16/08/2018
Saudara-saudara!
•
Di bawah kepulan hitam api peperangan yang masih kemelun di udara, Indonesia 73 tahun yang lalu menyatakan kemerdekaannya. Bukan sinarnya Purnama Sasi yang mengiringi Proklamasi itu, bukan nyanyian-nyanyian yang merdu-merayu. Sebaliknya, gempa peperangan masih terasa; api revolusi rakyat meledak sekaligus oleh karenanya; gemerincingnya pedang dan pekiknya barisan-barisan bambu runcing memenuhi angkasa; ledakan bom dan granat menjadi pengalaman sehari-hari!
•
Tidak ada seorang pun di waktu itu yang menghitung-hitung atau menimbang-nimbang: “bagaimana dunia nanti akan menerima Proklamasi ini?” Tidak ada seorang pun yang menghitung-hitung: “berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya?”
•
Pada waktu itu, yang ada hanyalah satu tekad bulat daripada segenap rakyat Indonesia, tekad bulat “sekali merdeka tetap merdeka”. Pada waktu itu segenap rakyat Indonesia laksana hidup dalam hikmahnya sesuatu wahyu!
•
Di tembok-tembok rumah, di tembok-tembok jembatan, orang tuliskan isi-hatinya dengan singkat tetapi tegas: “Indonesia never again the lifeblood of any nation”—“Indonesia tidak lagi akan jadi darah hidupnya sesuatu bangsa asing”! "We fight for freedom, we have only to win"—"kita berjuang untuk kemerdekaan, kita pasti menang”!
•
Seluruh angkasa gemetar dengan getaran-tekad: “merdeka, atau mati!” (Disadur dari pidato Presiden Sukarno).
-----
🇮🇩
Mari selami kembali kehidupan dan dunia pemikiran sebagai satu ikhtiar kita untuk tidak meninggalkan sejarah. Selami, Saudara-saudara, dan berjuanglah terus!
-----