08/12/2018
KEBUTUHAN DUTA WISATA FLORES TIMUR
Perkembangan pariwisata dilihat sebagai suatu cara yang tepat dan efisien dalam penggerak ekonomi rakyat karena sektor ini dianggap paling siap dari segi fasilitas, sarana prasarana dibandingkan sektor lainnya. Dengan harapan pariwisata ini dapat dikembangkan dalam suatu strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan atau community-based tourism development.
Bahwa pengembangan pariwisata membuat masyarakat tidak terasing dan tercerabut dari akar budayanya sekaligus berdampak langsung. [Bandingkan kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) NTT dalam seminar “Pariwisata Berkelanjutan di Prov. NTT” di Swiss Berlin Hotel Kupang, Kamis (4/10/18) bahwa meski meningkat, tapi masih terjadi ketimpangan dalam masyarakat pemilik budaya; belum ada kontribusi langsung].
Hingga saat ini, sector pariwisata menjadi andalan penopang devisa bagi Indonesia. Pada tahun 2017 sebesar US$16,8 miliar. Dan di tahun 2018 ini diprediksi menjadi penyumbang devisa terbesar yakni US$20 miliar atau naik sebesar 20% dari tahun 2017 dengan total 17 juta wisatawan mancanegara (wisman).
Untuk NTT, jumlah kunjungan wisata meningkat cukup signifikan sejak tahun 2013 sebanyak 425.440 orang, yaitu wisman berjumlah 78.677 orang dan wisatawan nusantara (wisnus) 346.763 orang. Pada tahun 2017, angka kunjungan meningkat menjadi 878.497 orang. Wisman sebanyak 155.688 orang dan wisnus722.809 orang. Terjadi peningkatan sebesar 10 % - 15 %.Dan rata-rata realisasi lama tinggal wisatawan di NTT juga berbanding lurus. Alami peningkatan.Tahun 2013 hanya 1,8 hari. Bahkan pada tahun 2017, lama tinggal wisatawan mencapai 3,25 hari.
Sementara itu untuk Kab. Flores Timur (Flotim), angka kunjungan wisata masih terbilang sedang berproses. Pada tahun 2016 sekitar 21.259 orang terdiri dari wisnus 21.154 orang dan wisman 105 orang. Dan tahun 2017 alami penurunan menjadi 20.156 orang. Meski demikian, wisman alami peningkatan menjadi 160 orang. Masih lebih sedikit dibandingkan dengan beberapa daerah lain seperti Kota Kupang, Kab. Manggarai Barat, Kab. Ende, dan Kab. Sikka.
KONTEKS FLOTIM
Kabupaten Flotim terdiri dari 3 (tiga) pulau utama. Flores bagian timur, Adonara, dan Solor. Dengan kontur pegunungan dan perbukitan, menjadikan alam Flotim sangat kaya akan wisata alam. Hamparan pantai yang luas, selat, teluk, bukit, gunung dan gunung berapi adalah objek daya tarik wisata (ODTW) yang sangat menjanjikan. Selain wisata religi Semana Santa di Kota Larantuka, Wureh, dan Konga, juga wisata Budaya Lamaholot dengan keberagaman dan karakter unik di berbagai wilayahnya. Karena itu Flotim sangat kaya akan tourist resources (attractive spontance) yaitu segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat wi-sata.
Berdasarkan data BPJS NTT (update Sept 2018), Flotim memiliki 28 ODTW, dengan rincian 15 ODTW Alam, 8 ODTW Budaya, dan 5 ODTW Minat Khusus. Termasuk tahun 2018 Pemda Flotim telah membenahi 6 destinasi yaitu wisata Asam Satu Beach dan wisata Wai Platin di Larantuka, Pantai Deri dan Pantai Meko di Adonara, Danau Waibelen di Tanjung Bunga, dan Pantai Riangsunge di Solor Barat. Ditambah dengan Festival Nelayan di Pulau Waibalun, dan Festival Nubun Tawa di Kec. Lewolema. Sementara di tahun 2019 akan dikembangkan 2 festival lagi yakni festival budaya di Adonara dan festival budaya di Larantuka (masa Semana Santa).
Dengan makin menggeliatnya sektor pariwisata maka promosi pariwisata menjadi kebutuhan yang sangat urgen dalam kerangka mengembangkan sektor ini sebagai sektor unggulan sejalan dengan program unggulan Prov. NTT 2018-2023. Selain perencanaan promosi yang matang, holistic, berkesinambungan, dan melalui media yang tepat, promosi pariwisata juga memerlukan seorang public relation officer (Duta Wisata) untuk menjaga suatu daerah tujuan wisata.
Duta Wisata (Tourism Ambassador) adalah sosok yang diharapkan dapat menjadi bagian terdepan di sebuah wilayah dalam menggali, memperkenalkan hingga kemudian menjadi bagian dari denyut kehidupan seni, budaya dan pariwisata daerah. Bahwa penyelenggaraan pemilihan duta wisata merupakan bagian integral dari pembangunan dunia pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya nasional. Sekaligus atraksi wisata melestarikan budaya daerah.
Lalu apakah tak ada kritik atas ajang sejenis ini? Tentu saja banyak.***