01/09/2022
Setelah militer Indonesia bunuh 4 rakyat sipil asal Nduga di Timika secara sistematis dan terjadwal, Joko Widodo datang di malam hari ke Papua seperti tukang pencuri dan meresmikan rumah keluarga korban. Joko Widodo datang dimalam itu untuk mencuci tangan diatas darah dan air mata keluarga korban tapi juga ribuan rakyat Papua yang sudah mati ditangan Militer Indonesia sejak 1960-an sampai detik ini.
Darah 4 warga sipil dan ribuan darah kematian rakyat Papua itu, tidak bisa bayar dengan rumah-rumah murahan, ini suatu penghinaan terhadap rakyat Papua tapi juga seluruh keluarga korban yang sudah mati ditangan kolonial Indonesia. Rakyat Papua tidak miskin rumah, tidak juga miskin tanah, rakyat Papua punya tanah dan rumah, tanpa kolonial Indonesia datang kasih rumah, rakyat Papua sudah pernah hidup di atas tanah Papua.
Yang diharapkan keluarga korban dan rakyat Papua, segera adili, cobot dan penjarakan pelaku biadab yang membunuh 4 warga sipil, tangkap dan adili pelaku penembakan terhadap tuan. Musa Mako Tabuni (alm), adili dan penjarakan terhadap pembunuh Theys H. Eluay (alm), tangkap dan penjarakan pelaku penembakan terhadap 4 siswa asal Paniai dan selesaikan berbagai macam kasus pelanggaran HAM berat di Papua. Itu yang mesti dilakukan, bukan Joko Widodo datang sosialisasi DOB, meresmikan ini dan itu atau mengirimkan militer dalam jumlah besar ke Papua.*
Maiton Gurik.