10/01/2026
Diam...
Angin samar menggoyang dedaunan tua,
seperti bisikan dari tanah yang pernah tahu segalanya.
Ribuan tahun terlewat—tapi jejak itu belum padam.
Sungai Dnipro mengalir pelan, seakan menyimpan rahasia di tiap belokannya.
Di tepi kanan yang melandai... waktu berhenti sesaat.
Chervony Mayak.
Tanah sunyi yang tak pernah ramai,
tapi menyimpan gema langkah terakhir manusia dari dua milenia lalu.
Gundukan kecil di sana bukan sekadar tanah.
Ada seseorang yang dikembalikan ke bumi—dengan segala kehormatannya.
Dan di dalam kubur itu,
tertanam serpih merah bersinar... cinnabar.
Batu mineral yang tak berasal dari wilayah sekitar.
Berarti dibawa jauh, dengan susah payah,
hanya untuk satu alasan: upacara perpisahan.
Entah siapa dia.
Tak disebutkan nama. Tak tertulis riwayat.
Tapi ketika para ahli menemukannya,
seperti ada suara yang mengalir perlahan dari tanah:
"Aku pernah ada... dan mereka pernah mencintaiku."
Cinnabar.
Bukan sekadar batu pewarna.
Dalam banyak budaya kuno, ia adalah penghubung
antara hidup dan mati.
Antara yang kasat mata…
dan yang tetap tinggal dalam ingatan leluhur.
Kadang tuh, kita lupa,
betapa rumitnya rasa duka pada zaman jauh sebelum kita lahir.
Mereka pun mengenang. Mereka pun rindu.
Dan barangkali, seperti kita,
mereka juga pernah kehilangan seseorang yang terlalu berarti…
hingga butuh warna merah untuk menjaga ingatannya tetap hangat.
Bayangan sejarah menyisa seperti debu yang tak bisa diusap.
Cinnabar di bawah tanah itu—mungkin dileburkan, mungkin ditabur,
bisa juga disimpan di dada mereka seperti doa.
Anehnya ya… hal-hal kecil seperti ini yang malah
membuat kita merasa dekat dengan manusia dua ribu tahun yang lalu.
Masih teringat rumah masa kecil,
suatu malam saat hujan turun,
Ayah pernah berkata:
“Yang paling berat itu bukan kehilangan,
tapi takut dilupakan."
Udara berat menyelimuti kawasan tua itu
di Kherson, Ukraina sekarang.
Tapi di masa itu, mereka menyebut tanah itu rumah.
Dan setiap kematian… diiringi harapan agar jiwa mereka tak lenyap sia-sia.
Tak ada pemakaman sederhana bila ada cinta yang tersisa.
Cinnabar merah adalah bukti pengabdian senyap.
Mungkin mereka duduk diam di hadapan liang,
tangannya gemetar, matanya sembab—sambil menaburkan mineral itu…
dengan harapan: agar kematian tak memutus ikatan.
Satu manusia,
dan fragmen kecil kehidupan purba yang masih terasa sampai hari ini.
Benda tua. Jejak manusia. Ritual yang menggigilkan.
Itu semua menjadi jembatan
antara masa lalu dan kita yang membaca hari ini.
Sekarang…
ketika kamu mengingat seseorang yang sudah tiada,
pernahkah kamu bayangkan jejak apa yang akan kamu tinggalkan nanti?