21/03/2024
"Kalau ada yang nanya, bilang saja, kamu pacarku. Sudah dua bulan jadian." Tak ada ekspresi, pria itu berbicara dengan lugas, tanpa keraguan.
Langkah Karina seketika terhenti. Matanya nyaris mau keluar karena kaget.
"Pura-pura. Bukan beneran. Nggak usah melibatkan perasaan." Aksa melanjutkan. “Ini bagian dari hukumanmu. Ingat?”
AKSARA PILIHAN HATI 7
Karina masih mematut diri di hadapan cermin saat teleponnya berdering. Dari layar terlihat nama ayahnya.
"Ayah ke Jakarta pagi ini. Nanti sore Ayah kabari dimana Ayah menginap." Hanya itu kabar dari Ayah Karina.
Sejak memasuki masa pensiun, pria paruh baya itu memang lebih sering bolak-balik Jakarta-Jogja. Kadang hanya sekedar bertemu teman lama, atau acara santai lainnya.
Kata ibu Karina, biar Ayahnya tidak terkena post power syndrom. Jadi sang ibu membiarkan sang ayah punya banyak kesibukan.
Memang, sejak Karina lulus, orang tuanya hanya perlu membiayai adik bungsunya yang sudah semester akhir. Itu pun tak mengeluarkan banyak biaya, karena adiknya itu sudah mampu mencari uang saku sendiri.
Belum sempat Karina meletakkan ponselnya, sebuah pesan masuk.
Matanya memicing saat menyadari pesan dari siapa. Ia baru sadar kalau selama ini sangat jarang melakukan kontak dengan atasannya via aplikasi hijau itu. Terbukti, tak ada bekas percakapan, meski ia sudah menyimpan nomornya.
“Datang segera ke lokasi. Nanti langsung kabari aku kalau sudah sampai.”
Heh? Ngabari dia? Karina mengeja beberapa kali kalimat itu. Kepalanya refleks menggelengkan. Setengah bingung dia kembali ke depan cermin. Apa iya, dia akan berangkat tanpa make up? Batinnya seraya mengusap wajahnya. Tidak kusam, namun juga tak bisa dikatakan mulus.
Karina menarik nafas dalam-dalam. Ia baru sadar, bahwa ternyata meski tak s**a berdandan, keahlian memoles wajah rupanya penting untuk saat-saat genting seperti ini. Bagaimana mungkin dia memakai gaun pesta, tapi wajah pucat pasi tanpa polesan.
Karina masih menimbang-nimbang. Akankah dia meminta teman kosannya untuk sekedar dirias sederhana. Tapi, alat rias saja dia tak punya. Masak iya minta dirias, sekaligus alatnya? Tidak sopan sekali, gumamnya.
Karina memukul-mukul jidatnya sendiri karena dia merasa buntu. Harus bagaimana? Benar-benar hukuman yang sesungguhnya. Aksa telah melakukan hukuman mental! Rutuk Karina geram.
Hingga panggilan di ponselnya muncul. Bukan pesan singkat lagi. Membutuhkan waktu beberapa menit untuk sekedar mengangkatnya. Setelah menghembuskan nafas perlahan, akhirnya Karina menggeser tombol berwarna hijau.
"Sudah sampai mana?" Suara bariton itu mampu meningkatkan detak jantungnya.
"Masih di kosan," jawab Karina nyaris tak bersuara. Ini jauh lebih sulit dibandingkan mengerjakan pekerjaan kantornya. Kenapa mendadak ia tak bisa cuek, seperti biasa? Padahal ke kantor saja dia hanya memakai baju itu-itu saja tanpa make up, cuek. Tak pernah memikirkan penilaian orang lain.
Terdengar dengusan dari seberang. "Aku pesankan taksi online. Buruan siap-siap." Nada suaranya sama persis seperti di kantor saat memberi perintah. Tak terbantah.
Karina menurut. Tapi, dia masih ragu. Haruskah memakai baju pesta dari rumah atau tidak?
Bodohnya, ia tak minta undangan. Bahkan, di gedung apa acaranya dia pun tak tahu. Bodoh memang, rutuknya dalam hati.
Begitu terdengar mobil berhenti di depan kosan, Karina segera melambaikan tangan, memberi kode agar supir taksi itu menunggunya sejenak.
Karina masih diliputi kebimbangan. Namun, ia akhirnya memilih membawa baju ganti saja. Kalau ternyata salah kostum, dia bisa pergi ke toilet dan berganti baju.
Rupanya lokasi hajat tak jauh dari kosannya. Tak sampai setengah jam, taksi yang membawanya sudah tiba di lokasi. Sebuah gedung pertemuan. Bukan di hotel.
Karina baru ingat, kalau dia tak membawa kado, tepat saat ia hendak masuk ke gedung. Kebodohan yang kesekian kali dilakukannya. Beruntung panitia belum ada. Jadi, dia masih tertolong, menahan malu.
Belum sempat Karina menekan nomor di ponselnya, karena tak tahu harus kemana dan harus melakukan apa, Aksa dengan memakai setelan jas datang menghampirinya. Mata Karina membulat. Mengapa baju Aksa senada warnanya dengan dirinya. Haduhh…
Karina menyapukan pandangan ke orang-orang yang tampaknya keluarga Aksa. Ya ampun. Kenapa corak, motif dan warnanya senada. Hanya gradasinya saja yang sedikit berbeda.
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh." Aksa yang biasanya tak banyak bicara jika di kantor itu, memberi kode agar Karina mengikutinya.
"Ada penata rias khusus buat keluarga. Nanti kamu minta dirias yang soft aja." Karina mengikuti langkah Aksa menuju bagian belakang gedung.
"Kalau ada yang nanya, bilang saja, kamu pacarku. Sudah dua bulan jadian." Tak ada ekspresi, pria itu berbicara dengan lugas, tanpa keraguan.
Langkah Karina seketika terhenti. Matanya nyaris mau keluar karena kaget.
"Pura-pura. Bukan beneran. Nggak usah melibatkan perasaan." Aksa melanjutkan. “Ini bagian dari hukumanmu. Ingat?”
Karina menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan berat. Dia memang kalah telak 2:0
"Bapak jangan memanfaatkan posisi saya, d**g!" gerutu Karina sembari berjalan, berjajar dengan Aksa.
Lelaki yang sebelumnya tak pernah tersenyum pada Karina ini, kini justru menyeringai.
"Itu namanya takdir," ucap Aksa sembari terus berjalan. Dari posisi mereka, terlihat dua ruangan yang cukup ramai. Satu disebelah kiri bertuliskan "khusus pengantin" dan satu di sebelah kanan, bertuliskan "keluarga dan panitia".
"Wuih, Aksa sama siapa itu?" Mendadak suasana menjadi riuh. Beberapa pasang mata menatap Aksa dan Karina yang berjalan menuju ruangan itu.
Tak hanya itu, beberapa orang dalam ruangan juga melongokkan kepalanya keluar, membuat Karina merasa tak enak hati.
"Ingat, kamu hari ini sebagai pacarku. Hanya berlaku hari ini. Mulai kapan? Dua bulan!" Bisikan Aksa kembali didengar oleh Karina. Bahkan, dia membuat pertanyaan yang dijawabnya sendiri.
Karina hanya mendengus. Mimpi apa dia semalam hingga mendapatkan hukuman yang bertubi-tubi. Ini sebuah hukuman atau anugrah?
Mendadak Karina bimbang dengan kegelisahannya sendiri. Sehari menjadi pacar Pak Bos? Mirip cerita di sinetron, batinnya.
"Permisi." Begitu saja Aksa melewati orang-orang yang berkerumun, yang sebagian adalah paman dan bibinya, juga sepupunya.
"Kenalin, Karina, pacarku." Suara Aksa seolah sedang membuat pengumuman. Padahal tak hanya saudaranya yang ada di sana. Namun, juga beberapa tetangganya yang diminta sebagai panitia hajatan.
Juwita yang sedang dirias, refleks menoleh, detik berikutnya, tertawa nakal, menggoda kakaknya.
Belum sempat ia berseru, mata Aksa sudah melotot, memberi kode agar tidak berisik.
"Woalah, kirain Mas Aksa masih jomblo." Terdengar nada kecewa dari para ibu-ibu dan gadis lajang yang menjadi panitia.
"Kalau nggak mesra, ya bukan pacar," cibir Wanda, gadis tetangga Aksa, yang turut p**a sebagai panitia.
Aksa menoleh sekilas, lalu melirik ke Karina yang masih bengong.
"Aku keluar dulu, Yang. Kamu tunggu saja antriannya."
Hampir saja jantung Karina mau copot, karena Aksa memakai kata sayang. Bahkan, Arfan yang bertahun jadi kekasihnya saja tak pernah memanggilnya sayang.
Ah, sayang, semua ini hanya pura-pura. Karina tersenyum kecut dalam hati. Ups jangan GR! Hati kecilnya yang lain memperingatkan.
Untungnya, ada Juwita yang sudah dikenal Karina karena beberapa kali bertemu di kantor.
Mereka berdua lalu keluar dari ruang rias keluarga itu. Juwita mengajaknya ke tempat rias pengantin. Ada ibu dan ayahnya yang menemani Anggun di sana.
"Bapak, Ibu, ada kejutan, nih!" Seru Juwita sambil menarik tangan Karina, menghampiri kedua orangtuanya
Sepasang orang tua paruh baya itu saling berpandangan. Dia memindai penampilan Karina, karena baju yang dikenakan seragam dengan Juwita. Namun, keduanya tak merasa mengenal Karina.
"Pacarnya Mas Aksa. Iya, kan?" Juwita mengenalkan pada kedua orangtuanya, membuat keduanya kaget. Wajah Juwita ceria, karena lega akhirnya kakaknya setuju dengan usulnya.
"Benarkah?" Bu Ramdan sampai bangkit dari duduknya, tak percaya. Perempuan paruh baya itu mendekat, dan menyalami Karina. Bahkan memeluknya.
Dalam hati, Karina merasa berdosa. Tega sekali Aksa membohongi ibunya. Bagaimana kalau ternyata kebohongannya terbongkar. Tidak! Dia tak mau seperti dalam kisah-kisah drakor yang akhirnya terpaksa berbohong, dan berakhir pada kawin paksa!
"Iyalah, Bu. Mas Aksa sudah ngasih seragam keluarga gini, masak Ibu nggak percaya?" Juwita meyakinkan ibunya, membuat hati Karina ingin berontak, mengatakan yang sebenarnya.
Akhirnya Karina terpaksa berkenalan dengan Ayah dan Ibu Aksa. Dalam hati berharap, semoga hari itu segera berakhir, agar drama yang harus ia perankan segera berlalu.
Di luar dugaan Karina, Ibu Aksa ternyata orangnya sangat asyik. Hingga tak terasa, apa yang dibicarakan dengan Karina nyambung dan klop.
Prosesi pernikahan segera akan dimulai. Karina mulai panik. Harus bagaimana dia setelah ini. Bahkan dia tak tahu keluarga Aksa siapa saja. Banyak sekali saudaranya yang dikenalkan oleh ibu Aksa hari itu, yang membuat Karina pusing, karena harus menghafalnya dalam waktu singkat.
Karina akhirnya hanya memilih duduk di bangku keluarga, saat acara resepsi dimulai. Untungnya, Aksa berulang kali mendekatinya. Karina tahu, ini pasti karena lelaki itu harus tetap berpura-pura menjadi pacarnya. Tak mungkin Aksa akan menyuekinya, karena itu akan membuat semua orang curiga.
"Dafa, sini ikut tante," panggil Karina saat melihat bocah itu sibuk berlarian mengejar Aksa yang mondar-mandir sibuk di perhelatan. Sebagai anak sulung, tentu saja Aksa punya tanggung jawab besar di acara keluarga itu.
Dibandingkan mati gaya, Karina memilih sibuk mengasuh bocah berumur tiga tahun itu. Mengikuti bocah itu, termasuk mengambil makanan dan menyuapinya. Juwita tentu saja sangat senang, ada yang menggantikannya mengasuh putranya.
"Yang, waktunya foto." Karina masih saja gelagapan mendengar panggilan tak biasa itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. Dia harus menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir degup jantung yang tak beraturan. Dia harus menunjukkan profesionalisme sebagai bawahan, dan tak melibatkan perasaan, seperti ucapan Aksa sebelumnya.
Untuk menyakinkan pandangan orang, Aksa beberapa kali berakting pura-pura mesra, meski tak perlu ada sentuhan fisik.
Naas. Tanpa disadari Karina, sepasang mata memperhatikannya.
Bersambung…
Judul: AKSARA PILIHAN HATI
Penulis: ET. Widyastuti
Akun kbm: widyastuti28
https://read.kbm.id/book/detail/761611a2-c1dd-4ded-a84e-1e1c56ee658b
Mampir ke tiktok:
https://vt.tiktok.com/ZSNw4TRYo/
Ayo bergabung dan subscribe buku Aksara Pilihan Hati agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari E.T. Widyastuti di aplikasi KBM.