11/10/2021
by
----------------------------------------
LAWAN MAIN & ADU AKTING. Entah mulai kapan dan bagaimana asal muasalnya istilah ini digunakan dalam khasanah dunia seni peran di negeri ini. Dua istilah ini layaknya merepresentasikan Devide et Impera, politik adu domba 😉.
Saya selalu merasa terintimidasi mendengar istilah ini diucapkan, baik saat menjadi pemeran atau saat melatih aktor. Kata LAWAN dan kata ADU dengan mudah menciptakan jarak psikologis dan menempatkan orang lain(aktor) sebagai 'musuh' yang sepatutnya dikalahkan. Meskipun lidah saya juga sering nyeplos karena telah sering terpaksa menggunakannya sebelumnya, dan segera menyesal setelahnya.
Sebagai PEMERAN, dua kata ini menempatkan aktor lain untuk 'berhati-hati' pada kita, bersiasat, berstrategi, mencari kelemahan, mengungguli dan mengalahkannya, mempermalukannya atau merendahkannya.
Sebagai PELATIH, dua kata ini seolah menempatkan kita seperti wasit pertandingan tinju atau lebih buruk seperti botoh adu celeng. Jika diucapkan pada mereka para aktor, dengan mudah dua kata ini langsung menciptakan jarak psikologis yang dingin.
FAKTANYA, akting harus dibangun bersama-sama, tidak berlawanan dan tidak beradu. Akting harus berpadu, saling, memberi, menguatkan, mengisi, membangun. JIKA aktor berpikir untuk mengalahkan, maka efeknya sama dengan bunuh diri. Aktor lain jatuh, maka kita juga jatuh, aktor lain stuck maka kita stuck. Akting dibangun atas dasar aksi dan reaksi yang benar dan proporsional. Jika satu pemain beraksi buruk maka aktor lain akan bereaksi buruk.
Orkestrasi hanya akan terbangun dengan baik jika tiap pemain berada ditempat dan porsi yang tepat. Bayangkan jika dalam sebuah orkestra masing-masing musisi berusaha menjatuhkan musisi lain. Begitu juga dalam akting, ansamble harus dijalin dengan porsi karakter dan aksi karakter yang tepat dan benar.
Kita AKTOR tidak berlawanan, kita tidak adu skill dan kepandaian. Kita aktor menciptakan harmoni permainan. Kita PARTNER dan kita ANSAMBEL.
Semoga bermanfaat 🇮🇩💪
Jangan lupa sedekah ♥️