08/05/2026
MAHKOTA BELIS
Bukan tentang pernikahan.
Bukan tentang cinta.
Bukan p**a tentang adat.
Ini tentang bagaimana manusia mewariskan luka
lalu menyebutnya takdir.
Tentang bagaimana rasa sakit diwariskan dari ayah ke anak.
Dari ibu ke anak perempuan.
Dari generasi ke generasi.
Dan semuanya terus berjalan
seolah penderitaan adalah syarat resmi menjadi manusia.
Kadang aku berpikir,
mungkin “tuhan” dan iblis memang pernah duduk di meja yang sama.
Menyusun peradaban dari:
kehilangan
trauma
rasa takut
kebutuhan dicintai
dan kesepian yang diwariskan.
Lalu manusia lahir sebagai aktor
dalam festival luka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Mereka menikah.
Melahirkan anak.
Bertengkar.
Saling melukai.
Menjadi tua.
Lalu mati.
Dan siklus itu diputar lagi
dengan nama: tradisi, keluarga, pengabdian, dan cinta.
MAHKOTA BELIS adalah simbol
bahwa manusia sering kali tidak hidup.
Mereka hanya meneruskan penderitaan
dengan wajah yang berbeda. 🜂