Saleh Nurdin Agung (1983-1988).

Yunus Bandu dan Amin Syam, sama-sama mengakhiri satu periode kepemimpinan sebagai Bupati pada tahun 1993. Yunus Bandu, digantikan oleh Bupati Sidrap Andi Salipolo Palalloi. Sementara Bupati Enrekang Amin Syam, digantikan oleh Andi Rachman.

Bersamaan di tahun 1993 itu, Musda Golkar berlangsung. Dua tentara yang baru saja mengakhiri jabatan Bupati itu, sama-sama disebut-sebut sebagai kandidat terkuat memperebutkan kursi Ketua Golkar Sulsel, orsospol yang didirikan sekelompok TNI-AD.

Perebutan Ketua Golkar yang sebelumnya digadang-gadang berlangsung sengit dan alot, justru di ujungnya berakhir happy ending.

Yunus Bandu tak maju, sehingga setelah sidang molor sekian jam, pimpinan sidang Musda Golkar Sulsel, akhirnya mengetukkan palu. Mensahkan Amin Syam, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Golkar Sulsel, pengganti Aliem Bachri, yang juga mantan Bupati Majene (1967-1990).

***

Tak majunya Yunus Bandu, legowo menyerahkan kepemimpinan Golkar Sulsel kepada Amin Syam, belakang hari beredar percakapan di kalangan pemerhati politik, bahwa sikap legowo Yunus Bandu, merupakan hasil kompromi di institusi muasal keduanya di ketentaraan, Pangdam beserta purnawirawan senior TNI AD di Sulsel.

Titik komprominya, Amin Syam diberi kesempatan melanjutkan kepemimpinan Aliem Bachri di Golkar. Sementra Yunus Bandu, sekali lagi diberi kesempatan memimpin salah satu daerah di Sulsel sebagai Bupati. Kabupaten yang ditunjuk adalah Kabupaten Luwu, bertepatan pada tahun yang sama jabatan Bupati Luwu segera ditinggalkan Muh. Dahlan Jampu (1988-1993).

Alhasil, mengawali kepemimpinannya sebagai Bupati Luwu, Yunus Bandu mendapat reaksi penolakan dari sekelompok kecil senior dan mahasiswa asal Luwu di Makassar. Mereka turun melakukan aksi penolakan di Kantor Bupati Luwu di Palopo. Dan sekembalinya ke Makassar, di Pare-pare mereka dihadang dan ditahan sekian hari di kantor Korem Pare-Pare.

Dalih penolakan mereka karena mengharap Sabang Kallang, perwira tinggi kepolisian yang harusnya ditunjuk sebagai Bupati Luwu, bukan Yunus Bandu dari TNI AD.

Dalih mereka, selain karena Sabang Kallang putra Luwu, juga mengharap agar perwira kepolisian diberi kesempatan memimpin daerah, tak hanya TNI AD saja. Mubara Dappi misalnya, Bupati Luwu sebelum Dahlan Jampu, toh juga tak lain muasalnya dari TNI AL.

Di tengah penolakan sekelompok kecil mahasiswa dan senior asal Luwu di Makassar, Abdul Majid Tahir yang tak lain adalah mantan ketua perhimpunan mahasiswa Luwu IPMIL, pada saat itu mengambil sikap memunggungi aspirasi disuarakan sekelompok kecil juniornya.

Abdul Majid Tahir, pada saat yang sama adalah kader Golkar yang mendapat kepercayaan sebagai Anggota DPRD Kota Makassar. Telah mendapat perintah dari Ketua Golkar Sulsel Amin Syam, agar mengendalikan adik-adiknya, memberi kesempatan Yunus Bandu memimpin Kabupaten Luwu.

Dan Yunus Bandu pada akhirnya berhasil menunaikan tugasnya sebagai Bupati Luwu hingga akhir periode di tahun 1999.

***

Ketiganya, kini telah berp**ang di waktu berdekatan, menghadap Sang Maha Pemilik kehidupan. Jejak legacy ketiganya, menjadi pembelajaran tak ternilai bagi generasi selanjutnya.

Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, terimalah amalah ibadah ketiganya, dan tempatkanlah dikeabadian syurgaMu. Amin.

Makassar, 4 September 2023

SUMBER

Yunus Bandu, hari ini berp**ang. Hanya selisih tiga hari, menyusul HM Amin Syam yang lebih dulu berp**ang, 1 September 2023

06/09/2023

In Memorial
DWI FUNGSI HM AMIN SYAM

armin mustamin toputiri

HM Amin Syam, berp**ang. Sosok bab penutup yang berperan di kancah "Dwi Fungsi ABRI" era Orde Baru di Sulsel. Juga, sekaligus bab pembuka yang menghantar percaturan politik nasional di Sulsel, memasuki gerbang reformasi.

Mengemban peran Dwi fungsi ABRI, berkonsokuensi bagi diri Amin Syam, ubahnya "satu koin di dua mata sisi". Dirinya satu sisi tulen tentara aktif. P**a saat yang sama, sisi lain mesti mewujud seorang politisi yang dikaryakan TNI AD bertaruh di gelanggang politik praktis.

***

Pada mulanya, Amin Syam seorang tentara aktif, institusinya TNI AD mengkaryakannya menakhodai Kabupaten Enrekang. Selanjutnya, lepas dari jabatan Bupati, setelah melewati tarik ulur politik panjang, lahirlah konsensus untuk kembali mengkaryakan Amin Syam, memimpin Golkar Sulsel. Parpol yang tak lain didirikan segolongan TNI AD yang kelak menghantar, sekaligus 32 tahun menggawangi Soeharto sebagai Presiden RI.

Gilirannya, sebagai ketua parpol pemenang pemilu 1997 di akhir Orde Baru, Amin Syam memimpin DPRD Sulsel. Dan setelahnya, laiknya berpeluang dikaryakan sebagai Gubernur Sulsel. Tapi, apa daya, kala itu dirinya konon "ditelikung" internalnya sendiri, oleh para seniornya di lingkungan purnawirawan TNI AD di Sulsel.

***

Tahun 1998, era reformasi datang, Orde Baru tumbang. Memenuhi hajat reformasi, Golkar ikut mereformasi diri, lewat Paradigma Barunya. Salah satunya, memutus mantai rantai "tiga jalur" ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar). Golkar akhirnya mandiri, lepas dari bayang-bayang Dwi Fungsi ABRI.

Orde Baru boleh tumbang, tapi memasuki gerbang awal reformasi, Amin Syam tetap dipercaya memimpin Golkar Sulsel. Di bawah kepimimpinannya, Pemilu 1999 di awal reformasi, Golkar tetap pemegang mayoritas kursi di DPRD Sulsel. Amin Syam tetap sebagai Ketua DPRD Sulsel.

Kursi mayoritas "plus" di DPRD Sulsel itulah kelak pada Pilgub 2003 yang memilih, menghantar Amin Syam sebagai Gubernur Sulsel. Wakilnya Syahrul Yasin Limpo, tak lain adalah mantan sekretarisnya di Golkar dan juga mantan Ketua AMPI Sulsel, ormas kepemudaan yang didirikan Golkar.

Amin Syam Gubernur Sulsel. Juga, sekaligus tetap memimpin Golkar Sulsel. Menuju periode kedua sebagai Gubernur, seiring hasil Pemilu 2014, kursi diraih Golkar di DPRD Sulsel tetap mayoritas. Sebagai Ketua Golkar Sulsel, dirinya masih memiliki peluang besar melaju pada periode kedua, menduduki kursi orang nomor satu di Sulsel.

Apa daya, lahir kebijakan baru. Pilkada tak lagi melalui pemilihan anggota DPRD, tapi dilaksanakan langsung melalui pilihan rakyat. Pilgub langsung pertama kali dilaksanakan di Sulsel 2007.

Dan setelah melalui pertaruhan politik panjang yang melelahkan. P**a menghadapi proses hukum yang teramat dramatis, incumbent Amin Syam berpasangan Mansyur Ramli, akhirnya dinyatakan takluk. Dimenangkan pasangan Syahrul Yasin Limpo, dan Agus Arifin Nu'mang.

Ironisnya, Syahrul pada saat itu, tak lain adalah Wakil Gubernur, dikala Amin Syam sebagai Gubernur. Dan Agus, juga pada saat yang sama, tak lain adalah Sekreraris Golkar, dikala Amin Syam sebagai Ketua Golkar SulseI. Namun, demikianlah konsokuensi sistem politik terbuka era reformasi.

***

Alhasil, setelah jauh lebih dulu lepas dari karir militer, kelak Amin Syam p**a melepas sepatunya. Memilih berhenti dan keluar dari gelanggang politik praktis. Legowo menyerahkan tongkat estafet perpolitikan Sulsel, di tangan generasi baru, seiring sistem politik yang telah terbarukan.

Sambil sesekali mengayun raket long tennis, juga mengurusi masjid melalui Dewan Masjid Sulsel yang diketuainya. Sore ini, HM Amin Syam memasuki liang lahat, menuju alam keabadian.

Sosok, bab penutup pengemban Dwi Fungsi ABRI di Sulsel. Tentara yang dikaryakan dan berkarya di gelanggang politik praktis di Sulsel. Pada gilirannya, sang Maha pemilik kehidupan, memanggilnya p**ang.

Selamat jalan Jenderal cerdas. Selamat berpisah politisi bijak. Namamu abadi dalam kenangan. Karyamu, abadi mewaris legacy di muka bumi. Ila arwahu, al Fatihah.

Makassar, 02 September 2023

Note; serpihan cerita untuk generasi penerus

Address

Jalan RSI Faisal Makassar
Makassar
90221

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AMT Syndicate posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to AMT Syndicate:

Share