Djepara Tempo Doeloe

Djepara Tempo Doeloe djepara tempo doeloe dengan sedikit humor receh, peraturan atas dasar suka² admin. peraturan atas dasar suka² admin

K.R.M.A.A (Kyai Raden Mas Ario Adipati) Sosroningrat, Bupati Jepara dari tahun 1881 sampai 1905 dan juga ayah Kartini.Le...
23/05/2023

K.R.M.A.A (Kyai Raden Mas Ario Adipati) Sosroningrat, Bupati Jepara dari tahun 1881 sampai 1905 dan juga ayah Kartini.

Leiden University Libraries, Digital Collections (KITLV 15487)

Houtsnijwerk uit Djapara/Ukiran dari DjaparaFoto opgenomen in: Door duisternis tot licht: gedachten over en voor het Jav...
02/07/2022

Houtsnijwerk uit Djapara/Ukiran dari Djapara

Foto opgenomen in: Door duisternis tot licht: gedachten over en voor het Javaansche volk / van wijlen Raden Adjeng Kartini; [uitg. door J.H. Abendanon], 1911.

Gambar : koleksi digital perpustakaan universitas leiden.

30/06/2022

islam dalam pemikiran R.A Kartini

video : melawan lupa metro TV

Megahnya Kota Pelabuhan di Jepara Zaman VOCNationalgeographicPerkembangan pesat kota-kota pelabuhan di Jawa sudah ada se...
29/06/2022

Megahnya Kota Pelabuhan di Jepara Zaman VOC

Nationalgeographic

Perkembangan pesat kota-kota pelabuhan di Jawa sudah ada sejak beberapa kerajaan Islam berkuasa. Utamanya Jepara, yang kabar kegemilangannya telah tersiar sejak abad ke-16.
Sohornya kota pelabuhan di Japara agaknya terjadi ketika peran kota dagang pelabuhan memainkan peranan istimewa sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Jawa, milik Kerajaan Demak.
"Kabar tentang kemegahan dan kebesaran pelabuhan di Jepara, disaksikan dan diberitakan langsung oleh Tomé Pires, meski menurutnya dalam hal perdagangan, Jepara masih kalah dengan pelabuhan Gresik," tulis De Graaf.
H.J. De Graaf menulis dalam bukunya, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, terbit pada 1987. Bukunya berjudul asli De regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677.
De Graaf menjelaskan tentang suasana yang menyenangkan di Jepara yang terjadi pada abad ke-16 hingga abad ke-17.
"Atas undangan Panembahan Krapyak (untuk mengisi loji-loji perdagangan), Belanda sudah mendirikan kantor dagang pada tahun 1613, dan Inggris turut mendirikan pada tahun 1618," tambahnya.
"Hanya saja, kehadiran EIC (East Indie Company -kongsi dagang milik Inggris) tak disukai oleh Belanda," lanjutnya. Puncaknya terjadi pada tahun 1632, ketika beberapa titik kota pelabuhan dikuasai oleh EIC, di gempur oleh Belanda.
"Berkat Kepala Kota Jepara yang merupakan orang Eropa, berjasa atas perdamaian dan gencatan senjata antara Belanda dan Inggris," terusnya.
Selain itu, Walikota (kepala kota) Jepara berjasa juga dalam merestorasi, merenovasi, dan memulihkan kembali kota pelabuhan yang rusak akibat konflik, egoisme Belanda untuk menaklukan wilayah yang dikuasai Inggris.
Kapal milik Wouter Schouten yang bersandar di Jepara pada bulan Maret 1659, bersaksi tentang kemegahan kota pelabuhan yang ia lihat. Kesaksiannya menunjukkan tentang makmur dan memiliki banyak penduduk, agaknya berkat restorasi yang telah dilakukan.
"Tembok sekelilingnya dalam keadaan baik, rumah-rumah dibangun dengan batu dan kapur, jalan, tembok, lapangan dan pemandangan di sekitarnya menarik. Menyenangkan sekali berkunjung ke sana," ungkap Schouten.

Wouter Schouten menulis dalam bukunya berjudul De Oost-Indische Voyagie van Wouter Schouten, jilid 1, yang diterbitkan oleh Walburg Pers pada tahun 2003.

Pasca restorasi, pasar-pasar dagang penuh dengan orang Jawa, Persia, Arab, Gujarat Cina, Koromandel, Aceh, Melayu, Peguana dan bangsa lainnya. "Segala komoditas dari Asia dan benua lainnya, tampak dijual di sini," tambahnya.

Berbagai keindahan lainnya, mendukung orang-orang Eropa yang datang ke pelabuhan, tak hanya untuk berniaga, tetapi hanya sekadar berkunjung. Pemandangan yang paling mencolok adalah masjid besar.
"Masjid itu berbentuk persegi tanpa serambi, dikelilingi oleh air, seperti halnya masjid Keraton di daerah-daerah kerajaan (Islam)," sambung De Graaf. Masjid itu diperkirakan berasal dari zaman Ratu Jepara dari perempat abad ke-16.
"Atapnya tinggi dengan lima tingkat yang mudah dikenali, meski dilihat dari laut," terang Graaf dalam bukunya. Ia menjelaskan dalam majalah Djawa yang ia sebut dengan istilah Moskee untuk menyebut masjid besar di Jepara.
De Graaf menggambarkan kemegahan masjid itu sebagai simbol hegemoni kota pelabuhan yang bercorak Islam. Hal itu dibuktikan dengan fanatisme masyarakat sekitarnya yang giat meramaikan masjid.
Schouten menjelaskan tentang kisah uniknya yang juga muncul dalam tulisan De Graaf. Keindahan masjid besar itu nyatanya menarik perhatian orang-orang yang menyandarkan kapal di pelabuhan Jepara.
"Hampir semua yang datang ke pelabuhan, tertarik untuk masuk ke dalam masjid besar itu," tulis De Graaf. Terkadang karena fanatisme penduduk untuk melindungi masjid, banyak pengunjung non-muslim yang dilarang masuk ke delam masjid.
Keinginan besar orang Eropa yang penasaran untuk masuk ke dalam masjid, membuat mereka selalu berusaha mencari cara. "Orang Eropa datang dengan hadiahnya, mereka menyenangkan penduduk untuk bisa masuk ke masjid," pungkasnya

sumber : nationalgeographic Indonesia

Ratu Kalinyamat; Ratu Jepara Pemimpin Armada Laut Terbesar di ZamannyaMenurut buku Babat Tanah Jawa, Ratu Kalinyamat ada...
20/05/2021

Ratu Kalinyamat; Ratu Jepara Pemimpin Armada Laut Terbesar di Zamannya

Menurut buku Babat Tanah Jawa, Ratu Kalinyamat adalah putri pangeran Trenggono (raja Demak ketiga yang memimpin antara tahun 1521-1546) sekaligus cucu Raden Patah (sultan Demak yang pertama).

Nama aslinya adalah Retno Kencono. Sedang nama kalinyamat merupakan sebuah nama julukan pada suatu tempat, yaitu ibu kota Jepara pada waktu itu berada di daerah Kalinyamatan. Baik nama Kalinyamat maupun kedudukannya sebagai ibu kota kerajaan Jepara, dengan tegas dalam bukunya yang terkenal “De Asia”, penulis Portugis; Deige De Couto telah menyebut kerajaan-kerajaan di pulau Jawa termasuk Jepara “Couja Cidede Principal Se Chama Ceinhama” yang ibu kotanya bernama Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat menikah dengan pangeran/sultan Hadlirin. Menurut serat kandaning ringgit purwa, naskah KBG. NR 7 menyebutkan bahwa pangeran Hadlirin merupakan pedagang Tionghoa yang nama aslinya adalah Juragan Win Tang. Dia beserta kapalnya tenggelam dan terdampar di Juang Mara (Jepara). Karena sudah tidak punya apa-apa, akhirnya ia bertirakat dan mendapat ilham untuk pergi ke kesunanan Kudus dan masuk Islam. Kemudian, ia di tempatkan di sebuah tempat tepi sungai Kalinyamat dan akhirnya tempat itu menjadi ramai kemudian menjadi sebuah desa yang sangat ramai dan sunan Kudus menamakan tempat itu dengan nama Kalinyamat dengan dikuasai oleh Juragan Win Tang.

Pada tahun 1549, saudara Ratu Kalinyamat; Sultan Prawata yang saat itu menjabat sebagai raja Demak tewas bersama permaisurinya yang dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang. Ia kemudian membunuh Pangeran Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat. Pangeran Hadlirin berhasil dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang dalam perjalanan pulang dari Kudus mengantarkan istrinya dalam rangka memohon keadilan dari Sunan Kudus atas dibunuhnya Sultan Prawata oleh Arya Penangsang. Namun, Sunan Kudus tidak dapat menerima tuntutan Ratu Kalinyamat karena ia memihak Arya Penangsang. Menurut Sunan Kudus, Sultan Prawata memang berhutang nyawa kepada Arya Penangsang yang telah membunuh Pengeran Sekar; alias ayah dari Arya Penangsan.

Setelah kematian suaminya itu, Retno Kencono dilantik menjadi penguasa Jepara dengan Gelar Ratu Kalinyamat. Pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah simbol kepahlawanan seorang putri sebagai tokoh wanita abad ke 16. Dr. H.J. Dee Graff sejawan Belanda yang banyak menggeluti sejarah Jawa dalam bukunya Awal Kebangkitan Mataram menulis bahwa Ratu Kalinyamat telah dua kali menyerang Portugis dan Malaka, yakni pada tahun 1550 dan tahun 1574.

Menurut De Couro, pada tahun 1550 Raja Johor menulis sepucuk surat kepada Ratu Kalinyamat, mengajak ratu Jepara itu melakukan perang suci melawan orang-orang Portugis di Malaka. Dalam surat itu, Raja Johor juga menyatakan di Malaka telah terjadi kekurangan bahan pangan.

Ratu Kalinyamat menjawab seruan itu dengan mengirim sebuah armada yang kuat. Dalam serangan tersebut telah muncul 200 buah kapal besar dari negeri-negeri Islam yang bersekutu menyerang Malaka, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara, memuat 4 sampai 5 ribu orang prajurit. Armada itu dikepalai oleh seorang Panglima, seorang Jawa yang disebut dengan nama julukan “Sang Adipati”, seorang lelaki yang gagah berani.

Pada tahun 1573, sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal layar yang 80 buah di antaranya berukuan besar masing-masing berbobot 400 ton, serta sekitar 15.000 prajurit yang dibekali meriam dan mesiu.. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu baru tiba di Malaka bulan Oktober 1574.

Dari data tersebut maka Ratu Kalinyamat pernah memiliki armada laut yang luar biasa besarnya, maka tak heran jika masa pemerintahannya daerah pesisir utara berada dalam kekuasaannya. Orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya. Dalam buku De Couto Ratu Kalinyamat disebut “Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.

Kemasyhuran kepemimpinan Ratu Kalinyamat juga sampai seluruh penjuru nusantara. Hal ini didasarkan dari berita Portugis yang melaporkan bahwa ada hubungan antara Ambon dan Jepara. Pemimpin pemimpin “Persekutuan Hitu” di Ambon ternyata beberapa kali meminta bantuan Jepara melawan orang Portugis dan juga melawan suku yang lain yang masih seketurunan, yaitu orang-orang Hative.

Ratu Kalinyamat diperkirakan memimpin Jepara selama 30 tahun di mulai dari tahun 1549-1579. Selama itulah ia menjadi Ratu Kalinyamat yang hidupnya digunakan untuk mensejahterakan masyarakat Jepara dan melakukan dakwah Islam di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa. Ratu Kalinyamat di makamkan di dekat makam suaminya; Sultan Hadlirin di desa Mantingan.

Penggantinya adalah Pangeran Jepara, Putra angkat Ratu Kalinyamat. Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang bernama Pangeran Aria atau Pangeran Jepara adalah putra Raja Banten Hasanuddin. Pada masa itu pertahanan Jepara mulai mengalami kemerosotan.

Masyarakat Jawa Tengah khususnya Jepara, mengakui sosok Ratu Kalinyamat sebagai Ratu yang besar karena nilai-nilai keluhurannya yang memungkinkan menjadi tokoh panutan masyarakat.

Het Loemban Feest Te Japara 1868, Catatan Sejarah Tertua Lomban Jepara. Pada tahun 1868, atau 153 tahun lalu saat Jepara...
19/05/2021

Het Loemban Feest Te Japara 1868, Catatan Sejarah Tertua Lomban Jepara.

Pada tahun 1868, atau 153 tahun lalu saat Jepara dipimpin oleh Raden Tumenggung Citro Wikromo, ternyata Lomban di Pantai Teluk Jepara telah diselenggarakan dengan sangat meriah. Citro Wikromo menjabat bupati Jepara sejak 18 Desember 1857.

Catatan tentang kemeriahan kegiatan yang dilaksanakan tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri tersebut ditulis dalam Jurnal Hindia Belanda Tijdschrif voor Nederlandsch-Indie tahun 1868 dengan judul Het Loemban Feest Te Japara (Kegiatan Pada Lomban di Jepara ) tahun 1868.

Catatan sejarah tersebut diungkapkan oleh DR Alamsyah, M.Hum, pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Undip Semarang dalam Budaya Syawalan atau Lomban Jepara : Studi Komparasi Akhir Abad ke-19 dan tahun 2013.

Larungan kepala kerbau pada pesta lomban

Dalam jurnal Tijdschrif voor Nederlandsch-Indie juga diungkapkan bahwa pesta lomban ini tidak ada ditempat lain di pesisir pulau Jawa. Ini berarti pesta lomban di Jepara adalah satu-satunya saat itu. Lomban tahun 1868 juga telah diikuti pengunjung dari Demak, Semarang, Rembang dan Juana yang datang dengan menaiki perahu.

Istilah lomban sendiri mengandung makna saling melempar atau berenang. Sedangkan dalam istilah lokal ketika anak-anak saling bersenang-senang saat mandi dan saling menyiram air disebut dengan lumbanan.

Sebelum pesta lomban diselenggarakan, masyarakat telah menghias perahunya dengan indah. Pada lunas depan, belakang dan tiang perahu dihias dengan rangkaian bunga pandan, kenanga, soka, dan ketupat yang saling terikat.

Pesta lomban sebelum pendemi

Kemudian para pemilik perahu menggantungkannya dengan bendera atau panji yang terbuat dari kain dan selendang warna-warni. Namun mereka lebih banyak menggunakan warna hijau.

Dalam pesta lomban tersebut ada beberapa orang yang menempatkan hiasan boneka seperti manusia dewasa yang disebut kedawangan di lunas depan perahu. Boneka ini terbuat dari kedobos atau tulang daun nibung. Selain itu perahu juga dihiasi dengan boreh yang berwarna kuning.

Perahu yang ikut dalam lomban juga membawa perlengkapan yang terdiri dari ketupat, telur itik yang telah membusuk dan kolang-kaling. Benda-benda tersebut nantinya digunakan untuk saling melempar. Sementara para perempuan memasak makanan yang diperlukan seperti lauk-pauk dan serbat.

Saat itu juga digambarkan, para petinggi ikut dalam pesta lomban. Mereka membawa ketupat dan mengiring perjalanan bupati ketempat permainan yaitu di Pulau Teluk yang dihuni oleh orang Melayu bernama Encik Lanang. Ia meminjam pulau tersebut dari pemerintah Belanda sebagai imbalan atas jasa-jasanya dalam perang Bali tahun 1846.

Dalam pesta lomban ini bupati membawa dua belas payung dari bambu yang diberi roda. Sedangkan perahu yang dinaiki dilumuri dengan kapur dan kadang diberi gambar harimau, naga dan ikan. Juga membawa gamelan. Rombongan bupati yang diiringi juga para petinggi ini berangkat menyusuri sungai Jepara sampai laut dengan diiringan gending tabuh giro. Perahu nelayan juga banyak yang membawa gamelan.

Setelah sampai dilaut, ratusan perahu yang datang dari berbagai penjuru dan dipenuhi warga ini kemudian beramai-ramai beriringan ke pulau Panjang. Saat itulah mereka berteriak-teriak dan saling melempar telur, ketupat dan kolang-kaling. Juga dengan petasan.

Setelah sampai ke pulau Panjang, mereka makan dan kemudian ziarah ke makam Encik Lanang. Ditempat itu mereka berdoa, nyekar dan juga membakar kemenyan. Sedangkan dua belas payung bambu yang dibawa oleh rombongan bupati dipasang dalam bentuk melingkar.

Bupati bersama orang-orang Eropa, kaum bangsawan Jawa dan keluarganya duduk disebuah pendopo yang telah dibuat sebelumnya untuk menyaksikan pesta.

Setelah itu pesta dimulai dengan ditandai ribuan telur, kolang-kaling dan ketupat yang dilempar ke udara. Warga yang hadir kemudian berlarian untuk ikut berebut ketupat dan mencari kolang-kaling. Kegiatan ini juga diwarnai dengan tari-tarian tradisional.

Kegiatan tersebut selesai sekitar jam tiga sore. Setelah itu semua rombongan kembali ke daratan Jepara dengan diiringi bunyi gamelan.

Awal mula lomban

Konon menurut cerita tutur pada saat Adipati Citrosomo VII berkuasa, pada tahun 1855 ada dua pejabat kadipaten Jepara yang akan ke Karimunjawa. Mereka naik perahu dari Teluk Jepara. Namun setelah berlayar beberapa waktu, datang badai yang sangat besar yang membuat perahu mereka terombang-ambing.

Beruntung Ki Ronggo Mulyo dan Encik Lanang mengetahui peristiwa tersebut dan keduanya segera memberikan pertolongan hingga kedua pejabat tersebut berhasil diselamatkan dari amukan badai.

Dari peristiwa itu, kemudian pejabat kadipaten yang hampir tenggelam dan kedua tokoh dari Teluk Jepara dan Pulau Bokor yaitu Ki Ronggo Mulyo dan Encik Lanang, mulai membuat sesaji kepala kerbau. Juga menggelar pertunjukan wayang sebagai ucapan syukur dan kegembiraan. Tentu dengan ijin Adipati Jepara Citrosomo VII.Sesaji kepala kerbau tersebut dimaksudkan agar Hyang Maha Kuasa melindungi para nelayan dari segala malapetaka di laut dan mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah setiap tahunnya.

Selanjutnya, mereka memilih waktu untuk larungan yaitu tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Kuat dugaan larungan pertama kali diadakan adalah setelah Hari Raya Idul Fitri 1303 H, saat kedua pejabat tersebut nyaris tenggelam. Atau satu tahun kemudian dan kemudian menjadi tradisi yang terpelihara sampai sekarang dan bahkan menjadi atraksi wisata yang paling menarik perhatian.

Namun ada yang tidak berubah. Sebelum acara larungan dilakukan, ada kebiasaan melakukan ziarah ke makam Ki Ronggo Mulyo di Ujungbatu dan makam Encik Lanang di Kauman Jepara. Juga ada pagelaran wayang kulit semalam suntuk di TPI Ujungbatu dan pagi harinya dilakukan doa dan pelarungan sesaji kepala kerbau.

Dalam perkembangannya, pelarungan sesaji ini semakin ramai dan diikuti oleh banyak perahu nelayan saat melarung di sekitar pulau Panjang. Iringan perahu nelayan yang banyak inilah yang kemudian dikenal sebagai Lomban atau Lelumban yang maknanya kurang lebih bersenang-senang sebab hasil laut melimpah dan mereka terjaga keselamatannya.

Source : https://suarasemarang.poskota.co.id/2021/05/13/het-loemban-feest-te-japara-1868-catatan-sejarah-tertua-lomban-jepara?view=all

Foto : Peta Teluk Jepara tempo dulu, tempat dimana pesta lomban diselenggarakan

Gereja kelet keling jepara 1930.
09/05/2021

Gereja kelet keling jepara 1930.

Jepara Pada Jaman Demak Pada kejayaan Kasultanan Demak (1475-1568), Jepara merupakan bagian dari wilayah kasultanan itu....
03/02/2021

Jepara Pada Jaman Demak

Pada kejayaan Kasultanan Demak
(1475-1568), Jepara merupakan bagian dari wilayah kasultanan itu. Oleh karena posisi kota pelabuhan Jepara di sebuah teluk yang lebih aman untuk berlindung kapal-kapal, maka pelabuhan Jepara juga berfungsi sebagai pusat perdagangan dan pelayaran bagi Kasultanan Demak. Lebih dari itu, pelabuhan Jepara juga merupakan pelabuhan militer dari Kasultanan Demak.
Konon, sebelum menjalankan ekspedisi militer ke Malaka dalam rangka mengusir Portugis dari tempat itu pada tahun 1512, Adipati Unus memerlukan perencanaan dan persiapan selama 5
tahun (de Graaf dan Pigeaud, 1974: 440).
Di pelabuhan Jepara itulah armada atau perahu-perahu atau jung-jung Jawa di modifikasi dan di persenjatai sedemikian rupa sehingga menjadi armada perang. Hal itu bisa dimengerti
karena bersama Rembang, Jepara yang memiliki banyak hutan jati di pedalaman memang terkenal dengan usaha galangan perahu (kapal, jung pribumi). Menurut Tome Pires para pedagang
yang kaya dari berbagai daerah datang ke kedua tempat itu untuk membuat jung (Lombard,1996:54).
Selanjutnya sumber Portugis menyebutkan bahwa sebelum menyerang Pasuruhan yang masih dikuasai oleh raja yang beragama Hindu, Sultan
Trenggana mengutus Ratu Kalinyamat untuk pergi ke Banten. Atas nama Sultan Demak, Ratu Kalinyamat memerintahkan dan menjemput Bupati
Banten yang pada waktu itu juga merupakan vasal atau bawahan Demak, agar ikut membantu/bergabung dengan armada Demak. Oleh Mendez Pinto, Ratu Kalinyamat pada waktu itu disebutkan
dengan nama Nyai Pamboya, dan digambarkan sebagai seorang wanita bangsawan yang berwibawa. Kepada Bupati Banten ia mengatakan bahwa dalam waktu setengah bulan armada
Banten harus sudah tiba di Jepara. Pada waktu itu Bupati Banten dengan segera mempersiapkan armadanya yang terdiri dari 40 kapal dan 7.000 prajurit, dan pada tanggal 5 Januari 1546 bersama Ratu Kalinyamat berangkat ke Jepara. Ikut bersama dalam konvoi militer itu adalah rombongan orang-orang Portugis di bawah pimpinan Mendez Pinto, yang telah selama dua bulan berada di Banten dan merencanakan akan melanjutkan
perjalanan ke Cina sambil menunggu tibanya angin musim. Setelah perjalanan selama 14 hari menyisir pantai utara Jawa, konvoi militer itu akhirnya tiba di
pelabuhan Jepara (Veth, 1878: 242). Menurut berita laporan Mendez Pinto pada waktu itu di pelabuhan Jepara juga sudah dipersiapkan armada perang
yang terdiri dari 1.700 kapal perang dan 800.000 prajurit (sumber yang lain menyebut 2.700 kapal). P.J. Veth kurang mempercayai laporan Mendez Pinto itu, khususnya yang menyangkut jumlah
armada kapal dan awaknya yang dipersiapkan Sultan Demak di pelabuhan (Veth, 1878: 243).
Dari informasi mengenai persiapan Sultan Trenggana untuk menyerang Pasuruhan di atas terdapat dua hal penting yang menunjukkan kebesaran kota pelabuhan Jepara. Pertama,
pelabuhan Jepara pada waktu itu selain sebagai pelabuhan dagang, juga merupakan pelabuhan militer atau pangkalan angkatan laut yang jauh lebih besar dari pada pelabuhan di Demak. Jumlah yang sangat besar dari armada perang yang berlabuh di pelabuhan itu menunjukkan bahwa pelabuhan Jepara memang difasilitasi sebagai pelabuhan militer dengan teknologi yang maju menurut ukuran waktu itu. Kedua, Ratu Kalinyamat pada waktu itu merupakan salah satu panglima perang kasultanan Demak, khususnya sebagai panlima armada laut. Ketika Sultan Trenggana meninggal dalam ekspesi militernya ke Pasuruhan pada tahun 1548, ternyata belum terdapat putra mahkota yang ditetapkan sultan sebagai calon pengganti. Oleh karena itu, para pembesar dengan segera berkumpul untuk membahas pemilihan raja yang baru. Untuk tugas ini diserahkan kepada delapan bupati. Akan tetapi setelah tujuh hari belum
terjadi kesepakatan mengenai hal itu, maka di kota Demak terjadi kekacauan yang luar biasa sebagai akibat kevakuman jabatan Sultan. Mendez Pinto melaporkan bahwa para prajurit yang baru pulang dari Pasuruhan menjadi tidak terkendalikan, sehingga melakukan penyerangan dan perampokan-perampokan terhadap kapal-kapal (dagang) yang bersandar di sana dan membunuh ratusan orang awak kapal dan pedagang. Menghadapi peristiwa itu, Bupati Panarukan yang
berkedudukan sebagai laksmana laut Kasultanan Demak mengambil tidakan tegas dengan memerintahkan prajuritnya untuk menagkap para prajurit pemberontak/ perampok dan berandalan
itu. Sekitar 80 di antara mereka berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung sampai mati di pantai Jepara. Namun demikian, panglima perang kota Demak yaitu Kyai Sedah merasa dilanggar wewenangnya mengumpulkan beberapa ribu prajuritnya dan diperintahkan menyerang tempat penginapan (perkemahan) bupati Panarukan. Dalam penyerangan itu sekitar 40 orang prajurit yang sedang beristirahat terbunuh. Dengan dukungan prajurit yang jauh lebih besar, Bupati Panarukan pada malam harinya membalas serangan Kyai Sedah, dan melakukan pembakaran rumah-rumah di Kota Demak pada 10 sampai 12 kawasan. Menurut laporan Mendez Pinto jumlah rumah yang terbakar diperkirakan sekitar 100.000 rumah, dengan kerugian uang sebesar 100 juta dukaten, dan korban jiwa sebanyak 100.000 orang. Menurut sumber yang lain sebanyak 300.000
orang. Di samping itu banyak sekali penduduk yang ditangkap, dirantai dan diangkut ke kapal-kapal, selanjutnya dijual ke berbagai daerah sebagai budak (Veth, 1878: 247).
Pada waktu itu para pembesar kerajaan Demak, termasuk para bupati taklukan berkumpul di Jepara untuk melakukan perundingan guna memilih dan menetapkan raja baru (Veth, 1878: 248). Pemilihan Jepara sebagai tempat berunding itu dengan alasan keamanan, sehubungan dengan kekacauan yang terjadi kota Demak. Pemilihan kota Jepara sebagai tempat perundingan para pembesar dan bupati itu menunjukan bahwa Jepara lebih mampu mengendalikan dan menjamin stabilitas politik dan keamanan. Tentu saja hal itu didukung dengan kesiapan dan kemampuan prajurit Jepara yang solid.

BIOGRAFI RATU KALINYAMATSejak masih gadis, Ratu Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan AdipatiJepara. ...
01/02/2021

BIOGRAFI RATU KALINYAMAT

Sejak masih gadis, Ratu Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati
Jepara. Kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora.
Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan.
Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwaia adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat Syah. Waktu kecilnyabernama Pangeran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia diberi gelar PangeranHadiri, yang berarti yang hadir (dari Aceh ke Jepara) Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangeran Toyib diutusoleh Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak.
Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan
iman, serta berani menentang penjajah Portugis. Setelah mengetahui asal-usul Raden Toyib,
hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan ayahnya bahwa pria yang
akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal
dari negeri seberang. Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Raden Toyib.
Pada masa mudanya Pangeran Toyib mengembara ke negri Cina. Di sana ia bertemudengan Tjie Hwie Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon,ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara. Setelah menikah dengan Ratu kalinyamat danmenjadi adipati di Jepara, Tjie Hrie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya berganti menjadiPangeran Sungging Badar Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’,duwung ‘tajam’). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat danseni ukuir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan.Ialah yang mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannyasebagi mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yangkhusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan,maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih.
Pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangeran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati Ratu
Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangeran Hadiri pada tahun 1549 yang
dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Pembunuhan terjadi seusai menghadiri upacara
pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawoto yang juga tewas di tangan Arya Penangsang.
Untuk menghadapi amukan Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat bertapa di Gelang Mantingan,
kemudian pindah ke Desa Danarasa, lalu berakhir di tempat Donorojo, Tulakan, Keling Jepara.
Setelah kematian Ario Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasaJepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini terjadi dengan ditandai adanya sengkalanTrus Karya Tataning Bumi, yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atu 10April 1549. Selama masa kekuasaannya, Jepara semakin berkembang menjadi Bandar terbesar dipantai utara Jawa, dan memiliki armada laut yang besar serta kuat.
Dalam perkawinanannya, Ratu Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapaanak asuh. Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangeran Timur, yang berusia masihsangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal. Setelah dewasa, Pangeran Timur menjadiadipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun (G. Moedjanto, 1987 : 155 danSartono Kartodirdjo, 1987: 129). Dalam Sejarah Banten tercatat bahwa Ratu Kalinyamat mengasuh Pangeran Arya, putera
Maulana Hasanuddin, Raja Banten (1552-1570) yang menikah dengan puteri Demak, Pangeran
Ratu ( Hoesein Djajadiningrat, 1983 : 128). Menurut historiografi Banten, Maulana Hasanuddin
dianggap sebagai pendiri Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin sendiri juga berdarah Demak.
Ayahnya, Fatahillah sedang ibunya adalah saudara perempuan Sultan Trenggana. MaulanaHasanuddin kawin dengan putri Sultan Trenggana. Dari perkawinannya itu lahir dua orang putra,yang pertama Maulana Yusuf dan yang ke dua Pangeran Jepara. Yang terakhir ini disebutdemikian karena kelak ia menggantikan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara. Selama diJepara, Pangeran Arya diperlakukan sebagai putra mahkota. Setelah bibinya meninggal, iamemegang kekuasaan di Jepara dan bergelar Pangeran Jepara (H.J. de Graaf, 1986: 129). Masapemerintahannya dan peranannya dalam bidang politik dan ekonomi memang tidak begitumenonjol seperti bibinya.Tidak disebutkan dengan jelas apa alasannya Pangeran Arya dikirim ke Jepara untukdididik oleh bibinya. Meski pun demikian, dapat diduga bahwa Ratu Kalinyamat dipandangmampu membimbing dan mendidik, memiliki wibawa, dan berpengaruh. Adakalanya pendidikanputra raja diserahkan kepada keluarga raja yang bertempat tinggal tidak bersama-sama raja.
Pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai pendidik Pangeran Arya menunjukkan bahwa ia memiliki
kepribadian yang kuat.
Di samping mengasuh kedua anak muda itu, Ratu Kalinyamat juga dipercaya untukmembesarkan putra-putra Sultan Prawata yang telah menjadi yatim piatu. Sultan Prawata mempunyai tiga orang putra, dua laki-laki dan satu perempuan. Salah satu putra Sultan Prawataadalah Pangeran Pangiri, yang kelak berkuasa di Demak. Selain sebagai keponakan, kelak ia juga menjadi menantu Sultan Pajang (H.J. de Graaf, 1986: 272). Tahun meninggalnya RatuKalinyamat tidak dicantumkan dalam kitab kesusasteraan Jawa. Ia dimakamkan di dekatsuaminya di pemakaman Mantingan dekat Jepara, yang mungkin dibangun atas perintah nyasendiri, sesudah ia menjadi janda pada tahun 1549.Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangeran Japara yang berkuasa dari tahun 1579 sampai tahun 1599. Menurut cerita Babad Tanah Jawi, ia adalah anak angkat Ratu Kalinyamat. Akan tetapi sumber Sejarah Banten menyebutkan bahwa
putra mahkota itu, yang bernama Pangeran Aria atau Pangeran Jepara itu adalah anak angkat Ratu
Kalinyamat, putra Raja Hasanudin, Raja Banten. Pada masa inilah peranan Jepara sebagai kota pelabuhan yang penting mengalami masa kemerosotannya.

MENGENAL TOKOH RATU KALINYAMATSejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama Ratu Kalinyamat muncul dalam panggungsejar...
01/02/2021

MENGENAL TOKOH RATU KALINYAMAT

Sejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung
sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa. Dalam sejarah dinasti Demak, tokoh Ratu Kalinyamat
mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu mengalami kemerosotan akibat
konflik perebutan tahta. Popularitasnya jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangeran Hadiri,
bahkan Sultan Prawata, raja Demak ke empat.
Ratu Kalinyamat adalah putri Pangeran Trenggana dan cucu Raden Patah, sultan Demak
yang pertama.Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Retna Kencana yang kemudian dikenal
sebagai Ratu Kalinyamat. Retna Kencana kemudian tampil sebagai tokoh sentral dalam
penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan Demak. Setelah kematian Arya
Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.
Penobatan ini ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi
yang diperhitungkan sama dengan 10 April 1549. Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat,
Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz
menyebutkan bahwa Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memilikiarmada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.
Adanya gelar ratu menunjukkan bahwa di lingkungan istana kedudukannya cukup tinggi
dan menentukan. Lazimnya gelar itu hanya dipakai oleh orang-orang tertentu, misalnya seorang
raja wanita, permaisuri, atau puteri sulung raja. Babad Demak Jilid 2 menempatkan Ratu
Kalinyamat sebagai puteri sulung Sultan Trenggana. Kalau ini benar, berarti gelar ratu sudah
sepantasnya melekat padanya. Sebagai puteri sulung raja, ia disebut Ratu Pembayun. Pernyataan
ini memiliki kesesuaian dengan sumber Portugis. Seorang musafir Portugis yang bernama
Fernao Mendez Pinto (1510-1583) menerangkan, ketika ia datang di Banten pada tahun 1544,
datang lah utusan Raja Demak, seorang wanita bangsawan tinggi bernama Nyai Pombaya. Besar
kemungkinan yang dimaksudkan adalah Ratu Pembayun. Dengan demikian gelar ratu itu
diperoleh dari ayahnya, dan bukan berasal dari suaminya yang hanya seorang penguasa daerah
setingkat adipati.
Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Trenggana mempunyai enam orang putra. Putra
sulung adalah seorang putri yang dinikahi oleh Pangeran Langgar, putra Ki Ageng Sampang dari
Madura. Putra ke dua seorang laki-laki yang bernama Pangeran Prawata yang kelak menggantikanayahnya menjadi Sultan Demak ke tiga. Putra ke tiga seorang putri yang menikah denganPangeran Kalinyamat. Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan seorang pangerandari Kasultanan Cirebon. Putra ke lima juga putri menikah dengan Raden Jaka Tingkir yangkelak menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Ada pun putra bungsu adalah PangeranTimur, yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat (Sudibyo, Z.H., 1980 : 62).
Dalam sumber-sumber sejarah Jawa Barat, dijumpai nama Ratu Arya Japara, atau Ratu
Japara untuk menyebut nama Ratu Kalinyamat (Hoesein Djajadiningrat, 1983: 128). Sementara
itu Serat Kandhaning Ringgit Purwa menyebutkan bahwa Sultan Trenggana berputra lima orang.
Putra pertama hingga ke empat adalah putri sedang putra bungsunya laki-laki. Putri sulung
bernama Retna Kenya yang menikah dengan Pangeran Sampang dari Madura, putri ke dua adalahRetna Kencana yang menikah dengan Kyai Wintang, putri ke tiga adalah Retna Mirah menikah
dengan Pangeran Riyo, putri ke empat seorang putri, dan putra bungsunya bernama Pangeran
Prawata (Serat Kandhaning Ringgit Purwa. KGB No 7: 257). Dari sumber ini terungkap bahwa
Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana. Suaminya, Kyai Wintang mempunyai
sebutan lain Pangeran Hadiri/Pangeran Hadirin atau Pangeran Kalinyamat (P.J. Veth, 1912).
Ratu Kalinyamat dapat digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, berwibawa,bijaksana, dan pemberani. Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam peranannya
sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak. Walau pun Ratu Kalinyamat sendiri tidak berputera,
namun ia dipercaya oleh saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keponakannya. Menurut
sumber-sumber sejarah tradisional dan cerita-cerita tutur di Jawa, ternyata ia menjadi pusat
keluarga Kerajaan Demak yang telah tercerai berai sesudah meninggalnya Sultan Trenggana dan
Sultan Prawata.
Ratu Kalinyamat adalah seorang raja perempuan yang bertempat tinggal di Kalinyamat,
suatu daerah di Jepara yang sampai sekarang masih ada. Kalinyamat kira-kira 18 kilo meter dari
Jepara masuk ke pedalaman, di tepi jalan ke Jepara-Kudus. Pada abad ke-16 Kalinyamat menjaditempat kedudukan raja-raja di Jepara. Kalinyamat adalah nama suatu daerah yang juga dipakaisebagai nama penguasanya. Th. C. Leeuwendal, Asisten Residen Jepara dalam OudheidkundigVerslag 1930 menjelaskan mengenai lokasi kraton Kalinyamat dengan menggunakan berita dariDiego de Couto. Peta Karesidenan Kalinyamat terletak kira-kira 2 pal sebelah selatan Krasak dandi sebelah barat jalan besar Kudus-Jepara.
Sementara itu P.J. Veth (1912) mencatat bahwa Kalinyamat pernah menjaditempat kedudukan Ratu Jepara, suatu tempat yang ditemukan jejak-jejak atau bekaskebesaran masa lalu. Meski pun penduduk setempat dan para pegawai sama sekalitidak tahu tempat yang tepat dari bekas istana, tetapi setiap orang berbicaramengenai Ratu Kalinyamat. Di berbagai desa seperti Purwogondo, Robayan,Kriyan, dan tempat-tempat lain terdapat legenda mengenai Ratu Kalinyamat. Adadugaan Krian mungkin merupakan tempat para "rakriya" (para bangsawan).
Beberapa tempat di daerah ini masih bernama Pecinan, pada hal tidak ada lagi orangCina yang bertempat tinggal di situ. Kemudian diketahui bahwa desa Robayan danbeberapa desa lainnya masih memakai nama Kauman. Di tempat-tempat tertentuorang masih menyebutnya dengan nama Sitinggil (Siti-inggil), yang terletak ditengah-tengah tanah tegalan. Di situ ditemukan dinding tembok dari kraton lamayang diperkirakan panjang kelilingnya antara 5-6 km persegi. Di sana sini terdapatbenteng yang menonjol ke luar. Batas-batas dari kraton kira-kira meliputi sepanjangjalan besar Kudus, Jepara, Kali Bakalan, yang pada tahun 1900-an merupakan garisbatas antara onderdistrik Pacangaan, Welahan, dan Kali Kecek. Di kebanyakantempat, tembok-tembok kraton itu masih dalam kondisi yang bagus. Di suatu tempatyang disebut Sitinggil, memang ditemukan bangunan batu bata yang ditinggikan,
sementara di tempat lain menunjukkan adanya tempat mandi. Dengan melaluipenggalian percobaan di beberapa tempat dapat ditemukan adanya dinding-dindingbenteng yang sangat berat yang memanjang sampai beberapa ratus meter. Di tempatitu juga ditemukan fondasi-fondasi yang terbuat dari batu bata yang lebih kecilukurannya dari pada emplasemen Majapahit. Batu-batu bata ini telah diambili dandimanfaatkan oleh penduduk.
Di samping itu P.J. Veth memperoleh temuan penting dari berita Portugis
mengenai "Cerinhama" atau "Cherinhama" yang disebut sebagai ibukota sebuahkerajaan laut atau kota pelabuhan Jepara yang terletak 3 mil atau kira-kira 12,5 palke pedalaman. Di tempat itu lah letak reruntuhan kraton Kalinyamat yang menjadi
tempat kedudukan atau peristirahatan Ratu Jepara. (Veth III, 1882 : 762).
Diperkirakan bahwa selama menjadi penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat tidak tinggal di
Kalinyamat, akan tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara. Sumber-
sumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa di kota pelabuhan terdapat semacam istana
raja (koninghof). Hal ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh masyarakat bahari memang tinggal di kota pelabuhan, sementara itu daerah Kalinyamat hanya dijadikan sebagai tempat
peristirahatan.

Address

Jepara

Telephone

+6283842308586

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Djepara Tempo Doeloe posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Djepara Tempo Doeloe:

Share