19/11/2015
A Kasim Achmad, Penjelajah Seni Teater Tradisi Nusantara
November 19, 2015 8:04 pm in SUARA WARGA
Jakarta, SUARA TANGSEL — A Kasim Achmad mempunyai sistem dan metode pembinaan pada tahun 1971 beliau mulai menjelajah Indonesia, sehingga menemukan ada 4 (empat) kota di 4 (empat) provinsi yang barangkali bisa dilihat dan dinilai bagaimana perkembangan teater ketika itu bekerjasama dengan Badan Pembina Teater Nasional Indonesia, dan bersamaan dengan waktu itu Taman Ismail Marzuki sudah ada yang dibangun oleh Ali Sadikin.
Demikian Bapak Azim, Seniman Tradisi Banjarmasin Kalimantan Selatan menyatakan dalam testimoninya disela kegiatan Silaturahmi Seni kerjasama Institut Kesenian Jakarta dengan Kemendikbud RI dalam rangka temu kangen bersama tokoh dan pemerhati teater tradisional A Kasim Achmad, (11/11) di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Gambir.
Dijelaskannya bahwa peserta pembinaan tersebut terdiri dari Seniman di Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu saya sendiri (Azim), di Makasar, Sulawesi Selatan, itu Rahman Arge dan Aspar Paturrisi, di Surabaya, Jawa Timur itu Sunarto Timur, dan di Palembang, Sumatera Selatan itu Nurhasan. Beliau lihat dan sama-sama orang teater yang waktu itu luar biasa kita kagumi siapa saja yaitu Jakarta, sehingga seolah-olah pada waktu itu teater modern di Jakarta menjadi kiblat bagi daerah-daerah lain.
Dalam kesempatan itu tentu saja dicerca setengah mati penampilan kita, seperti penampilan kampungan, yah maklum saja kita diwarnai oleh teater rakyat. Tetapi orang-orang hebat waktu itu kurang begitu menerima. Namun dengan A Kasim Achmad, beliau mempertahankan inilah daerah yang sebenarnya, inilah kemurnian, inilah originalitas, dan lalu kita bersemangat lagi.
Dan beliau pun mengatakan,”Azim teruskan saja apa yang kau kembangkan,” jelasnya.
Menurutnya bahwa kemudian 2 (dua) tahun berikutnya beliau undang lagi 6 (enam) kota, dan kita masuk lagi. Dilihat beliau, ini sudah mempunyai potensi juga dan wajar untuk ditingkatkan ditahun-tahun berikutnya yang 10 (sepuluh) kota. Akhirnya apa, di tahun 1986 beliau undang seluruh Indonesia yang waktu itu ada 34 Provinsi.
“Dibuat klasifikasi A dan B, kebetulan kita mendapat klasifikasi B untuk 8 (delapan) provinsi,” ujarnya.
Alhamdulillah pada waktu itu A Kasim Achmad juga ikut evaluasi dan ikut menilai karena sebagai salah satu juri, kita alhamdulillah diberi beliau nilai terbaik dalam penyajiannya dan juga termasuk naskah lakon terbaik. Dan ini juga menambah semangat lagi, bukan saja kita sebagai yang terbaik, tetapi seluruh peserta yang diundang beliau merasa bersemangat dan ingin terus dan terus untuk berteater waktu itu.
“Namanya waktu itu teater modern sampai tahun 1986, sesudah itu baru beliau tikamkan suatu umpan yang luar biasa, yakni mencoba dengan teater tradisi,” imbuhnya. (ziz)