Cerita biasa

Cerita biasa cerita ini hanya untuk hiburan semata

10/04/2026

Selamat siang selamat beraktivitas

22/03/2024

AKSARA PILIHAN HATI 10

Mendadak keringat dingin membasahi kening Karina. Gadis itu mundur beberapa langkah, mencari penghalang, agar pria yang baru saja keluar dari pintu toilet pria itu tak melihatnya.

Suasana depan toilet yang terpisah dari gedung pertemuan, memang cukup lengang. Apalagi, banyaknya toilet yang disediakan membuat tak ada antrian di sana.

Karina ingin menjauh dari lokasi itu, namun ia bingung mau ke mana. Kalau kembali ke tempat pesta, pasti dia akan bertemu dengan lelaki yang coba untuk dihindarinya kini.

Tak menyangka, dunia seluas ini, Karina harus bertemu ayahnya di perhelatan yang membuatnya mati kutu ini.

Tak satupun orang yang dikenalnya di tempat itu. Hanya Aksa yang dikenalnya. Bahkan, nama adiknya yang menikah saja, baru diketahui karena beberapa kali MC menyebutkan namanya.

Meski sekilas sempat ngobrol dengan Ayah dan Ibu Aksa, lagi-lagi, namanya juga ditangkap dari MC yang beberapa kali menyebutkannya. Bahkan, ia tak tahu dimana orang tua Aksa itu tinggal.

Karina baru ingat kalau ayahnya pagi-pagi tadi menelponnya dan mengatakan hendak ke Jakarta, rupanya ingin ke acara kondangan juga. Bodohnya, kenapa tadi tidak bertanya ada urusan apa ke Jakarta? Lagi p**a, dari sekian kondangan yang ada di Jakarta, mengapa harus bertemu di tempat yang sama?

Bagaimana kalau sampai Ayahnya menanyai hubungannya dengan pengantin? Konyol kalau dia mengaku sebagai teman, lalu ada pertanyaan lain. Misal, teman apa? Kuliah? Bahkan dimana kuliah adiknya Aksa dia juga takt ahu. Huff. Karina menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lagi.

Karina menunduk, memandangi gaun mewah nan cantik yang dikenakannya, Gaun itu terasa sangat nyaman. Karina menduga, pasti mahal harganya. Berbeda dengan gaun yang dibelinya di mall, meski harganya menurutnya lumayan mahal, namun rasanya tak seperti yang dikenakannya sekarang.

Lalu, apa kata ayahnya jika sampai melihatnya mengenakan baju seperti ini. Apalagi, kalau tahu bajunya seragam dengan keluarga pengantin. Tidak! Karina menggeleng. Dia tak boleh ketemu ayahnya.

Baru Karina hendak beranjak, suara bariton mengagetkannya. “Ayo ke dalam lagi.”

Karina menepuk-nepuk dadanya karena jantungnya terasa mau copot. Lelaki itu menghampiri sembari menggandeng keponakannya.

“Pak, saya duluan aja.” Kedua tangan Karina ditangkupkan di depan dadanya, penuh harap.”Hukumannya diganti dengan yang lain saja,” lanjutnya. Dia sudah tak tahan lagi, ingin kabur dari tempat itu. Membayangkan interogasi ayahnya jauh menakutkan daripada mengganti dengan hukuman lain.

Wajah Karina yang mendadak memucat membuat Aksa khawatir. Bagaimana pun, meski selama ini terkesan dingin, dia yang bertanggungjawab tentang keberadaan Karina di tempat itu. Apalagi ia sudah mengenalkan gadis pada keluarganya, meski hanya sandiwara.

“Kamu sakit? Belum makan?” Aksa memberond**g pertanyaan. Bola mata hitam pekat itu memindai wajah Karina menunjukkan kecemasan, membuat gadis itu merasa kikuk, sekaligus salah tingkah. Selain tak ada seorang pun yang pernah melakukan padanya, juga bos itu tak biasa berlaku manis seperti itu. Sikap Aksa mendadak Karina seperti melayang di udara.

“Nggak, Pak. Saya nggak papa.” Karina menggeleng, setelah kesadarannya pulih. Dia tak boleh mengharap berlebihan pada sosok di hadapannya. Ingat, semua hanya sebatas sandiwara.

Mendadak, Aksa mendekatkan wajahnya ke telinga Karina. “Berhenti memanggil aku “Pak”!” bisik Aksa. Ia lupa membuat kesepakatan tentang panggilan. Tapi, juga lupa memberi panggilan untuk dirinya sendiri. Panggilan "Pak" terkesan sangat kaku dan tak menunjukkan hubungan spesial. Padahal, lelaki itu sudah berinisiatif memanggilnya "sayang".

“Papa, ayo ke dalam. Dafa lapar.” Bocah yang digandeng dengan tangan kanannya itu, menarik-narik tangan Aksa, membuat konsentrasi lelaki yang sedang memberi peringatan itu pecah.

Pandangan Karina ikut beralih pada Dafa.

“Ayo, kita ambil makanan dulu.” Tangan kiri Aksa refleks meraih pergelangan tangan Karina dan menariknya untuk mengikuti kembali ke ruang pesta.

Karina berusaha menahan langkah kakinya dan menarik tangannya dari genggaman Aksa. Namun, pria itu terus saja melangkah tanpa menggubris permintaan Karina. Karina berusaha memutar-mutar pergelangan tangannya, agar terlepas.

Terpaksa Aksa menghentikan langkahnya. “Dafa, kamu duluan ya. Papa mau ngomong dulu sama tante.” Aksa sedikit membungkuk, memberi isyarat pada keponakannya.

Kini, tatapan lelaki itu beralih pada Karina setelah keponakannya meninggalkannya. Bukan tatapan cemas lagi, namun sebaliknya, penuh tuntutan.

“Kamu mau apa?”

Karina melangkah mundur. Mendadak merasa cemas dengan perubahan sikap Aksa. Tadi ia sempat berbunga, kini sudah berubah menakutkan. Huff.

Tempat mereka berada itu cukup terlindung dari lalu lalang tamu. Gedung yang cukup besar itu, memiliki ruangan kosong yang digunakan untuk persiapan catering dan juga penata rias, termasuk ada beberapa toilet yang terpisah oleh tembok dari ruangan pesta.

Aksa membiarkan Karina di posisinya, tanpa berusaha maju barang selangkah pun.

“A-ada ayah saya di dalam. Saya tak mau bertemu dengannya, kecuali…” Karina ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Matanya melirik ke pintu penghubung tempat mereka berdiri dengan ruangan pesta.

Setengah memiringkan kepala, dahi Aksa mengkerut.

Apa hubungannya dengan Karina tak mau bertemu? Apa mereka ada masalah? Aksa tak berani bertanya lebih lanjut. Namun, bagaimana dengan ia yang sudah terlanjur berbohong dengan mengatakan Karina adalah pacarnya, lalu mendadak gadis itu menghilang di tengah pesta?

Jangan sampai orang menyangka mereka bertengkar di hubungan yang belum seumur jagung itu.

Beberapa petugas catering mulai hilir mudik sibuk mengambil stok makanan, karena para tamu sudah mulai ramai.

“Aku tidak peduli dengan masalahmu dengan ayah kamu. Kamu tetap harus membayar hukuman kamu, bukan? Apa kamu mau menjadi karyawan yang tidak professional?” Aksa menaikkan satu alisnya. Mata tajamnya kembali memindai wajah Karina.

Entah mengapa, mendadak Aksa pun merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Karina. Tentu saja, dandanan yang membuatnya berubah bak seorang putri tak disadari Aksa membuat perasaannya berbeda.

“Pak, silahkan ganti dengan hukuman lain. Asal, jangan sampai saya bertemu dengan ayah saya di sini.” Karina kembali menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, penuh harap. “Tidak hanya saya yang bahaya, tapi juga Bapak.” Karina menunduk. Menyadari bagaimana ketatnya sang ayah dalam mendidiknya, utamanya hubungan pergaulan dengan lawan jenis.

Tak hanya larangan berpacaran, bahkan sejak SMP, tiap ada teman lelaki yang datang, meski dengan alasan membuat tugas sekolah, tatapan tak bersahabat selalu dihadiahkan oleh pria paruh baya itu, membuat Karina merasa tak enak dengan teman-temannya. Tentu saja, tak satupun teman lelakinya saat ia remaja, berani mengungkapkan perasaan padanya.

Hanya Arfan satu-satunya lelaki yang pernah singgah di hatinya. Dan Arfan beruntung, belum pernah bertemu dengan ayah Karina, sehingga tak pernah menjumpai wajah masam Ayah Karina saat bertemu lelaki yang tertarik pada putrinya itu.

Bagi sang ayah, dia hanya akan memberi izin pada putrinya, jika baik putrinya ataupun sang calon sudah siap untuk meminangnya. Tak ada kamus pacaran dalam konsep hidup sang ayah, karena Karina adalah anak perempuan. Lelaki baik-baik akan langsung datang dan meminangnya. Bukan mengajaknya pacaran.

“Bahaya? Aku?”

Karina mengangguk dengan cepat. “Ijinkan saya pergi, please!”

“Omong kosong!” Aksa menarik tangan Karina dengan cepat. “Panggil aku “Mas”, bukan “Pak”! Aksa kembali berbisik, dengan setengah menyeringai. Karina melangkah di belakang Aksa dengan lemas. Ia membiarkan tangan kanannya ditarik oleh Aksa, namun kini tak lagi menahannya.

***

“Selamat, ya!” Hadi menyalami Ramdan, sekaligus memberi pelukan hangat pada sahabat lamanya itu. Mereka sudah lama terpisah, sejak masing-masing lulus kuliah. Ramdan bekerja di ibukota, sementara Hadi menetap di kota pelajar.

Sudah lama mereka tidak bertemu, hingga kembali terhubung lewat sosial media.

“Terimakasih, kamu sudah menyempatkan datang.” Saat mempelai sedang berganti baju setelah Hadi dan istri mengucapkan selamat, Ayah Anggun menemui sahabatnya yang sedang menikmati jamuan makan.

Ramdan mengajak Hadi duduk di kursi yang berjajar di barisan untuk tamu.

“Maaf, Di. Kayaknya rencana perjodohan anak-anak kita, aku batalkan.” Ramdan memulai pembicaraan dengan penuh penyesalan. Sebenarnya dia tak enak hati untuk mengatakannya. Apalagi, awalnya dia yang menawarkan putranya pada sahabatnya ini, sampai dengan serius meminta data dan foto putrinya.

“Kenapa? Kamu sudah dapat calon?” Hadi menanggapi dengan santai. Lagi p**a putrinya masih meminta waktu satu tahun untuk mencari pengalaman kerja. Pastilah banyak lelaki yang memenuhi kriteria untuk putrinya. Dunia tak terlalu sempit. Apalagi, pergaulan Hadi yang luas, membuatnya tidak terlalu terburu-buru.

Bahkan yang membuatnya cemas, bukan perihal stok pemuda di luar sana, tapi bagaimana ia masih harus menjaga putrinya lebih lama lagi, hingga menemukan kriteria yang sesuai dengan keinginannya.

Ramdan merasa lega dengan tanggapan Hadi. Sahabatnya itu sama sekali tak menunjukkan raut muka kecewa padanya.

“Iya. Baru saja anakku mengatakan kalau dia sudah punya calon.” Kepala Ramdan menoleh ke kiri dan ke kanan. Padangannya memindai semua ruangan, mencari-cari sosok putranya.

“Lihat Aksa nggak, Bu?” tanya Ramdan pada istrinya yang sedang bercengkrama dengan istri Hadi.

“Mas Aksa ada di tempat catering.” Salah seorang pemuda dengan seragam panitia menyahut, mendengar pertanyaan Ramdan.

“Tolong panggilkan…”

Bersambung….
Judul: AKSARA PILIHAN HATI
Penulis: et. Widyastuti
Username kbm: widyastuti28

“Kakakku itu susah kalau sudah punya kriteria. Dia nggak akan menurunkan, ataupun menaikkannya, sedikit pun.”AKSARA PILI...
21/03/2024

“Kakakku itu susah kalau sudah punya kriteria. Dia nggak akan menurunkan, ataupun menaikkannya, sedikit pun.”

AKSARA PILIHAN HATI 9

“Wah akhirnya move on juga, kamu?” komentar Anggun sembari melirik ke Arfan. Perempuan itu sudah menduga, tak sulit bagi Adelia mendapatkan pasangan, tak harus berkeras hati menunggu Aksa yang terang-terangan tak pernah menyukainya.

Bagaimana tidak, kriteria Aksa yang ada pada Miranda, tak satupun dimiliki oleh Adelia.

Untungnya, Arfan tak mendengar seloroh Anggun karena ia sedang memberikan selamat pada pengantin pria. Kalau sampai ia mendengar bahwa dulunya Adelia mengejar Aksa mati-matian, entah apa yang akan terjadi, belum bisa ditebak.

“Bukan aku yang move on, tapi, dia,” bisik Adelia. Kepalanya sedikit menoleh ke orang-orang yang sedang menuruni anak tangga panggung pelaminan.

Meski tak menyebut nama, Anggun tahu, siapa yang dimaksud oleh Adelia.

Dulu, saat masih kuliah, temannya itu s**a membuat-buat alasan, agar dapat bertandang ke rumahnya, sehingga ia dapat bertemu dengan kakaknya.

Beribu kali Anggun mengatakan bahwa kakaknya tak mungkin jatuh hati pada Adelia, namun gadis itu menepis apapun alasannya. Tak mungkin ada pria yang menolak pesonanya, begitu dengan percaya diri Adelia berdalih.

“Kakakku itu susah kalau sudah punya kriteria. Dia nggak akan menurunkan, ataupun menaikkannya, sedikit pun,” jelas Anggun kala itu.

Anggun sebenarnya tak cukup akrab dengan Adelia. Namun, dia juga tak menolak Adelia berkawan dengannya. Prinsipnya, siapa saja boleh berteman. Naksir kakaknya pun dia tak melarang, asal kakaknya tak merasa terganggu.

“Dia sudah move on?” ulang Adelia, penasaran dengan wanita yang kini sedang berjalan menuju tempat jamuan khusus keluarga yang tak jauh dari panggung itu, sehingga mereka berdua dapat dengan jelas melihatnya.

Adelia juga tahu tentang gagalnya Aksa menikah dengan Miranda. Bahkan, karena mengetahui hal itu, dia tak segan untuk mendekati Aksa kala itu. Sayangnya, Aksa memilih pergi ke Jerman untuk menenangkan diri, dibanding membuka hati dan mencari pengganti.

Sep**ang dari Jerman, dia menerima tawaran sahabat ayahnya yang hendak mendirikan perusahaan startup berbasis IT.

Sibuk dengan pekerjaan, membuat Aksa tak terlalu berminat mengenal wanita karena hatinya telah dikecewakan.

Anggun tersenyum sedikit dipaksakan. Ada rasa tak enak dengan tamu undangan yang antri ingin menyalaminya. Namun, Adelia yang ada di depannya seolah masih menanti keterangan lain darinya. “Iya, baru dua bulan lalu jadian.”

Bisikan Anggun rupanya terdengar di telinga Arfan. Lelaki itu meski pura-pura tak acuh, namun dia mencuri dengar. Ada rasa penasaran dengan pembicaraan Adelia dengan Anggun. Pria itu menangkap mereka sedang membicarakan Aksara.

Kenapa Adelia sepertinya penasaran dengan kakak Anggun? Apakah kedatangannya ke kondangan ini sebenarnya ada maksud tertentu? Atau murni memang temannya itu mengundangnya?

Namun, kecurigaan Arfan tak berhenti sampai di sana. Dia pun turut penasaran dengan status Karina dan Aksa sesungguhnya. Benarkah mereka sudah berhubungan selama dua bulan? Artinya, itu saat dia belum memutuskan status mereka tempo hari.

Mendadak, jantungnya bergemuruh mendengar ucapan Anggun. Kalau benar ucapan itu, artinya, bukan ia yang selingkuh dengan Adelia. Namun, justru Karina yang selingkuh duluan.

Pantas saja, saat tempo hari ketemu di café, tak ada rasa sedih yang ditunjukkan Karina padanya. Meski ia mengatakan untuk tak menggantung hubungan dan memberikan Karina pilihan, tapi, mantan kekasihnya itu tampak tenang. Kini, Arfan baru menyadari, rupanya, Karina sudah berdiri di dua kaki. Mendadak Arfan menjadi geram.

Sementara, Adelia masih penasaran, dengan sosok yang bersama dengan Aksa. Apa kelebihannya hingga wanita itu sanggup menaklukkan pria yang telah lama diincarnya itu.

Sayangnya, Adelia tak dapat melanjutkan interograsinya karena antrian semakin panjang.

“Langsung p**ang saja,” ucap Adelia kesal saat menuruni anak tangga kecil di depan panggung itu. Demikian juga, Arfan sudah tak berselera untuk mencicipi hidangan lainnya, sehingga ia menyetujui usul gadis itu.

“Jadi, wanita itu pacarnya? Bukan istrinya?” Arfan tak dapat menutupi rasa penasarannya saat sudah berada di belakang kemudi. Namun dia pura-pura tak tahu status wanita itu di depan Adelia. Tentu saja, ia yakin kalau Karina mana mungkin sudah menikah. Kalau iya, tak mungkin mau menemuinya. Selama ini dia kenal betul Karina seperti apa.

Sebenarnya, saat di kondangan tadi, Arfan ingin menemui Karina dan mengatakan bahwa keputusannya memutuskan hubungan sudah tepat. Dia pun ingin membongkar pengkhianatan yang telah dilakukan Karina atasnya. Namun, Arfan mengurungkannya.

Kalau itu sampai terjadi, dia pun menanggung malu, karena rahasianya dengan Karina juga akan terkuak di depan Adelia. Ya kalau Adelia terima kalau ternyata Karina adalah mantannya? Kalau tidak? Dia bisa kehilangan semuanya.

“Kayaknya bukan,” sahut Adelia enteng. “Kenapa?” Adelia balik bertanya. Bukannya tadi, Arfan terlihat tak tertarik? Bukannya biasanya kaum lelaki kalau penasaran, langsung bertanya langsung? Kenapa saat di kondangan Arfan tak menemui Aksa, kalau memang benar ia mengenalnya sebagai mitra kerja? Batin Adelia.

“Nggak. Cuma nanya aja.” Arfan tak mau memperpanjang diskusi, meski penasaran. Tak ingin salah ucap hingga membuat Adelia penasaran. Namun, dalam hati dia ingin besok atau lusa menemui Karina, hanya sekedar melampiaskan kekesalannya.

Tak disangka olehnya, kalau ternyata Karina justru lebih matre yang dipikirnya. Wanita sederhana yang dipujanya saat kuliah, ternyata kini sudah berubah. Memikat hati atasannya demi untuk meningkatkan status sosial. Dasar culas! Umpatnya dalam hati.

Sementara itu, perhelatan masih terus berlangsung. Karina yang sibuk mengikuti Dafa akhirnya merasa lelah. Balita usia tiga tahun itu memang masih lincah-lincahnya. Karina hanya takut saat anak itu berlarian, lalu menabrak seseorang yang sedang membawa makanan, lalu mengotori pakaian, membayangkan apa yang pernah dilihatnya di sinetron.

“Dafa, tante suapin pudding, tapi duduk ya?” bujuknya. Huff, tak mudah ternyata menjadi pengasuh anak dadakan. Apalagi, dia bukanlah penyuka anak kecil. Namun, gengsi rasanya kalau tidak bisa menaklukkan anak laki-laki itu. Masak iya, dia kalah sama bosnya yang dengan mudah membuat Dafa tak berkutik, mengikuti titahnya.

Karina mengingat-ingat mantra yang diucapkan Aksa saat membujuk Dafa. Namun, ia tak dapat mengingatnya. Bagaimana bisa, sementara saat Aksa bersama Dafa dia tak pernah di dekatnya. Ia hanya melihatnya dari kejauhan, lalu terbersit rasa takjub di hatinya.

“Keren, ganteng, ke-bapak-an. Dingin, cuek, judes nggak papa. Malah bikin penasaran.” Karina menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh tentang bosnya yang baru saja hinggap di kepalanya. Bagaimana bisa dia memuja bosnya sendiri. Bisa-bisa, ia memainkan perasaan nanti kala bekerja. Oh, tidak!

"Tante, mau pipis!" Seru Dafa. Bocah itu memegang bagian sensitifnya menunjukkan sudah tak tahan.

Karina buru-buru menggandengnya, mencari toilet yang ada di sekitar gedung itu.

Begitu di depan toilet, Karina baru ingat, ia harus ke toilet laki-laki atau perempuan, karena Dafa meski masih umur 3 tahun, bagaimana bisa ia mengajak ke toilet perempuan. Kalau bertanya macam-macam, bagaimana?

Ah, nasib! Nggak pernah ngasuh anak, begini deh, omelnya dalam hati.

Untung ia melihat Aksa berkelebat keluar dari toilet laki-laki.

"Papa!" Dafa segera berlari menghampiri.

Belum sempat Karina bernafas lega, matanya harus membulat, saat menyadari seseorang juga keluar dari pintu toilet laki-laki itu.

Bersambung…
Judul: AKSARA PILIHAN HATI
penulis: ET. WIDYASTUTI
akun kbm: widyastuti28

https://read.kbm.id/book/detail/761611a2-c1dd-4ded-a84e-1e1c56ee658b

Tiktok:
https://vt.tiktok.com/ZSNKxkBjn/

Ayo bergabung dan subscribe buku Aksara Pilihan Hati agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari E.T. Widyastuti di aplikasi KBM.

21/03/2024

AKSARA PILIHAN HATI 8

Pagi itu Arfan sudah siap dengan baju batik bermotif klasik dengan bahan premium. Adelia, anak atasannya, memintanya menemani ke kondangan salah satu teman kuliahnya dahulu, Anggun.

Sambil menunggu Adelia bersiap, Arfan ngobrol dengan Pak Narko, Papa dari gadis itu.

“Saya bisa mengusahakan kamu untuk tidak perlu mutasi ke luar Jawa.” Pria paruh baya yang kini memiliki jabatan prestisius itu mulai berbicara serius. “Prestasimu cukup menonjol. Saya sudah laporkan ke pimpinan di pusat. Tapi, Saya butuh keseriusanmu.” Pak Narko menyesap kopi yang sudah tidak panas lagi di hadapannya.

Rumah Pak Narko lumayan besar. Halamannya pun luas. Beberapa mobil berjajar di depan rumah, dan beberapa lagi di garasi yang berukuran cukup besar. Bahkan, jumlah mobilnya melebihi jumlah anggota keluarga.

“Adelia putri saya satu-satunya. Dia sangat mencintaimu. Kamu hanya perlu membahagiakannya. Dan kenaikan jabatan serta penempatan kerjamu nanti, bisa kami atur.”

Arfan bukan baru saja kenal dengan Sunarko. Pria berwibawa itu bukan orang sembarangan di tempat ia bekerja. Bahkan, harusnya dia menjalankan tugas selama dua tahun di salah satu kota di Kalimantan, dia cukup menjalani setahun dan ditarik ke kantor pusat. Itu adalah salah satu jasa dari orang tua Adelia.

Perkenalannya dengan Adelia terjadi saat Pak Narko berkunjung ke tempat kerjanya. Gadis itu ikut ayahnya saat kunjungan kerja. Selama di kota kecil itu, Arfan yang mendapat tugas mendampingi Pak Narko dan keluarganya. Pertemuan itu membuat Adelia jatuh hati.

Arfan yang masih terikat janji dengan Karina, bukan melupakan gadis yang pernah menggantungkan harapan padanya. Namun, intensitas pertemuannya dengan Adelia, membuatnya hampir tak pernah lagi memikirkan Karina. Kenyamanan membuatnya terbius.

Sebenarnya, semenjak Arfan kenal dengan Karina, dia sudah mulai membicarakan rencana menikahi gadis itu dengan orang tuanya. Sayangnya, musibah yang menimpa orang tuanya saat dia berada di luar Jawa, terpaksa membuatnya berhutang budi pada Adelia.

“Kamu tidak perlu sedih, Mas. Papa akan membantu semuanya,” hibur Adelia bagaikan guyuran air yang mengobati dahaga di tengah gurun.

“Aku akan mengganti semuanya, nanti.” Janji Arfan saat menerima transfer uang yang cukup besar dari keluarga Adelia.

Sayangnya, sampai setahun berlalu, keluarga Adelia belum mau menerima pengembalian dari Arfan.

“Simpan saja uangmu. Gunakan untuk keperluan kalian saat menikah nanti.” Ucapan Pak Narko bukan membuat dada Arfan menjadi lega. Namun, sebaliknya. Dia mengalami dilemma.

Sejak saat itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Karina, dan berharap Karina pun melakukan hal yang sama. Ia memilih menghilang dan tak berhubungan lagi dengan teman-teman kuliahnya, agar tak ada penghubung antara dirinya dengan Karina.

Arfan bukan lelaki pengecut. Tapi, dia hanya butuh waktu. Waktu untuk berbicara saat dirinya sudah siap, dan waktu saat Karina pun juga siap menerima apapun keputusannya.

Dan pertemuan dengan Karina yang tak pernah diduganya, bagi Arfan adalah saat yang tepat untuk memperjelas hubungannya dengan Karina.

Bagi Arfan, semua sudah takdir. Impian yang pernah dibangunnya, tak selamanya harus berkenyataan. Karina pantas bahagia, meski tak harus dengan dirinya. Begitu juga sebaliknya, ia pun punya pilihan untuk bahagia bersama keluarganya.

Siapa yang menolak untuk hidup layak dan berkecukupan? Setelah sejak dari lahir ia harus menikmati kesederhanaan.

Begitu juga ayah dan ibunya di kampung.

Meski di kampung, ayah dan ibunya terbilang terpandang sebagai pengusaha toko kelontong dan penggilingan padi, namun itu tak pernah membuatnya merasa berkecukupan.

Saat Arfan melihat keluarga Adelia yang sangat mewah, nalurinya tak dapat menolak.

Suara langkah kaki Adelia menuruni tangga, sukses membuyarkan lamunannya. “Aku sudah siap, Mas. Kita berangkat sekarang.”

Arfan sejenak tertegun. Memindai penampilan wanita yang berdiri tak jauh darinya. Dress yang mewah namun sama sekali tak terlihat norak. Wajah yang cantik, ditambah make up natural, semakin menunjukkan kesempurnaan dan berkelas. Karena itu p**a, Arfan juga mengimbangi dengan penampilannya.

Kalau dulu, Arfan hanya akan memakai baju batik lengan panjang yang itu-itu saja untuk berbagai kondangan, hingga saat di foto, ternyata tampilannya akan selalu sama. Sementara kini, meskipun belum menjadi bagian keluarganya, setiap menemani Adelia ke acara, dia akan mendapat jatah baju baru yang biasanya senada dengan warna yang dikenakan gadis itu dan berbahan premium.

Bahkan, dia sudah lupa rasanya memakai baju murah, yang rasanya panas dan mudah lecek.

Saat mau pergi seperti ini, Arfan tak perlu bingung mau naik apa. Dia tinggal memilih, mobil mana yang hendak digunakan, semua sudah tersedia dan berjajar di garasi dan depan rumah Adelia. Bahkan, ia pun tak perlu memikirkan service atau mencuci mobil selayaknya milik sendiri. Mobil di rumah Adelia tinggal pakai, selalu bersih dan wangi.

Di rumah Adelia, banyak pegawai dari yang mengurus kebun, kendaraan, keamanan, kebersihan dalam rumah, hingga segala hal yang remeh di rumah itu.

Adelia duduk di sebelah bangku kemudi. Sementara Arfan dengan percaya diri mengemudikan mobil senilai setengah M itu. Mobil SUV yang masih keluaran terbaru. Udara dingin yang menghembus dari pengatur suhu, membuat Arfan melupakan sejenak kehidupan masa lampau yang penuh kerja keras.

Gedung acara kondangan sudah cukup ramai saat mereka tiba, meskipun mereka datang lebih awal. Setelah memarkir mobilnya, mereka berdua memasuki gedung pertemuan itu. Adelia yang terbiasa manja, berjalan dengan menggamit lengan Arfan.

“Meriah ya, Mas. Aku mau nanti kita lebih meriah dari ini.” Adelia memandangi foto prewedding yang dipasang dari pelataran luar, hingga memasuki gedung itu. Konon, Anggun menikah dengan calonnya yang merupakan anak salah satu pejabat. Tak heran jika pernikahannya sangat meriah. Banyak karangan bunga yang dipasang di pelataran gedung.

Arfan tersenyum miris mendengar ucapan Adelia. Bahkan, dia saja belum pernah berani berbicara serius, sementara Adelia malah mengatakan rencana itu tanpa beban. Apakah, jika dia tak menolak digandeng Adelia seperti ini, artinya sinyal bahwa hubungan mereka sudah serius.

Mendadak Arfan teringat Karina. Dulu, bahkan tak pernah sedekat ini, meski dia sudah membicarakan rencana masa depan yang serius. Padahal, dengan Adelia, dia tak pernah membicarakan apapun. Semua seolah ia biarkan mengalir bagaikan air.

“Kita makan dulu aja, baru salaman. Itu masih foto-foto keluarga.” Adelia memajukan dagunya, menunjuk pada pelaminan yang masih melakukan foto keluarga.

Mereka memang sengaja datang awal, karena habis kondangan, Adelia berencana mengajak Arfan ke mall untuk menemaninya jalan-jalan.

Makanan yang disajikan di gubuk-gubuk makanan masih lengkap karena memang belum banyak tamu yang datang, membuat keduanya bebas memilih dan membaca menu yang tertulis di setiap gubuk.

“Aku mau coba lasagna. Kata Anggun, sengaja memesan yang lezat.”

Arfan membiarkan Adelia menghampiri menu pilihannya, sementara ia hanya mengambil siomay yang berada tak jauh dari tempatnya.

Sembari menusuk siomay dari piring dengan garpu, Arfan menyapukan pandangan ke pelaminan. Matanya memicing saat dia menyadari ada seseorang yang dikenalnya di jajaran keluarga mempelai.

Lelaki dengan setelan jas berwarna abu tua tampak berdiri di sisi kiri barisan mempelai dan kedua orang tuanya. Ada juga pasangan muda dengan anaknya yang ada di sisi kanan mempelai itu. Pria yang tak lain adalah salah satu mitra kerjanya itu berdiri bersebelahan dengan seorang wanita dengan motif dan corak busana yang senada dengan pria itu, mungkin istrinya, guman Arfan. Tampak serasi, pikirnya lagi.

“Kamu kenal?” Adelia ikut melihat ke arah lelaki yang sedang serius dilihat oleh Arfan. Tampak seulas senyum mengejek terbit di bibir Adelia. Gadis itu rupanya sudah memegang piring berisi potongan lasagna.

“Hem. Hanya tahu saja.” Arfan mengalihkan pandangan, karena menganggap itu tak terlalu penting. Dari sekian banyak undangan pernikahan, memang ia sering tak sengaja bertemu dengan orang yang dikenalnya. Bahkan Arfan sama sekali tak melihat ekspresi Adelia.

“Dia kakak sulung Anggun,” sambung Adelia dengan nada pelan dan mendekatkan mulutnya ke telinga Arfan, di antara kunyahan makanan di mulutnya.

“Oh.” Arfan tak menunjukkan minat membicarakannya. Dia sudah memalingkan pandangan ke arah lain, mencari-cari menu lain, karena siomay di piringnya sudah tandas.

“Sombong dia!” Adelia kembali berkomentar, saat Arfan kembali dengan semangkuk bakso.

Mendengar komentar gadis di sebelahnya, membuat kening Arfan mengkerut. Arfan memang tak mengenal secara dekat Adelia, seperti mengenal Karina.

Dulu, dia jatuh hati dengan Karina memang melewati perjalanan panjang. Sebagai panitia masa perkenalan mahasiswa, tentu lebih leluasa menilai mahasiswi mana yang akan diincarnya.

Sementara dengan Adelia, dia mengenalnya sebagai putri dari orang yang berpengaruh di kantornya. Tentu saja dengan segala kelebihannya. Cantik, menarik, pintar dan selalu membuatnya nyaman. Dia tak perlu berfikir berat saat berada di samping Adelia. Semua keinginan akan terpenuhi dengan mudah.

Namun, ucapan Adelia yang baru saja di dengarnya, membuat dia merasa tak nyaman. Pasti ada hal yang membuat gadis cantik itu berkesimp**an seperti itu, meski Arfan tak menyangkal. Karena beberapa kali dia rapat dengan Aksa, lelaki itu memang menunjukkan kesan tegas.

“Ayo, Mas. Udah selesai, tuh.” Adelia meletakkan piring kosongnya ke meja tempat piring kosong, lalu menarik tangan Arfan untuk mendekat.

Di pelaminan, foto mempelai dengan keluarga sudah usai. Satu persatu anggota keluarga itu bubar, membuat para tamu yang tadinya menikmati hidangan, mulai berbaris untuk mengucapkan selamat.

Semakin Arfan melangkah mendekat ke pelaminan, semakin jelas siapa wanita yang bersama Aksa yang nyaris tak dikenalnya. Wanita yang tadi sekilas dinilainya sangat cocok dengan sosok Aksa.

Bagaimana ia mengenali wanita yang hampir tak pernah bermake up itu, meski kini dengan riasan yang tampak sederhana, sudah membuatnya sangat berbeda. Terlebih dengan gaun yang membuat Karina terlihat semakin jauh berbeda dari kesan sederhana.

Tak sadar, tangan Arfan mengepal saat melihat dengan jelas sosok yang sedang menuruni tangga panggung pelaminan itu di sisi yang lain dari ia mengantri. Tatapan Aksa yang tampak mesra, meski wanita itu tak melihatnya, membuat darahnya terasa bergolak.

“Ayo, Mas!” panggil Adelia. Dia sudah naik ke panggung, sementara Arfan masih tertinggal di bawah. Di belakangnya, sudah banyak undangan yang mengantri.

Bersambung….

Judul: AKSARA PILIHAN HATI
Penulis: ET. Widyastuti
Akun kbm: widyastuti28

"Kalau ada yang nanya, bilang saja, kamu pacarku. Sudah dua bulan jadian." Tak ada ekspresi, pria itu berbicara dengan l...
21/03/2024

"Kalau ada yang nanya, bilang saja, kamu pacarku. Sudah dua bulan jadian." Tak ada ekspresi, pria itu berbicara dengan lugas, tanpa keraguan.

Langkah Karina seketika terhenti. Matanya nyaris mau keluar karena kaget.

"Pura-pura. Bukan beneran. Nggak usah melibatkan perasaan." Aksa melanjutkan. “Ini bagian dari hukumanmu. Ingat?”

AKSARA PILIHAN HATI 7

Karina masih mematut diri di hadapan cermin saat teleponnya berdering. Dari layar terlihat nama ayahnya.

"Ayah ke Jakarta pagi ini. Nanti sore Ayah kabari dimana Ayah menginap." Hanya itu kabar dari Ayah Karina.

Sejak memasuki masa pensiun, pria paruh baya itu memang lebih sering bolak-balik Jakarta-Jogja. Kadang hanya sekedar bertemu teman lama, atau acara santai lainnya.

Kata ibu Karina, biar Ayahnya tidak terkena post power syndrom. Jadi sang ibu membiarkan sang ayah punya banyak kesibukan.

Memang, sejak Karina lulus, orang tuanya hanya perlu membiayai adik bungsunya yang sudah semester akhir. Itu pun tak mengeluarkan banyak biaya, karena adiknya itu sudah mampu mencari uang saku sendiri.

Belum sempat Karina meletakkan ponselnya, sebuah pesan masuk.

Matanya memicing saat menyadari pesan dari siapa. Ia baru sadar kalau selama ini sangat jarang melakukan kontak dengan atasannya via aplikasi hijau itu. Terbukti, tak ada bekas percakapan, meski ia sudah menyimpan nomornya.

“Datang segera ke lokasi. Nanti langsung kabari aku kalau sudah sampai.”

Heh? Ngabari dia? Karina mengeja beberapa kali kalimat itu. Kepalanya refleks menggelengkan. Setengah bingung dia kembali ke depan cermin. Apa iya, dia akan berangkat tanpa make up? Batinnya seraya mengusap wajahnya. Tidak kusam, namun juga tak bisa dikatakan mulus.

Karina menarik nafas dalam-dalam. Ia baru sadar, bahwa ternyata meski tak s**a berdandan, keahlian memoles wajah rupanya penting untuk saat-saat genting seperti ini. Bagaimana mungkin dia memakai gaun pesta, tapi wajah pucat pasi tanpa polesan.

Karina masih menimbang-nimbang. Akankah dia meminta teman kosannya untuk sekedar dirias sederhana. Tapi, alat rias saja dia tak punya. Masak iya minta dirias, sekaligus alatnya? Tidak sopan sekali, gumamnya.

Karina memukul-mukul jidatnya sendiri karena dia merasa buntu. Harus bagaimana? Benar-benar hukuman yang sesungguhnya. Aksa telah melakukan hukuman mental! Rutuk Karina geram.

Hingga panggilan di ponselnya muncul. Bukan pesan singkat lagi. Membutuhkan waktu beberapa menit untuk sekedar mengangkatnya. Setelah menghembuskan nafas perlahan, akhirnya Karina menggeser tombol berwarna hijau.

"Sudah sampai mana?" Suara bariton itu mampu meningkatkan detak jantungnya.

"Masih di kosan," jawab Karina nyaris tak bersuara. Ini jauh lebih sulit dibandingkan mengerjakan pekerjaan kantornya. Kenapa mendadak ia tak bisa cuek, seperti biasa? Padahal ke kantor saja dia hanya memakai baju itu-itu saja tanpa make up, cuek. Tak pernah memikirkan penilaian orang lain.

Terdengar dengusan dari seberang. "Aku pesankan taksi online. Buruan siap-siap." Nada suaranya sama persis seperti di kantor saat memberi perintah. Tak terbantah.

Karina menurut. Tapi, dia masih ragu. Haruskah memakai baju pesta dari rumah atau tidak?

Bodohnya, ia tak minta undangan. Bahkan, di gedung apa acaranya dia pun tak tahu. Bodoh memang, rutuknya dalam hati.

Begitu terdengar mobil berhenti di depan kosan, Karina segera melambaikan tangan, memberi kode agar supir taksi itu menunggunya sejenak.

Karina masih diliputi kebimbangan. Namun, ia akhirnya memilih membawa baju ganti saja. Kalau ternyata salah kostum, dia bisa pergi ke toilet dan berganti baju.

Rupanya lokasi hajat tak jauh dari kosannya. Tak sampai setengah jam, taksi yang membawanya sudah tiba di lokasi. Sebuah gedung pertemuan. Bukan di hotel.

Karina baru ingat, kalau dia tak membawa kado, tepat saat ia hendak masuk ke gedung. Kebodohan yang kesekian kali dilakukannya. Beruntung panitia belum ada. Jadi, dia masih tertolong, menahan malu.

Belum sempat Karina menekan nomor di ponselnya, karena tak tahu harus kemana dan harus melakukan apa, Aksa dengan memakai setelan jas datang menghampirinya. Mata Karina membulat. Mengapa baju Aksa senada warnanya dengan dirinya. Haduhh…

Karina menyapukan pandangan ke orang-orang yang tampaknya keluarga Aksa. Ya ampun. Kenapa corak, motif dan warnanya senada. Hanya gradasinya saja yang sedikit berbeda.

"Nggak usah mikir yang aneh-aneh." Aksa yang biasanya tak banyak bicara jika di kantor itu, memberi kode agar Karina mengikutinya.

"Ada penata rias khusus buat keluarga. Nanti kamu minta dirias yang soft aja." Karina mengikuti langkah Aksa menuju bagian belakang gedung.

"Kalau ada yang nanya, bilang saja, kamu pacarku. Sudah dua bulan jadian." Tak ada ekspresi, pria itu berbicara dengan lugas, tanpa keraguan.

Langkah Karina seketika terhenti. Matanya nyaris mau keluar karena kaget.

"Pura-pura. Bukan beneran. Nggak usah melibatkan perasaan." Aksa melanjutkan. “Ini bagian dari hukumanmu. Ingat?”

Karina menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan berat. Dia memang kalah telak 2:0

"Bapak jangan memanfaatkan posisi saya, d**g!" gerutu Karina sembari berjalan, berjajar dengan Aksa.

Lelaki yang sebelumnya tak pernah tersenyum pada Karina ini, kini justru menyeringai.

"Itu namanya takdir," ucap Aksa sembari terus berjalan. Dari posisi mereka, terlihat dua ruangan yang cukup ramai. Satu disebelah kiri bertuliskan "khusus pengantin" dan satu di sebelah kanan, bertuliskan "keluarga dan panitia".

"Wuih, Aksa sama siapa itu?" Mendadak suasana menjadi riuh. Beberapa pasang mata menatap Aksa dan Karina yang berjalan menuju ruangan itu.

Tak hanya itu, beberapa orang dalam ruangan juga melongokkan kepalanya keluar, membuat Karina merasa tak enak hati.

"Ingat, kamu hari ini sebagai pacarku. Hanya berlaku hari ini. Mulai kapan? Dua bulan!" Bisikan Aksa kembali didengar oleh Karina. Bahkan, dia membuat pertanyaan yang dijawabnya sendiri.

Karina hanya mendengus. Mimpi apa dia semalam hingga mendapatkan hukuman yang bertubi-tubi. Ini sebuah hukuman atau anugrah?

Mendadak Karina bimbang dengan kegelisahannya sendiri. Sehari menjadi pacar Pak Bos? Mirip cerita di sinetron, batinnya.

"Permisi." Begitu saja Aksa melewati orang-orang yang berkerumun, yang sebagian adalah paman dan bibinya, juga sepupunya.

"Kenalin, Karina, pacarku." Suara Aksa seolah sedang membuat pengumuman. Padahal tak hanya saudaranya yang ada di sana. Namun, juga beberapa tetangganya yang diminta sebagai panitia hajatan.

Juwita yang sedang dirias, refleks menoleh, detik berikutnya, tertawa nakal, menggoda kakaknya.

Belum sempat ia berseru, mata Aksa sudah melotot, memberi kode agar tidak berisik.

"Woalah, kirain Mas Aksa masih jomblo." Terdengar nada kecewa dari para ibu-ibu dan gadis lajang yang menjadi panitia.

"Kalau nggak mesra, ya bukan pacar," cibir Wanda, gadis tetangga Aksa, yang turut p**a sebagai panitia.

Aksa menoleh sekilas, lalu melirik ke Karina yang masih bengong.

"Aku keluar dulu, Yang. Kamu tunggu saja antriannya."

Hampir saja jantung Karina mau copot, karena Aksa memakai kata sayang. Bahkan, Arfan yang bertahun jadi kekasihnya saja tak pernah memanggilnya sayang.

Ah, sayang, semua ini hanya pura-pura. Karina tersenyum kecut dalam hati. Ups jangan GR! Hati kecilnya yang lain memperingatkan.

Untungnya, ada Juwita yang sudah dikenal Karina karena beberapa kali bertemu di kantor.

Mereka berdua lalu keluar dari ruang rias keluarga itu. Juwita mengajaknya ke tempat rias pengantin. Ada ibu dan ayahnya yang menemani Anggun di sana.

"Bapak, Ibu, ada kejutan, nih!" Seru Juwita sambil menarik tangan Karina, menghampiri kedua orangtuanya

Sepasang orang tua paruh baya itu saling berpandangan. Dia memindai penampilan Karina, karena baju yang dikenakan seragam dengan Juwita. Namun, keduanya tak merasa mengenal Karina.

"Pacarnya Mas Aksa. Iya, kan?" Juwita mengenalkan pada kedua orangtuanya, membuat keduanya kaget. Wajah Juwita ceria, karena lega akhirnya kakaknya setuju dengan usulnya.

"Benarkah?" Bu Ramdan sampai bangkit dari duduknya, tak percaya. Perempuan paruh baya itu mendekat, dan menyalami Karina. Bahkan memeluknya.

Dalam hati, Karina merasa berdosa. Tega sekali Aksa membohongi ibunya. Bagaimana kalau ternyata kebohongannya terbongkar. Tidak! Dia tak mau seperti dalam kisah-kisah drakor yang akhirnya terpaksa berbohong, dan berakhir pada kawin paksa!

"Iyalah, Bu. Mas Aksa sudah ngasih seragam keluarga gini, masak Ibu nggak percaya?" Juwita meyakinkan ibunya, membuat hati Karina ingin berontak, mengatakan yang sebenarnya.

Akhirnya Karina terpaksa berkenalan dengan Ayah dan Ibu Aksa. Dalam hati berharap, semoga hari itu segera berakhir, agar drama yang harus ia perankan segera berlalu.

Di luar dugaan Karina, Ibu Aksa ternyata orangnya sangat asyik. Hingga tak terasa, apa yang dibicarakan dengan Karina nyambung dan klop.

Prosesi pernikahan segera akan dimulai. Karina mulai panik. Harus bagaimana dia setelah ini. Bahkan dia tak tahu keluarga Aksa siapa saja. Banyak sekali saudaranya yang dikenalkan oleh ibu Aksa hari itu, yang membuat Karina pusing, karena harus menghafalnya dalam waktu singkat.

Karina akhirnya hanya memilih duduk di bangku keluarga, saat acara resepsi dimulai. Untungnya, Aksa berulang kali mendekatinya. Karina tahu, ini pasti karena lelaki itu harus tetap berpura-pura menjadi pacarnya. Tak mungkin Aksa akan menyuekinya, karena itu akan membuat semua orang curiga.

"Dafa, sini ikut tante," panggil Karina saat melihat bocah itu sibuk berlarian mengejar Aksa yang mondar-mandir sibuk di perhelatan. Sebagai anak sulung, tentu saja Aksa punya tanggung jawab besar di acara keluarga itu.

Dibandingkan mati gaya, Karina memilih sibuk mengasuh bocah berumur tiga tahun itu. Mengikuti bocah itu, termasuk mengambil makanan dan menyuapinya. Juwita tentu saja sangat senang, ada yang menggantikannya mengasuh putranya.

"Yang, waktunya foto." Karina masih saja gelagapan mendengar panggilan tak biasa itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. Dia harus menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir degup jantung yang tak beraturan. Dia harus menunjukkan profesionalisme sebagai bawahan, dan tak melibatkan perasaan, seperti ucapan Aksa sebelumnya.

Untuk menyakinkan pandangan orang, Aksa beberapa kali berakting pura-pura mesra, meski tak perlu ada sentuhan fisik.

Naas. Tanpa disadari Karina, sepasang mata memperhatikannya.

Bersambung…

Judul: AKSARA PILIHAN HATI
Penulis: ET. Widyastuti
Akun kbm: widyastuti28

https://read.kbm.id/book/detail/761611a2-c1dd-4ded-a84e-1e1c56ee658b

Mampir ke tiktok:
https://vt.tiktok.com/ZSNw4TRYo/

Ayo bergabung dan subscribe buku Aksara Pilihan Hati agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari E.T. Widyastuti di aplikasi KBM.

Address

Cengkareng
Jakarta
11740

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita biasa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category