08/05/2023
MANAKIB WALIYULLOH MBAH SANUSI*
Oleh: Mohammad Mujab
"Mata qala al-syeikh Muhammadun; 'waliyullah' al-muradu bihi Waliyullah Syeikh Sanusi," (Kapan Kiai Muhammadun menyebut 'waliyullah' maka yang dimaksud adalah waliyullah Mbah Sanusi) --KH. Sanusi Yasin.
Waliyullah, KH. Muhammad Sanusi. Dikenal dengan nama nama lain Sanusi Ali. Ada yang mengatakan, "Sanusi Ali adalah kependekan dari Sanusi Kulon Kali. Karena sulitnya menyebutnya bagi anak-anak kecil maka mereka menyingkatnya menjadi " Mbah Sanusi Ali" (Mbah Sanusi Kulon Kali). Dijuluki demikian karena rumah beliau berada di sebelah barat "kAli"/(sungai) Logung, di desa Jekulo). Beliau juga memiliki nama Jawa Sarpani. Nama Jawa digunakan oleh kaum santri lazimnya p***a perang Jawa dengan kekalahan di pihak Diponegoro.
KH. Muhammad Sanusi lahir pada tahun 1358 H / 1828 M, di desa Gili, distrik Tenggeles (sekarang desa Tenggelea kec. Mejobi, Kudus) dari pasangan kedua orang tua yang mulia, Kiai Ya'qub dan Nyai Sarijah. Beliau memiliki lima saudara: 1. Kiai Thayib, 2. Umar Said, 3. Masra', 4. Khadijah, 5. Ruminah.
Dari jalur ayahnya beliau adalah seorang ningrat Yang Nasabnya bersambung kepada Amangkurat Mas I, Tegal Arum. Putra dari Sultan Agung. Namun sejak kakek beliau, Kiai Abdurrahim, tidak lagi memakai gelar ningrat. Kakeknya memilih menjadi rakyat biasa sebagai kaum santri. Ini bisa kita lihat dari namanya; Abdurrahim. Mulai ayah beliau sampai atas semuanya menggunakan gelar ningrat.
Sedangkan dari jalur ibunya, Nyai Sarijah binti Mertodiwongso, adalah keturunan dari waliyullah Mbah Abdul Jalil, leluhur desa Jekulo.
Ketika masih Kecil Mbah Sanusi diasuh oleh Seorang Mbok Rondo (perempuan janda) yang bekerja sebagai penjual kue Apem di pasar. Anehnya, kalau jualan dapat uang diambil sekadar keperluan dan modalnya saja, sisanya disedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan.
Mbok Rondo ini tidak pernah mengaku dari mana asalnya. Jika ditanya, dari mana asalnya, ia hanya menjawab "dari telatah kidul" (Dari daerah selatan). Mbok Rondo ini sering mengajak Mbah Sanusi kecil ke Muria. Sampai Muria dijemput oleh seekor macan yang kemudian berjalan mengiringinya.
Pada saat Mbah Sanusi telah dewasa, Mbok Rondo ini tiba-tiba menghilang secara misterius tidak pernah datang lagi.
Pendidikan dan Perjalanan Spiritual
Sanusi kecil mendapat pendidikan agama dari ayahnya sendiri dengan cukup baik. Menginjak remaja beliau memulai pendidikan spiritualnya dengan menempuh suluk arba'in, yakni khalwat bertapa selama empat puluh hari di puncak Arga Jimbangan. Salah satu puncak paling timur dari gugusan pegunungan Muria yang dikenal dengan nama lain; "Punuk Sapi" Karena bentuknya yang menyerupai benjolan yang terdapat di punggung sapi.
Di puncak Arga Jimbangan itu Mbah Sanusi melakukan riyadlah, puntuk menemukan rasa ing jati, rasa ing rasa, iaitu makrifat kepada Allah dengan cara mengenali diri sendiri. Sebagaimana dikatakan " من عرف نفسه فقد عرف ربه" Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal tuhannya.
Selama Khalwat di puncak Arga Jimbangan, setiap tiba waktu salat lima waktu beliau selalu didatangi seekor Macan. Macan itu bukan hendak memangsa beliau, melainkan membawakan bumbung bambu yang berisikan air untuk berwudlu. Dengan begitu beliau bisa melaksanakan salat fardlu dan sunah. Itu artinya, selama bertapa beliau tetap menjalankan syariat.
Pada hari terakhir bertapa, beliau bertemu dengan Nabi Khidlir as. Nabi Khidlir, memberinya sebungkus nasi dan menyuruhnya untuk memakannya sampai habis. Beliau pun mematuhi perintag nabi Khidir, karena tahu bahwa mematuhi guru adalah yang menyebabkan seorang santri terfutuh. Dan sebaliknya, menentang perintah guru adalah sebab kegagalan. Akan tetapi setelah berusaha menghabiskan, ia hanya mampu makan separo saja. ketika disuruh lagi, beliau tetap tidak mampu menghabiskan. Konon, itu sebagai isyarat bahwa ia hanya mampu menerima separoh dari ilmu gurunya.
Kisah Mbah Sanusi dan laku tapa suluk serta pemilihan tempatnya ini mirip dengan kisah Sunan Ngundung bertapa. Kisah itu dituturkan dalam Serat Sekar Macapat, Asal Usul Setengahing Wali Jawa dengan menggunakan tembang Kinanthi berikut ini:
Wonten maleh kang winarni / putrane raja pandita / Ki Usman Haji namine / punika sampun akerama / Dewi Sari garwanira / putrine Raden Tumenggung / ing nagari Wilatikta / datan laman Usman Haji / pan dinunug dadi imam / ing Jipang lan Panolane / aning Ngundung adedekah / tumulya abentur tapa / amesu ing raganipun / mertapa "Ardi Jembangan" / nora dahar nora guling / anyegah ing nafsu hawa / nora sare ing wengine / ngibadah maring pangeran / fardlu sunnah tan katinggal / anyegah haram lan makruh / tawajuh muji pangeran / sampun angsal tigang sasi / apunjul sedasa dina / Ki Usman Haji tapane / tinarima ing pangeran / milung drajat wali Allah/
(Ada lagi yang lain / putranya Raja Padita / Ki Usman Haji namanya / itu dia sudah menikah / Dewi Sari nama istrinya / putrinya Raden Tumenggung / di nagari Wilatikta / tidak lama (setelah itu) Usman haji / ditunjuk menjadi imam / di Jipang dan Panolan / di Ngundung dusunnya / kemudian ia bertapa / memenjara raganya / bertapa (di) "Mardi Jimbangan" / tidak makan tidak rebahan / mencegah nafsu hawa / tidak tidur di malam hari / beribadah kepada tuhan / fardu sunnah tidak ketinggalan / mencegah haram dan makruh / menghadap dan memuji tuhan / sudah dapat tiga bulan / lebih sepuluh hari / Ki Usman Haji tapanya / diterima oleh Tuhan / mendapat derajat waliyullah /)
Dalam Serat Sekar Macapat itu dituturkan dengan jelas tempat Sunan Ngundung bertapa, yakni di " Mertapa Ardi Jimbangan" dan juga diterangka bagaimana cara beliau bertapa.
Kata Ardi Jimbangan sama dengan Arga Jimbangan. Ardi adalah sinonim atau ejaan lain dari Arga, yang berarti "Puncak" yang bernama Jimbangan. Yakni puncak paling timur dari gugusan gunung Muria yang memiliki sebutan lain "Punuk Sapi", karena bentuknya yang menyerupai benjolan pada punggung sapi.
Selain penyebutan " Ardi Jimbangan" Dalam serat tsb yang tak kalah penting adalah dituturkan bagaimana laku Sunan Ngundung dalam menjalani suluk tapa. Ini sangat penting sekali karena sebagai petunjuk dan pedoman bagi mereka yang ingin menjalani laku tapa suluk.
Mereka yang mendaki gunung spiritual bukan hanya mendaki secara fisik saja, melainkan disertai perjalanan spiritual dengan tracking dari satu tingkatan ruhani ke tingkatan ruhani berikutnya yang samasekali wingit. Selain dengan tetap menjaga salat fardu dan sunah, dan semua laku wirid dan tirakat lainnya, seorang pendaki (salik) juga membutuhkan guide (mursyid) sepagai penunjuk rute menuju puncak ma'rifatullah.
Inilah tapa suluk yang juga ditempuh oleh Mbah Sanusi hingga membuatnya bertemu dengan nabi Khidir a.s dan akhirnya milung derajat waliyullah, mendapat derajat sebagai kekasih Allah.
Maka setelah genap empat puluh hari beliau pun turun dan p**ang kerumah. tatkala beliau p**ang ini, ada cerita lucu. Tatkala itu, ibu mbah sanusi sedang menimba dengan menggunakan senggot, tiba-tiba saja senggot tsb terasa berat hingga ibu beliu tak mampu mengangkatnya, si ibu pun berteriak-teriak minta tolong. Mengetahui hal itu mbah sanusi pun menampakkan diri dan berkata, “aku seng ganduli mbok”, ternyata mbah sanusi yg tadi tidak menampakkan diri sambil memegangi senggot, bermaksud memamerkan kesaktian sekaligus bercanda dengan ibunya.
Mbah Sanusi berguru kepada Habib Nuh al-Habsyi Singapura (1788M – 1866M). Dan dengan habib Nuh ini beliau memiliki ta'alluq yang sangat kuat. Hal ini bisa kita lihat dari peninggalan berupa peci rajut motif "Alfiyah" khas Hadramaut, Yaman.
Peci rajut ini umumnya dipakai oleh para bangsawan dan para sadah di Hadramaut, daerah di mana para datuk Habib Nuh Singapura berasal. Mbah Sanusi senang dengan Peci rajut motif Alfiyah ini dan beliau hadiahkan kepada saudara dan santri yang dicintainya.


Selain peninggalan peci rajut khas "Hadramaut", bukti lain ikatan kuat antara Mbah Sanusi dengan Habib Nuh Singapura adalah metode dan corak yang beliau berdua gunakan untuk berdakwah. Keduanya sama-sama menjadikan " Pengobatan" Sebagai sarana dakwah. Selain seorang kiai keduanya dikenal juga sebagai seorang tabib. Keduanya Memilih jalan damai dalam berdakwah, sebagaimana Manhaj thariqab Ba Alawi.
Satu-satunya sanad Mbah Sanusi dengan Habib Nuh yang bisa diketahui adalah ijazah Hizib khafaa. Sanad ini tertulis dalam kitab peninggalan Kiai Dahlan. Dalam kitab tsb tertulis kaifiyah (cara) membaca Hizib Khafaa, adalah membaca surat Al-Fatihah untuk dihadiahkan kepada Syaikhi Masyayikhi sayyidi al-Habib Nuh al-Habsyi.
Dari Singapura, Mbah Sanusi melanjutkan perjalanannya menuju tanah suci, Makah. Selama dalam perjalan di atas kapal itu beliau gunakan untuk melakukan riyadlah puasa "shamadani" selama empat puluh hari.
Riyadlah "puasa Shamadani" adalah --istilah yang penulis gunakan untuk menyebut-- puasa empat puluh (40) hari yang dilakukan dengan syarat berbuka (ifthar) dengan makanan hasil meminta dari orang lain, dan, --yang paling sulit lagi adalah-- orang yang dimintai harus ikhlas.
Dan puasa ini berhasil beliau lakukan di atas kapal menuju tanah suci. Karena pada waktu
itu di laut samudera sedang terjadi badai besar berminggu-minggu. Kapal terombang-ambing tidak tentu. Sehingga para penumpang ketakutan. Pada saat yang mencekam itu, orang tidak lagi berpikir tentang makanan, pada saat itu p**a Mbah Sanusi meminta makanan jatah mereka untuk beliau gunakan berbuka. Dan, mereka memberikannya dengan tulus dan ikhlas.
Dikatakan bahwa barangsiapa berhasil melakukan puasa ini maka ia dapat berbicara dan berkomunikasi dengan semua makhluk Allah SWT. Maka, tak heran jika kemudian Mbah Sanusi ini dikenal awas dan dapat berkomunikasi dengan bebatuan, tetumbuhan dan hewan. Sehingga beliau alim dalam hal Ajaib al-Makhluqat, mengetahui kegunaan dan manfaat bebatuan dan tumbuh-tumbuhan. Banyak peninggalan tosan aji dan batu mulia milik beliau atau hasil rekomendasi beliau kepada orang-orang.
Sesampainya tiba di Makah, Mbah Sanusi kemudian melaksanakan ibadah Haji dan menyelesaikan rukun Islam yang kelima ini dengan purna.
Selama di Makah ini p**a beliau gunakan sebaik-baiknya untuk tabarruk kepada sya'airilLah dan atsar al-anbiya wa al-shalihin. Berguru kepada para ulama, dan mengambil baiat Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah di Jabal Abi Qubais.
Mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah di Jabal Abi Qubais pada waktu itu adalah Syeikh Ahmad Khatib al-Sambasi, (1803 - 1872 M) melanjutkan gurunya, Syeikh Syamsuddin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.
Syeikh Ahmad Khatib al-Sambasi berhasil menyatukan dan mengembangkan metode dua tarekat sufi besar Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Beliau menulis buku panduan mengenai tatacara baiat, pembacaan wirid dll yang berjudul Fathul Arifin. (dulu kitab ini penah menjadi koleksi Perpustakaan Ponpes Al-Yasir, namun sekarang hilang belum ditemukan).
Riyadlah dan pendidikan spiritual yang telah Mbah Sanusi tempuh (suluk) dengan penyucian diri dari sifat-sifat tercela (takhalli) melalui bertapa (tahannus) dan menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia (tahalli) dengan
metode (thariqah) Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah atas bimbingan para guru mulia (mursyid) telah mengantarkannya kepada ma'rifatullah.
Dalam pendidikan agama dan thariqah, keberadaan guru (mursyid) adalah syarat utama bagi seorang murid (salik) untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Tanpa adanya guru, seorang murid sudah dapat dipastikan akan tersesat.
Sebagaimana dikatakan,
من لم يكن له شيخ فالشيطان شيخه
"Barqangsiapa tidak memiliki guru, maka syaitan adalah gurunya."
Mbah Sanusi telah menghindari ini dan berguru kepada Habib Nuh al-Habsyi dan Syeikh Ahmad Khatib al-Sambasi. Keduanya merupakan mursyid yang mengantarkan beliau kepada ma'rifatullah.
Suatu ketika Mbah Sanusi pergi ke laut selatan (bahrul muhit). Ketika sampai di sana, tiba-tiba ada sebuah masjid muncul dari dalam laut, beliau lalu masuk kedalamnya dan masjid itu kembali tenggelam. Di dalam masjid itu, beliau bertemu dengan nabi Khidir a.s. --(nampaknya dalam pertemuan kedua ini, beliau dibaiat menjadi "waliyullah" oleh nabi Khidir a.s.)-- dan diberi Kembang Jaya Sempurna, dalam wujud kayu ukir.
Selain kepada Habib Nuh al-Habsy, Singapura dan Syeikh Ahmad Khatib al-Syambasi, beliau juga memiliki guru dari ulama Jawa, yakni Kiai Iskandar, Banyumas. Akan tetapi mengenai yang terakhir ini penulis belum mendapat penjelasan lebih lanjut.
DAKWAH DAN AJARAN MBAH SANUSI
Prof. H. Abdurrahman Mas'ud, P.hd menggolongkan Mbah Sanusi kedalam jajaran Kiai Tanpa Pesantren; yaitu beberapa kiai yang memiliki nama besar dan kharismatik justru karena tidak memiliki pesantren sendiri.
Menurut salahsatu cucunya, alm. Yusni Anwar, kenapa Mbah Sanusi tidak memiliki pondok pesantren tidak lain adalah karena beliau lebih memilih ngerumati dan muru'i ngaji masyarakat sekitar.
Dalam mendidik dan mengajar masyarakat sekitar beliau menggunakan musholla yang ada di depan rumah beliau. Musholla ini sejak didirikam diperuntukkan sebagai tempat mengaji. Di kanan-kiri musholla ini terdapat "gotakan-gotakan" (Kamar kecil persegi empat) tempat istirahat santri yang datang dari jauh. Tapi gotakan-gotakan ini tidak dimaksudkan sebagai pondok pesantren.
Di musholla di depan rumahnya itu, mbah Sanusi mengajar ngaji kitab jawan. Diantara yang ngaji adalah Kiai Dahlan. Sep**angnya dari Makah, Kiai Dahlan melanjutkan ngaji kepada Mbah Sanusi. Istilahnya adalah nyepuhno ngelmu (menuakan / mematangkan ilmu). Melihat ketekunan Kiai Dahlan ini mbah Sanusi sangat senang. Beliau menawarkan kepada Kiai Dahlan dua pilihan doa; pertama, sugeh dunya (kaya harta), kedua, sugeh ilmu.
Meskipun mbah Sanusi tidak memiliki pondok akan tetapi beliau sangat senang dan sanga mendukung berdirinya pondok pesantren di Jekulo. Hal itu bisa dilihat ketika beliau menyumbang bangunan langgar untuk Kiai Yasir sebagai tempat mengaji dan dimaksudkan sebagai pondok pesantren. Langar Pondok Kiai Yasir ini didirikan pada tahun 1885 M. Salah santri yang pernah ngaji kepada beliau adalah KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati. Namun pesantren Kiai Yasir ini tidak berkembang.
Ketika Kiai Kandar menjadi menantu Kiai Yasir, Mbah Sanusi menyarankan untuk mendirikan pondok. Bahkan Mbah Sanusi memberi uang kepada Kiai Kandar untuk membangun pondok. Mbah Sanusi berpesan agar uang tsb dibuat membangun pondok sejadinya dan agar jangan meminta sumbangan kepada orang lain. "Kalau diberi sendiri tidak apa-apa."
Kecintaan Mbah Sanusi terhadap ilmu sangatlah besar. Beliau sangat memuliakan ahli ilmu. Ketika berbicara dengan Kiai Kandar, yang notabene adalah murid, beliau menggunakan bahasa krama inggil. Tidak lain adalah bentuk ungkapan memuliakan ahli ilmu. Bahkan beliau lebih mencintai Kiai Muhammadun ketimbang cucunya sendiri, Kiai Manshur. Saat Kiai Manshur ditanya oleh putranya, "Mengapa Mbah Sanusi lebih mencintai Kiai Muhammadun daripada jenengan?" Kiai Manshur menjawab, "itu karena Mbah Madun lebih Alim."
Meski demikian, mbah Sanusi lebih dikenal sebagai Kiai Suwuk, kiai yang doanya mustajab. Sehingga banyak masyarakat yang sowan kepada beliau untuk minta doa dan solusi atas permasalahan yang mereka alami. Mulai soal cari jodoh, rezeki, sakit, cari keris, dan lain-lain. Mulai dari rakyat kecil sampai ningrat, dari orang-orang jawa sampai orang tionghoa, semua beliau terima dan pintu rumah beliau selalu terbuka untuk mereka.
Mbah Sanusi pantang menolak tamu. Suatu hari ketika Kiai Kandar sudah mashur dan memiliki banyak tamu, sehingga para santri membuatkan jadwal open house, Mbah Sanusi memamggil Kiai Kandar dan berpesan agar jangan menolak tamu.
Kata Mbah Sanusi, "Yi, tetep buka ya, kalau siang hari Aku saja tetap buka sampai tengah malam. Sebab ada tamu yang malu bertamu kalau ketahuan orang. Ada yang karena bangkrut, malu, dan akhirnya bertamu setelah jam 12 malam."
Sejak saat itu Kiai Kandar tidak pernah menolak tamu dan membuka pintu siang hari. Pesan ini Kiai Kandar teruskan kepada putranya, Kiai Muhammad dan Kiai Sanusi. Dan Kiai Muhammad meneruskannya kepada Kiai Mujahid Dahlan.
Biasanya tamu-tamu yang bangkrut dan mengalami masalah lainnya, yang malu datang kalau ketahuan orang, mereka diberi ijazah oleh Mbah Sanusi. Setelah mereka mengamalkan ijazah tsb selama satu tahun dan berhasil, hari raya berikutnya mereka berani bertamu pada pagi hari.
Mbah Sanusi pantang menolak tamu ini mengecualikan tamu yang datang karena tujuan politis, maka beliau akan dengan tegas menolaknya. Alkisah, suatu pagi antara jam 8, ada seorang tamu dari Kudus Kota yang mengenakan belangkon dan sarung jarit hendak bertamu, namun sebelum menginjakan kaki di bancik rumah, orang tsb telah terlebih dahulu Mbah Sanusi usir.
Tidak lama berselang Kiai Kandar sowan, kemudian Mbah Sanusi menceritakan peristiwa tsb, "Aku tadi ada tamu tapi aku tolak, aku suruh p**ang seketika. Sebab itu orang Kamandoko Kudus. Kalau aku terima, nanti aku akan disiarkan telah tunduk kepada Kamandoko."
Kebanyakan tamu yang sowan kepada Mbah Sanusi adalah untuk berobat. Biasanya Mbah Sanusi menggunakan cara yang berbeda-beda dalam mengobati, tergantung sakit si pasien. Tapi yang cukup terkenal dan masih ada sampai sekarang adalah beliau mengobati orang-orang yang sakit kuning (hipatitis) dengan media Keris Jodo. Keris ini diremdam di dalam air, dan air rendamannya diminumkan pada orang yang sakit. Alhamdulillah, dengan kehendak Allah, banyak orang yang sakit kuning sembuh dengan perantara pengobatan ini. Karena kegunaannya untuk mengobati penyakit kuning, Keris Mbah Sanusi ini juga dijuluki "Keris Kuning".
Diantara yang berobat ke Mbah Sanus mengobati adalah Ndoro Bupati Kudus.
Alkisah suatu hari ndoro bupati Kudus sakit parah, beliau mengirim utusan kepada waliyullah Mbah Sanusi untuk meminta tombo. Mbah Sanusi pun memberikan tombo (obat) berupa air yang dicemplungi uang satu golden (air baceman uang). Melihat itu si utusan merasa "aneh", dalam hati ia bergumam mosok obat kok berupa baceman uang.
Akhirnya setelah Ndoro Bupati meminum air baceman gulden ala Mbah Sanusi ini --bi idznilLah-- akhirnya sembuh.
Cerita ini dituturkan KH. Muhammadun Pondowan dalam salahsatu rekaman pengajiannya. Sayangnya, tidak disebutkan kapan peristiwa itu terjadi.
Menurut perkiraan penulis, itu terjadi antara tahun 1850-an sampai awal 1900an. Mengingat umur waliyullah Mbah Sanusi yang cukup panjang; 115 tahun kurang lebih. Kalau benar perkiraan itu, bisa jadi Ndoro Bupati dalam cerita tsb adalah trah Condronegoro (kakek R.A Kartini) atau paling tidak keluarga trah Cokronegoro, (bupati Kudus antara tahun 1880 sampai 1920 an.)
Kembali lagi ke soal obat berupa uang golden. Kiai Muhammadun kemudian mengomentari cerita Mbah Sanusi dengan mengutip hadis;
درهم حلال يشتري به العسل، ويشرب الماء المطر، شفاء لكل داء. او كما قال
"Satu dirham (gulden) yang halal yg dibelikan madu, kemudian diminum campur air hujan, adalah obat segala penyakit." Al-Hadis.
Selain mengobati dengan media keris dan uang gulden, Mbah Sanusi juga mengobati dengan media kue Apem. Apem ini dipercaya oleh masyarakat sebagai obat. Konon, dahulu Mbah Sanusi mengajak masyarakat Jekulo untuk bersama-sama membuat kue apem, dan kue apem hasil buatan masyarakat Jekulo ini dikirim ke suatu daerah yang sedang dilanda pagebluk. Oleh karenanya, kue Apem ini menjadk terkenal dan dikenal dengan "Apem Jekulo", salah satu kue khas desa Jekulo.
Kebiasaan berobat dengan Apem mbah Sanusi ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jekulo pada era putra beliau, Mbah Masyhudi. Mbah Mashudi juga membikin kue Apem seperti ayahnya. Ketika ada anak kecil sakit, orang tuanya biasanya akan membeli Apem Mbah Sanusi. Selesai makam apem ini, bi idznilLah, anak yang sakit tsb sembuh.
Bersambung.....
*Dikutip dari naskah buku BUNGA WARNA-WARNI DI TAMAN BUMIWANGI - KUMPULAN BIOGRAFI KIAI JEKULO