25/03/2026
Di Depan Balai Desa: Kesempatan Terakhir Yusuf
_____
Jalan setapak sawah akhirnya berujung pada jalan desa yang lebih lebar. Di kejauhan, bangunan balai desa bergaya joglo dengan cat putih bersih sudah terlihat. Langkah Kartika dan Yusuf semakin lambat saat mendekati tujuan mereka. Suasana yang tadinya penuh tawa dan cerita, kini terasa sedikit canggung. Keduanya tahu bahwa pertemuan singkat ini akan segera berakhir.
Yusuf, yang biasanya pandai bicara, tiba-tiba merasa lidahnya kelu. Ia terus memikirkan bagaimana cara agar bisa bertemu lagi dengan wanita di sebelahnya ini. Kecantikan Kartika yang natural dan kecerdasannya benar-benar telah menawan hatinya.
Adegan: Percakapan di Teras Balai Desa
_____
Mereka berdua berhenti di depan teras balai desa. Kartika menunjuk ke arah pintu masuk.
"Nah, ini dia balai desanya, Pak. Bapak bisa langsung masuk, biasanya Pak Kades ada di ruangannya sepagi ini," ujar Kartika ramah, sambil membetulkan posisi tas anyamannya.
Yusuf membetulkan posisi kerah kemeja batiknya, mencoba menenangkan diri. Ia menatap Kartika dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Kartika. Benar-benar... perjalanan yang tidak terduga. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya kalau tidak bertemu Anda tadi di sawah."
Kartika tersenyum tipis, rona merah samar kembali muncul di pipinya. "Sama-sama, Pak Yusuf. Saya senang bisa membantu. Kebetulan saya juga mau lewat sini."
Yusuf mengangguk pelan, otaknya berputar cepat mencari alasan untuk menahan Kartika lebih lama.
"Tentang irigasi tadi... penjelasan Anda benar-benar membuka mata saya. Saya jadi punya ide baru untuk proyek ini."
"Oh ya? Baguslah kalau begitu," sahut Kartika singkat, mulai bersiap untuk melangkah pergi.
"Saya... saya duluan ya, Pak. Masih banyak yang harus dikerjakan di rumah."
Melihat Kartika bersiap pergi, panik mulai melanda Yusuf. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia harus berani.
Adegan: Momen Penentuan
_____
Yusuf mengambil satu langkah maju, sedikit menghalangi jalan Kartika.
"Kartika, tunggu sebentar," ujar Yusuf cepat, suaranya sedikit bergetar.
Kartika menghentikan langkahnya, menatap Yusuf dengan bingung. "Iya, ada apa lagi, Pak?"
Yusuf menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia menatap lurus ke mata teduh Kartika. "Jujur saja... saya sangat menikmati waktu berbincang dengan Anda tadi. Lebih dari yang saya bayangkan."
Kartika terdiam, matanya sedikit membelalak mendengar kejujuran Yusuf. Ia bisa merasakan ketulusan dari nada bicara pria itu.
Yusuf melanjutkan, "Proyek saya di sini akan memakan waktu beberapa minggu. Saya... saya sangat berharap kita bisa mengobrol lagi seperti tadi. Tentang irigasi, tentang desa ini, atau... tentang apa saja."
Kartika hanya mengangguk pelan, masih sedikit terkejut. "Mungkin saja, Pak. Desa ini kecil, kita pasti akan sering berpapasan."
Jawaban Kartika yang netral membuat Yusuf sedikit kecewa, tapi ia tidak menyerah.
"Iya, mungkin," sahut Yusuf, mencoba tersenyum meskipun hatinya deg-degan. "Tapi... agar lebih pasti, bolehkah saya meminta nomor telepon Anda?"
Kartika tersentak pelan. Ini adalah pertama kalinya seorang pria asing yang baru ditemuinya meminta nomor teleponnya dengan begitu terang-terangan.
Yusuf cepat-cepat menambahkan, "Hanya... hanya untuk berteman. Dan... agar saya bisa bertanya lebih banyak tentang desa ini kalau saya butuh informasi. Benar-benar hanya untuk itu."
Kartika menatap Yusuf, menimbang-nimbang. Ia melihat kejujuran di mata pria itu, bukan niat buruk. Kecantikan Kartika memang sering mengundang perhatian, tapi pendekatan Yusuf terasa berbeda—lebih sopan dan menghargai.
Setelah diam beberapa detik, Kartika akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, Pak. Tapi... hanya untuk bertanya tentang desa, ya?"
Yusuf tersenyum lebar, kelegaan luar biasa membanjiri dirinya. "Tentu saja! Hanya tentang desa... dan mungkin sesekali tentang kabar Anda."
Kartika tersenyum tipis mendengar imbuhan Yusuf. Ia menyebutkan nomor teleponnya, dan Yusuf dengan cepat mencatatnya di ponselnya.
"Terima kasih, Kartika. Benar-benar terima kasih," ujar Yusuf tulus, matanya berbinar senang. "Saya akan sangat merindukan obrolan kita pagi ini."
"Sama-sama, Pak Yusuf," jawab Kartika, sambil akhirnya melangkah pergi. "Sampai jumpa lagi."
Yusuf berdiri terpaku di depan balai desa, menatap punggung Kartika yang perlahan menjauh dan hilang di belokan jalan. Senyumnya tidak pudar sedikit pun. Ia tahu, pertemuan ini barulah awal dari sebuah cerita yang lebih panjang. Di antara kesibukan balai desa, Yusuf merasa dunianya baru saja menjadi sedikit lebih cerah.