05/10/2026
Serial Novel
MAHASISWA MISKIN
MENDADAK SAKTI
Kisah takdir yang dimulai dari tabrakan, berubah menjadi anugerah yang menyelamatkan nyawa. Kebaikan tak pernah sia-sia. ✨
Bab 2
Biaya Medis
Yang Sangat Tinggi
Dr. Surya terbelalak melihat tindakan Rangga. Ia langsung membentak, "Hei, anak muda! Orang ini sudah tiada! Apa yang kau lakukan main-main di sini?!"
Ia terus berbicara tanpa henti, "Kalau kau sungguh berbakti, seharusnya kau sudah siapkan uang 100 Juta untuk operasi sejak awal! Ibumu tak akan sampai begini kalau ada uang! Tak punya apa-apa tapi pura-pura saleh... aku benci orang sepertimu!"
Rangga tak memedulikannya, sepenuhnya berkonsentrasi menusukkan jarum perak ke titik-titik tubuh ibunya.
"Hei, aku bicara padamu! Dengar tidak?!"
Melihat diabaikan, amarah Dr. Surya meledak. "Kau ini dokter? Apa yang kau tusuk-tusuk begitu? Ibumu sudah tenang, biarkan dia tenang! Ini ruang ICU, biayanya dihitung per jam! Tagihan sebelumnya belum lunas, sekarang apa lagi yang kau mainkan di sini? Hentikan sekarang juga!"
Rangga menusukkan jarum terakhir, lalu menghela napas panjang.
Penyakit ibunya — pendarahan di otak — bagi Sekte Pengobatan Kuno hanyalah hal biasa. Untung ia datang tepat waktu; sedikit saja terlambat, semuanya sudah terlambat.
"Cukup sudah!" Dr. Surya berteriak lagi. "Segera hubungi rumah duka, suruh mereka bawa jenazah ini pergi!"
Rangga menatapnya dingin. "Kau yang bicara omong kosong. Ibuku masih hidup."
"Masih hidup?" Dr. Surya tertawa meremehkan. "Kau gila ya? Kalau ibumu bisa hidup kembali, jabatan kepala dokter ini kuserahkan padamu..."
Belum selesai bicara, alat pemantau di samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi. Ting... ting...
Detak jantung Widya Lestari kembali muncul. Awalnya pelan, lalu makin teratur dan kuat.
"Apa... apa yang terjadi?" Dr. Surya dan Sari sama-sama terpaku. Tadi tak ada tanda kehidupan sama sekali, bagaimana mungkin tiba-tiba hidup kembali? Kalau bukan di ruang ICU, mereka pasti mengira melihat hantu.
Rangga mencabut jarum-jarum peraknya satu per satu, lalu melepaskan selang-selang alat pemantauan.
Tiba-tiba Widya Lestari tersentak bangun, menatap sekeliling dengan bingung. "Nak... di mana ini?"
"Bu! Ibu sudah bangun!" Rangga menggenggam tangan ibunya dengan bahagia. Kalau ia tidak menerima warisan ilmu itu, mereka pasti sudah berpisah selamanya.
Mata Dr. Surya membelalak tak percaya. Ia paling tahu kondisi ibu itu — mustahil pulih secepat ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Widya pelan. "Ibu tiba-tiba pingsan... Sakit apa? Biayanya mahal tidak?"
"Tidak ada apa-apa, Bu. Ibu sudah sehat. Kita pulang sekarang."
Rangga tidak hanya menyembuhkan pendarahan otaknya, tapi juga membersihkan segala penyakit tersembunyi yang selama ini menggerogoti tubuh ibunya. Sekarang ibunya bahkan lebih sehat daripada orang biasa.
"Syukurlah, ayo pulang saja," kata Widya sambil turun dari tempat tidur. "Selalu saja aku bilang, sakit ringan tak perlu ke rumah sakit, istirahat di rumah sudah cukup."
Ia membesarkan Rangga dan saudara-saudaranya sendirian, hidup susah sepanjang masa, dan paling takut mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit.
"Tunggu! Kalian belum boleh pergi!" Dr. Surya menghalangi jalan dengan tangan terbuka.
Rangga mengerutkan kening. "Apa maksud Bapak?"
"Kau boleh pergi, tapi lunasi dulu semua biayanya."
"Berapa ya, Dokter?" tanya Widya sopan.
"Tiga puluh sembilan juta delapan ratus ribu rupiah!"
Widya terkejut. Kalau tubuhnya belum kuat seperti sekarang, ia mungkin sudah pingsan mendengar angka itu.
Rangga menatap tajam. "Ibu saya saya yang sembuhkan, kenapa harus bayar sebanyak itu?"
"Ini ICU! Biaya dihitung per jam! Belum lagi obat-obatan penyelamat nyawa yang kami pakai!" Dr. Surya melemparkan selembar kertas berisi daftar obat ke tangan Widya. "Lihat sendiri! Kami sudah berusaha sekuat tenaga menyelamatkanmu. Kalau tidak, kau sudah lama tiada!"
Widya memegang kertas itu, tak mengerti apa-apa, hanya melihat angka-angka yang membuatnya lemas.
Rangga melirik daftar itu, wajahnya berubah dingin. "Bapak yakin semua obat ini digunakan untuk ibu saya?"
Ia mahasiswa kedokteran di Universitas Jiangnan — belum lulus, tapi paham obat-obatan umum.
"Tentu saja! Cepat bayar!"
Kemarahan Rangga meluap. Ia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Dr. Surya dan menekannya ke dinding.
"Kau tidak cuma tidak becus... hatimu pun busuk! Bagaimana kau pantas disebut dokter?!"
Dr. Surya terengah-engah, tak mampu melepaskan cengkeraman tangan Rangga yang sekuat baja.
"Lepaskan! Nak, lepaskan!" Widya dan Sari sama-sama kaget dan bergegas menahan Rangga. Tangan lengan Rangga yang terlihat biasa ternyata tak bisa digerakkan sedikit pun.
Mendengar suara ibunya yang gemetar, Rangga melepaskan cengkeramannya.
Batuk... batuk... Dr. Surya terengah-engah menghirup udara.
"Nak, kenapa kau begitu marah?" tanya Widya bingung.
"Dokter ini, Bu..." Rangga menunjuk Dr. Surya dengan nada tajam. "Tadi dia minta 100 Juta untuk operasi. Saat kami tak mampu, dia membiarkan Ibu begitu saja. Lalu dia menyatakan Ibu sudah tiada — padahal Ibu belum pergi! Sekarang dia mengarang daftar obat, membebankan yang tidak pernah dipakai ke kita!"
"Itu semua bohong!" bentak Dr. Surya. "Obat-obatan itu memang untuk ibumu! Kalian harus bayar sekarang, atau aku panggil polisi!"
Rangga mengangkat kertas tagihan itu. "Kau pikir kami tak mengerti? Ibu menderita pendarahan otak. Apa gunanya obat pengencer darah ini? Atau suntikan mahal yang tidak ada hubungannya sama sekali? Dan lihat jumlahnya — kalau digabungkan isinya lebih dari 25 kilogram! Apakah kau bilang semua itu disuntikkan ke tubuh Ibu dalam sehari? Bahkan seekor gajah pun tak akan muat!"
"Saya... saya..." Dr. Surya terdiam tak berkutik. Awalnya ia mengira mereka tak mengerti apa-apa, jadi ia memasukkan obat-obatan tambahan untuk mengambil keuntungan. Ia sering melakukannya sebelumnya, tak pernah ketahuan — sampai hari ini.
Tepat saat itu, pintu terbuka tiba-tiba. Seorang pria paruh baya masuk tergesa-gesa, menggendong anak laki-laki sekitar sepuluh tahun yang tampak lemas di pundaknya.
"Dokter! Tolong periksa anak saya cepat!" teriak pria itu cemas.
Sari melangkah maju, lalu berbisik kepada Dr. Surya, "Pak Direktur Surya, ini pasien yang diatur langsung oleh Direktur Haris dari Biro Kesehatan. Beliau pesan agar ditangani sebaik mungkin."
(Bersambung...)