29/11/2025
PASAR JEMBATAN TERAS EPISODE 1
Orang-orang bilang…
Pasar Jembatan Teras cuma ramai saat matahari tinggi.
Tapi kalau sudah lewat Maghrib…
pasar itu berubah.
Bukan sekadar sepi.
Bukan sekadar tutup.
Tapi seperti tubuh tua yang berhenti bernapas—
gelap… lembab…
dan menyimpan sesuatu yang jauh lebih kuno
daripada cerita manusia.
---
Malam itu…
satu per satu lampu kios padam.
Bukan perlahan, bukan juga mati sendiri.
Lebih seperti ada… tangan yang mematikannya.
Cahaya kuning terakhir bergetar sebentar
sebelum mati total,
meninggalkan lorong yang menganga
seperti mulut raksasa yang kelaparan.
Bau darah ayam
dari kios potong Pak Gandrung
masih pekat…
menyatu dengan dingin lantai
yang belum sempat kering.
Pasar selepas Maghrib
sudah bukan tempat hidup.
Ia berubah menjadi bangkai besar
yang sedang menunggu siapa yang berani masuk terlalu jauh.
---
Kami berenam—
Raka, Mila, Danu, Bayu, Siti, dan Oji—
baru selesai main petak umpet.
Masih ngos-ngosan.
Masih saling nuduh curang.
Ketawa kami masih berantakan.
Kami duduk di tangga semen dekat kios ayam.
Biasanya aman.
Biasanya ramai.
Tapi malam itu… tidak.
Bayu ngedumel,
“Besok jangan main sini lah… nyamuk semua. Gatel!”
Oji nyengir,
“Nyamuk aja takut lihat muka lo.”
Kami harusnya ketawa.
Tapi belum sempat ada yang bales…
Belang—kucing loreng milik Pak Gandrung—
tiba-tiba melengkungkan punggung
setinggi busur panah.
Bulu ekornya mengembang.
Matanya menatap lurus…
ke lorong paling gelap di pasar.
Lorong yang dulunya jalan setapak ke kebun bambu…
Lorong yang katanya…
“masih ada yang jaga.”
Mila menggigil.
“Rak… kok dingin ya…?”
Raka—yang paling berani—malah pucat.
“Ada… sesuatu di sana.”
Kami menoleh.
Dari kegelapan itu…
muncul titik merah kecil.
Bukan bulat.
Bukan stabil.
Ia berdenyut—
seperti… urat yang masih hangat.
“Astaga… itu apa?”
bisik Siti, hampir menangis.
Titik merah itu bergerak.
Tidak berjalan.
Tidak merayap.
Mengambang.
Belang mendesis—panjang, keras,
seperti suara orang teriak dari dalam sumur.
Merinding kami semua.
Cahaya merah itu makin dekat.
Udara berubah bau:
pandan liar bercampur tanah basah.
Aroma yang orang tua sebut sebagai…
“bau penjemput malam.”
Lampu terakhir pasar bergoyang sendiri.
Tidak ada angin.
Lalu muncul suara lirih.
Bukan bisikan, bukan gesekan.
Lebih seperti… doa tua
dalam bahasa yang tidak kami kenal.
Belang lari…
tapi sebelum benar-benar kabur,
ia menatap kami—
seolah berkata:
“Lari.”
Suara itu berhenti.
Lalu berganti dengan kalimat…
yang bikin darah kami membeku:
> “Salah satu dari kalian…
hutangnya belum dibayar.”
Cahaya merah itu
menunjuk pada seseorang di antara kami.
Orang yang paling sering
main ke lorong itu sendirian.
Orang yang tidak tahu…
bahwa ia sering melewati tempat
yang bukan untuk manusia.
Dan malam itu…
yang “menjaga” lorong itu akhirnya bangun.
---
Komen: “LANJUTKAN BRIT🔥”
…kalau berani masuk Episode 2.
---