01/02/2021
BIOGRAFI RATU KALINYAMAT
Sejak masih gadis, Ratu Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati
Jepara. Kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora.
Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan.
Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwaia adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat Syah. Waktu kecilnyabernama Pangeran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia diberi gelar PangeranHadiri, yang berarti yang hadir (dari Aceh ke Jepara) Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangeran Toyib diutusoleh Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak.
Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan
iman, serta berani menentang penjajah Portugis. Setelah mengetahui asal-usul Raden Toyib,
hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan ayahnya bahwa pria yang
akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal
dari negeri seberang. Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Raden Toyib.
Pada masa mudanya Pangeran Toyib mengembara ke negri Cina. Di sana ia bertemudengan Tjie Hwie Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon,ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara. Setelah menikah dengan Ratu kalinyamat danmenjadi adipati di Jepara, Tjie Hrie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya berganti menjadiPangeran Sungging Badar Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’,duwung ‘tajam’). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat danseni ukuir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan.Ialah yang mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannyasebagi mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yangkhusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan,maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih.
Pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangeran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati Ratu
Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangeran Hadiri pada tahun 1549 yang
dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Pembunuhan terjadi seusai menghadiri upacara
pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawoto yang juga tewas di tangan Arya Penangsang.
Untuk menghadapi amukan Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat bertapa di Gelang Mantingan,
kemudian pindah ke Desa Danarasa, lalu berakhir di tempat Donorojo, Tulakan, Keling Jepara.
Setelah kematian Ario Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasaJepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini terjadi dengan ditandai adanya sengkalanTrus Karya Tataning Bumi, yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atu 10April 1549. Selama masa kekuasaannya, Jepara semakin berkembang menjadi Bandar terbesar dipantai utara Jawa, dan memiliki armada laut yang besar serta kuat.
Dalam perkawinanannya, Ratu Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapaanak asuh. Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangeran Timur, yang berusia masihsangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal. Setelah dewasa, Pangeran Timur menjadiadipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun (G. Moedjanto, 1987 : 155 danSartono Kartodirdjo, 1987: 129). Dalam Sejarah Banten tercatat bahwa Ratu Kalinyamat mengasuh Pangeran Arya, putera
Maulana Hasanuddin, Raja Banten (1552-1570) yang menikah dengan puteri Demak, Pangeran
Ratu ( Hoesein Djajadiningrat, 1983 : 128). Menurut historiografi Banten, Maulana Hasanuddin
dianggap sebagai pendiri Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin sendiri juga berdarah Demak.
Ayahnya, Fatahillah sedang ibunya adalah saudara perempuan Sultan Trenggana. MaulanaHasanuddin kawin dengan putri Sultan Trenggana. Dari perkawinannya itu lahir dua orang putra,yang pertama Maulana Yusuf dan yang ke dua Pangeran Jepara. Yang terakhir ini disebutdemikian karena kelak ia menggantikan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara. Selama diJepara, Pangeran Arya diperlakukan sebagai putra mahkota. Setelah bibinya meninggal, iamemegang kekuasaan di Jepara dan bergelar Pangeran Jepara (H.J. de Graaf, 1986: 129). Masapemerintahannya dan peranannya dalam bidang politik dan ekonomi memang tidak begitumenonjol seperti bibinya.Tidak disebutkan dengan jelas apa alasannya Pangeran Arya dikirim ke Jepara untukdididik oleh bibinya. Meski pun demikian, dapat diduga bahwa Ratu Kalinyamat dipandangmampu membimbing dan mendidik, memiliki wibawa, dan berpengaruh. Adakalanya pendidikanputra raja diserahkan kepada keluarga raja yang bertempat tinggal tidak bersama-sama raja.
Pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai pendidik Pangeran Arya menunjukkan bahwa ia memiliki
kepribadian yang kuat.
Di samping mengasuh kedua anak muda itu, Ratu Kalinyamat juga dipercaya untukmembesarkan putra-putra Sultan Prawata yang telah menjadi yatim piatu. Sultan Prawata mempunyai tiga orang putra, dua laki-laki dan satu perempuan. Salah satu putra Sultan Prawataadalah Pangeran Pangiri, yang kelak berkuasa di Demak. Selain sebagai keponakan, kelak ia juga menjadi menantu Sultan Pajang (H.J. de Graaf, 1986: 272). Tahun meninggalnya RatuKalinyamat tidak dicantumkan dalam kitab kesusasteraan Jawa. Ia dimakamkan di dekatsuaminya di pemakaman Mantingan dekat Jepara, yang mungkin dibangun atas perintah nyasendiri, sesudah ia menjadi janda pada tahun 1549.Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangeran Japara yang berkuasa dari tahun 1579 sampai tahun 1599. Menurut cerita Babad Tanah Jawi, ia adalah anak angkat Ratu Kalinyamat. Akan tetapi sumber Sejarah Banten menyebutkan bahwa
putra mahkota itu, yang bernama Pangeran Aria atau Pangeran Jepara itu adalah anak angkat Ratu
Kalinyamat, putra Raja Hasanudin, Raja Banten. Pada masa inilah peranan Jepara sebagai kota pelabuhan yang penting mengalami masa kemerosotannya.